Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir saja
Hari libur akhirnya tiba. Setelah beberapa hari dipenuhi kesibukan di rumah sakit, Azmira memilih menghabiskan waktu bersama Rina. Tidak ada jadwal pemeriksaan, tidak ada rapat, bahkan untuk beberapa jam ia tidak ingin memikirkan pekerjaannya.
Pagi itu, perempuan tersebut sudah berdiri di depan lemari sambil memperhatikan beberapa pakaian yang tergantung di sana.
"Bu."
Rina yang sedang merapikan meja makan menoleh. "Iya, Nak?"
"Mira mau mengajak Ibu ke mall."
Rina tersenyum kecil. "Ke mal?"
"Iya."
"Memangnya ada yang mau dibeli?"
Azmira menggeleng. "Nggak ada. Jalan-jalan saja."
Rina terkekeh. "Tumben."
"Memangnya kalau dokter libur tidak boleh jalan-jalan?"
"Boleh," ucap Rina sambil tersenyum. "Ibu ikut."
Azmira langsung menanggapi itu dengan senyuman juga. "Nanti Kak Shasa juga ikut."
"Shasa?"
"Iya. Katanya dia bosan kalau liburan cuma di rumah saja."
Rina akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Berarti kita bertiga."
"Betul."
Azmira kemudian menghampiri ibunya dan mencium pipinya. "Terima kasih, Bu."
Rina mengusap kepala putrinya. "Memangnya Ibu mau menolak?"
Azmira terkekeh. Hari itu terasa sederhana. liburan mereka tidak diisi dengan jalan-jalan ke luar kota, ke tempat-tempat bagus. Cukup di pusat perbelanjaan saja keduanya susah senang.
☘️☘️☘️☘️
Menjelang siang, ketiganya tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup ramai. Shasa sudah lebih dulu menunggu di depan pintu masuk. Begitu melihat Azmira turun dari mobil, ia langsung melambaikan tangan.
"Mira!"
Azmira tersenyum. "Kakak sudah lama?"
"Baru sepuluh menit."
"Berarti belum lama."
Shasa langsung menggandeng lengan Azmira. "Ayo. Kakak sudah punya daftar toko yang mau kita datangi."
Azmira tertawa. "Kenapa seperti mau perang?"
"Karena hari ini Kakak berniat membuat kamu menghabiskan uang."
"Jangan!"
Rina yang berjalan di belakang mereka hanya tersenyum melihat tingkah kedua perempuan itu.
"Sudah, jangan bertengkar di tengah jalan."
Shasa menoleh. "Bu Rina, tenang saja. Hari ini saya yang akan menjaga Mira."
Rina terkekeh. "Ibu justru khawatir kamu yang membuatnya boros."
"Ah, Ibu."
Mereka pun masuk ke dalam mal. Beberapa jam berlalu dengan suasana yang menyenangkan. Mereka makan siang bersama, mengunjungi beberapa toko, lalu berhenti di sebuah toko pakaian perempuan.
Azmira mengambil salah satu pakaian yang tergantung di rak.
"Kak, yang ini bagaimana?"
Shasa memperhatikan pakaian itu. "Bagus."
"Benarkah?"
"Iya."
Shasa kemudian mengambil pakaian lain. "Tapi yang ini lebih cocok."
Azmira membandingkan keduanya. "Yang mana?"
"Yang ini."
Rina tersenyum melihat putrinya begitu antusias. "Kalian pilih saja. Ibu mau melihat-lihat sebentar di luar."
Azmira menoleh. "Kenapa, Bu?"
"Ibu mau cari sesuatu."
"Sendiri?"
"Sebentar saja."
Shasa mengangguk. "Tenang, Bu. Mira sama saya."
Rina tersenyum. "Iya, kalau sama kamu Ibu selalu percaya."
Perempuan itu kemudian keluar dari toko. Azmira kembali sibuk memilih pakaian bersama Shasa. Sementara Rina berjalan perlahan menyusuri lorong. Ia berhenti di sebuah toko perlengkapan rumah tangga yang berada tidak jauh dari sana. Matanya tertuju pada beberapa barang yang dipajang di etalase.
Rina tersenyum kecil. "Mungkin yang ini cocok untuk rumah."
Ia hendak mendekat. Namun ketika berbalik, entah kenapa ia menabrak seseorang.
Bruk!
Tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Tas yang berada di tangannya hampir terjatuh.
"Maaf."
Sebuah tangan segera menahan tas tersebut.
Rina hendak mengucapkan terima kasih. Namun ketika wajahnya terangkat... seketika tubuhnya membeku.
Suara di sekitarnya seperti menghilang. Lelaki yang berdiri di hadapannya juga terdiam. Tidak ada yang berubah. Wajah itu memang jauh lebih tua. Rambutnya tidak lagi seperti dahulu. Beberapa garis usia terlihat jelas di wajahnya. Tetapi Rina masih mengenalnya dengan jelas.
"Dika..." Suara Rina hampir tidak terdengar.
Lelaki itu pun menatapnya lekat-lekat. "Rina?"
Untuk beberapa detik, keduanya hanya berdiri tanpa kata. Dua puluh lima tahun. Selama itu pula mereka tidak pernah berdiri sedekat ini. Rina perlahan menarik tasnya dari tangan Dika.
"Terima kasih."
Dika melepaskannya. "Kamu..."
Rina langsung memotong. "Aku sedang bersama anakku."
Dika terdiam. Entah kenapa kalimat itu membuat dadanya terasa sedikit sesak. "Anakmu?"
Rina mengangguk. "Iya."
Dika menatapnya. "Bagaimana kabarmu?"
Rina tersenyum tipis. "Baik."
Hanya satu kata. Tidak ada keramahan di dalamnya lalu kemudian Dika mengangguk pelan.
"Aku dengar kamu masih tinggal di kota ini."
Rina menatapnya. "Kenapa?"
Dika terdiam. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin berbicara dengan perempuan yang sudah menjadi bagian dari masa lalu itu.
"Mungkin cuma kebetulan."
Rina menghela napas. "Memang sebaiknya tetap begitu."
Dika mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Pertemuan ini." Rina menatapnya lurus. "Anggap saja tidak pernah terjadi."
Dika terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi justru terasa seperti sebuah pintu yang kembali ditutup tepat di hadapannya.
"Rina."
"Aku permisi."
Rina hendak pergi. Namun Dika kembali memanggil.
"Tunggu."
Rina berhenti. Dika menatap punggungnya.
"Anakmu..."
Rina perlahan menoleh. "Kenapa?"
Dika terdiam sejenak. "Sudah besar?"
Rina menggenggam tali tasnya semakin erat. "Sudah."
"Perempuan?"
Pertanyaan itu membuat wajah Rina berubah. "Iya, dia sudah tumbuh dewasa tanpa campur tangan orang yang seharusnya menggenggam tangannya."
Dika tidak tahu mengapa jawaban itu membuat sesuatu dalam dirinya terasa aneh.
"Berapa usianya?"
Rina menatapnya beberapa detik. "Dua puluh lima, dan selama itu pula, ayahnya memilih tutup mata dan justru mengurus anak gundik."
Deg!
Seketika Dika membeku, entah kenapa ucapan mantan istrinya itu membuat darahnya berdesir. Dua puluh lima dan entah kenapa angka itu terasa menusuk sesuatu yang sudah lama terkubur.Tetapi sebelum ia sempat mengatakan apa pun, suara ceria terdengar dari belakang.
"Bu!"
Rina langsung menoleh, tatapannya membeku, namun sebelum Azmira melangkah lebih dekat tiba-tiba saja tangan Shasa mencekalnya.
"Bentar dulu Mira aku ada lagi baju yang bagus untuk kamu.
Bersambung ....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡