Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. DSKKR

Pintu kaca VANE Tower tertutup rapat di belakang Fandi dan Siska. Langkah kaki dua satpam berbadan tegap baru saja membiarkan mereka berdiri terlunta-lunta di pelataran parkir gedung. Udara panas Jakarta siang itu langsung menyengat kulit, tapi rasanya tidak seberapa dibanding rasa panas yang membakar muka Fandi.

"Mas! Maksudnya apa-apaan sih ini?!" Siska meledak seketika, menghentakkan high heels nya ke aspal. Wajahnya yang tadi tebal riasan kini berantakan dilunasi air mata kekesalan. "Katanya kamu punya kenalan orda di dalam! Katanya kamu fotografer papan atas yang disegani VANE! Kok malah digiring keluar kayak maling begitu?!"

Fandi meremas kunci mobil di sakunya sampai jemarinya memutih. Gigi-giginya bergemelutuk menahan malu. Beberapa karyawan luar yang sedang merokok di area parkir sempat melirik dan berbisik-bisik ke arah mereka.

"Kamu bisa diam gak, Sis?!" gertak Fandi dengan suara tertahan. "Kamu pikir aku tahu kalau Maya ada di sana apah?!" Ucap Fandi.

"Ya makanya! Kamu itu ternyata gak tahu apa-apa soal mantan istrimu sendiri!" Siska bersedekah tangan, memalingkan wajah dengan tatapan sangat jijik. "Malu-maluin tahu gak! Dia tuh cuma bekas dasteran di rumahmu, tapi kok bisa duduk di kursi juri tertinggi?! Bikin aku kelihatan kayak udik di depan orang-orang tadi!"

"Cukup, Siska!" bentak Fandi seraya membukakan pintu mobilnya kasar. "Masuk mobil sekarang!"

Di sepanjang perjalanan kembali ke studio, suasana di dalam mobil serasa neraka kecil. Tidak ada musik, tidak ada obrolan manja seperti biasa. Siska cuma sibuk memoles ulang makeup-nya sambil menyilangkan kaki, melipat bibir dengan muka cemberut. Sementara Fandi mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di benak Fandi, ingatan tentang senyuman dingin Maya di meja juri terus berputar bagai kaset rusak.

"Bagaimana bisa?"

Bagaimana bisa wanita yang tiga minggu lalu diusirnya tanpa membawa apa-apa, wanita yang perutnya bergelambir dan baunya minyak angin, sekarang duduk di sebelah Arch dengan aura serapi dan seanggun itu? Pakaian yang dipakai Maya tadi memang sederhana, tapi potongan dan warnanya memancarkan kelas yang bahkan tak sanggup dibeli Siska meski sudah berdandan berjam-jam.

"Pasti Mr. Arch cuma kasihan," batin Fandi berusaha menghibur egonya yang terluka parah. "Pasti si Arch itu cuma manfaatin nama lama Maya buat naikin pamor VANE. Mana mungkin Maya punya kemampuan bikin konsep mahal kayak begitu sendiri? Dulu kan aku yang ngatur semua fotonya!

Mobil berhenti mendadak saat masuk ke halaman studio. Fandi mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Siska.

"Siska, dengerin aku," kata Fandi, mencoba melembutkan suaranya walau mukanya masih tegang. "Jangan patah semangat gara-gara hari ini. Maya itu cuma manfaatin dendam pribadinya. Kita bisa cari jalan lain. Studio kita masih jalan, klienku masih banyak."

Siska mendengus tipis, memutar matanya malas. Dia mengambil tas mewahnya tas mahal yang dibelikan Fandi pakai uang tabungan bersama Maya dulu. lalu menatap Fandi tanpa hormat.

"Mas, kilen-klienmu di studio itu cuma brand-brand baju lokal biasa," celetuk Siska tanpa beban, kata-katanya menyengat tajam. "Aku butuh masuk VANE biar namaku naik ke level internasional! Kalau kamu cuma bisa ngandelin studio kecil begini, kapan aku bisa kaya? Kapan kamu bisa beliin aku mobil baru?!"

Fandi tertegun. "Siska... kok kamu ngomongnya gitu?"

"Lah, emang kenyataan kan?!" Siska membuka pintu mobil dengan kasar. "Mbak Maya aja yang dulu dasteran sekarang bisa kerja di gedung megah, masa aku yang udah cantik begini malah ngendok di studio sepi kamu? Pikirin tuh, Mas!"

BBrak!

Pintu mobil dibanting keras. Siska melangkah masuk ke dalam studio tanpa menoleh lagi.

Fandi bersandar pada sandaran jok mobil, memejamkan matanya rapat-rapat. Kepala terasa mau pecah. Untuk pertama kalinya sejak dia mencampakkan Maya, ada desiran aneh yang menyusup ke dadanya. Sebuah keraguan kecil yang sangat beracun.

"Kenapa jadi seperti ini sih.. aaagghhh" Ucap Fandi Kesal.

Dulu, saat masih bersama Maya, seberapa melelahkannya hari Fandi di luar, rumah selalu rapi, makanan selalu siap, dan Maya tak pernah sekalipun menuntut barang-barang di luar kemampuannya. Maya selalu menjadi pendorong utama di balik layar yang menenangkan jiwanya.

Tapi sekarang? Baru beberapa minggu bersama Siska, yang Fandi dapatkan cuma tuntutan barang mewah, bentakan, dan rasa malu di depan umum.

Fandi merogoh saku jasnya, mengambil ponselnya. Jemarinya secara refleks membuka aplikasi pesan, menyusuri obrolan lama dengan kontak bertuliskan Maya. Namun, saat hendak menekan tombol panggil, sebuah notifikasi merah muncul di layar: Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau memblokir panggilan Anda.

"Coba saja kamu pikir kamu bisa hebat tanpa aku, May," bisik Fandi penuh dengki pada layar ponselnya yang gelap. "Kita lihat seberapa lama si Arch itu bakal pertahanin kamu di VANE!"

***

(Beralih ke VANE AGENCY)

Setelah kejadian di audisi, Maya masuk kedalam ruangan nya yang di ikuti juga dengan Arch. Di dalam ruangannya yang berdinding kaca, Arch berdiri santai seraya menyesap kopi hitamnya. Matanya menatap ke luar jendela, memandangi pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di bawah terik matahari siang.

Di sofa empuk ruangan itu, Maya sedang menggeser-geser lembar dokumen di atas meja. Raut wajahnya sangat tenang, seolah drama mengusir Fandi dan Siska sepuluh menit lalu cuma riak kecil di atas telaga.

"Kamu beneran gak kepikiran sama sekali?" tanya Arch tanpa menoleh, suaranya berat dan bergema pelan di ruangan yang hening.

Maya mendongak, merapikan letak blazer sage green-nya. "Kepikiran soal apa, Mas Arch?"

Arch berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja mewahnya seraya menyilangkan kaki. "Soal mantan suamimu. Muka dia tadi udah kayak kepiting rebus. Dan cewek barunya... aku yakin dia gak bakal tidur tenang semalaman."

Sebuah senyuman tipis dan renyah terukir di bibir Maya. "Mas Arch, waktu aku keluar dari rumah Fandi sambil bawa tiga anakku dan dua koper, hatiku udah mati buat dia. Yang tersisa cuma tanggung jawabku sebagai ibu dan harga diriku sebagai wanita. Aku tak ingin lagi mendengar ataupun berhubungan dengan orang-orang yang tak punya malu begitu"

Arch menatap Maya cukup lama. Ada binar kagum di mata cokelat terangnya yang tak bisa dia sembunyikan. "Bagus kalau gitu. Karena aku gak punya waktu buat ngurusin drama domestik karyawan. Kita punya deadline besar. Aku hanya takut kamu tidak fokus." Ucap Arch dengan melipat tangan ke dada bidang nya.

"Kamu bisa melihat nya mas Arch dengan keberhasilan project ini nanti. Oh ya mas, Soal model pengganti Siska?" tebak Maya cepat.

"Betul sekali," Arch berjalan mendekat, meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu duduk di kursi tunggal di hadapan Maya. "Siska tadi memang sampah, tapi kita tetap butuh muse utama buat koleksi Summer Royalty. Siapa calonmu?"

Maya membuka satu map hitam yang dari tadi dia pisahkan dari tumpukan berkas lainnya. Dia menggeser sebuah foto ke hadapan Arch.

Di dalam foto itu, tampak seorang gadis muda berkulit eksotis dengan rambut keriting alami yang megar indah. Tatapan matanya tajam, tidak memakai makeup tebal, tapi memancarkan aura liar dan elegan di saat yang bersamaan.

"Nadia," kata Maya mantap. "Dia model independen dari daerah timur. Belum punya nama besar, belum punya agensi raksasa, tapi karakternya sangat kuat. Sesuai banget sama konsep terracotta dan warna bumi yang aku buat ini. Menurut mu bagaimana mas?"

Arch mengambil foto itu, menelitinya selama beberapa detik. "Dia gak punya pengikut jutaan di media sosial kayak Siska."

"Memang tidak mas, tapi pengikut bisa dibeli dan dibangun dalam sekejap kalau konseptualnya mahal, Mas," potong Maya penuh percaya diri. "Tapi pembawaan dan aura itu bawaan lahir. Siska punya pengikut, tapi kosong. Dia sama sekali tidak punya nilai selain tubuh dan riasan tebal nya. Nah Nadia memang gak punya pengikut, tapi dia punya jiwa. Dan tugas kita sebagai VANE adalah memoles jiwa itu sampai bernilai tinggi."

Arch terkekeh pelan. Kata-kata Maya sangat menohok, persis seperti visi bisnis yang selalu dipegangnya.

"Oke," Arch menepuk mejanya pelan. "Panggil Nadia sore ini. Aku mau lihat gimana caramu melatih dia."

"Baik.. Tapi Aku bukan cuma melatih dia, Mas Arch," Maya berdiri, menyampirkan tas tangannya ke bahu dengan gerakan yang sangat anggun. "Aku juga mau mulai jadwal perawatanku sendiri. Bukannya Mas Arch bilang aku harus berdiri sejajar di samping Mas sebagai pimpinan?"

Arch ikut berdiri, tingginya yang menjulang membuat Maya harus sedikit mendongak. Arch menatap wajah Maya yang tanpa cacat makeup tebal, menyadari betapa cantiknya struktur tulang wajah wanita di depannya ini jika dirawat dengan benar.

"Aku udah atur jadwal untukmu di klinik langganan VANE," kata Arch pelan, suaranya mendadak melembut. "Personal trainer, ahli gizi, dan dokter kulit terbaik. Mulai besok pagi, kamu gak cuma merancang karya mahal... tapi kamu juga bakal jadi mahakarya itu sendiri."

Maya tersenyum manis kali ini senyuman tulus tanpa dingin. "Terima kasih, Mas Arch. Aku gak bakal sia-siakan kesempatan ini."

Saat Maya melangkah keluar dari ruangan Arch, dadanya bergemuruh hangat. Rasa cemas dan ketakutan akan masa depan yang sempat menghantuinya di rumah tua sang ibu kini menguap sepenuhnya.

Dia tahu perjalanan ini masih panjang. Fandi dan keluarga mertuanya pasti belum selesai mengganggunya. Tapi hari ini, di lantai 18 VANE Tower, Maya tahu satu hal pasti: panggung kehidupan barunya baru saja dimulai, dan kali ini, dia yang memegang kendali penuh.

~Bersambung~

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!