Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Skenario Pengkhianat
Matanya membelalak tak percaya menatap sosok pengacara keluarga yang selama ini amat dipercayainya. Pria paruh baya berjas rapi itu melangkah mendekat dengan senyum licik yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
"Pak Lukman...?" bisik Cassandra seraya memegang tali tas sekolahnya dengan jemari gemetar. "Bapak yang selama ini bantu Ibu, kenapa Bapak tega melakukan ini sama keluarga saya?"
Pak Lukman tertawa pelan, suara baritonnya bergema dingin di antara dinding gudang yang berdebu.
"Keluargamu itu terlalu lugu, Cassandra. Ayahmu percaya padaku sepenuhnya, begitu juga ibumu yang pasrah menyerahkan seluruh dokumen hukum padaku."
Ia mengetukkan berkas tebal di tangannya ke palang besi di sampingnya. "Kakek Subroto hanya pembeli akhir. Aku adalah dalang sebenarnya yang menjual seluruh dokumen aset ayahmu sepuluh tahun lalu."
Cassandra mengepalkan tangannya rapat-rapat. Membiarkan kemarahan membakar habis sisa-sisa rasa takutnya. Ia melirik ke arah ibunya yang menatapnya penuh rasa bersalah dari atas kursi kayu.
"Bapak pikir Bapak bisa lolos setelah semua ini?" ancam Cassandra dengan nada suara yang mengeras. "Semua bukti kejahatan Bapak dan Kakek Subroto sudah tersimpan rapi di sistem kami!"
Nabila yang berdiri di dekat tangga terkekeh sinis seraya mengunyah permen karetnya. "Sistem kalian? Maksudmu si cowok kaya yang sok pahlawan itu?"
Ia mengarahkan pengontrol sinyal di tangannya ke atas plafon gudang.
"Narendra sudah masuk dalam jebakan gelombang mikro di area kontainer luar, Cas. Dia tidak akan bisa meretas apa pun dengan jam tangan mainannya itu."
Dada Cassandra berdegup kencang memikirkan keselamatan Narendra yang kini terisolasi di luar. Namun, sebuah kedipan cahaya merah kecil dari balik ventilasi atas gudang membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia kenal betul pola kedipan cahaya itu. Kode morse nirkabel buatan Narendra yang menandakan bahwa cowok itu sudah berhasil memutar balik sistem blokir Nabila.
"Lu selalu meremehkan Narendra, Bil," ujar Cassandra santai seraya melipat kedua tangannya di dada. "Sama seperti lu selalu meremehkan ikatan kita sebagai teman sebangku dulu."
Nabila mengernyitkan dahi bingung melihat sikap tenang Cassandra yang mendadak berubah. "Apa maksudmu?"
Sebelum Nabila sempat memendam kebingungannya, suara sirine darurat yang dibuat-buat mendadak meletup nyaring dari ponsel di saku Pak Lukman.
BIP! BIP! BIP!
Layar ponsel pengacara itu langsung menampilkan siaran siaran langsung dari server Kejaksaan Agung. Berkas kejahatan pencucian uang milik Pak Lukman terunggah secara otomatis, diiringi nama Narendra sebagai pengirim resminya.
"Apa-apaan ini?!" jerit Pak Lukman panik, jemarinya mengusap layar ponselnya yang terkunci total. "Bagaimana bisa berkas rahasiaku teretas?!"
Atap seng gudang mendadak berderit keras ketika sesosok cowok melompat turun dengan sangat lincah lewat jendela ventilasi atas. Narendra mendarat sempurna di atas tumpukan peti kayu, mengenakan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat amat keren di mata Cassandra.
Narendra menegakkan tubuhnya, merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Cassandra.
"Sorry bikin lu nunggu lama, Cantik. Jalur ventilasinya agak sempit buat bahu gue."
Pipi Cassandra mendadak memerah panas di tengah situasi tegang tersebut. Senyuman miring nan percaya diri dari Narendra selalu berhasil membuat jantungnya berdebar tak karuan, dan suasana mendadak terasa romantis.
"Lu selalu suka masuk pakai gaya pahlawan kesorean ya, Ren?" sindir Cassandra seraya menahan senyum manisnya.
Narendra tertawa kecil seraya melangkah turun dari peti kayu, menghampiri posisi Cassandra. "Yang penting kan acaranya makin seru kalau gue muncul tepat waktu."
Pak Lukman yang murka segera menarik pisau lipat dari saku jasnya, mengarahkannya tepat ke dada Narendra. "Bocah tengil! Jangan pikir kalian bisa keluar hidup-hidup dari sini!"
Narendra tidak panik sedikit pun. Ia malah merangkul pinggang Cassandra dengan tangan kanannya, menarik cewek itu merapat ke sisinya secara protektif.
"Cas, lu ingat cara kita melumpuhkan pengawal waktu di laboratorium sekolah?" bisik Narendra lembut di samping telinga Cassandra.
"Yang pakai frekuensi suara tinggi?" balas Cassandra seraya menatap mata cokelat Narendra yang memikat.
"Bukan, yang satu lagi," bisik Narendra seraya menyunggingkan senyum jahil. "Yang bikin musuh kita kelihatan bodoh di depan kamera."
Jemari Narendra menekan tombol pada jam tangan pintarnya, memicu kilatan cahaya blitz berkekuatan tinggi dari empat sudut ruangan gudang secara bersamaan.
BLAST!
Cahaya menyilaukan itu membuat Pak Lukman dan Nabila menjerit kesakitan seraya menutup mata mereka yang mendadak buta sementara.
Narendra dengan sigap memutar tubuh Pak Lukman, melumpuhkan pergelangan tangan pria tua itu hingga pisaunya terjatuh ke lantai beton. Sementara itu, Cassandra berlari cepat menghampiri ibunya dan memotong ikatan tali menggunakan pisau lipat yang ia bawa.
"Ibu enggak apa-apa?" tanya Cassandra khawatir seraya memeluk ibunya erat-erat.
Ibunya mengangguk terisak, membelai pipi putrinya dengan kehangatan yang amat menenangkan.
Narendra menyambar tas berkas milik Pak Lukman yang tergeletak di atas meja kayu. "Semua dokumen asli milik ayah lu dan sertifikat utang fiktif ada di dalam tas ini, Cas."
"Kita berhasil, Ren!" seru Cassandra gembira, menatap Narendra dengan binar mata yang penuh rasa kagum.
Narendra berjalan mendekati Cassandra, mengelus kepala cewek itu dengan penuh kasih sayang di tengah keremangan gudang. "Gue kan udah bilang, enggak ada yang bisa memisahkan kita kalau kita bekerja bersama."
Mereka berdua saling menatap dalam-dalam, mengabaikan Pak Lukman dan Nabila yang masih tergeletak merintih di lantai. Momen manis itu terasa begitu sempurna seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Namun, saat mereka bertiga hendak melangkah keluar melewati pintu utama gudang yang terbuka lebar.
Sebuah barisan mobil hitam berlogo konsorsium resmi mendadak berhenti mengepung area luar gudang. Kakek Subroto keluar dari pintu belakang mobil paling mewah, dikawal oleh delapan pria tegap berpakaian militer.
Kakek Subroto menyunggingkan senyum dingin seraya mengangkat sebuah tombol detonator yang terhubung langsung dengan kalung besi yang mendadak terkunci otomatis di leher Narendra.
"Kamu pikir kamu menang, Narendra?"
ucap Kakek Subroto melalui pengeras suara mobilnya. "Kalung di lehermu akan meledak dalam waktu empat puluh detik jika kamu tidak menyerahkan seluruh flashdisk enkripsi itu sekarang juga."