Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sean dan Sena sedang bersiap mau menerima hukuman dari daddy mereka karena ulah mereka sendiri. Walau keadaan Zuraida sudah sangat baik dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa namun tetap si kembar akan menerima ganjarannya.
Mudah saja bagi Arfan mencari tahu apa yang terjadi pada Zuraida. Penyebab keracunan yang dialami istrinya. Hampir semua sudut ruang rumah itu di pasang cctv jadi tak ada yang luput dari pandangannya. Terlebih kotak kue itu di lihat pelayan ada di kamar si kembar.
"Hukumannya jangan terlalu berat, Mas." Pinta Zuraida.
"Nggak, tapi mereka harus jera dan tak akan mengulanginya lagi."
"Kalau itu saya setuju, Mas. Hukuman seperti apa yang akan mas berikan pada si kembar?."
"Nanti kamu akan tahu sendiri." Pria itu menggandeng tangan Zuraida. Berjalan keluar kamar dan menuju anak-anak di ruang keluarga.
Kedua anak itu tertunduk lesu, pasrah menerima hukuman dari sang daddy. Arfan dan Zuraida sudah berada di tengah si kembar.
"Tahun ajaran baru kalian tak lagi sekolah di rumah seperti yang kalian dan mommy kalian minta. Tetapi kalian akan masuk sekolah dasar di sekolah yang sudah daddy pilihkan. Kalian akan di antar jemput Ibu kalian. Tak ada drama untuk hukuman daddy ini."
"Tapi, Dad..." Sean mengangkat wajahnya. Sena juga. Sama-sama menatap wajah serius daddy mereka. Waktunya tak lama lagi sampai ajaran tahun baru, 3 bulan lagi.
Arfan tak menyela dengan kata hanya menatap putranya saja.
"Aku dan Sena harus satu kelas." Sean tak bisa tanpa Sena.
"Itu terserah pihak sekolah kalian nanti." Tegas Arfan.
Pandangan kedua anak laki-laki itu sekarang tertuju pada Zuraida. Mereka berharap Zuraida bisa membantu.
"Tolong bantu bicara pada pihak sekolah supaya aku dan Sena satu kelas."
"Saya tak bisa janji apa-apa tapi akan saya usahakan." Jawab Zuraida sangat bijak.
"Tapi ingat baik-baik, Sean, Sena." Tegas Arfan tak bisa dibantah. "Bukan salah ibu kalian kalau sampai kalian tidak satu kelas."
"Iya, Dad," Sean hanya bisa pasrah.
Si kembar diam di sudut kamar setelah tahu hukuman yang mereka dapatkan.
"Bagaimana ini, Sena?."
"Tenang saja, Sean. Selama ada aku kamu nggak akan kenapa-kenapa."
"Aku sangat takut, Sena." Sean memeluk lututnya. Menaruh dagu pada lutut ujung lutut. Matanya sudah basah. Rasa takut membuatnya sangat lemah.
"Kita coba telepon mommy saja lagi, minta bantuan mommy. Siapa tahu sekarang mommy sudah bisa ditelepon." Sebab sudah beberapa hari ini tak dapat mereka hubungi. Entah kenapa?.
"Iya," Sean mengangguk penuh harap. Ia mengusap mata basahnya. Satu harapan itu bisa menyelamatkannya supaya tak masuk sekolah dasar.
Sudah mencoba berulang kali tapi mommy mereka masih belum bisa dihubungi. Mata yang sudah kering itu kembali basah, lebih basah dari yang sebelumnya.
Tiga bulan kemudian.
Si kembar sudah rapi dengan seragam merah putih. Bekal sudah masuk ke dalam tas masing-masing. Zuraida sudah rapi dan memegangi kunci mobil. Semenjak suaminya meminta tolong padanya untuk mengantar jemput sekolah. Arfan sendiri mengajarimu mengendarai mobil sampai ia bisa dilepas sendiri di jalan raya.
"Ayo, naik." Pintanya pada si kembar.
Sena dan Sean menurut, naik dan duduk di kursi belakang. Zuraida tersenyum. Tak masalah sudah seperti supir juga.
Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Sesekali saja Zuraida melirik si kembar dari kaca spion. Kedua anak itu sama-sama menatap keluar jendela. Mobil Zuraida sudah parkir, datang lebih awal saja yang parkir sudah banyak.
"Kalian nggak mau turun?," tanya Zuraida setelah menunggu beberapa menit namun si kembar belum turun juga dari mobil.
"Kamu pasti melapor kalau kita nggak mau sekolah." Jawab Sena.
"Pastinya. Karena daddy kalian yang meminta pada saya supaya terus melapor kegiatan kalian berdua. Termasuk sekarang ini."
Sena dan Sean turun, mereka berjalan di belakang Zuraida. Zuraida menyimak setiap informasi yang diberikan pihak sekolah untuk kelas satu. Mereka diminta kumpul di sebuah aula yang sangat luas. Para orang tua hanya melihat saja dari jendela kaca.
Zuraida mengamati si kembar yang tak berbaur dengan anak-anak yang lain. Sean dan Sena lebih memilih duduk di paling belakang padahal di depan masih ada tempat. Ibu Guru sudah meminta mereka duduk di depan tapi tak dihiraukan si kembar.
Sean dan Sena hampir tak bersuara kalau tidak dipaksa oleh Ibu Guru di aula itu. Tak ada interaksi, hanya diam di tempat mereka.
Hari pertama telah berlalu begitu saja. Sena dan Sean sudah di mobil. Masih menunggu Zuraida.
"Kamu dari mana?," tanya Sena ketus saat Zuraida duduk di kursi kemudi
"Ada perlu sebentar, tak sampai sepuluh menit kan?." Sambil tersenyum.
Sena tak merespon, ia langsung buang muka ketika Zuraida meliriknya.
Usai semua anak yang di aula keluar, ia segera menghampiri salah satu guru di sana. Zuraida mempertanyakan si kembar dengan hasil pengamatannya.
Guru itu mengatakan hal yang sangat wajar jika di hari pertama anak akan sulit beradaptasi. Meski ada yang sudah bisa melakukannya. Lambat laun berjalannya waktu semua anak pasti mampu menyesuaikan diri, mendapatkan teman dan bersosialisasi.
Setidaknya dengan informasi itu Zuraida menjadi tenang namun tetap akan mengawasi anak-anaknya. Dalam perjalanan pulang pun tak ada yang bicara sampai tiba di rumah. Si kembar langsung turun dan berlari ke dalam kamar. Meninggalkan tas mereka di mobil. Zuraida yang membawanya masuk.
Bekal pun tak disentuh mereka. Zuraida menatap kamar anak-anak.
Kring Kring
Suaminya yang menghubunginya.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam, Zuraida. Bagaimana hari pertama anak-anak di sekolah?."
Tak ada yang ditutupi dari suaminya, ia ceritakan apa yang disaksikannya. Semuanya tanpa ada yang kurang. Arfan pun mengatakan hal yang sama persis dengan Ibu Guru di aula tadi.
"Udah kamu jangan khawatir."
"Iya, Mas."
"Sekarang anak-anaknya di mana?."
"Di kamar mereka, Mas."
"Tolong kamu temani di sana, nanti aku pulang cepat untuk makan bersama kamu dan anak-anak."
"Baik, Mas."
Zuraida berjalan mendekati kamar si kembar.
Tok Tok
Tak ada respon.
"Sean...Sena..."
Tak ada yang menyahut.
"Sena...Sean..."
Masih belum ada yang menyahut.
Tangannya sudah memegangi gagang pintu dan hendak membukanya. Siapa tahu tak dikunci. Namun ternyata dikunci anak-anak.
"Kalau ada apa-apa kalian bisa bicara dengan saya."
Brak
Entah benda apa yang dilempar ke pintu. Zuraida tahu anak-anak tak menginginkannya.
"Atau bisa bicara pada mommy kalian."
Prang
Entah pas bunga atau benda pecah belah apa yang dilempar mereka ke pintu.
"Apa dengan marah-marah begini bisa merubah keputusan daddy kalian."
Pintu yang dikunci itu sudah terbuka, Sena berdiri di ambang pintu di mana sekelilingnya banyak pecahan kaca. Tapi anak itu pintar, masih menggunakan sepatu sekolah jadi tak ada yang terluka.
"Minta daddy menarik keputusannya. Sebagai imbalannya kami akan menerimamu menjadi ibu kami."
Bersambung.