Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Ujian Table Manner Sang Jenderal
BAB 12: Ujian Table Manner Sang Jenderal
Suasana di dalam ruang makan utama kediaman Purnawirawan Jenderal Dudung mendadak sunyi, diselimuti aura ketegangan yang sangat pekat khas lingkungan militer senior.
Meja makan panjang berbahan kayu jati tua berukir itu ditata sangat presisi.
Taplak meja berwarna putih bersih membentang tanpa lipatan yang cacat.
Di atasnya, jajaran sendok, garpu berbagai ukuran, pisau daging berbahan baja mengilap, napkin kain berlipat tinggi, hingga set gelas kristal berjejer rapi sesuai standar etiket makan malam resmi perwira tinggi militer.
Di ujung meja, Purnawirawan Jenderal Dudung duduk dengan posisi tubuh tegap bagai patung.
Bahunya bidang, dadanya terangkat, dan tatapan matanya yang tajam seperti elang terus menatap ke arah Mayang.
Di sampingnya, Ibu Diah duduk dengan keanggunan seorang ibu komandan mengamati setiap gerak-gerik gadis berkacamata tebal di depannya.
Mayor Aris duduk tepat di sebelah Mayang.
Mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) yang kaku dan rapi, punggung sang Komandan Batalyon itu tampak lurus tegak.
Namun, dari sudut matanya, Aris tak sedikit pun mengalihkan perhatian dari Mayang. Jemari tangannya yang kekar berada di atas paha, siap pasang badan jika situasi memburuk.
"Di keluarga kami ini," suara Jenderal Dudung terdengar menggelegar tapi tenang, berat, dan dipenuhi penekanan yang menekan udara di sekitar ruangan,
"kedisiplinan tidak hanya berlaku di medan tempur atau saat memimpin pasukan di lapangan. Kedisiplinan adalah identitas yang melekat sampai ke meja makan. Ketenangan, kepatuhan pada aturan, dan presisi adalah cerminan dari karakter seorang prajurit beserta keluarganya. Silakan menikmati hidangan pembuka."
Dua pelayan berseragam rapi melangkah maju tanpa suara, menyajikan hidangan pembuka berupa sup krim jamur kental beraroma harum, disusul oleh hidangan utama berupa steak daging sapi pilihan dengan potongan tebal berbalur saus lada hitam.
Mayang menelan ludah dengan susah payah. Kacamata tebalnya sempat meluncur di pangkal hidungnya, dan dengan cepat ia betulkan memakai jari telunjuknya.
Di hadapannya, jajaran peralatan makan logam itu tampak bagaikan senjata taktis yang asing dan mengintimidasi.
Mbak Rina sebenarnya pernah mengajarinya dasar-dasar etiket makan barat, tetapi berhadapan langsung dengan mantan jenderal bintang dua dan ibu ketua organisasi senior di bawah sorotan lampu kristal ruangan ini sukses membuat ingatan Mayang buyar seketika.
“Duh, Mayang... fokus! Ini cuma pisau sama garpu, bukan bom waktu!” batin Mayang mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Mayang merapikan posisi duduknya, mencoba menegakkan punggung seperti instruksi tersembunyi dari atmosfer ruangan.
Ia mengulurkan tangan, meraih garpu paling luar di sebelah kiri dan pisau daging berbilah bergerigi di sebelah kanan.
Namun, karena terlalu tegang dan jemarinya sedikit gemetaran akibat tatapan menyelidik Ibu Diah, pegangan Mayang pada gagang pisau menjadi kaku dan terlalu menekan.
Mayang mencoba memotong bagian tepi daging steak yang cukup tebal itu dengan sekuat tenaga.
Sreeek! Kle tak! dung!
Pisau yang dipegang Mayang meleset dari permukaan daging, meluncur keras menghantam pinggiran piring porselen kristal hingga menimbulkan suara dentingan nyaring yang memecah keheningan meja makan!
Potongan kecil saus lada hitam bahkan memercik sedikit ke atas taplak meja putih yang bersih.
Suasana mendadak membeku seketika.
Kapten Farhan yang baru saja mengangkat sendok supnya langsung menghentikan gerakan tangannya di udara.
Ibu Diah menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala pelan, menatap pecahan keteraturan itu dengan pandangan prihatin. Aura ketegangan militer di ruangan tersebut mendadak melonjak ke tingkat maksimal.
Jenderal Dudung meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring dengan gerakan lambat namun penuh penekanan.
Beliau menegakkan badan, menatap Mayang lurus-lurus melalui tatapan matanya yang sangat berwibawa.
"Gadis muda," ujar Jenderal Dudung dengan nada suara dingin dan dalam, "memotong daging di meja makan perwira tidak membutuhkan kekuatan otot atau kehebohan, melainkan ketenangan, kontrol diri, dan presisi. Jika memegang pisau makan saja kamu sudah kehilangan kendali, bagaimana kamu bisa mengendalikan dirimu saat mendampingi seorang Komandan Batalyon di tengah situasi krisis?"
Wajah Mayang seketika memerah padam. Rasa malu dan canggung yang luar biasa mendadak menyerang dadanya, membuat dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Mayor Aris, Mayang kehilangan kata-kata dan tidak tahu harus berbuat apa.
Tangannya membeku di atas meja, dan matanya mulai berkaca-kaca menatap piring di hadapannya.
Namun, sebelum Mayang sempat menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa malunya, sebuah gerakan mendadak terjadi di sampingnya.
Mayor Aris berdiri sedikit dari kursinya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun dan tanpa peduli pada tatapan heran dari ayah, ibu, serta sepupunya, sang Mayor meraih piring milik Mayang secara perlahan dan memindahkannya ke depan dadanya sendiri.
Dengan gerakan tangan yang sangat tenang, terampil, dan terukur, Mayor Aris mengambil pisau dan garpunya sendiri.
Jemari tangannya yang kekar dan berurat bergerak dengan presisi tinggi, memotong daging steak di piring Mayang menjadi potongan-potongan kecil berukuran satu gigitan yang sangat rapi.
Tidak ada suara dentingan piring, tidak ada percikan saus. Semua dilakukan Aris dengan kontrol diri yang sempurna.
Setelah seluruh daging terpotong rapi, Aris memindahkan kembali piring tersebut ke hadapan Mayang.
Aris sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke arah Mayang.
"Makanlah," bisik Aris sangat pelan dengan suara bass-nya yang hangat dan dalam, tepat di dekat telinga Mayang.
"Sudah saya potongkan semuanya. Kamu tinggal makan menggunakan garpu."
Mayang terperangah. Matanya membelalak di balik kacamata tebalnya.
Ia menatap piringnya yang kini berisi potongan daging rapi, lalu mendongak menatap Aris.
Sang Mayor kini kembali duduk tegap di kursinya, mulai memotong dagingnya sendiri seolah-olah aksi penyelamatan penuh kehangatan tadi adalah hal paling biasa di dunia.
Jenderal Dudung dan Ibu Diah terpaku menyaksikan pemandangan tersebut.
Aris putra mereka yang terkenal paling dingin, paling kaku, bersikap tegas tanpa kompromi, dan paling anti memanjakan siapa pun baru saja melayani seorang gadis di meja makan keluarga dengan tangannya sendiri di depan mata mereka!
"Aris," tegur Ibu Diah dengan nada suara yang campur aduk antara terkejut dan tak percaya. "Kamu memanjakannya di depan Ayahmu?"
Aris meletakkan pisaunya sejenak, lalu mendongak menatap ibunya dan ayahnya bergantian dengan pandangan mata yang sangat tenang, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Bukan memanjakan, Ibu," jawab Aris tegas, aura kepemimpinannya terpancar kuat.
"Sebagai seorang perwira dan calon pemimpin, tugas utama saya adalah melindungi, membantu, dan pasang badan saat orang yang berada di bawah tanggung jawab saya mengalami kesulitan.
Mayang belum terbiasa dengan aturan meja makan militer ini, dan itu adalah tugas saya untuk membimbingnya secara langsung, bukan membiarkannya merasa terpojok atau menghakiminya atas ketidakpercayaan dirinya."
Kata-kata penuh perlindungan dan ketegasan dari Aris seketika membuat seluruh ruangan hening kembali.
Ketegangan yang tadinya kaku perlahan-lahan mencair oleh wibawa rasa tanggung jawab sang Mayor.
Mayang menelan ludah, dadanya berdesir hebat mendengarkan pembelaan Aris. Keberanian ajaib dan semangat pantang menyerah yang ada di dalam dirinya seketika bangkit kembali.
Ia menegakkan punggungnya, membetulkan letak kacamatanya, lalu mengambil garpu dengan mantap. Ia memakan sepotong daging buatan Aris, lalu menatap Jenderal Dudung dan Ibu Diah dengan senyuman yang sangat tulus dan mata berbinar-binar.
"Jenderal, Ibu Diah..." kata Mayang dengan suara nyaring namun penuh kesopanan.
"Saya tahu saya masih sangat jauh dari kata sempurna untuk berdiri di samping perwira hebat seperti Mas Mayor Aris. Saya ceroboh, sering tersandung, dan jangankan aturan meja makan militer, pakai pisau daging saja saya masih belepotan. Tapi..."
Mayang menoleh sejenak, menatap Aris yang juga sedang meliriknya dari samping.
"...saya berjanji tidak akan lari. Saya akan belajar sungguh-sungguh. Saya akan belajar tata krama organisasi Persit, belajar berdiri tegap di samping Mas Aris, dan menjadi alasan beliau bisa tersenyum dan merasa tenang saat pulang dari tugas negara yang berat."
Jenderal Dudung menatap Mayang dalam-dalam. Ruangan itu mendadak begitu hening hingga suara detak jam dinding terdengar jelas.
Tatapan mata Sang Jenderal yang tadinya setajam elang dan mengintimidasi perlahan-lahan melunak. Kerutan kaku di dahinya mengendur, dan sudut kumis tebalnya mendadak terangkat ke atas.
Brak!
Jenderal Dudung menepuk meja makan pelan dengan telapak tangannya, lalu melepaskan tawa berwibawa yang menggema di seluruh sudut ruangan.
"Hahaha! Luar biasa! Keberanianmu sungguh luar biasa, Gadis Muda!" seru Jenderal Dudung sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh rasa kagum.
"Kamu tidak cengeng saat dikritik, kamu tidak gemetar saat ditegur, dan kamu punya mental ketulusan yang sangat langka!"
Jenderal Dudung melirik Aris dengan tatapan mata seorang ayah yang merasa bangga. "Pilihanmu tidak salah sama sekali, Aris. Gadis ini punya mental prajurit sejati—tidak pernah menyerah walau berada di bawah tekanan medan tempur!"
Ibu Diah yang melihat suaminya tertawa lepas akhirnya tak mampu menahan senyumnya. Wanita anggun itu menghela napas lega, menatap Mayang dengan tatapan hangat seorang ibu. "Bros perak ukiran pita itu memang sangat pantas melingkar di bajumu, Mayang.
Setelah makan malam ini selesai, ikut Ibu ke ruang tengah. Ada banyak hal tentang tradisi dan kehangatan keluarga Persit yang ingin Ibu ajarkan padamu."
Mata Mayang berbinar-binar gembira, jiwanya yang heboh kembali membara. "Siap, Ibu Mertua! Eh... Ibu Diah maksudnya!"
Gerrr! Seluruh meja makan seketika riuh oleh gelak tawa Kapten Farhan dan Jenderal Dudung.
Di tengah keriuhan itu, Mayor Aris menghembuskan napas panjang penuh rasa lega.
Beliau melirik Mayang di sampingnya. Di bawah meja makan, tanpa diketahui oleh siapa pun, tangan kekar Aris bergerak secara perlahan meraih jemari Mayang, lalu memberikan genggaman dan remasan lembut yang hangat—sebuah tanda terima kasih dan rasa cinta yang begitu dalam.
Ujian pertama di rumah besar sang Jenderal telah berhasil ditaklukkan Mayang dengan kelulusan yang sempurna!