Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. Antara Misi Negara & Kehormatan Seorang Wanita
Tatapannya perlahan melunak, tapi bukan karena ia telah memaafkan. Akan tetapi, karena pada akhirnya ia telah mengambil keputusan. Ia memalingkan wajah. Tanpa sepatah kata, Jenara masuk ke dalam mobil.
Mesin kendaraan dinyalakan. Perlahan, kendaraan itu meninggalkan mansion, membawa Jenara kembali ke kediaman utama yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak hari ia resmi menyandang nama belakang Reval sebagai istrinya.
Di sisi lain halaman, dari balik deretan pilar batu yang menjulang, sepasang mata mengikuti mobil itu hingga menghilang di balik gerbang besi.
Dhana, Pria itu berdiri dalam diam, kedua tangannya tersimpan di saku celana. Sejak Jenara memasuki ruang kerja Reval tadi, ia tidak benar-benar pergi. Entah mengapa, ia memilih menunggu.
Barangkali karena masih menyimpan harapan. Harapan bahwa Jenara berhasil menggagalkan perintah tak masuk akal yang diberikan Reval kepadanya. Namun saat melihat wajah Jenara sekilas sebelum memasuki mobil, Dhana langsung memahami jawabannya.
Tatapan kosong, mata yang sedikit memerah dan senyum sopan yang terasa dipaksakan.
"Sepertinya dia juga gagal..." gumamnya pelan.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Dhana memang tidak mengenal Reval cukup lama. Namun ia tahu, sekali pria itu mengambil keputusan, hampir tidak ada seorang pun yang mampu mengubahnya.
Tetapi mengetahui hal itu tidak membuat beban di dadanya berkurang, justru semakin berat. Tanpa sadar, tangannya mengepal. Bukan karena marah kepada Jenara, melainkan kepada keadaan yang menyeret mereka ke dalam keputusan yang tidak pernah mereka inginkan.
Tatapannya kembali mengarah ke gerbang yang kini telah tertutup rapat. "Maaf..." Suara itu nyaris tak terdengar. "Aku berharap kau bisa menghentikan semua ini."
Sejak ia memperhatikan semuanya dari kejauhan. Ia memang tidak dapat mendengar apa yang dipikirkan Jenara. Namun ekspresi perempuan itu sudah cukup menjelaskan bahwa sesuatu telah berubah.
"Bukan cuma kekecewaan..." gumamnya pelan. "Ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada itu dimatanya."
“Sial, antara misi Negara dan kehormatan seorang wanita. Bagaimana bisa aku akhirnya terjebak dalam dua pilihan sulit ini.” Ia menghela napas panjang. Perintah Reval terus terngiang di kepalanya. Semakin dipikirkan, semakin terasa mustahil untuk diterima.
"Aku harus mencari jalan lain."
Ia berbalik tanpa membuang waktu. Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarainya melaju meninggalkan kawasan mansion menuju sebuah rumah makan sederhana di sudut kota yang biasa dikunjungi para anak buah Reval.
...****************...
Tempat itu memang tampak biasa. Beberapa meja kayu memenuhi ruangan. Aroma masakan rumahan memenuhi udara. Para pelanggan datang dan pergi tanpa menyadari bahwa lokasi sederhana itu sering menjadi titik temu yang aman bagi orang-orang tertentu.
Dhana melangkah masuk. Pandangannya segera menemukan sosok yang sudah dikenalnya. Seorang pria berambut hitam sedang sibuk melayani para pelanggan yang datang. Zeno Kaliandra, mata-mata yang dikirim oleh markas besar untuk membantunya menyampaikan informasi selama masa penyamarannya sebagai Ardhana Vendra.
Melihat kedatangan Dhana, Zeno bergegas menghampiri seakan sedang melayani seperti pelanggan yang lainnya. “Pesenan biasa?”
“Ya!” Dhana membenarkan.
Setelah itu Zeno kembali sibuk menyiapkan pesanan yang bisa dipesan oleh Dhana setiap berkunjung. Tampak Zeno membuat pesanan Dhan sembari memeriksa sekelilingnya, sebelum ia kembali membawanya ke meja dimana Dhana sudah menunggunya.
Disisi yang sama, Dhana menunggu hingga dua pelanggan di meja sebelah mulai sibuk mengobrol. Setelah yakin tidak ada yang memperhatikan, ia berkata lirih. "Reval memberi tugas baru."
Zeno mengangkat sebelah alis. "Seberapa buruk?"
Dhana menatap cairan teh yang masih mengepulkan uap. "Lebih buruk dari penyiksaan."
Zeno terkekeh kecil. "Wah, menarik."
Dhana mengangkat wajah. "Dia menyuruhku menghamili istrinya."
Suara sendok yang sedang dipegang Zeno terlepas begitu saja ke atas nampan.
"...Apa?"
Dhana tetap diam. Beberapa detik berikutnya, Zeno justru menutup mulutnya sambil menahan tawa. Bahunya bergetar hebat. "Hahaha... maaf... maaf...."
Ia berbalik seolah sedang mengambil tisu agar pelanggan lain tidak melihat wajahnya yang nyaris merah.
"Dari semua kemungkinan..." Zeno masih tertawa pelan. "Aku membayangkan kau disuruh membunuh pejabat, menyelundupkan senjata, atau merampok bank. Tapi ini..."
Ia kembali menatap Dhana. "Nasibmu benar-benar luar biasa."
Dhana sama sekali tidak bereaksi. Tatapannya kosong. "Aku tidak datang kemari untuk ditertawakan."
Kalimat itu diucapkan begitu pelan, tetapi cukup membuat senyum Zeno menghilang. Ia menarik kursi di seberang Dhana dengan alasan sedang membersihkan meja.
Wajahnya kini berubah serius. "Ceritakan semuanya."
Dhana mengulang percakapannya dengan Reval tanpa mengurangi satu kata pun. Tentang keinginannya memiliki pewaris dengan darah terbaik. Tentang keyakinannya bahwa Dhana adalah orang paling layak untuk menjalankan tugas itu. Semakin banyak yang didengar Zeno, semakin dalam kerutan di dahinya.
"Ini buruk," gumamnya. "Sangat buruk."
Dhana mengangguk. "Karena itu aku butuh keputusan."
"Keputusan?"
"Aku tidak peduli dengan tugas sinting itu." Nada suaranya datar, tetapi rahangnya mengeras.
"Aku hanya ingin kepastian dari atasan."
Zeno terdiam.
Dhana melanjutkan. "Apakah aku tetap mempertahankan penyamaran dan menjalankan apa pun yang diperlukan demi negara..." Ia berhenti sesaat sebelum mengembuskan napas panjang.
"...atau aku mundur."
"Mundur?"
"Menyudahi operasi." Kalimat itu terasa begitu berat.
"Empat tahun penyamaran sudah memberiku cukup banyak informasi. Ya, meski harus aku akui kalau semua informasi itu belum menyangkut bagian inti klan mafia tersebut. Namun, kalau negara menganggap batasnya sampai di sini, aku akan keluar. Apa pun konsekuensinya."
Zeno menatap pria di depannya cukup lama. Ia tahu betul apa arti ucapan itu. Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Dhana kehilangan identitasnya. Kehilangan kehidupan normalnya. Memutus hubungan dengan keluarganya. Bahkan berkali-kali hampir kehilangan nyawa. Semua itu demi misi yang kini berada di ujung tanduk.
Zeno menghela napas panjang. "Aku tidak bisa memutuskan."
"Aku tahu."
"Tapi informasi ini harus sampai malam ini juga."
Dhana mengangguk pelan. "Aku butuh jawaban secepatnya."
"Kalau markas memerintahkanmu bertahan..."
Dhana memejamkan mata sesaat. "...aku akan bertahan."
"Dan kalau mereka memerintahkan menjalankan perintah Reval?"
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Bahkan suara piring yang beradu dari dapur seakan menghilang. Dhana membuka matanya perlahan. Sorotnya dingin, namun menyimpan kelelahan yang selama ini ia sembunyikan.
"Itulah yang ingin kutanyakan."
Ia menatap lurus ke arah Zeno. "Apakah demi negara... ada batas yang tidak boleh dilanggar?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak operasi dimulai empat tahun silam, bahkan Zeno Kaliandra tidak memiliki jawaban. Antara tugas negara dan kehormatan seorang wanita memang sangat sulit untuk memilih keputusan diantara kedua pilihan tersebut.
“Baiklah, kau tenang saja! Aku akan secepatnya menyampaikan hal ini kepada atasan,” ujar Zeno.
Setelah pembicaraan itu, Zeno segera pergi menuju dapur. Namun, bukan untuk kembali bekerja melainkan langsung menuju ke markas operasi. Sebab ia tahu setiap tugas yang Reval berikan pasti memiliki batas waktu yang singkat untuk Dhana maupun anak buah lainnya untuk menyelesaikannya.
Bersambung….