Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

"Enggak, siapa bilang?" Tira pura-pura biasa saja padahal dia gugup.

"Itu, duduknya saja diujung banget. Nanti jatuh lho."

Tira masih mengelak hingga akhirnya ia nyaris jatuh karena mundur-mundur terus. Untungnya Fahri sigap menangkap tangan istrinya, lalu menarik pekan dalam dekapannya.

"Setelah kita menikah kamu nggak boleh jauh dariku," kata Fahri dengan suara berbisik, membuat Tira panas dingin. "Bagaimana, nurut?" Fahri menatap Tira yang spontan mengangguk pasrah.

Perlahan. Tanpa paksaan. Tanpa perlu terburu-buru. Malam pertama mereka mungkin tidak sempurna. Bahkan sedikit konyol karena dua-duanya sama-sama gugup. Tetapi justru dari kecanggungan itulah sesuatu yang sederhana mulai tumbuh yaitu rasa nyaman. Dan mungkin, cinta memang sering kali tidak datang seperti petir. Kadang ia datang seperti malam itu dengan pelan, diam-diam, lalu menetap tanpa banyak suara.

***

Tiga hari setelah bulan madu, Tira dan Fahri kembali ke rumah mereka di sebuah perumahan di Depok. Rumah itu masih terasa seperti tempat baru bagi Tira. Bahkan beberapa kardus miliknya belum sempat dibuka. Ada pakaian yang masih tersimpan di koper, ada buku-buku yang belum menemukan tempat, dan ada beberapa barang kecil dari rumah Ayah yang sengaja ia bawa karena katanya, “Biar rumah baru nggak terlalu asing.”

Pagi pertama di rumah itu dimulai dengan sesuatu yang sederhana. Tira terbangun lebih dulu. Ia membuka mata dan beberapa detik hanya memandangi langit-langit kamar. Kemudian ia menoleh ke samping. Fahri masih tidur. Wajah lelaki itu terlihat jauh lebih tenang dibanding ketika sedang bekerja. Tira tersenyum kecil. “Suamiku,” bisiknya, masih merasa aneh mengucapkan kata itu.

Ia turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke dapur. Masalahnya, Tira tidak terlalu pandai memasak. Bukan karena tidak mau belajar, tetapi selama tinggal bersama orang tuanya, urusan dapur lebih sering dibantu Ibunya.

Pagi itu ia membuka kulkas dan menemukan beberapa bahan makanan yang sudah disiapkan Fahri. Tira menghela napas. “Oke, Tira. Kamu sekarang istri orang. Masa bikin telur saja takut?” Ia mengambil telur. Lima belas menit kemudian, dapur dipenuhi aroma yang cukup mencurigakan.

Ketika Fahri keluar dari kamar, ia langsung berhenti di depan dapur. “Tira? Kamu masak?”

“Iya.”

Fahri menatap wajan. “Itu telur?”

Tira melirik masakannya. “Harusnya.”

Fahri mendekat. “Kenapa warnanya seperti itu?”

Tira membela diri. “Aku sengaja bikin matang."

“Ini bukan matang. Ini sudah melewati kehidupan.”

Tira langsung memukul lengannya. “Abang!”

Fahri tertawa. “Maaf.” Ia mengambil piring. “Biar saya bantu.”

“Nggak usah. Aku bisa.”

“Saya nggak bilang kamu nggak bisa.”

“Tapi wajah Abang bilang begitu.”

Fahri tertawa lagi. Akhirnya mereka sarapan dengan telur buatan Tira yang rasanya jauh dari sempurna. Fahri tetap menghabiskannya. Padahal Tira susah berkali-kali melarangnya, bahkan ia sudah bilang agar mereka sarapan di luar saja.

"Abang nyesal nggak punya istri yang nggak bisa masak?" tanya Tira penasaran.

Fahri menggeleng. "Sejujurnya aku bisa masak, jadi kalau istriku nggak bisa masak, nanti bisa aku ajari. Lagipula ayah sudah membocorkan hal ini jadi aku sudah nggak kaget." ia tersenyum pada istrinya untuk meyakinkan Tira bahwa ia benar-benar tidak masalah.

Begitulah hari-hari pertama mereka. Tidak selalu lancar-lancar saja. Justru lebih banyak hal sederhana yang tidak pernah Tira bayangkan sebelumnya, tetapi bersama Fahri ia merasa semuanya akan baik-baik saja.

***

Pagi itu Tira terbangun karena alarm berbunyi untuk ketiga kalinya. Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur, mencari ponsel tanpa membuka mata. “Lima menit lagi...” gumamnya, lalu menarik selimut. Baru saja ia kembali memejamkan mata, terdengar suara Fahri dari luar kamar.

“Sayang, kalau lima menit lagi terus, nanti keretanya yang berangkat duluan.”

Tira langsung membuka mata. “Astaga!” Ia bangkit begitu cepat sampai rambutnya berantakan. “Kenapa Abang nggak bangunin dari tadi?”

Fahri muncul di pintu kamar sambil tersenyum. “Sudah. Tiga kali.”

“Terus?”

“Kamu jawab, ‘lima menit lagi’ tiga kali juga.”

Tira melirik jam. “Kenapa Abang biarkan?”

“Saya kira istri saya punya ilmu teleportasi.”

Tira mendengus sambil mengambil handuk. “Bisa nggak sih pagi-pagi jangan bercanda?” Tira masuk kamar mandi, sementara Fahri kembali ke dapur. Beberapa menit kemudian Tira keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Ia terkejut melihat Fahri sedang berada di dapur. Di atas meja sudah tersedia dua piring sandwich dan dua gelas susu. “Abang bikin itu?” tanyanya.

Fahri mengangguk. “Simple saja. Biar nggak berangkat dengan perut kosong.”

Lagi-lagi Tira mengucapkan maaf karena harusnya ia yang melakukan semua itu, tetapi malah Fahri yang mengerjakan. "Semoga saja Abang nggak nyesal menikah sama aku," ia bicara sepelan mungkin, tetapi tetap saja Fahri bisa mendengar.

"InsyaAllah aku nggak akan menyesal, sayang. Lagipula menyiapkan sarapan dan masak itu bukan kewajiban istri, itu tugas suami. Tugas istri itu hanya melayani suaminya. Urusan rumah tangga ini kita kerjakan bersama-sama ya." Fahri mencubit pelan pipi istrinya.

Mereka menyelesaikan sarapan dengan terburu-buru. Tidak ada menu mewah. Hanya sandwich, susu, dan percakapan kecil yang membuat pagi terasa menyenangkan. Setelah semuanya siap, mereka keluar rumah. Fahri mengenakan helm, lalu memakaikan helm satunya lagi kepada Tira.

Tira naik ke motor. Tangannya sempat ragu ketika hendak memegang Fahri.

“Pegang saja,” kata Fahri. “Nanti jatuh.”

“Aku nggak akan jatuh.” Tira yang masih belum terbiasa memasang wajah cemberutnya.

Fahri yang iseng langsung menggas pelan motor hingga istrinya maju kedepan, mepet padanya. "Nah begitu baru benar," kata Fahri sambil tertawa.

"Iiissss Abang!" Tira makin cemberut. Meski sebenarnya hatinya berbunga-bunga. Tira akhirnya memegang pinggang Fahri. “Sudah?”

“Sudah.” Motor mereka melaju meninggalkan perumahan menuju stasiun.

Pagi itu jalanan Depok sudah ramai. Orang-orang berangkat kerja dengan wajah mengantuk, kendaraan memenuhi jalan, dan beberapa pedagang mulai membuka lapak. Tira memeluk Fahri sedikit lebih erat ketika motor melewati jalan yang tidak rata.

Sesampainya di stasiun, Fahri mencari tempat parkir. Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju peron. Di sinilah rutinitas baru mereka dimulai. Tira dan Fahri memang tinggal serumah, tetapi kantor mereka berada di lokasi berbeda. Mereka harus naik kereta dengan jalur yang berbeda. “Nanti pulang jam berapa?” tanya Fahri.

“Kayaknya jam lima.”

“Saya mungkin lebih cepat. Nanti saya tungguin di sini ya. Kita pulang bareng." Fahri hendak mencium keningnya Tira, tetapi karena ramai orang, Tira mengelak sambil melet. "Ehhh, awas nanti ya." kata Fahri dengan gemas. Sebenarnya berat berpisah tetapi mereka harus bekerja. “Kalau ada apa-apa, telepon.”

“Iya.” Kereta Tira datang lebih dahulu. Ia melangkah menuju pintu, lalu menoleh. Fahri masih berdiri di tempatnya. Tira tersenyum dan melambaikan tangan. Fahri membalas. Tira duduk di dalam kereta sambil tersenyum sendiri. Ponselnya bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!