Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: INTI ES ABADI

BAB 18: INTROSPEKSI DAN INTENSI BENTENG

​BRUK.

​Tubuh tegap Mo Xie akhirnya kehilangan keseimbangan. Kedua lututnya membentur permukaan salju hitam yang dingin dengan keras, membuatnya terduduk lemas di tengah hamparan medan laga yang sunyi dan luluh lantak.

​Pedang Kehampaan terlepas dari genggamannya, menancap miring di atas permukaan es dengan sisa-sisa uap ungu yang terus mendesis pelan sebelum meredup.

​Mo Xie mencengkeram kepalanya yang terasa berdenyut sangat hebat. Pikirannya bergolak, terus berputar-putar mencoba mencerna kata-kata dari entitas pemburu dimensi terdalam tadi.

​Bagian dari mereka... Pembawa kehancuran...

​"Mo Xie!"

​Xue Qingyue langsung berlutut di sampingnya, sama sekali tidak memedulikan jubah gaun perak-birunya yang kotor terkena jelaga abu belerang.

​Tangan dinginnya menyentuh bahu Mo Xie, mencoba menyalurkan sedikit Hukum Es murni untuk menstabilkan kondisi fisik pemuda itu yang tampak sangat terguncang.

​"Tenangkan dirimu. Jangan biarkan gejolak Qi Kegelapan itu menggerogoti kesadaran dan pikiranmu."

​"Kau benar, Xue Qingyue..." bisik Mo Xie dengan suara parau, napasnya menguap menjadi uap putih tebal di udara beku.

​Ia menatap telapak tangan kanannya yang gemetar hebat; kain hitam yang membebatnya telah hangus sebagian, memperlihatkan jaringan kulit yang mulai menghitam akibat dampak korosi Qi yang parah.

​"Pedang ini... setiap kali aku memanggil kekuatannya untuk melancarkan tebasan, rasanya seperti ada kehendak liar yang sangat kelaparan di dalam sana... sesuatu yang secara perlahan mencoba mengikis, melumat, dan menelan jiwaku dari dalam."

​Xue Qingyue menatap pergelangan tangan Mo Xie dengan raut cemas yang tersirat tajam.

​Jarak hirarki kekuatan antara praktisi fana di ranah Mortal seperti Mo Xie dan daya hancur Kehampaan yang tak bertepi itu terlalu berbahaya. Tanpa adanya wadah Dantian yang kokoh, mengayunkan senjata terkutuk itu sama saja dengan menenggak racun secara sengaja setiap hari.

​Namun, baik Mo Xie maupun Xue Qingyue sama sekali tidak menyadari satu anomali yang sedang terjadi di dalam tubuh pemuda itu.

​Di kedalaman tubuh Mo Xie, tepat di tempat esensi Inti Es Abadi bersemayam, sebuah reaksi misterius sedang berlangsung dengan sangat lambat namun pasti.

​Setiap kali Qi Kegelapan dari Pedang Kehampaan mencoba merambat naik ke lengan Mo Xie untuk menelan kesadarannya, pendar biru gletser dari inti es di mata kirinya akan berdenyut pasif.

​Inti es itu mengalirkan hawa beku purba yang perlahan-lahan melumat, membekukan, dan menetralkan balik gejolak kegelapan tersebut. Esensi purba itu bertindak bagaikan pemangsa puncak yang tak terlihat—menjinakkan keliaran Qi Kegelapan dan menampungnya menjadi cadangan pasokan laten yang menunggu saat tepat untuk dibangkitkan.

​Mo Xie perlahan menurunkan tangannya dari kepala, merasakan sensasi dingin yang sunyi mulai menjalar mulus dari dadanya, meredakan rasa sakit membakar di lengan kanannya secara bertahap.

​"Kita harus segera kembali ke Benteng Es Abadi," ucap Xue Qingyue sambil berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang anggun kepada Mo Xie untuk membantunya bangkit.

​"Ketua Agung Han Wuyan harus mengetahui secara langsung hal ini. Dan kau... kau butuh memulihkan tenagamu sebelum sekte luar mulai bergerak secara terang-terangan."

​Mo Xie memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri. Sendi-sendi tubuh fananya bergemeletuk memprotes beban fisik luar biasa yang baru saja ia lalui.

​Saat ia mengambil satu langkah, bilah Pedang Kehampaan yang menancap di salju mendadak meleleh menjadi kepulan asap hitam pekat, lalu meluncur cepat mengalir masuk kembali ke dalam pergelangan tangan kanannya yang tertutup kain hitam.

​"Kau benar, Xue Qingyue," ucap Mo Xie seraya menghembuskan napas panjang. Ia menyeka sisa darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan kiri.

​"Celah sudah tertutup sepenuhnya. Aku butuh waktu untuk memulihkan raga... dan menenangkan isi kepalaku."

​Xue Qingyue menatap Mo Xie dalam diam. Di balik ekspresi dinginnya yang berwibawa, praktisi wanita itu menangkap gumpalan kekhawatiran yang tersirat di mata kanan Mo Xie yang masih memerah samar.

​Ia paham betul, ancaman dari entitas dimensi dan bisikan tentang 'pembawa kehancuran' tadi telah meninggalkan bekas luka mendalam di mental praktisi ranah Mortal ini.

​Xue Qingyue menepuk bahu Mo Xie sekilas, lalu berjalan mendahuluinya untuk memastikan jalur kembali ke benteng utama aman dari sisa-sisa entitas Void.

​"Tapi kau jangan khawatir," ujar Xue Qingyue tanpa menoleh, namun nada suaranya terdengar begitu kokoh, tegas, dan meyakinkan.

​"Selama Ketua Agung masih bertakhta di Sekte Es Abadi, tidak ada satu pun sekte luar—termasuk Sekte Angin Surgawi—yang bisa berbuat seenaknya kepadamu atau mencampuri urusan dalam sekte kami."

​Mendengar nama itu disebut, langkah kaki Mo Xie seketika terhenti sejenak di atas hamparan salju tebal.

​Mo Xie teringat kembali ucapan Xue Qingyue beberapa waktu lalu tentang sosok legendaris tersebut. Han Wuyan... sang penguasa benteng utara.

​Di dunia yang hancur ini, di mana praktisi biasa merangkak kaku di ranah Mortal dan para elit bersusah payah mencapai ranah Awakened, Han Wuyan berdiri jauh di atas mereka semua.

​Dia adalah eksistensi yang telah mencapai puncak kekuasaan di ranah Ascendant—setingkat di bawah para Dewa itu sendiri. Sosok Han Wuyan adalah pilar mutlak yang membuat Sekte Es Abadi tetap tegak berdiri, menahan gempuran celah dimensi dan tekanan sekte-sekte serakah dari luar.

​"Han Wuyan... seorang Ascendant," gumam Mo Xie pelan, meraba dadanya yang kini terasa jauh lebih tenang berkat Inti Es Abadi yang terus bekerja menundukkan sisa-sisa kegelapan di dalam tubuhnya.

​Keyakinan bahwa ada sosok sekuat itu di balik Sekte Es Abadi memberikan sedikit rasa aman yang langka di tengah runtuhnya Benua Tianlan.

​Namun, di dalam lubuk hati tergelapnya, Mo Xie menyadari satu hal: ia tidak bisa selamanya berlindung di bawah bayang-bayang keagungan sang Ketua Agung jika ia ingin meretakkan takhta langit dan menuntaskan dendamnya sendiri.

​Mo Xie dan Xue Qingyue melangkah pergi meninggalkan lembah es yang telah luluh lantak, memunggungi sisa-sisa retakan dimensi yang telah membisu.

​Namun, jauh di balik tebing es yang membeku di batas horizon utara, sepasang mata legam milik Feng Yue dan sorot tajam milik Lu Cang masih berdiri di atas puncak karang, mengiringi setiap langkah kaki Mo Xie dari kejauhan dengan kalkulasi dingin yang tak tertebak.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!