Indonesia
NovelToon NovelToon
Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Cintapertama / Tamat
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Kacang atoom

Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pertunangan & Kenangan Pahit

Danang melangkah santai mendekati meja VIP, merangkul pinggang Siska secara posesif di hadapan semua orang. Tatapannya tertuju pada Rendy yang masih membungkuk di lantai, memegang serbet basah.

​"Ada apa, Sayang? Kok sampai heboh begitu?" tanya Danang dengan nada sok perhatian, meski matanya memancar kekejaman.

​"Ini loh, Nang. Kamu ingat tidak, pria miskin yang dulu pernah kirim surat cinta konyol ke aku waktu lulusan SMA?" Siska menunjuk Rendy dengan dagunya. "Ternyata dia kerja jadi pelayan di sini. Bukannya sadar diri, malah bikin keonar dan numpahin anggur."

​Danang menaikkan alisnya, berpura-pura terkejut sebelum akhirnya tertawa keras. Tawa yang sangat renyah, tetapi menyengat hingga ke tulang.

​"Oh, si Rendy 'Pengemis Beasiswa' itu?" Danang merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah dompet kulit buatan luar negeri.

"Kalian tahu, teman-teman? Waktu SMA dulu, dia pernah kerja paruh waktu seminggu penuh cuma buat beli kado ulang tahun murah buat Siska. Begitu dikasih, kadonya langsung dibuang ke tempat sampah sama Siska."

​Para pengunjung restoran yang menyaksikan adegan itu mulai berbisik-bisik. Beberapa tertawa pelan, membuat wajah Rendy terasa panas terbakar.

​"Danang, jangan diingatin lagi, ah. Jijik tahu," sahut Siska sambil bersandar di bahu Danang.

​Danang mengelus rambut Siska, lalu pandangannya kembali mengunci Rendy. Dengan perlahan, Danang menarik beberapa lembar uang kertas pecahan ratusan ribu dari dompetnya. Ia meremas uang itu hingga kusut, lalu melemparkannya tepat ke wajah Rendy.

​Lembaran uang itu mengenai pipi Rendy sebelum jatuh berhamburan di atas lantai marmer yang basah oleh anggur merah.

​"Nih, uang buat kamu. Ambil," ujar Danang dengan nada memerintah. "Hitung-hitung tip karena kamu sudah bikin pacar aku terhibur malam ini. Lumayan kan, bisa buat makan kamu dan ibumu seminggu?"

​Manajer Hendra yang berdiri di samping mereka ikut tertawa lebar, mencoba menyenangkan hati Danang. "Tuan Danang memang sangat dermawan! Rendy, ayo cepat ucapkan terima kasih pada Tuan Danang dan Nona Siska! Ambil uangnya!"

​Rendy mematung.

Matanya menatap tajam ke arah lembaran uang kusut di lantai. Tangannya yang memegang serbet terkepal begitu erat hingga otot-otot lengannya menegang. Sesuatu di dalam dadanya—rasa sabar yang selama tiga tahun ini ia tahan demi menjalankan amanat kakeknya—seketika pecah.

​Rendy tidak mengambil uang itu. Perlahan tapi pasti, ia menegakkan tubuhnya. Ia berdiri tegap, menatap lurus ke mata Danang dan Siska.

​"Rendy! Kamu tuli ya?! Ambil uangnya dan minta maaf!" bentak Manajer Hendra, panik melihat keberanian pelayannya.

​"Saya bekerja di sini untuk melayani pelanggan, bukan untuk jadi bahan hinaan kamu, Danang," suara Rendy terdengar sangat dalam, tenang, tetapi membawa tekanan aura yang dingin luar biasa.

​Siska tertegun sejenak. Ia belum pernah melihat tatapan Rendy yang seperti ini. Dulu, Rendy selalu menunduk, lemah, dan pasrah saat dihina. Tapi sekarang, tatapan mata pria itu tajam bagaikan bilah pisau.

​Danang merasa harga dirinya tercoreng karena dilawan oleh seorang pelayan. Wajahnya menggelap.

"Berani kamu menatap aku seperti itu, Hah?! Kamu cuma sampah miskin yang nggak punya masa depan! Sekali sampah, selamanya bakal tetap jadi sampah!"

​Danang mengangkat kakinya, sengaja menginjak jari-jari tangan Rendy yang masih terkepal di dekat meja.

​Krak!

​Rendy menahan erangan. Rasa sakit menjalar di tangannya, tetapi ia tidak menarik jarinya. Ia justru mendongak, menatap Danang dengan senyuman tipis yang sangat dingin. Sebuah senyuman yang membuat Danang mendadak merinding tanpa alasan yang jelas.

​"Waktu terus berjalan, Danang," bisik Rendy pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh Danang dan Siska.

"Roda kehidupan tidak selamanya berada di bawah."

​"Bicara apa kamu, Bangsat?!" Danang mendorong dada Rendy hingga ia mundur beberapa langkah.

"Manajer Hendra! Pecat dia sekarang juga! Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa dapat pekerjaan di kota ini lagi!"

​"Baik, Tuan Danang! Siap!" Manajer Hendra langsung menunjuk muka Rendy.

"Rendy, kamu dipecat! Lepas seragammu dan angkat kaki dari sini sekarang juga! Jangan pernah injakkan kaki di Le Grand lagi!"

​Siska bersedekap dada, menatap Rendy dengan pandangan puas dan penuh kemenangan. "Itulah akibatnya kalau orang miskin tidak tahu diri. Kamu tidak akan pernah bisa menggapai dunia kami,

Rendy. Kamu terlalu jauh di bawah."

​Rendy tidak menjawab lagi. Ia melepas rompi hitamnya perlahan, melemparnya ke atas meja, lalu berjalan melangkah keluar dari restoran Le Grand tanpa menoleh sedikit pun.

​Di luar restoran, angin malam yang dingin menyapa kulitnya. Rendy melihat jam tangan murah di pergelangan tangannya.

​23:45.

​Tinggal 15 menit lagi.

​Rendy mengepalkan tangannya yang memar bekas terinjak sepatu Danang. Siska, Danang... ingat wajah kalian malam ini.

Karena besok, kalian yang akan berlutut di hadapanku.

​Rendy melangkah cepat menuju rumah kontrakannya, tidak menyadari bahwa masalah yang lebih besar sedang menunggunya di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!