Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Setelah seluruh rangkaian acara resmi ditutup, para staf mulai berhamburan menuju area parkir hotel untuk pulang. Alesia berjalan agak pincang di antara Hana dan Min-ji, memegangi lengan Min-ji sebagai tumpuan.
Namun, begitu mereka sampai di area parkir VIP yang agak sepi, langkah mereka terhenti. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam terparkir di sana, dan di sampingnya, Dante Luca Alessio berdiri tegap dengan aura dingin yang pekat.
Mata tajam Dante langsung mengunci sosok Alesia.
"Nona Fiore," panggil Dante, suaranya memecah keheningan parkiran.
"Ikut saya masuk ke mobil. Ada beberapa berkas analisis pemasaran yang Anda serahkan tadi sore yang mengalami kesalahan fatal dalam perhitungan data. Kita harus membahasnya sekarang."
Alesia tertegun. Kesalahan fatal? Perasaan tadi sore aku sudah mengeceknya berkali-kali, batinnya bingung.
Namun sebelum ia sempat merespons, Dante sudah berbalik memunggungi mereka dan langsung masuk ke dalam kursi penumpang belakang mobil tersebut.
Hana dan Min-ji langsung menatap Alesia dengan wajah cemas bercampur tegang.
"Al... kamu beneran gak apa-apa kalau kita tinggal sendirian?" bisik Min-ji khawatir, melirik ke arah mobil Dante yang jendelanya tertutup rapat. "Atau mau kita ikutin dari belakang pakai taksi?"
Alesia memaksakan senyum menenangkan untuk kedua sahabatnya.
"Gak apa-apa, aman kok. Lagian Pak Dante itu bos kita, Min-ji, bukan penculik."
Hana ikut berbisik dengan wajah ngeri.
"Tapi wajahnya pas manggil kamu tadi serem banget begitu, Al! Kayak mau memakan orang hidup-hidup!"
"Aman, Hana, percaya deh sama aku," ucap Alesia meyakinkan. "Kalian pulang duluan saja ya, kasihan sudah malam juga."
"Ya sudah. Tapi nanti kalau kamu sudah sampai di rumah, langsung kabarin kami ya," tuntut Hana serius.
"Iya, nanti aku langsung video call kalau sudah sampai. Ya sudah, aku duluan ya," pamit Alesia.
Setelah berpamitan dengan kedua temannya, ia melangkah perlahan menuju mobil mewah Dante dan membuka pintu belakang, lalu masuk ke dalam.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, atmosfer terasa sangat canggung dan dingin. Dante duduk di sisi kanan jendela, menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alesia yang baru saja duduk di sisi kiri.
"Maaf sudah membuat Anda menunggu, Pak," ucap Alesia sopan, berusaha memecah keheningan yang mencekam.
"Hm," Dante hanya bergumam pendek, suaranya terdengar sangat acuh tak acuh.
Alesia mengerutkan keningnya, lalu memberanikan diri untuk bertanya.
"Kalau boleh tahu... berkas yang mana ya, Pak, yang ada masalah perhitungan datanya? Supaya saya bisa langsung memeriksanya."
Dante tidak memperdulikan ucapan Alesia sama sekali. Ia justru mengetuk pelan sandaran kursi depan.
"Rey, jalan," perintah Dante dingin.
"Baik, Pak," jawab Rey dari kursi kemudi, lalu perlahan menjalankan mobil membelah jalanan malam kota Seoul.
Alesia mendengus sangat pelan, melirik bosnya dengan pandangan kesal dari sudut matanya.
'Dih... ditanyain malah gak dijawab! Lagian kalau ada berkas yang salah, kenapa gak ditunggu besok pagi saja sih di kantor? Kenapa harus repot-repot menahan orang malam-malam begini?' gerutu Alesia dalam hati, melipat kedua tangannya di dada dengan jengkel.
Setelah beberapa puluh menit mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi, kendaraan tersebut perlahan melambat dan berbelok memasuki sebuah area gerbang besi yang tinggi.
Mobil akhirnya berhenti sempurna di depan sebuah bangunan rumah mewah bergaya modern minimalis yang sangat luas. Rumah itu dikelilingi oleh taman yang tertata rapi dan pencahayaan lampu eksterior yang sangat elegan.
Alesia menatap luar jendela dengan mata membelalak bingung. Tempat ini sama sekali bukan kantor.
"Saya... perlu turun juga, Pak?" tanya Alesia ragu-ragu, menoleh ke arah Dante.
Dante melepaskan sabuk pengamannya, lalu menatap Alesia dengan pandangan ketus.
"Kalau kamu mau disini sampai pagi, silakan saja," jawab Dante ketus tanpa perasaan.
Pria itu langsung membuka pintunya sendiri dan turun dari mobil, tepat saat Rey berlari memutari mobil untuk membukakan pintu untuknya.
Dante melangkah tegap menuju pintu utama rumah mewah itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sementara itu, Rey berjalan ke sisi kiri mobil dan membukakan pintu untuk Alesia dengan senyuman ramah yang seperti biasa.
"Silakan turun, Nona Alesia," ucap Rey sopan.
Alesia turun dari mobil dengan langkah pincang karena kakinya yang masih kram akibat hak tinggi. Ia menatap bangunan megah di hadapannya dengan wajah linglung, lalu menoleh ke arah Rey.
"Pak Rey... kalau boleh tahu, ini kita sebenarnya sedang di mana ya?"
Rey terkekeh pelan, menutup pintu mobil dengan rapat. "Ini rumah kediaman pribadi milik Pak Dante, Nona."
Deg.
Jantung Alesia rasanya melompat dari tempatnya. Matanya membelalak sempurna menatap pintu rumah yang baru saja dimasuki oleh Dante.
'Ha?! Dia mengajakku ke rumah pribadinya?! Malam-malam begini?! Ngapain?!' batin Alesia berteriak histeris dalam hati.
Rasa panik, bingung, dan bayangan-bayangan tentang "cara pelunasan utang yang lain" yang diucapkan Dante semalam langsung berputar-putar di otaknya seperti badai.