Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Andriana berdiri terpaku di sebuah ruangan besar, bergaya klasik mewah dengan ornamen maskulin dan cukup menenangkan.
Perlahan Andriana berjalan menuju kamar untuk mencari Devan sambil terus memanggilnya " Van?!"
Tidak ada jawaban namun terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Andriana menghela nafasnya lega lalu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi dibuka dari dalam, Devan keluar dengan rambut basah, handuk yang dililitkan di bawah pinggang, memperlihatkan otot otot perutnya yang seksi.
Andriana menatap tubuh Devan dengan terpana hingga menelan ludahnya.
Devan tersenyum tipis, berjalan ke arah Andriana yang masih terpaku melihat tubuhnya yang mempesona.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Bukannya kamu sudah melihat semuanya?Apa perlu aku buka handuknya sekalian?" Ucap pemuda tampan itu hendak membuka handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Eh....apa yang kamu lakukan! Devan!" Gertak Andriana sambil menutupi wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Devan pun tertawa lebar " Kamu sangat menggemaskan sayang, ngapain kamu malu?Bagian tubuh aku yang mana yang belum pernah kamu sentuh".
"Ya bukan begitu Van, tapi..ah sudahlah Van, aku mau ngomong serius nih"
"Ya ngomong saja sayang?" Jawab Devan sambil mengenakan bajunya.
Andriana pun mulai menceritakan semua yang dilihatnya pagi ini.Mulai dari kerja Arnold, isi dalam laptop dan ruang rahasia yang berada di dalam ruang kerjanya.
Devan terdiam sejenak, ia menyipitkan matanya, menatap lekat wajah Andriana
"Jangan sampai Arnold curiga kamu sudah tahu semuanya An, akan sangat berbahaya bagimu".
Andriana mengangguk " Satu lagi, ternyata mama masih hidup".
"Benar Rosa masih hidup?"
Andriana mengangguk perlahan" Awalnya aku juga tidak percaya Van, tapi memang itu benar benar mama, aku melihat dengan mata dan kepala sendiri itu mama".
Devan menarik nafas panjang " An, sebaiknya kamu tetap di sini, jangan kemana mana!".
"Tidak Van, kalau aku pergi dari rumah, Arnold akan mencariku" Jawab Andriana pelan.
"Andriana, kamu adalah hidupku aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun" Ucap Devan sambil mengusap pipi Andriana.
"Van, beritahu aku apa masalahnya seserius itu, terus apa ada hubungannya dengan kematian Saskia, hingga kini pembunuh sebenarnya belum ditemukan tapi mas Adit sudah bebas pergi ke luar negeri ".
"Adit memang bukan pembunuh sebenarnya, ia hanya alat yang dijadikan umpan, aku sudah menyelidiki masalah ini, Adit dan anak anaknya lebih aman berada di sana" Ucap Devan tanpa melepaskan pandangan pada wanitanya dan tangan masih di pipi Andriana.
Andriana menggenggam tangan Devan
"Van, maafkan aku, satu bulan terakhir ini aku mencoba melupakanmu dan menganggapmu orang ketiga dalam rumah tanggaku, tapi kenyataannya hanya kamu yang selalu ada untukku ".
Andriana berhambur ke pelukan Devan setelah menyelesaikan kata katanya.
"Baiklah sayang, sekarang istirahat saja dulu di sini, aku akan menemanimu ".
"Tidak Van, aku harus segera kembali, aku takut Arnold curiga".
"Baiklah aku antar kamu "
Mereka pun segera pergi meninggalkan apartemen.
***
Di sebuah ruangan besar dengan kursi berjejer, nampak seorang wanita duduk di ujung bangku dengan laptop di depannya.
Pandangannya fokus ke layar laptopnya dan jari jari lentiknya menari nari di atas kebordnya.
"Selamat siang bu Sonia " Ucap salah satu pegawai di sana.
"Hmm apa yang aku minta sudah kamu siapkan?" Tanya wanita cantik itu tanpa menoleh.
Laki laki itupun menyodorkan sebuah berkas kepada Sonia, pemilik saham terbesar kedua setelah Devan di perusahaan Collin.
Sonia tersenyum tipis, merasa dirinya lah yang akhirnya keluar menjadi pemenang dan mengambil alih perusahaan setelah Devan dinyatakan dipecat dari tim dokter karena skandalnya beberapa bulan yang lalu.
Tak lama kemudian terdengar suara ponselnya bergerak di dalam tas, Sonia pun segera meraih dan membuka panggilan masuk.
"Hallo sayang"
(Sayang, bagaimana apakah kamu sudah menerima berkasnya yang akan kamu jadikan bukti untuk menekan Devan di rapat direksi para pemegang saham?)
"Ehem, terimakasih ya sayang, semua juga karena mu"
(Jangan terimakasih saja dong, gak cukup tahu)
"Terus"
(Nanti malam kamu harus memuaskanku sampai pagi, gimana)
"Memangnya istrimu itu tidak curiga kamu setiap malam tidak ada di rumah"
(Tidak, dia itu wanita bodoh yang ada di matanya hanya Cinta, karena cintanya yang besar kepadaku, dia itu selalu nurut kepadaku apapun yang aku katakan).
"Baiklah, nanti malam datanglah ke tempat ku, aku jamin kamu tidak akan sanggup berhenti sebelum pagi"
Sonia tersenyum miring penuh kelicikan. Ia merasa keberuntungan telah berpihak kepadanya. Dan sebentar lagi perusahaan farmasi terbesar di negara ini akan segera jatuh di tangannya.
Devan sebagai pewaris pun tidak akan mampu menghentikannya, karena saat ini status kedokterannya sedang ditangguhkan, dia bukan siapa siapa lagi.
"Devan, kalau kamu nurut kepadaku dan bersedia menjadi laki lakiku, ini tidak akan terjadi, kamu akan tetap CEO perusahaan kita akan memimpin perusahaan berdua, aku dan kamu, tapi sayangnya kamu lebih memilih dokter bodoh itu yang saat ini juga sama sama tidak memiliki status yang jelas...Hahaha...." Gumamnya bermonolog sendiri sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.
Flashback on.
Hari itu, Devan masih berada di rumah besar karena permintaan nenek yang saat itu datang dari luar negeri.
Di saat Devan sedang berada di dalam kamar setelah mandi, tiba tiba Sonia menyelinap masuk ke dalam.
"Sonia! Apa yang kamu lakukan di sini!" Pekik Devan saat hendak melepaskan handuknya namun ia urungkan karena tiba tiba ibu tirinya itu berada di atas ranjangnya.
"Devan, kamu tahu papamu sudah lama strok dan tidak bisa ngapa ngapain, sedangkan aku masih butuh belahan dan kehangatan. Pliss Van, sekali saja kamu turuti kemauanku ya, aku akan memberikan apapun yang kamu mau" Rayu Sonia sambil melepaskan perlahan tali piyamanya.
Devan mengeryitkan keningnya, menatap tajam pada Sonia yang memang seumuran dengannya.
"Sonia, gila kamu! Kamu sudah mendapatkan saham milik papaku, bahkan beberapa rumah sakit sudah berhasil kamu ambil alih, apalagi yang kamu mau! Oke aku mengerti sekarang perempuan seperti kamu tidak akan pernah merasa puas meskipun langit sudah ada di dalam genggamanmu. Dan jangan harap kamu akan berhasil kali ini".
"Devan"
Dalam satu tarikan saja piyama Sonia sudah terlepas semuanya dan memperlihatkan dengan jelas tubuh polosnya tanpa penghalang di depan mata Devan.
Devan hanya tersenyum tipis, tanpa bergeming ia melipat kedua tangannya di dadanya.
"Jadi ini tujuanmu masuk ke keluarga Collin? Selain mendapatkan aset perusahaan kamu juga menginginkan diriku, dasar jalang, baiklah sekarang kemarilah"
Mendengar permintaan Devan, Sonia pun sangat senang, tanpa rasa malu dengan bertelanjang bulat ia berjalan ke arah Devan.
Devan segera meraih dua dasi di lemarinya, satu diikatkan di kedua tangan Sonia dan meletakkannya di atas kepalanya dan satu lagi untuk menutup mata Sonia.
Sonia hanya tersenyum tipis, ia nurut saja dengan pasrah.
Devan mendorong tubuh Sonia hingga jatuh terlentang di atas kasur, lalu ia segera memakai bajunya dan berjalan ke luar kamar.
Dengan satu perintah, beberapa orang laki laki pun masuk ke dalam kamarnya untuk memuaskan Sonia, sedangkan dirinya membawa pergi nenek dan papanya ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan dan bersembunyi dari wanita jahat seperti Sonia.
Flashback off.
Nah bagaimana nasib Sonia, pasti bisa menebaknya sendiri kan?