Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Beberapa detik Kahiyang masih berdiri terpaku di tempatnya. Namun, ketika melihat pria yang diyakininya sebagai Rafa semakin menjauh menuju lift, seketika kesadarannya pulih.
Tanpa mempedulikan apapun, Kahiyang segera berlari kecil mengejar pria tersebut. “Rafa....!” panggilnya cukup keras.
Langkah Sultan yang semula hendak masuk ke dalam lift mendadak terhenti. Perlahan dia membalikkan tubuhnya. Ardan yang berada di sampingnya ikut berhenti dan menoleh.
Tatapan Sultan langsung bertemu dengan Kahiyang yang kini berdiri beberapa langkah di hadapannya.
Napas wanita itu sedikit tersengal, tetapi bukan karena lelah, melainkan karena ada begitu banyak pertanyaan yang berdesakan di kepalanya.
Sultan menatapnya dengan wajah tenang, seolah bukan masalah besar. “Ayang...?” panggilnya lembut sedikit tersenyum.
Kahiyang semakin yakin, suara dan tatapan itu, sama. Bahkan pakaian yang dikenakannya ia yang pilihkan. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan suaminya. Matanya menelusuri wajah pria tampan itu dengan tatapan penuh selidik.
“Kamu....” Kahiyang menggantung kalimatnya, masih sulit mempercayai apa yang baru saja diketahuinya.
Sultan mengangkat alis. “Kenapa?”
Kahiyang menelan ludah. “Rafa itu... kamu, kan?” tatapan matanya menuntut jawaban.
Sultan terdiam sesaat. Tatapannya beralih sekilas ke beberapa karyawan yang masih berada di sekitar lobi. Kemudian kembali menatap Kahiyang. Alih-alih menjelaskan, Sultan justru melangkah mendekat lalu merangkul bahu istrinya.
“Eh...” Kahiyang terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba dibawa berjalan menuju lift.
“Rafa, tunggu! Aku belum selesai bicara,” protes Kahiyang sambil mendongak menatap suaminya.
Sultan tetap tenang, lengannya masih melingkar erat di bahu Kahiyang saat mereka telah berada di dalam lift khusus tak berniat melepaskannya.
“Nanti,” jawabnya singkat sambil menekan tombol menuju lantai teratas.
Kahiyang mendengus kesal, tetapi akhirnya diam. Ia paham, mungkin suaminya tidak ingin pembicaraan itu terdengar oleh karyawan.
Ardan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka segera menyusul masuk sebelum pintu lift tertutup. Akan tetapi pemuda itu hanya diam saja tak ingin ikut campur masalah atasannya.
Beberapa saat kemudian, lift berhenti di lantai teratas. Sultan keluar masih tetap merangkul bahu Kahiyang dan membawanya menuju ruangannya. Ardan mengikuti beberapa langkah di belakang mereka. Dan ketika sampai di depan ruangan, Sultan berhenti lalu menoleh ke arah asistennya.
“Kamu kembali saja ke ruanganmu, Dan,” ujar Sultan tenang.
“Baik, Tuan,” jawab Ardan sambil menganggukkan kepala.
Sultan kemudian membuka pintu ruangannya mempersilakan Kahiyang masuk ke dalam. Lalu dia menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Kahiyang lantas berbalik badan menghadap Sultan, sembari melipat kedua tangannya di depan dada. “Sekarang jawab pertanyaanku,” pintanya sambil menatap suaminya lekat-lekat. “Kamu itu Rafa, kan?”
Sultan menghela napas pelan. Dia kemudian mendekati istrinya lalu mendekapnya erat dalam pelukan. “Jangan marah dulu, Ay,” bisiknya lembut sambil menumpukan dagunya pada pucuk kepala sang istri.
Kahiyang mengerutkan kening, lalu mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya. “Aku belum marah, tapi aku butuh penjelasan!” gerutunya sedikit kesal.
“Iya, aku ngerti,” jawab Sultan sambil mempererat pelukannya. “Makanya aku mau menjelaskan semuanya di sini.”
Kahiyang terdiam dalam pelukan suaminya. Namun, rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi kepalanya membuatnya kembali bertanya, “Jadi kamu itu Rafa atau Sultan Rafsanjani?”
Wanita itu mengangkat wajahnya menatap netra suaminya lekat, mencoba mencari kejujuran di sana.
“Dua-duanya” jawab Sultan jujur sambil menatap istrinya seraya membelai lembut pipinya. “Aku Rafa juga Sultan Rafsanjani.”
Kahiyang mengembuskan napas panjang. Meski sudah menduga, mendengar pengakuan itu secara langsung tetap membuatnya sulit percaya.
“Terus kenapa selama ini kamu mengaku padaku sebagai Rafa?” tanyanya sambil memegang tangan Sultan yang ada di pipinya.
Sultan terdiam sesaat, perlahan dia menunduk menyatukan keningnya dengan kening Kahiyang hingga hidung mereka bertemu. “Karena aku jatuh cinta padamu saat pertama melihatmu. Tapi aku ingin kamu mengenalku sebagai diriku sendiri, bukan sebagai CEO atau putra pemilik perusahaan. Aku takut semuanya berubah kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya dari awal,” jelasnya dengan tutur kata lembut.
“Berubah bagaimana?” tanya Kahiyang sambil mengernyit bingung.
“Aku takut kamu melihatku berbeda,” jawab Sultan sambil mengusap lembut pipi istrinya.
Kahiyang terdiam. Tatapan kesalnya perlahan berubah menjadi kecewa. “Maksudnya berbeda bagaimana? Emang kamu pikir aku ini perempuan apaan?"
Namun, ucapan wanita itu langsung terhenti ketika Sultan merengkuh tubuhnya lebih erat. “Aku percaya kamu wanita yang baik, Ayang. Tapi aku harus memastikan bahwa dirimu tak punya sangkutan apapun dengan pria lain,” bisiknya sambil mengusap punggung sang istri. “Maka dari itu sebelum aku memutuskan mendekatimu, terlebih dulu aku menyelidiki latar belakangmu.
"Sampai segitunya...?" Kahiyang mengerjapkan mata takjub dengan ketelitian suaminya.
"Ya... Karena aku terlalu takut kehilangan kamu.” Sultan mengecup pucuk kepala istrinya lembut.
Kahiyang menghela napas panjang di dalam pelukannya. “Jadi semuanya memang benar...” gumamnya sambil mengingat kembali rumah, seserahan, hotel, hingga nama keluarga suaminya.
“Iya,” jawab Sultan sambil tersenyum kecil. “Cuma satu yang nggak berubah.”
Kahiyang mengangkat wajahnya. “Apa...?”
Sultan menatapnya lembut sebelum menjawab. “Aku tetap Rafa yang kamu kenal.”
Wanita itu menatapnya beberapa detik, lalu mencubit pelan lengannya. “Rafa penipu.”
Sultan meringis kecil sambil mengusap lengannya. “Aduh, Ayang. Sudah aku jelaskan masih dicubit juga.”
“Biarin,” jawab Kahiyang sambil memalingkan wajah, sambil mengerucutkan bibirnya.
Sultan tersenyum melihat perubahan ekspresi istrinya. Lalu tanpa aba-aba dia mengecup bibir ranum itu membuat si pemilik membelalakkan mata, tubuhnya menegang mendapat serangan mendadak. Merasa tak mendapat penolakan Sultan pun melumat lembut penuh perasaan. Namun, kemudian ia segera menyudahinya takut kebablasan.
“Jangan marah lagi, ya,” pintanya lembut dengan pandangan meneduhkan.
Kahiyang yang masih berpura-pura kesal lalu bersandar pada dada suaminya. “Aku pikir-pikir dulu.”
“Baik. Aku tunggu sampai Nyonya Rafsanjani memaafkanku,” sahut Sultan sambil terkekeh pelan.
...
Sementara itu, di lantai dasar, tepatnya di lobi perusahaan, perbincangan hangat seputar apa yang mereka lihat beberapa saat lalu masih berlangsung. Mereka masih penasaran dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Di tengah perbincangan tersebut, resepsionis yang tadi sempat berinteraksi dengan Kahiyang justru terlihat gelisah. Sejak wanita itu pergi bersama Tuan Sultan, pikirannya terus mengulang percakapan mereka beberapa saat lalu.
Ia menoleh kepada teman sesama resepsionis yang berdiri di sampingnya.
“Nit...tadi aku nggak melakukan kesalahan, kan?” tanyanya pelan.
Nita mengerutkan kening. “Maksud kamu apa, Ren?”
“Entahlah, tapi perasaanku mendadak nggak enak. Aku takut aja, kalau beliau tersinggung atau marah," jawab Reni.
Nita tertawa pelan. “Kamu cuma menjalankan tugas.”
“Tapi kalau wanita tadi benar-benar istri Tuan Sultan bagaimana?” Reni melirik ke arah lift dengan cemas. “Aku takut beliau nanti mengadu sama Tuan Sultan...”
“Terus kamu berharap Tuan Sultan langsung memecatmu?” Nita menggodanya.
Reni seketika menggeleng cepat. “Jangan ngomong begitu dong, Nit. Aku jadi makin takut, tahu.” Ia mengusap dadanya. wajahnya tersirat jelas kekhawatiran.
"Aku jadi penasaran, deh. Kalau memang benar wanita tadi istri Tuan Sultan, apa mungkin selama ini beliau menyamar sebagai Rafa kaya di sinetron atau drakor? Trus pernikahan mereka dirahasiakan?"
"Bisa jadi. Atau mungkin Tuan Bahtiar tak merestui hubungan mereka?"
Perbincangan itu terus berlanjut dengan berbagai dugaan. Tak seorang pun dari mereka berani memastikan siapa sebenarnya wanita yang baru saja datang dan mengapa Sultan begitu dekat dengannya padahal selama ini tak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun bahkan terkesan menjaga jarak.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭