Indonesia
NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Pagi ini seperti biasa Cindy memasak dan rencananya akan mengajak Damian dan Mahendra sarapan bersama. Oh yah pria itu kini sudah benar-benar menempati rumah itu. Meskipun katanya masih ada yang perlu di perbaiki. Dan benar memang banyak pekerja yang masih mondar mandir sesekali mengobrol dengannya seperti layaknya tukang pada umumnya.

Sambil menunggu ia ke depan rumah untuk menyirami tanaman yang sudah lama ia rawat. Tanaman ibunya yang dulu sering beliau rawat setiap sore.

Dari kejauhan datang motor bebek yang suaranya sangat khas di kupingnya. “Pagi bos!“ sapa Mahen saat ia berhasil memakirkan motornya di halaman Cindy.

“Pagi juga, udah sarapan belum? Sarapan dulu gih nanti baru ngerjain kerjaan lo.“

“Eh beneran nih?“ tanya Mahen terlihat bersemangat. Cindy mengangguk membuat Mahen tersenyum senang. “Wah untung gue tadi gak sarapan di rumah jadi bisa makan di sini.“

“Tapi sarapan bareng yah sama tetangga gue juga.“ mendapatkan tawaran itu Mahen mah gas-gas saja. Soal makanan dia gak pernah nolak.

“Gas deh, ajak aja itu tetangga baru lo, gue langsung masuk nih?“ tanya Mahen lagi.

“Ya elah pake izin segala, biasanya juga lo langsung masuk tanpa izin.“

Mendapatkan sindiran seperti itu membuat Mahen tersenyum malu dan hanya bisa menyengir.

Mahen melangkah masuk ke dalam rumah sambil bersiul kecil, sementara Cindy meletakkan selang airnya dan mematikan keran. Ia mengelap tangannya yang basa pada ujung celemek kain sebelum melangkah menuju pagar tembok samping.

Di sana, sebuah pintu besi kecil yang dulunya berkarat dan terkunci rapat, kini sengajat dibiarkan terbuka sejak seminggu lalu atas kesepakatan mereka. Akses khusus agar Damian tidak perlu memutar jauh lewat gerbang depan jika ingin berkunjung.

Saat Cindy melewati ambang pintu pembatas itu, suasana mendadak berubah. Halaman samping rumah Damian terasa beberapa derajat lebih dingin, terlindung oleh bayangan pohon beringin besar yang daunnya bergesek lirih ditiup angin pagi.

Tanah di bawah kakinya tampak bersih dari ilalang, namun entah kenapa rumput yang baru tumbuh di sini berwarna hijau gelap, hampir kehitaman.

Cindy berjalan mendekati pintu samping rumah kolonial itu yang bermaterial kayu jati kokoh bercat putih gading yang mulai mengelupas. Terlihat bahwa pintu itu sedikit terbuka menandakan bahwa ada orang di dalam sana.

“Damian?“ panggil Cindy sambil mengetuk daun pintu tiga kali. Suara ketukannya terdengar meredam, tersorot oleh luasnya ruangan di dalam.

Tapi tidak ada jawaban membuat Cindy memberanikan diri untuk melongokkan kepalanya ke dalam. Mengintip apakah Damian berada di dalam sana.

Aroma bagian dalam rumah ini sangat khas, perpaduan antara bau kayu tua yang lembab, lilin lebah dan wangi bunga kenanga yang sama namun konstan.

Di dalam remang-remang aula samping, ia melihat Damian sedang berdiri membelakanginya, menatap sebuah cermin besar berbingkai perak yang buram di sudut ruangan.

“Damian,” panggil Cindy lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Mendengar suara orang yang ia kenal, pria itu berbalik dengan gerakan lambat yang luar biasa halus. Begitu melihat Cindy, senyum dinginnya langsung merekah, mengubah atmosfer kakh di sekitarnya menjadi sedikit lebih bersahabat. “Ah, Cindy. Pagi-pagi sekali kamu sudah bertamu. Ada apa?“

Cindy berjalan maju dua langkah, tetap berdiri di dekat ambang pintu yang masih tersorot cahaya matahari pagi. “Pagi Damian. Aku cuma mau mengajakmu sarapan bersama. Pagi ini aku masak sup ayam dan perkedel.“

Binar mata Damian melembut secepat kilat. “Kamu selalu repot-repot memikirkan saya. Tentu saja saya…..“

“Oh ya,” potong Cindy cepat dengan nada ceria, “kebetulan Mahen juga baru datang. Dia belum sarapan dari rumah, jadi aku ajak dia sekalian. Seru kan kalau kita makan bertiga? Biar kamu juga bisa kenalan lebih dekat dengan sahabatku?“

Kalimat itu seketika membuat senyuman di wajah tampan Damian membeku. Ruangan aula yang remang itu mendadak terasa sedingin es. Mata biru Damian menghela di ikuti pipinya menyipit menatap Cindy seolah gadis itu baru saja melakukan kesalahan besar.

“Mahendra? Dia ada di rumahmu sekarang?“ tanya Damian. Suaranya tidak selembut biasanya seolah ada nada berat, dingin dan berwibawa yang membuat tenggorokan Cindy mendadak kering.

“I….iya,” jawab Cindy agak terbatas, sedikit gugup melihat perubahan drastis tetangganya itu. “Dia baru saja sampai dua menit yang lalu. Sekarang lagi nunggu di meja makan.“

Damian terdiam cukup lama. Tatapannya beralih melewati bahu Cindy, menatap lurus ke arah rumah gadis itu dengan pandangan yang tajam dan menusuk. Jemari tangannya yang panjang dan pucat tampak bertumpu pada sandaran kursi kayu di dekatnya, menggenggamnya begitu kuat hingga urat-urat halusnya terlihat, namun anehnya tidak ada warna kemerahan sama sekali di kulit itu akibat tekanan.

“Kalau begitu silahkan makan bersamanya,” ujar Damian akhirnya. Suaranya terdengar datar tanpa emosi. “Saya harus menolak.“

Cindy berkedip merasa agak tidak enak hati. “Eh? Kenapa? Apa kamu ada janji dengan mandor tukang pagi ini? Atau makanannya bukan sleramu?“

Damian kembali menatap Cindy, kali ini matanya memancarkan rasa tidak suka yang sama namun jelas di tunjukkan pada keberadaan Mahen. “Bukan karena makanannya. Hanya saja … saya tidak terbiasa makan di tempat yang terlalu bising, Cindy. Dan saya rasa, kehadiran saya hanya akan menganggu urusan pekerjaan kalian.“

“Gak menganggu sama sekali kok, Damian! Mahen orangnya asyik, dia pasti senang….“

“Tidak Cindy,” potong Damian tegas namun pelan, ia melangkah satu tapak mendekati Cindy hingga bayangan tubuh tingginya yang besar mengurung gadis itu dari cahaya matahari yang datang dari sela-sela ventilasi yang berada di belakang tubuh Damian. “Pergilah sarapan dengan sahabatmu itu. Habiskan waktumu bersamanya selagi kalian masih bisa bertatap muka.“

Cindy mengernyitkan dahi, merasakan firasat aneh dari pilihan kata Damian. “Selagi masih bisa? Maksudmu apa?“

Damian seolah sadar penuturannya terlalu mencurigakan. Ia segera mengubah ekspresi nya menjadi senyuman tipisyang menenangkan, meskipun matanya tetap sedingin telaga. “Maksudku, selagi dia belum sibuk mengedit videomu nanti siang. Perut yang lapar akan menganggu konsentrasi, bukan? Pergilah, jangan biarkan makananmu dingin.“

Meskipun masih merasa ada yang janggal dengan sikap posesif dan dingin Damian terhadap Mahen, Cindy akhirnya mengalah. “Ya sudah kalau kamu gak mau. Nanti siang kalau luang, aku antarkan camilan saja ke sini, ya?”

“Terima kasih, Cindy. Kamu gadis yang sangat baik,” bisik Damian, suaranya kembali melembut, mengalun begitu dekat di telinga Cindy hingga membuat bulu kuduknya meremang.

Cindy berbalik dan berjalan cepat kembali melewati pintu pembatas besi. Saat ia melangkah kembali ke halaman rumahnya yang hangat dan terang oleh matahari, rasa sesak di dadanya perlahan ikut menghilang. Seolah-olah ia baru saja keluar dari tempat tertutup yang penuh sesak.

Namun, ia tidak menyadari bahwa dari balik jendela kaca lantai dua rumah kolonial yang berdebu, sepasang mata biru sedalam samudra terus menatap punggungnya dan rumahnya dengan tatapan obsesif yang tak berdasar. Entah sejak kapan sosok itu sudah berada di lantai dua.

Cindy kembali ke dapur meninggalkan pertanyaan mengapa tetangga itu tidak ikut sarapan bersama. Meski ia yakin bahwa sebenarnya ada rasa cemburu dari diri Damian yang tak ingin Cindy mengetahuinya.

“Jadi itu gadis yang kau suka? Hingga menyuruhku untuk membersihkan rumah ini secara nyata? Padahal jika kau mengelabui matanya itu lebih mudah….“ suara yang datang dari arah belakang tak mampu membuat Damian menoleh. Mata birunya tetap menatap ke arah rumah Cindy yang di terangi sinar matahari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!