Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di antara dua badai
Langkah kaki Alfa terasa amat berat begitu pintu kamar executive suite hotel itu tertutup rapat di belakangnya. Koridor hotel yang dingin dan sunyi seolah menghimpit dadanya.
Pria itu menatap pintu berukir mewah yang baru saja ia lewati dengan pandangan campur aduk.
Yang awalnya dipenuhi rasa panik luar biasa setelah menerima panggilan telepon dari perawat yang merawat Dila, kini pikirannya justru terus tertuju pada wanita yang ia tinggalkan di kamar hotel itu sendirian di malam pernikahan mereka.
Senja...
Alfa mengusap wajahnya dengan kasar. Senja tidak salah sama sekali dalam hal ini. Wanita itu tidak memilih untuk dilahirkan di tengah keluarga Anjasmara yang gila kekuasaan, dan tidak pernah meminta untuk dijodohkan dengannya.
Senja adalah murni korban, sama persis seperti dirinya, yang ditumbalkan di atas keserakahan kedua orang tua mereka demi aliansi bisnis raksasa.
Namun, di sisi lain, Alfa juga tidak bisa mengabaikan Dila. Pria mana yang sanggup melangkah tenang di atas karpet pernikahan sementara wanita yang pernah bertaruh nyawa padanya sedang merintih kesakitan di ambang maut?
Dengan pikiran yang tercabik di antara rasa bersalah pada Senja dan ketakutan akan kehilangan Dila, Alfa memecah keheningan malam Jakarta, mengendarai mobilnya menuju rumah sakit swasta ternama tempat Dila dirawat.
Aroma antiseptik yang tajam menyambut Alfa begitu ia melangkah menyusuri lorong ruang perawatan intensif. Langkah kakinya dipercepat hingga berhenti di depan sebuah pintu kamar VIP. Pria itu memutar gagang pintu secara perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh.
Di dalam ruangan bertemperatur dingin itu, pemandangan yang tersaji membuat dada Alfa serasa dihantam batu besar.
Di atas brankar rumah sakit yang dingin, seorang wanita terbaring begitu lemah. Selang-selang infus dan monitor detak jantung mengelilingi tubuhnya yang kian hari kian mengering. Dila, wanita yang pernah mengisi hari-harinya dengan tawa hangat, kini tampak begitu rapuh.
Kulit wajahnya pucat pasi bagaikan kertas, matanya cekung, dan napasnya terdengar patah-patah.
"Dila..." Lirih Alfa, suaranya bergetar hebat saat ia mendekati sisi brankar.
Suara teramat pelan itu membuat kelopak mata Dila bergerak pelan. Wanita itu menoleh secara perlahan, memusatkan pandangannya yang sayu pada sosok pria yang kini berdiri di samping tempat tidurnya.
"Mas... kenapa kamu di sini?" Suara Dila terdengar sangat serak, hilang timbul di balik masker oksigen tipis yang menutupi hidung dan bibirnya.
Alfa segera berlutut di samping brankar, meraih tangan Dila yang dingin dan kurus kering, lalu menggenggamnya erat dengan kedua tangannya.
"Aku mendapat kabar dari Suster Weni kalau kondisimu drop lagi" Ujar Alfa cepat, ada kepanikan yang terpancar jelas dari manik matanya.
"Aku panik, Dila. Aku sangat khawatir sama kamu. Bagaimana bisa aku tetap diam saat mendengar kamu drop?"
Bukannya tersenyum lega, mata Dila justru memancarkan kepedihan yang teramat mendalam. Jemari tangannya yang lemas berusaha memberi dorongan kecil pada genggaman Alfa.
"Kamu tak seharusnya di sini, Mas..." Bisik Dila, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang sayu.
"Seharusnya... seharusnya kamu menemani istrimu malam ini."
"Dila, dengarkan aku..."
"Aku merasa menjadi wanita paling jahat di dunia ini, Mas!" Potong Dila, nada suaranya naik satu oktav meski diiringi batuk kecil yang menyiksa dadanya.
"Aku membuat suami orang pergi meninggalkan istrinya di malam pengantin mereka sendiri... Apa yang akan wanita itu pikirkan tentangmu? Tentangku?"
"Dila, tolong!" Tegas Alfa seraya mempererat genggaman tangannya. Ia menatap mata Dila lurus-lurus.
"Sejak awal aku sudah bilang padamu, bukan? Pernikahanku dengan Senja itu hanya aliansi bisnis saja! Tidak ada cinta di sana. Ini semua murni karena perintah dan ancaman Papa!"
Alfa menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak emosinya sendiri sebelum melanjutkan.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan tetap bertanggung jawab penuh atas pengobatan dan hidupmu, Dila."
Dila menggelengkan kepalanya perlahan di atas bantal. Air matanya mulai meluncur melewati pipinya yang tirus.
"Tapi apa yang kamu lakukan ini salah, Mas. Sangat salah... Kita sudah sepakat dari awal, kalau kamu menikah... kamu akan melepaskan aku."
"Iya! Aku tahu!" Seru Alfa pelan namun penuh penekanan.
"Tapi sepakat itu berlaku setelah kamu sembuh! Aku akan lepaskan kamu, aku akan biarkan kamu pergi, asal kamu sembuh dulu!"
Emosi Alfa membuncah. Pria itu menyandarkan keningnya di tepi tempat tidur Dila, menyembunyikan rasa frustrasinya yang teramat sangat.
"Selama kamu masih sakit..." Lanjut Alfa dengan suara yang tertahan di tenggorokan.
"...selama kamu belum mendapatkan donor ginjal yang cocok, aku tidak akan pernah bisa memulai semuanya dengan wanita lain, termasuk Senja. Dan Senja mengerti hal itu! Dia tahu posisiku. Dia juga sama denganku, menerima pernikahan ini hanya karena terpaksa!"
Ruang perawatan itu mendadak hening. Hanya ada suara bip teratur dari monitor jantung yang mengisi jeda di antara mereka. Dila menatap puncak kepala Alfa yang terbenam di samping tangannya dengan tatapan penuh rasa bersalah dan kesedihan yang tak tertahankan.
Setelah beberapa saat, Dila menarik napasnya yang terasa berat. Ia mengusap pelan rambut Alfa dengan sisa-sisa tenaganya.
"Baiklah, Mas..." Ujar Dila sangat pelan, membuat Alfa mendongakkan kepalanya kembali.
"Tapi kamu harus janji satu hal padaku."
"Janji apa?"
"Jangan pernah perlakukan istrimu dengan tidak adil!" Tekan Dila, matanya menatap Alfa dengan ketegasan yang jarang terlihat dari sosoknya yang sedang sakit.
"Kamu tidak boleh bersikap dingin padanya. Jangan pernah mengabaikannya hanya karena rasa bersalahmu padaku. Dia wanita baik yang terjebak di situasi ini, sama seperti kita."
Alfa terpaku. Bayangan wajah Senja yang begitu tenang saat mengizinkannya pergi tadi kembali melintas di benaknya. Sikap Senja yang tidak marah sedikit pun justru menjadi beban moral tersendiri bagi Alfa.
"Iya, aku janji!" Sahut Alfa lirih.
Dila mengulas senyum tipis, senyuman yang dipaksakan di tengah rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.
"Sekarang, lebih baik kamu kembali ke hotel. Kembali ke istrimu!" Desak Dila lembut namun tidak menerima bantahan.
"Aku sudah tidak apa-apa. Suster Weni dan dokter ada di sini. Aku hanya butuh istirahat."
Dila memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela.
"Dia pasti sangat sedih di hotel sendirian malam ini, Mas. Meskipun kalian bilang menikah karena terpaksa. Tidak ada wanita di dunia ini yang ingin ditinggalkan sendirian di malam pengantinnya."
"Tapi, Dila..."
"Mas!" Potong Dila cepat, matanya kembali menatap Alfa dengan ancaman yang amat serius.
"Tepati janjimu... atau aku akan minta dokter menghentikan semua prosedur pengobatanku mulai malam ini!"
Alfa membeku. Ancaman Dila telak menghantam pertahanannya. Pria itu tahu betul betapa nekatnya Dila jika sudah menyangkut hal seperti ini. Ia tidak boleh mengambil risiko kehilangan wanita itu.
"Baiklah... aku mengerti. Tolong jangan katakan hal itu lagi!" Desah Alfa penuh kekalahan.
Dengan langkah yang terasa begitu lesu dan berat, Alfa perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Dila.
Pria itu berdiri, merapikan jasnya yang kusut, lalu mengusap puncak kepala Dila sekali lagi dengan penuh kelembutan.
"Aku akan kembali besok pagi" Bisik Alfa.
Dila hanya mengangguk kecil tanpa mengeluarkannya suara.
Alfa berbalik, melangkah keluar dari ruang VIP dengan hati yang remuk redam. Pintu kayu tebal itu kembali tertutup rapat, memutuskan pandangan Alfa dari wanita yang sangat ia sayangi.
Begitu sosok Alfa benar-benar menghilang di balik pintu dan derap langkah kakinya tak lagi terdengar di lorong luar, ketahanan yang dibangun Dila sejak tadi runtuh seketika.
Isakan pelan yang menahan sakit meluncur dari bibirnya yang pucat.
Wajah wanita itu secara perlahan basah oleh genangan air mata yang sudah ia tahan sekuat tenaga di hadapan Alfa tadi. Tubuhnya yang kurus gemetar menahan pilu yang menyeruak di dalam dadanya.
Dila memejamkan matanya rapat-rapat. Sakit di ginjalnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang mencabik-cabik hatinya saat ini. Ia tahu betul betapa besarnya cinta Alfa padanya, dan betapa besarnya pengorbanan pria itu untuk terus menyambung hidupnya.
Namun, Dila juga sadar diri. Ia hanyalah wanita pesakitan tanpa masa depan yang jelas, sementara Senja Kala Anjasmara adalah wanita sempurna yang berhak mendapatkan kebahagiaan seutuhnya dari seorang suami.
Dila merasa kehadirannya hanya menjadi benalu yang merusak takdir dua orang lain.
Air mata terus mengalir membasahi bantal putih rumah sakit tempatnya berbaring. Dalam kesendirian ruangan yang dingin itu, di tengah denting instrumen medis yang sunyi, Dila menyatukan kedua tangannya yang gemetar di atas dada.
"Semoga ini yang terbaik untuk kita semua, Mas..." Lirihnya seorang diri, suaranya tenggelam dalam keheningan malam yang pekat.
Dila membiarkan tangisnya pecah tanpa suara, memanjatkan doa tulus agar pernikahan Alfa dan Senja tidak hancur karena keberadaannya yang tinggal menunggu waktu ini.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.