Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Lumpur Pertama
..."kami datang membawa beras, tapi yang kami bawa pulang adalah air mata, dan ternyata air mata itu lebih berat dari 1000 karung"...
Hujan tidak berhenti sejak mereka turun dari Gunung Emei tiga hari yang lalu, dan ketika rombongan seratus murid itu akhirnya sampai di Desa Qinghe pada fajar hari ke 21, yang mereka lihat bukanlah desa melainkan lautan lumpur coklat yang menenggelamkan atap rumah sampai ke jendela dan menyisakan hanya ujung genteng yang masih berani muncul ke permukaan seperti gigi-gigi patah.
Jing yue berdiri di tanggul yang sudah hampir jebol, air setinggi dada orang dewasa mengalir deras di depannya dan membawa ranting, bangkai ayam, serta potongan perabot rumah yang tidak diketahui lagi milik siapa, sementara di belakangnya Bai Ling dan para Tetua sibuk menurunkan karung beras dan peti obat dari gerobak yang rodanya sudah terbenam setengah.
Udara berbau busuk bercampur lumpur dan asap, tidak ada suara burung, tidak ada suara ayam, yang ada hanya suara air yang menggerus tiang dan suara tangis samar dari arah yang tidak bisa ditentukan karena semuanya tampak sama, basah, gelap, dan putus asa.
"Sebarkan orang," perintah Jing yue dengan suara yang dipaksa tenang, dan seketika itu juga murid-murid Emei yang tadinya hanya terlatih pedang dan jurus menghindar mulai bergerak, ada yang mengikat tali di pinggang untuk menjadi jembatan manusia, ada yang mendorong perahu bambu ke air, ada yang membuka dapur lapangan di atas tanah yang sedikit lebih tinggi.
Jing yue sendiri tidak menunggu lama, dia melepas jubah luarnya, mengikat rambutnya ke atas, dan langsung masuk ke air sedalam lutut sambil membawa sapu bambu yang kini bukan lagi untuk menyapu halaman melainkan untuk mendorong pintu-pintu yang tertutup dan menyentuh dasar untuk mencari apakah ada orang yang masih terjebak di dalam.
Di rumah pertama yang mereka datangi, pintunya setengah terbuka dan dari dalamnya keluar bau anyir yang membuat dua murid muda muntah, namun Jing yue tetap masuk dan menemukan seorang kakek yang sudah meninggal duduk di kursi dengan tangan masih memegang erat foto keluarga yang sudah luntur karena air.
Dia menutup mata kakek itu dengan tangannya sendiri, mengucapkan doa pendek, lalu memerintahkan dua murid untuk membawa jenazah ke tempat yang lebih tinggi, karena Tetua sudah memutuskan bahwa hari ini mereka tidak hanya menyelamatkan yang hidup tetapi juga menghormati yang mati.
Di rumah kedua, mereka mendengar suara ketukan pelan dari dalam atap, dan setelah setengah jam berusaha mendobrak dengan balok kayu akhirnya mereka menemukan seorang ibu dan dua anak yang sudah tiga hari tidak makan dan hanya bertahan dengan meminum air hujan yang ditampung di tempayan.
Jing yue menggendong anak yang paling kecil, seorang bayi yang tubuhnya dingin dan bibirnya biru, lalu menyerahkannya kepada Bai Ling yang sudah menyiapkan selimut kering dan semangkuk bubur encer di perahu.
"Kasih dia minuman hangat dulu," kata Jing yue sambil menatap mata Bai Ling, "jangan tanya apa-apa, jangan buat dia bicara, biarkan dia tidur."
Bai Ling mengangguk dengan mata berkaca-kaca dan segera mendayung pergi, sementara Jing yue kembali ke air dan terus berjalan dari satu rumah ke rumah lain, kakinya berkali-kali tersandung batu dan pecahan genteng yang tidak terlihat di bawah permukaan.
Sekitar tengah hari, ketika matahari mencoba menembus awan tapi hanya menghasilkan cahaya kuning pucat, terdengar teriakan dari arah barat desa, dan seorang murid berlari dengan napas terputus-putus mengatakan bahwa di sana ada seorang anak yang tidak mau meninggalkan rumahnya.
Jing yue melepaskan karung beras yang sedang dia pikul dan langsung berlari, menerobos air yang kini sudah setinggi pinggang, dan ketika dia sampai di sebuah rumah kayu yang hampir roboh dia melihat pemandangan yang membuat seluruh tubuhnya berhenti bergerak sejenak.
Di atas dipan kayu yang sudah mengapung, seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun duduk memeluk erat tubuh seorang perempuan dewasa yang wajahnya pucat dan bibirnya sudah tidak bergerak, dan air sudah naik sampai ke dada mayat itu.
Anak itu basah kuyup, menggigil, tapi tangannya tidak lepas sedetik pun dari leher ibunya, dan matanya yang besar menatap Jing yue dengan campuran takut dan marah seakan dia tahu orang asing ini akan mencoba memisahkannya.
"Adik," kata Jing yue pelan, sambil menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan anak itu, "airnya naik lagi, kita harus pergi dari sini."
Anak itu menggeleng keras, dan dengan suara serak dia berkata bahwa dia tidak mau pergi karena ibunya masih tidur dan kalau dia pergi maka tidak akan ada yang menjaga ibunya.
Jing yue menarik napas, merasakan lumpur masuk ke sela-sela jarinya, dan dia mengerti bahwa kata-kata tidak akan cukup, sehingga dia perlahan-lahan naik ke dipan dan duduk di sisi lain mayat itu, tidak menyentuh anak itu, hanya duduk dan menemani.
"Aku Jing yue," katanya setelah beberapa menit hening, "aku dari Gunung Emei, dan aku datang karena ada surat dari langit yang bilang kami harus membantu."
Anak itu tidak menjawab, tapi genggamannya sedikit mengendur.
Jing yue lalu menceritakan tentang seribu anak tangga di Shaolin, tentang salju di Kunlun, tentang air di Wudang, dan tentang tulang di mount hua, bukan karena dia ingin pamer, tetapi karena dia ingin anak itu tahu bahwa dia juga pernah kehilangan dan juga pernah belajar cara berdiri lagi.
Perlahan air terus naik, dan akhirnya menyentuh kaki mereka, sehingga Jing yue tahu dia tidak punya banyak waktu lagi, maka dia berkata bahwa ibunya pasti tidak mau melihat anaknya ikut tenggelam, dan bahwa cara terbaik menjaga ibunya adalah dengan hidup dan menceritakan tentang ibunya kepada orang lain.
Anak itu menangis untuk pertama kalinya, tangis yang tidak bersuara, hanya bahunya yang terguncang, dan setelah itu dia mengangguk kecil dan melepaskan pelukannya, lalu membiarkan Jing yue mengangkat tubuh ibunya ke perahu.
Mereka mendayung dalam diam ke tempat pengungsian sementara yang dibangun di atas bukit kecil di luar desa, dan sepanjang perjalanan anak itu tidak melepaskan tangan Jing yue, seolah takut kalau dilepas maka dia akan hanyut lagi.
Di bukit, para murid Emei sudah mendirikan tenda dari terpal dan bambu, dapur sudah mengepul, dan Tetua Keempat yang ahli obat sedang memeriksa satu per satu orang yang datang dengan luka, demam, atau hanya sekadar kelelahan.
Jing yue menyerahkan mayat ibu itu kepada para Tetua untuk dimandikan dan dikafani sesuai adat, lalu dia membawa anak itu ke sudut tenda, memberinya pakaian kering, menyisir rambutnya yang kusut, dan menyuapinya bubur sendok demi sendok.
Anak itu makan sangat cepat, lalu muntah, lalu makan lagi lebih pelan, dan ketika akhirnya dia tertidur di pangkuan Jing yue dengan tasbih Shaolin yang ditaruh di lehernya sebagai penghangat, Jing yue baru sadar bahwa tangannya sendiri sudah gemetar karena lelah dan dingin.
Malam itu rapat diadakan di bawah tenda terbesar, dengan lampu minyak yang cahayanya bergoyang karena angin, dan Tetua Pertama melaporkan bahwa dari tiga ratus kepala keluarga di Desa Qinghe, baru seratus empat puluh yang berhasil dievakuasi, dan masih ada yang hilang di bagian timur yang arusnya paling deras.
Persediaan beras mereka hanya cukup untuk sepuluh hari jika dibagi rata, obat sudah mulai menipis, dan beberapa murid mulai batuk karena terlalu lama di air dingin, tetapi tidak ada satu pun yang meminta untuk kembali ke gunung.
Jing yue mendengarkan semua laporan itu sambil menggendong anak yang tidur, dan ketika gilirannya bicara dia hanya mengatakan satu hal, bahwa besok mereka akan membagi tim menjadi tiga, satu tim untuk mencari yang hilang, satu tim untuk membangun tanggul darurat, dan satu tim untuk tetap di sini menjaga orang sakit dan anak-anak.
"Tidak ada yang pulang sebelum air turun," katanya, "karena kita datang bukan untuk menghitung hari, kita datang karena ada orang yang menunggu."
Setelah rapat bubar, Jing yue kembali ke tendanya dan menulis di buku catatannya dengan tangan yang masih basah, dan dia menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa lumpur itu lebih berat dari batu, karena batu bisa dipindahkan tapi lumpur akan menempel di kulit, di baju, dan di hati.
Dia juga menulis bahwa hari ini dia mengerti kenapa para Tetua dulu menyuruhnya menyapu, karena menyapu bukan hanya membersihkan kotoran, tetapi juga belajar sabar menghadapi sesuatu yang datang lagi dan lagi tanpa pernah benar-benar habis.
Sebelum tidur, anak itu terbangun sebentar dan bertanya dengan suara kecil, "Kakak akan pergi?" dan Jing yue menjawab bahwa dia tidak akan pergi sampai air turun dan sampai anak itu bisa tertawa lagi.
Anak itu lalu memeluknya dan kembali tidur, dan Jing yue menatap keluar tenda ke arah desa yang sekarang gelap gulita, hanya ada beberapa titik obor dari murid yang masih berjaga, dan suara air yang tidak pernah berhenti.
Di kejauhan, guntur menggelegar lagi, pertanda hujan akan datang lebih deras, tetapi di dalam tenda api kecil masih menyala, dan di pangkuan Jing yue ada napas hangat seorang anak yang akhirnya bisa tidur tanpa takut.
Jing yue menutup matanya sebentar, merasakan berat dari lencana di dada, berat dari tasbih di leher, berat dari giok di pinggang, dan berat dari tanggung jawab yang kini bukan lagi tentang nama sekte melainkan tentang nyawa manusia.
Dia berbisik pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun, bahwa Emei tidak akan menjadi hebat karena bisa mengalahkan musuh, Emei akan menjadi hebat kalau bisa berdiri di tempat yang paling kotor dan tetap tidak kotor.
Lalu dia memejamkan mata, tidak untuk tidur nyenyak, tetapi untuk mengumpulkan tenaga, karena fajar besok akan datang lebih cepat, dan lumpur belum selesai dengan mereka.