Indonesia
NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KABAR BAHAGIA DI TENGAH HUTAN KELAM

Waktu berjalan dengan anggun diiringi pergantian musim di Hutan Kelam. Daun-daun hijau tua yang biasa mendominasi kanopi hutan perlahan mulai diwarnai oleh semburat keemasan dan kecokelatan saat musim gugur menyapa wilayah pinggiran kerajaan.

Tepat sebulan telah berlalu sejak malam panjang yang penuh kehangatan di bawah pendar bulan purnama. Gubuk kayu kecil milik Kayy dan Alya tetap berdiri tenang, tersembunyi dengan sempurna di balik perisai sihir alami dan Sanctuary Domain yang membuat tempat itu seolah tak tersentuh oleh dunia luar. Tidak ada pasukan Kerajaan yang berani mendekat, tidak ada monster liar yang berani mengusik, dan tidak ada lagi ketakutan yang menghantui hari-hari mereka.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, ada sedikit perubahan kecil yang mulai disadari oleh Kayy di dalam rutinitas harian mereka.

Pagi itu, cahaya matahari musim gugur merangsek masuk melalui celah jendela kamar, memantulkan kehangatan ke atas lantai kayu yang bersih. Alya duduk di tepi ranjang, mengenakan jubah tidur longgar berwarna biru muda. Wajah cantiknya tampak sedikit lebih pucat dari biasanya, dengan lingkaran tipis samar di bawah mata jernihnya.

Di dapur kecil yang menyatu dengan ruang utama, aroma sup kaldu hangat mengepul pelan dari atas tungku. Kayy berdiri di dekatnya, mengenakan celana kain sederhana dan kemeja katun terbuka di bagian dada. Pria berusia dua puluh tahun itu sedang meracik rempah-rempah dengan gerakan tangan yang tenang, tetapi fokus matanya sesekali melirik ke arah kamar tidur dengan kilatan kekhawatiran yang tersembunyi.

Sejak tiga hari yang lalu, Alya mendadak sering merasa mual begitu mencium aroma masakan tertentu, tubuhnya terasa lebih cepat lelah, dan nafsu makannya menurun drastis. Bagi manusia biasa, itu mungkin dianggap sebagai masuk angin biasa akibat perubahan cuaca musim gugur.

Tetapi bagi Kayy seorang reinkarnator yang memiliki statistik fisik dan mental MAX absolut, yang mampu mendeteksi aliran mana sekecil apa pun di udara—perubahan sekecil itu sama sekali tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Kayy mematikan api di bawah tungku, menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk tanah liat buatan tangan mereka sendiri, lalu melangkah keluar menuju kamar utama dengan langkah tanpa suara.

Begitu sampai di ambang pintu kamar, Kayy melihat Alya sedang menangkupkan kedua tangannya di atas lutut, memejamkan mata rapat-rapat sambil menarik napas dalam-dalam untuk menahan rasa pusing yang melanda kepalanya setiap kali ia mencoba berdiri.

Melihat kondisi istrinya, hati Kayy berdesir cemas. Ia mempercepat langkahnya, lalu berlutut tepat di hadapan Alya tanpa membuang waktu. Tangan kokoh pria itu langsung terulur, menangkup kedua pipi Alya dengan amat lembut.

"Alya..." suara Kayy terdengar begitu penuh perhatian, sarat akan kelembutan yang kontras dengan postur tubuhnya yang atletis dan kuat. "Pusing lagi? Kamu masih merasa mual?"

Alya membuka kelopak matanya secara perlahan. Menatap wajah suaminya yang tampan dan dipenuhi kecemasan itu membuat bibir Alya mengukir senyuman tipis yang lemah. Ia menggeleng pelan, lalu menyandarkan keningnya di bahu Kayy.

"Aku tidak apa-apa, Kayy..." bisik Alya lirih, suaranya terdengar sedikit serak. "Hanya... perutku terasa tidak enak sejak pagi tadi. Mungkin aku memang hanya kelelahan karena kemarin ikut membantu merapikan kebun wortel."

Kayy tidak langsung percaya begitu saja. Sebagai pemilik status MAX, indra dan persepsi Kayy jauh melampaui batas manusia normal. Meskipun ia tidak pernah berniat menggunakan kekuatannya untuk hal-hal sembarangan, demi kesehatan istrinya, Kayy memusatkan fokus kesadarannya secara perlahan pada tubuh Alya.

Di dalam keheningan kamar itu, mata Kayy sedikit membelalak saat gelombang energi kehidupan yang unik tertangkap oleh persepsinya.

Bukan hanya aliran mana milik Alya yang mengalir tenang di dalam tubuh wanita itu. Tepat di dekat pusat perut Alya, terdapat satu sumber energi kecil yang baru, amat sangat kecil, rapuh, namun berdenyut dengan ritme kehidupan yang sangat jelas dan mandiri.

Dok... dok... dok...

Sebuah detak jantung kedua. Sangat kecil, tetapi hidup dan terus berkembang dengan sangat cepat.

Kayy tertegun. Seluruh napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Otaknya yang memiliki kapasitas pemrosesan informasi MAX langsung merangkai seluruh potongan puzzle dalam waktu kurang dari sedetik: rasa mual di pagi hari, perubahan suasana hati, kelelahan yang tidak biasa, dan... malam satu bulan yang lalu di bawah cahaya rembulan purnama.

Wajah Kayy yang biasanya tenang dan datar kini berubah drastis. Semburat keterkejutan yang luar biasa terpancar jelas di matanya, yang perlahan-lahan bertransisi menjadi genangan kebahagiaan yang begitu dalam hingga nyaris membuat pria itu kehilangan kata-kata.

Melihat ekspresi Kayy yang tiba-tiba terdiam kaku sambil menatap perutnya, jantung Alya berdegup kencang. Rasa cemas tiba-tiba menyergap dada wanita itu.

"Kayy...? Ada apa?" Alya mengangkat wajahnya, menatap suaminya dengan penuh tanya dan sedikit ketakutan. "Ada yang salah dengan tubuhku? Apakah... apakah kutukan dari Kerajaan dulu kembali bangkit atau ada racun yang masuk ke dalam tubuhku?"

Pertanyaan Alya membuat Kayy langsung tersadar dari lamunannya. Pria itu menggeleng cepat. Senyuman paling lebar dan paling tulus yang belum pernah dilihat Alya selama tiga tahun hidup bersama akhirnya terukir di wajah Kayy.

Kayy meraih tangan Alya, membawanya turun, lalu meletakkannya tepat di atas perut rata istri tercintanya.

"Bukan racun, Alya," suara Kayy bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena gelombang kebahagiaan yang teramat besar menghantam dadanya. "Tubuhmu tidak sakit sama sekali..."

Alya mengerjap, menatap bingung tangan mereka berdua yang bertumpu di perutnya sendiri. "Lalu... apa artinya ini? Kenapa kamu terlihat begitu terkejut?"

Kayy merendahkan posisinya, mendekatkan telinganya ke perut Alya, lalu mendengarkan dengan saksama. Di hadapan istrinya yang kebingungan, Kayy mendongakkan kepala, menatap lurus ke dalam mata biru Alya dengan air mata haru yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Alya... di dalam sini," bisik Kayy dengan suara serak penuh emosi, "ada satu lagi detak jantung yang berdenyut. Kita... kita akan menjadi orang tua. Kamu sedang mengandung anak kita."

Kalimat itu meluncur pelan, namun efeknya bagaikan sambaran petir kebahagiaan yang menghantam seluruh ruangan.

Wajah Alya mematung seketika. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir naik ke wajah. Mata jernih wanita itu membelalak lebar, menatap Kayy dengan napas yang tertahan. Tangannya yang berada di atas perut perlahan merapat, merasakan kehangatan yang mendalam dari tempat tersembunyi di dalam tubuhnya.

"Anak... kita...?" bisik Alya nyaris tak bersuara.

"Ya, Alya," sahut Kayy sambil mengangguk mantap, air mata kebahagiaan akhirnya menetes lolos dari sudut matanya dan jatuh membasahi punggung tangan Alya. "Ada kehidupan baru di sini. Buah dari cinta kita sebulan yang lalu... kita akan punya anak."

Seketika itu juga, pertahanan emosional Alya runtuh sepenuhnya. Air mata haru tumpah berderai membasahi pipinya. Tanpa memedulikan rasa pusing atau lemas yang tadi melanda, Alya langsung menerjang maju, melemparkan kedua lengannya untuk memeluk leher Kayy erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya, menangis sejadi-jadinya—bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga.

Kayy langsung menyambut pelukan itu dengan penuh kehangatan. Tangan kokohnya mendekap tubuh Alya dengan sangat hati-hati, seolah takut angin sekecil apa pun bisa melukai wanita yang kini tengah membawa titipan paling berharga di dunia. Pria itu membenamkan wajahnya di rambut keemasan Alya, menciumi puncak kepala istrinya berulang kali seraya membisikkan kata-kata cinta.

"Terima kasih, Alya... terima kasih banyak karena sudah hadir di hidupku, dan sekarang... terima kasih sudah mempercayakan malaikat kecil ini kepada kita," bisik Kayy seraya mengeratkan dekapannya.

"Aku sangat bahagia, Kayy... aku sangat bahagia..."isak Alya di dalam pelukan suaminya, jemarinya mencengkeram erat kemeja Kayy.

Di luar jendela kamar, angin musim gugur berhembus membawa guguran daun-daun emas yang menari di udara. Namun di dalam gubuk kayu kecil di tengah Hutan Kelam itu, musim dingin apa pun tidak akan pernah mampu menembus kehangatan keluarga kecil yang baru saja disatukan oleh takdir, cinta, dan masa depan yang cerah.

Mulai detik itu, prioritas hidup Kayy berubah total. Status MAX miliknya yang dulunya hanya digunakan untuk bertahan hidup, kini dikerahkan sepenuhnya untuk satu tujuan mutlak: memastikan keselamatan, kenyamanan, dan kebahagiaan Alya serta bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!