Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:404.5k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Karma kecil di rumah tangga baru

Dua bulan telah berlalu sejak pesta pernikahan megah yang menghebohkan kalangan sosialita ibu kota itu digelar. Di jagat maya, akun media sosial Vera masih menjadi kiblat kemewahan yang dipuja banyak orang.

Unggahan foto-foto makan malam romantis di restoran privat, buket bunga mawar merah raksasa, hingga pemandangan kamar tidur utama yang telah direnovasi total menjadi saksi bisu kebahagiaan yang sengaja dia pamerkan ke seluruh dunia.

Vera merasa telah memenangkan segalanya; dia berhasil menyingkirkan Larissa, merebut posisi Nyonya Besar Baskoro, dan menikmati harta yang melimpah.

Tapi di balik dinding-dinding kokoh rumah mewah Baskoro, kenyataan yang berjalan di dunia nyata sama sekali tidak seindah apa yang terpampang di layar digital.

Pernikahan yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan dan kelicikan itu mulai menunjukkan retakan-retakan kecil pertamanya. Masalahnya bersumber dari sosok yang dulu paling gencar mendukung perselingkuhan mereka: Ibu Maya.

Obsesi Ibu Maya terhadap hadirnya seorang cucu laki-laki sebagai penerus darah dan kekayaan Baskoro ternyata jauh lebih mengerikan dari apa yang Vera bayangkan saat masih menjadi asisten dulu.

Jika dulu Ibu Maya menumpahkan seluruh tuntutan dan makian itu kepada Larissa, kini setelah Larissa pergi, giliran Vera yang harus berdiri di garis depan untuk menerima seluruh tekanan tersebut.

Pagi itu di meja makan, suasana sarapan terasa begitu menekan. Ibu Maya meletakkan cangkir teh porselennya dengan ketukan yang agak keras ke atas tatakan, membuat Vera yang sedang mengoles selai di rotinya terperanjat samar.

"Vera," panggil Ibu Maya, suaranya terdengar menuntut tanpa ada basa-basi. "Ini sudah jalan bulan ketiga pernikahan kalian. Tapi sampai sekarang Ibu belum melihat ada tanda-tanda kamu terlambat datang bulan atau mual-mual. Perutmu masih kelihatan rata begitu."

Vera memaksakan sebuah senyuman manis, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang. "Ibu... ini kan baru dua bulan lebih sedikit. Mungkin kami berdua masih butuh waktu untuk melepas stres setelah rangkaian acara pernikahan kemarin. Mas Bram juga sedang sangat sibuk di kantor."

"Tidak ada alasan stres-stresan!" potong Ibu Maya dengan nada ketus. "Kamu ingat kan alasan kenapa Ibu merestui Bram mendepak si mandul Larissa itu? Itu karena kamu menjanjikan rahim yang subur dan sehat! Ibu tidak mau tahu, usia Ibu sudah semakin tua. Teman-teman arisan Ibu semuanya sudah menimang cucu dari anak laki-laki mereka. Ibu tidak mau menanggung malu lebih lama lagi."

Ibu Maya membuka tas tangannya, mengeluarkan selembar kartu nama berwarna emas dari dalam sana, lalu menggesernya di atas meja ke hadapan Vera.

"Hari Kamis besok, Ibu sudah membuat janji temu dengan Profesor Subroto di Rumah Sakit Internasional Kencana. Beliau adalah ahli nomor satu untuk urusan fertilitas dan program hamil cepat. Kita tidak usah ke dokter Hendra lagi, Ibu mau opini dari Profesor yang jauh lebih senior agar kamu bisa langsung hamil kembar kalau perlu. Kamu harus kosongkan jadwalmu hari itu, kita pergi bersama," perintah Ibu Maya mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.

Mendengar nama Profesor Subroto dan Rumah Sakit Kencana disebut, darah di sekujur tubuh Vera seketika terasa mandek. Jantungnya berdegup kencang dibayangi oleh gelombang kepanikan yang luar biasa dahsyat.

Vera tahu betul bahwa dr. Hendra di RS Medika Kirana adalah dokter yang berhasil mereka suap dengan uang ratusan juta untuk memalsukan rekam medis Larissa. Di RS Kencana, yang merupakan rumah sakit internasional dengan kredibilitas ketat, mereka tidak akan bisa melakukan manipulasi kotor seperti itu lagi.

Lebih dari itu, ketakutan terbesar Vera yang sesungguhnya bukanlah tentang kesuburan rahimnya sendiri. Vera tahu dia sehat. Yang membuat malam-malam Vera kini tidak bisa tidur dengan tenang adalah sebuah rahasia kotor yang selama ini dia simpan rapat-rapat.

Bahwa sebenarnya Bram-lah yang mengalami kemandulan total.

Selama ini, Vera sengaja menutup mata dan pura-pura tidak tahu demi kelancaran rencananya untuk naik takhta. Dia berniat menunda-nunda pemeriksaan intensif untuk Bram dengan berbagai alasan, karena dia tahu jika rahasia kemandulan Bram terbongkar di saat dia belum sepenuhnya menguasai seluruh aset, saham, dan harta gono-gini atas namanya, maka posisinya di keluarga ini akan berada dalam bahaya besar. Dia bisa saja didepak oleh Ibu Maya jika skenario kehamilan yang dia janjikan gagal total.

"Baik, Ibu...besok kamis Vera akan pergi bersama Ibu," jawab Vera dengan suara yang sedikit bergetar.

Malam harinya, Bram sedang duduk di tepi ranjang mengenakan jubah tidur satin hitam sembari sibuk memeriksa laporan keuangan kuartal pertama Baskoro Konstruksi di tabletnya.

Wajahnya tampak lelah dan sedikit tegang karena beberapa proyek besar belakangan ini mengalami kendala teknis di lapangan.

Vera melangkah perlahan dari arah meja rias setelah menyelesaikan ritual perawatan wajah malamnya. Dia mengenakan gaun tidur satin tipis, mencoba memasang wajah paling manis dan manja yang dia miliki untuk melunakkan hati suaminya.

Vera duduk di samping Bram, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu, sembari jemari lentiknya membelai dada Bram dengan lembut.

"Mas..." panggil Vera dengan nada suara yang mendayu-dayu, mencoba mencari perhatian.

Bram hanya bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Hm? Ada apa, Vera? Aku sedang fokus memeriksa laporan dari tim auditor ini. Ada selisih angka yang belum beres."

Vera menghela napas pendek, lalu dengan perlahan mengambil tablet dari tangan Bram dan meletakkannya di atas meja nakas, memaksa suaminya untuk menatapnya. "Mas, ini tentang ucapan Ibu, dia mendesakku lagi soal anak, bahkan Kamis besok Ibu mau mengajakku ke Profesor Subroto di RS Kencana untuk mulai program hamil cepat."

Bram mengernyitkan dahi, merasa sedikit terusik mendengar kata "program hamil". Pria itu bersandar di kepala ranjang dengan angkuh. "Ya bagus, kan? Memangnya kenapa? Bukankah itu memang tujuan kita dari awal? Aku ingin secepatnya punya anak laki-laki untuk membungkam mulut orang-orang di luar sana yang sempat bergosip."

Vera menelan ludah, mencoba menyusun kalimat yang paling aman. "Aku tahu, Mas... Tapi menurutku, bukankah ini terlalu cepat? Pernikahan kita baru berjalan dua bulan. Ditambah lagi, kondisi perusahaanmu sekarang sedang sangat sibuk dan butuh fokus penuh darimu."

"Kalau kita langsung program hamil sekarang, aku takut fokusmu akan terpecah antara mengurus perusahaan dan menjagaku yang mungkin akan mengalami morning sickness. Bagaimana kalau kita tunda dulu beberapa bulan? Fokus saja dulu pada karier dan proyek besarmu sampai akhir tahun ini, setelah itu baru kita fokus ke urusan anak."

Vera berharap alasan itu bisa membuat Bram setuju untuk mengulur waktu dari kejaran mertuanya, memberikan dirinya ruang untuk mengamankan beberapa aset perusahaan atas namanya terlebih dahulu.

Tapi Vera telah salah menilai watak asli dari pria yang berada di hadapannya.

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut istri barunya, ekspresi wajah Bram seketika berubah drastis. Warna hangat di wajahnya lenyap, digantikan oleh gumpalan amarah yang mendadak meluap ke permukaan.

Bram menyentak tangan Vera dari dadanya dengan kasar, lalu berdiri dari atas kasur dengan gerakan yang sangat berangasan. Pria itu menatap Vera dari atas dengan sepasang mata yang memerah.

"Apa kamu bilang?! Menunda?!" bentak Bram, suaranya menggelegar memenuhi kamar tidur memecah keheningan malam dengan sangat mengerikan.

Vera tersentak kaget, tubuhnya refleks mundur beberapa senti di atas kasur. Dia belum pernah melihat Bram semarah ini selama mereka berhubungan rahasia dulu. "Mas... aku hanya berpikir tentang kesehatanmu dan perusahaan—"

"Diam kamu, Vera!" potong Bram dengan raungan yang penuh dengan nada intimidasi yang kasar.

Pria itu melangkah maju, menunjuk tepat di depan wajah Vera dengan telunjuknya yang bergetar penuh murka. "Jangan coba-coba memanipulasiku dengan alasan perusahaan! Aku ini laki-laki, aku tahu apa yang terbaik untuk perusahaanku!"

Bram menarik napas pendek dengan dada yang naik turun, menatap Vera dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak yang mendalam.

"Dengar baik-baik, Vera! Aku menceraikan Larissa, mengusir wanita itu dari rumah ini, dan menanggung risiko nama baikku sedikit terganggu di awal, itu semua murni demi bisa mendapatkan anak dengan cepat darimu!" teriak Bram tanpa memedulikan perasaan wanita di hadapannya.

"Ibuku menuntut cucu setiap hari! Kalau sekarang kamu juga bertingkah gila dengan meminta menunda-nunda kehamilan dengan alasan bodoh seperti itu... lalu apa bedanya kamu dengan wanita mandul sialan itu, hah?!"

Deg.

Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Bram terasa bagaikan tamparan keras yang menghantam wajah Vera dengan sangat telak.

Tubuh Vera seketika membeku di atas ranjang, jantungnya mencelos jatuh ke dasar perut, dan napasnya mendadak terasa sesak menahan rasa syok yang luar biasa besar.

Vera menatap sosok suaminya dengan sepasang mata yang membelalak lebar penuh kengerian.

Detik itu juga, sebuah kesadaran yang sangat pahit dan mengerikan mendadak menghujam benaknya, Bram tidak pernah benar-benar mencintainya sebagai seorang manusia.

Pria ini hanya menganggapnya sebagai mesin pencetak anak, sebuah alat reproduksi berwujud wanita cantik yang bertugas untuk menyelamatkan reputasi dan egonya yang cacat di mata dunia.

Kini topeng pangeran tampan yang penuh pesona manis milik Bram telah tanggal sepenuhnya di depan matanya, menampakkan sosok monster yang sesungguhnya, sosok pria kasar, egois, dan kejam yang sama dengan pria yang dulu mengusir mantan istrinya.

Karma kecil itu kini mulai mengetuk pintu kehidupan baru Vera, dan sang ular mulai menyadari bahwa takhta yang dia curi dengan kelicikan ternyata dikelilingi oleh bara api yang siap membakar dirinya hidup-hidup kapan saja.

Bersambung

1
Yulia
Dari sekian banyak novel yg sy baca baru novel ini yg balas dendam nya sangat luar biasa kejam.
walaupun ini hanya novel tp yg setidaknya tokoh Larisa memaafkan kesalahan Bram dan Bu Maya,bukan kah tuhan saja maha pengampun.
Lai Lai
cinta boleh tapi bodoh sangat jangan
Thewie
nata kau itu bram. enak kali kau bilang kembali padamu. makan kau penyesalanmu
Thewie
cemanalah gak di remehkan. dr awal cerita dia jadi wanita bodoh. sampe 5 tahunpun bodoh terussssss .
Thewie
janji manis pula kau percaya bodoh
Thewie
🤣🤣🤣🤣mampuskan kau wanita bodoh. geram kali aku lihat kau jank. bodoh bodh
Thewie
hahahah matilah kau Larisa bodoh🤣🤣🤣... bodoh oh bodohhhhhh
Thewie
mampuslah kau Larisa .. kan kau yg buat smuanya ribet 🤣🤣 tahankan kau ya bodoh
Thewie
jangan mau jadi wanita bodoh say.. mengorbankan diri dan perasaan demi org lain.
Zieya🖤
salah sendiri, lambat² pergi.... kalau saja gerakan mu sat set kan bagus.... sampai bila drama bodoh ni habis😑😑😑😑😑
lama² sebal juga bacanya.....
Thewie: benarkan Bun. seandainya dia balas dendam pun julukan wanita bodoh sudah melekat 🤭
total 1 replies
Zieya🖤
biar itu lakik gak tau dia mandul, mau nikah sampai 10 bini pun balal gak punya anak.....
etihajar
bodoh bodoh goblok goblok goblok Ben gwr msh duh Gusti mikir Larissa mikir jgn jd orang Donggo
etihajar
ngapain mewek toh Lo yg bodoh Larissa gegaya nutupin aib bkski dih realistis aj atuh hidup MH gsk usah sebucin dan sebulol biru please SM yg bikin cerita jgn bikin perempuan jd bodoh SM suami mertua DM pelapor bikin cerita yg nyata2 aj si
etihajar
ahh yg goblok tuh si Larissa nya aja katabku mah klo di dunia nyata MH mna ad yg mau nutupin ke mandilan laki nya
Yuen
Dia yg bodoh, pantesan kok biar sadarrr, terlalu baik sampai mengorbankan itu perbuatan oon
Yuen
Haduhhh kapan pintarnya orang ini 🤣🤣🤣🤣gak punya harga diri bgemis2 cinta🤣🤣
Yuen
Tepuk tangan buat si lemah bodoh🤣🤣🤣
Ignasio Milla
ceritax sadis bngt"masa gk ada berubah si bram'sbgai manusiakan sdh mnta maaf sekalipun ada kata2 kSar dri bram dan bu maya"
Yuen
Nangisss teroooossss
Yuen
Nangis yang keras dg kebodohanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!