Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab31
WUUSSHH! BRAAAK!
Keduanya melesat seperti kilat yang saling menghantam di tengah hutan.
TRAAANG!
Benturan pedang mereka melengking, suara logam beradu memekakkan telinga.
DHUAAAAR!
Ledakan energi menyembur dari titik benturan, menebarkan angin kencang yang memporak-porandakan pepohonan.
Daun berhamburan seperti hujan, beberapa batang pohon bahkan tumbang.
TRANG! TRANG! TRANG! WUUUUSHH!
Ryan dan Risman saling beradu dengan kecepatan mata manusia tak mampu mengikuti.
Bayangan mereka seolah terbelah menjadi banyak, pedang bersinar berkilau di antara kabut dan cahaya biru.
WUUSSH!
Tubuh Ryan melebur menjadi kabut dingin, lenyap dari pandangan, lalu melesat ke belakang Risman.
SRAAAAK!
Bilah pedangnya membelah tubuh Risman.
BYUURR!
Namun yang terbelah hanyalah air.
Tubuh Risman buyar seperti gelombang pecah, lalu dengan cepat menyatu kembali di samping Ryan.
“Mati kau, bocah!!” teriak Risman, mata membara, pedang birunya menusuk deras ke arah Ryan.
WUUSSH!
Namun Ryan kembali menghilang dalam kabut, melesat menjauh.
Dalam sekejap ia sudah berada di sisi lain, lalu melakukan serangan balasan.
TRANG!
Pedang Ryan menghantam, tertahan oleh bilah Risman.
Namun kekuatan hantamannya begitu besar hingga tubuh Risman terpental keras.
DHUAAAR!
Tubuhnya menghantam pohon besar hingga batangnya patah dan tumbang ke tanah.
Ryan tidak memberinya waktu.
WUUSSH!
Ia kembali melesat, kabut dingin menyelimuti jalannya.
Dalam sekejap ia sudah muncul tepat di depan Risman.
SRAAAAK!
Pedangnya kembali menebas tubuh Risman.
BYUURR!
Namun lagi-lagi tubuh itu berubah menjadi air.
Ryan hanya menatap dengan sorot dingin.
“Merepotkan…” gumamnya lirih. “Ini pertama kalinya aku melihat orang yang bisa merubah tubuh menjadi air.”
Risman terkekeh sombong. “Kau tahu? Itulah alasan aku bisa menyusup ke dalam Kultus Iblis tanpa dicurigai dan kabur saat aku mau. Dengan kekuatan ini, aku… tak bisa dibunuh!”
TRANG! TRANG! WUUSSH! TRANG!
Kedua pedang beradu lagi dengan kecepatan menakutkan.
Ryan menekan terus, setiap serangannya lebih tajam dan lebih cepat.
Risman berusaha bertahan, tapi setiap hantaman membuat tangannya bergetar.
‘Anak ini!’ pikir Risman, wajahnya mulai pucat. ‘Dia benar-benar kuat… kemampuan pedangnya bahkan menekan aku yang sudah berpengalaman! Bocah ini berbahaya!!’
TRANG! TRANG! SRAAAK! BYUUURR!
Tubuh Risman kembali terbelah, sekali lagi menjadi air.
Ryan tersenyum tipis. “Menarik… apakah di luar sana ada lebih banyak orang dengan kemampuan aneh sepertimu?”
Risman merasakan keringat dingin di pelipisnya. ‘Keparat! Bocah ini… bukannya takut, dia malah semakin penasaran membunuhku! Kalau begini terus, aku bisa mati sungguhan!’
WUUSSH!
Dengan panik, Risman melesat kabur, meninggalkan pertempuran.
Namun suara dingin mengejarnya. “Ingin kabur? Sungguh pengecut. Harusnya kau tahu, kau tak akan bisa lari dariku.”
“Teknik Pedang Satu Tangan — Langkah Pertama!”
WUUUSSHH!
Ryan bergerak begitu cepat, menembus jarak hanya dalam sekejap.
SRAAAK!
Pedangnya menebas kepala Risman.
BYUUURR!
Namun kepala itu hanya meledak menjadi air.
Ryan tak berhenti.
“Teknik Pedang Satu Tangan — Langkah Kedua!”
SRAAAK! SRAAAK!
Tubuh Risman ditebas berkali-kali.
BYUURR! BYUURR!
Namun sekali lagi, ia berubah menjadi air.
Risman benar-benar panik. ‘Sial!! Bocah ini terlalu cepat! Gerakannya tidak terlihat! Jika aku terus ditekan seperti ini… aku bisa mati!!’
WUUSSHH!
Ia kembali melarikan diri dengan aura birunya, mencoba menjauh secepat mungkin.
Namun Ryan kembali bersuara, kali ini dingin bagai bisikan kematian.
“Teknik Pedang Satu Tangan — Langkah Ketiga.”
SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!
Serangan bertubi-tubi menghantam Risman. Tangan, kaki, bahkan kepalanya tertebas.
BYUURR!
Tubuh itu pecah lagi menjadi air, berusaha menyatu.
Tapi kali ini Ryan tidak membiarkan.
“Aura Kabut Dingin.”
BOOOOM!!!
Ledakan kabut dingin meluas, menyelimuti area sekitar.
Daun-daun membeku, tanah retak karena lapisan es, dan tubuh Risman yang cair ikut membeku kaku.
‘T-tidak… kenapa?! Bagaimana bisa… tubuh airku membeku?!’ pikir Risman dengan mata terbelalak.
Ryan menatap tanpa emosi. Lalu ia melangkah perlahan, mengangkat pedangnya.
SRAAAAAK!
Dengan satu tebasan mantap, pedangnya memenggal kepala Risman.
Wajah Risman masih penuh keterkejutan. ‘Apa ini… kenapa pandanganku ada di bawah?’ Ia menatap tubuhnya yang masih berdiri tanpa kepala.
BYUUURR!
Untuk terakhir kalinya, tubuhnya memercikkan darah.
Namun kali ini, tidak ada air yang bisa menyatu kembali.
Aura dingin Ryan membekukan segalanya.
Komandan Risman, penyusup dari Ordo Cahaya Senja, akhirnya tewas di tangan Ryan.
Ryan menarik napas pelan, mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah, lalu menyarungkannya kembali.
Matanya tetap dingin, penuh ketenangan mematikan.
“Seperti yang kukira,” gumamnya. “Ordo Cahaya Senja… benar-benar musuh yang menarik. Jika satu orang seperti Risman saja bisa merepotkan seperti ini… aku harus bersiap menghadapi badai yang lebih besar.”
Ryan berjalan pelan, napasnya teratur meski aura dingin masih menyelimuti tubuhnya.
Matanya menatap kepala Risman yang tergeletak di tanah, wajah sang pengkhianat masih membeku dalam ekspresi keterkejutan.
Tanpa ragu, Ryan menunduk dan mengangkat kepala itu.
Darah masih menetes, membasahi tanah yang sudah berlapis es.
Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh....
BOOOOMMM!!!
Tubuh Risman yang tak berkepala tiba-tiba meledak!
Ledakan cahaya biru meletup ke langit, menembus awan.
Ryan terperangah, matanya menyipit menahan silau. “Sialan! Apa yang terjadi pada tubuhnya?!”
Lalu ekspresinya berubah tegang. “Tidak… jangan-jangan itu sinyal yang dia tinggalkan… sinyal untuk memanggil Aliansi Pedang Tujuh Langit!”
Tangan Ryan mengepal kuat, aura kabut dingin bergetar di sekitarnya.
“Bahkan setelah mati, bajingan ini masih merepotkan!” desisnya penuh amarah.
Ia menoleh ke arah markas Kultus Iblis. “Aku harus segera kembali! Semua orang harus tahu ini.”
WUUSSH!
Tanpa ragu, Ryan melesat, meninggalkan hutan yang kini dipenuhi cahaya biru di langit.
-----------
Di sisi lain…
Ribuan pendekar dari Aliansi Pedang Tujuh Langit berdiri di sebuah dataran luas.
Saat sinyal cahaya biru menyembur ke angkasa, semua mata terbelalak.
“Itu dia!” teriak seorang komandan.
Panglima Aliansi, Morgan, berdiri di depan pasukannya dengan pedang besar di tangan.
Wajahnya keras, sorot matanya penuh amarah dan keserakahan.
“Sinyal sudah muncul!” teriak Morgan, suaranya bergema ke seluruh pasukan. “Para iblis itu sedang kacau! Inilah kesempatan kita! Kita akan menyerang, membantai, dan menghapus mereka dari dunia ini!”
“URAAAAAAA!!”
Teriakan ribuan pendekar mengguncang bumi.
Morgan mengangkat pedangnya tinggi. “Jangan takut! Jumlah kita lebih banyak, kekuatan kita lebih besar! Kultus Iblis tidak akan sanggup menahan kita!”
Sorak-sorai semakin menggila, tanah bergetar oleh langkah ribuan prajurit yang mulai bergerak.
“MAJU!” teriak Morgan.
Dan dari segala arah, puluhan ribu kaki melangkah, membawa badai pedang menuju markas Kultus Iblis.