Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:307k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Gemericik air kolam di samping teras ndalem utama terdengar begitu samar, kalah oleh sunyi yang mengepung ruangan berukir kayu jati tersebut.

Di ruang tamu besar yang biasanya dipenuhi tawa hangat atau pengajian kitab itu, kini hanya menyisakan empat insan. Kyai Ahmad duduk sangat tegap di kursi kayu ukir, didampingi Bu Nyai Khadijah yang memangku jemarinya sendiri di pangkuan. Di hadapan mereka, duduk Reyhan dengan kepala tertunduk dalam-dalam, bersisian dengan Rani yang meremas ujung jilbabnya—menghadapi kenyataan bahwa ini adalah momen perdana baginya duduk secara resmi bersama mertua dan pria yang kini utuh menjadi suaminya.

Suasana di ruangan itu amat berat, terisi oleh jejak kepergian Naya yang belum sepenuhnya menguap dari udara.

"Reyhan," suara Kyai Ahmad memecah keheningan. Nada bicaranya rendah, berwibawa, namun menyimpan kedukaan yang tak lagi disembunyikan. "Pernikahanmu dengan Naya sudah resmi berakhir hari ini. Tidak ada lagi ikatan di antara kalian berdua."

Reyhan tak bergeming. Pengakuan lisan sang ayah rasanya bagai godam yang menimbul luka baru di dadanya.

Kyai Ahmad menghela napas panjang, menatap putra tunggalnya dengan pandangan seorang ayah yang pasrah. "Saat ini, yang harus kamu lakukan adalah bertanggung jawab penuh atas pilihan yang sudah kamu ambil. Kamu harus membersamai Rani. Bangunlah rumah tangga yang lebih baik dan lebih bahagia... karena kali ini, kamu hidup bersama perempuan yang kamu pilih sendiri secara sadar."

Kyai Ahmad mengalihkan pandangannya sebentar ke jendela luar, menatap kabut tipis yang perlahan terangkat. "Abi juga mau minta maaf padamu, Reyhan," lanjut beliau dengan nada melunak, sebuah pengakuan yang membuat Reyhan mendongak pelan dengan mata memerah.

"Selama ini, Abi dan Umi barangkali menjadi orang tua yang terlalu memaksakan kehendak soal perjodohan itu. Kami pikir itu yang terbaik, tapi nyatanya berakhir tidak baik. Bukan hanya menyakiti Naya yang tak bersalah, tapi juga menyiksamu hingga kamu nekat melangkah sejauh ini di belakang kami."

Pria sepuh itu menatap lurus ke dalam mata putranya, memberikan penekanan yang dalam pada setiap kata. "Jangan pernah ulangi kesalahan ini untuk kedua kalinya. Abi berharap, pernikahanmu dan Rani bisa langgeng."

Reyhan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tak ada rasa kemenangan atau kebahagiaan yang membuncah saat perjodohan yang selama ini dianggapnya belenggu itu telah tiada. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah rongga hampa yang amat dingin.

Kyai Ahmad kemudian mengalihkan tatapan bijaknya kepada Rani. Gadis muda di samping Reyhan itu makin menunduk, tak sanggup menatap langsung mata pimpinan pesantren yang sangat dihormatinya tersebut.

"Rani," panggil Kyai Ahmad lembut namun tegas.

"I-inggih, Kyai..." cicit Rani seraya mendongak tipis.

"Jadilah perempuan dan istri yang baik untuk Reyhan," tutur Kyai Ahmad. "Jika di kemudian hari Reyhan melakukan kesalahan atau melukai hatimu, langsung tegur dia. Ingatkan dia. Karena sekarang, kamu yang akan bersamanya sampai nanti. Jangan pernah kamu lupakan, pernikahan adalah ibadah seumur hidup yang harus dijalani bersama oleh sepasang suami dan istri."

Kyai Ahmad meletakkan kedua tangannya di atas lengan kursi, bersiap untuk bangkit. "Abi tidak ingin ada perceraian untuk kedua kalinya di keluarga ini. Kali ini, ini adalah jalan yang kalian pilih sendiri, dengan pasangan yang kalian inginkan sendiri. Setelah ini... kalian bisa tinggal di ndalem barat. Kalian boleh pindah dan merapikan tempat itu sekarang."

"Inggih, Kyai," bisik Rani seraya menganggukkan kepalanya perlahan, patuh tanpa berani memprotes.

Reyhan sendiri hanya mampu membisu. Lidahnya terasa kelu. Kalimat pernikahan yang kalian inginkan yang diucapkan sang ayah terasa bagai sindiran halus yang menembus ulu hatinya.

Kyai Ahmad berdiri, disusul oleh Bu Nyai Khadijah yang mengusap pundak Reyhan sebentar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajah Bu Nyai Khadijah masih memendam duka atas melepas Naya—menantu kesayangannya. Kedua pimpinan pesantren itu kemudian melangkah keluar ndalem, berpamitan menuju kompleks pondok untuk melanjutkan tugas mengajar santri yang sempat tertunda.

Sepeninggal kedua orang tuanya, ruangan besar itu kembali diselimuti canggung yang pekat.

Rani memberanikan diri menoleh, menatap Reyhan dari samping. Pria yang dulu selalu nampak gagah dan penuh kharisma itu kini terlihat amat rapuh. Jubah kokonya tampak agak kusut, dan bayangan hitam di bawah matanya mempertegas betapa tidak nyenyaknya tidur pria itu selama beberapa hari terakhir.

"Gus..." panggil Rani pelan, hampir tak terdengar. "Apakah... kita mau pindah barang ke ndalem barat sekarang?"

Reyhan tak langsung menjawab. Pandangannya terpaku pada cangkir teh bekas tempat duduk Naya di seberang meja yang belum sempat dirapikan oleh khadam ndalem. Ia teringat bagaimana Naya selalu menyeduh teh dengan kehangatan yang pas, bagaimana Naya menatapnya dengan pandangan cerdas tanpa pernah merendahkan wibawanya, dan bagaimana Naya melangkah pergi tadi pagi—begitu anggun, tanpa meneteskan air mata, seolah Reyhan tak lebih dari sekadar persinggahan yang telah usai.

"Kamu rapikan saja barang-barangmu dulu, Rani," jawab Reyhan datar, suaranya serak dan kentara dingin. Ia berdiri tanpa menatap Rani. "Aku mau ke gedung madrasah sebentar."

"Tapi Gus, bukankah jadwal mengajar Gus Reyhan masih dicabut oleh Abi?" cegat Rani spontan, berdiri mengikutinya.

Reyhan menghentikan langkahnya. Punggungnya tegap namun menyisakan jarak yang teramat lebar di antara mereka.

"Aku cuma mau mencari udara segar. Kamu tidak perlu ikut."

Tanpa menunggu balasan, Reyhan melangkah lebar keluar dari rumah utama. Langkah kakinya menyapu kerikil basah di pelataran, membawa langkahnya secara tak sadar menuju area madrasah putri—tempat di mana biasanya Naya mengajar.

Hawa dingin Pacet berembus kencang, menampar wajah Reyhan. Saat melintasi koridor madrasah yang mulai sepi karena jam istirahat, matanya tak sengaja menangkap pintu ruang guru psikologi yang terbuka sedikit. Ruangan itu kini kosong. Meja kerja Naya sudah bersih rapuh, tak ada lagi tumpukan buku atau aroma parfum lavender yang tipis namun menenangkan.

Reyhan melangkah masuk ke ruangan yang hampa itu. Ia menyentuh permukaan meja kayu tempat Naya biasa duduk.

Dulu, ia menganggap respon tenang Naya atas penolakannya adalah hal biasa. Ia menganggap keheningan Naya sebagai persetujuan pasif. Ia melarikan diri pada Rani karena bersama Rani, egonya sebagai seorang "Gus" merasa sangat dipuja dan dibutuhkan. Rani yang rapuh memicu insting pelindungnya.

Namun kini, saat Rani benar-benar sudah menjadi istrinya secara penuh dan Naya telah lepas pergi, Reyhan baru menyadari kenyataan yang mengerikan: kepolosan Rani tak memiliki kedalaman jiwa yang ia cari. Rasa kagum Rani padanya hanyalah riak emosi dangkal, sementara keteguhan dan kecerdasan Naya adalah pijakan kokoh yang sebenarnya ia butuhkan untuk bertumbuh.

Ia telah menukar intan dengan batu kerikil, hanya demi memuaskan gengsi dan egonya sendiri.

Reyhan memejamkan mata rapat-rapat, meremas tepi meja kayu di hadapannya sewaktu penyesalan yang terlambat itu mulai menggerogoti jiwanya hingga kepingan terkecil.

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔✰͜͡v᭄
wadaw Lampu hijau nih gasss 🤣
Sri Jumiati
semangat thor . bagus ceritanya
dewi rofiqoh
Syaka langsung terpesona dengan kepribadian zeyad, setelah melihat langsung bagaimana ia memperlakukan naya. Bahkan langsung mengaku kakaknya naya
Sri Murtini
wah wah kayanya ,restu bisa didapat Zeyad pepet teru mas Syaka .
Klu perlu ikut pulang ke Indonesia jenguk Aba dan umi sekalian ajak lamar ke camer biar segera halalin Naya
Alfi Yatun
ceritanya ok tidak typo dan berkelas ditunggu kelanjutannya, aku suka👍
Agnezz
Karier Naya semakin cemerlang sebagai Pimpinan divisi konsultasi psikologi awal sedangkan Rayhan terpuruk sebagai dosen biasa , hidup sederhana dirumah kontrakan minimalis.
Agnezz
katanya Syaka mau menyembunyikan statusnya sebagai kakaknya Naya biar bisa menilai kepribadian Zeyad lebih dulu tanpa jaim. Kok langsung menyebutkan statusnya sebagai kakak Naya. Apakah karena sudah berhasil menilai Zeyad pria seperti apa🤔🤔
Uthie
Soo romantic.. walau belum ada visual Zeyad seperti apa, tapi dari yg digambar kan aja sudah sangat-sangat keren sekali dehhhh 😍😍😍👍👍👍
Endang Fitria3236
ditunggu kelanjutannya y KK thor💪
MiE
si Gus oon, dikasih yg sekufu dari segi harta, derajat dsn keilmuan, malah pilih yg minus jauh dari isteri sahnya, itulah manusia yg tidak bersyukur, dikasih berlian malah yg diambil kerikil
MiE
padahal kalau belum melakukan hubungan suami isteri bisa dilakukan pembatalan pernikahan, jadi status Naya bisa dikembalikan seperti semula belum menikah, bukan status janda
Bunda
Hadir kak,ijin baca🙏
Yuni Ngsih
Authooooor mksh lanjutannya ceritramu kereen bangeeeeet jd ku lupa comen ....he ku suka yg punya ceritra Naya smg jd sm Zeyad ,apalagi lulusan luar banyak wawasannys ,dasar si Reyhan mokondo melepaskan berlian memungut batu kali ...hehehe ko ku ngenes ya Thor itu kan cuma veritra ....lanjut
Nurminah
novel istri saya akhirnya dapet laki-laki lebih dari mantan plus mantan modar pasti emak2 suka serasa pembalasan dendam dunia nyata yg laki-laki lebih belain selingkuhan dibandingkan istri menjandakan istri memungut janda ngurus anak tiri anak kandung ditelantarkan kalo disini pelakor plus laki-laki brengseknya modar
Uthie
Cerita pengkhianatan dan penyesalan yg selalu di nantikan terus Endingnya 👍
DIFAN2: Novel *"SULUNG"* hadir, yg penasaran yuk Mampir.
total 1 replies
Uthie
Lanjuttt
Uthie
sukurin... makan tuhh buah merebut perhatian suami wanita lain😝
mang enak di acuhin setelah dapat status istri yg dikejar dulu 😝
Ma Em
Semoga Naya selalu bahagia karena dikelilingi orang orang yg sangat menyayanginya .
irma hidayat
ceritanya bagus
yeni kusmiyati
kamu akan menyesal rayhan sudah dzolim sama istri Dan calo anakmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!