H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Langkah kaki Mahika menyeret koper besarnya keluar dari pintu kedatangan Bandara Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung. Udara sejuk khas Kota Kembang langsung menyapa wajahnya, memberikan sensasi segar yang sudah lama tidak ia rasakan.
Sebelum pesawat landing tadi, Bu Aura sempat mengirimkan pesan singkat. Beliau berpesan bahwa keponakannya yang berdomisili di Bandung sudah diminta untuk menjemput Mahika secara langsung. Bu Aura mewanti-wanti dengan kalimat yang cukup puitis dan penuh kebanggaan.
"Tenang aja, Mahika. Keponakan Ibu yang jemput kamu namanya Reagan Baskara. Pria tampan, tinggi, berwibawa, dan sedikit kaku, tapi dia orangnya sangat bisa diandalkan. Nanti kamu langsung kenalan aja sama dia ya."
Mahika mengedarkan pandangannya ke area penjemputan yang dipenuhi kerumunan orang. Di benak Mahika, sosok bernama Reagan Baskara ini tentulah seorang pria paruh baya atau pemuda berpenampilan klimis dengan setelan jas rapi, tatapan mata tajam, dan gestur berwibawa khas keluarga pengusaha besar.
Namun, Bu Aura rupanya lupa satu detail paling krusial keponakan kesayangannya itu adalah sosok kulkas tujuh pintu yang dinginnya melebihi es kutub, sangat anti berurusan dengan wanita, apalagi wanita asing yang belum pernah ia temui. Bagi Reagan Baskara, menjemput seorang wanita di bandara adalah buang-buang waktu yang sangat tidak efisien. Alhasil, ia melemparkan tugas keramat itu kepada asisten pribadinya yang setia, Ricky.
Di tengah hiruk-pikuk kerumunan penjemput, mata Mahika tertangkap pada satu sosok yang paling menyolok dan sejujurnya, paling kasihan.
Seorang pria bertubuh agak pendek, sedikit gemuk, dengan kacamata tebal yang terus melorot di hidungnya, sedang berdiri kikuk di barisan depan. Pria itu mengenakan kemeja motif floral warna-warni yang agak kekecilan, memegang seikat bunga mawar merah plastik di tangan kiri, dan tangan kanannya mengangkat tinggi-tinggi selembar kertas karton besar berwarna merah muda terang.
Di atas kertas karton pink itu, tertulis teks spidol hitam berukuran raksasa:
"SELAMAT DATANG MBAK KALEA MAHIKA! (UTUTU CANDI AURA)"
beberapa calon penumpang yang lewat sampai menoleh dan tertawa kecil melihat papan penyambutan yang sangat random dan kekanak-kanakan tersebut.
Mahika membeku di tempatnya. Matanya membelalak menatap tulisan di karton pink itu, lalu beralih menatap pria berkemeja bunga-bunga yang tampak hampir menangis karena malu dihakimi tatapan pengunjung bandara.
"Tunggu... ini keponakannya Bu Aura." batin Mahika menjerit tak percaya.
Mahika mencoba mencocokkan deskripsi Bu Aura di pesan WhatsApp. Tampan, tinggi, berwibawa, dan kaku.
Pria di depannya ini Pendek, bulat, kemeja bunga-bunga mencolok dan bertingkah panik seperti cacing kepanasan.
"Tampan dan tinggi dari mananya coba? Bu Aura kalau membanggakan keluarga sendiri ternyata halusinasinya tinggi juga ya..." gumam Mahika geleng-geleng kepala.
Namun karena tidak punya pilihan lain dan merasa kasihan melihat pria itu makin menjadi pusat perhatian, Mahika akhirnya menghembuskan napas panjang dan melangkah mendekat.
"Permisi..." sapa Mahika ragu-ragu di depan pria itu.
Pria berkemeja bunga-bunga itu langsung menoleh kaget. Matanya berbinar lega saat melihat Mahika yang berdiri membawa dua koper abu-abu.
"Aduh! Mbak Kalea Mahika, ya?!" seru pria itu dengan suara melengking lega, refleks menurunkan kertas karton pink-nya. "Aduh! Akhirnya sampai juga! Mbak, demi apa saya udah berdiri di sini setengah jam diplototin orang-orang."
Mahika menyunggingkan senyum canggung, mencoba bersikap sesopan mungkin. "Iya, saya Mahika. Maaf ya... Mas Reagan, ya?"
Pria itu tersedak salivanya sendiri. "UHUK! Hah?! Mas Reagan?!"
Mahika mengangguk polos. "Iya... Mas Reagan Baskara, kan? Keponakannya Bu Aura?"
Pria itu mendadak menepuk jidatnya sendiri dengan keras hingga kaca matanya makin melorot. "Aduh, Mbak! Beda jauh! Beda benua. Saya bukan Pak Reagan, Saya Ricky, asisten pribadinya Pak Reagan."
"Eh?" Mahika berkedip bingung. "Asistennya? Jadi Mas bukan Mas Reagan?"
"Bukan lah, Mbak! Astaga, muka saya bentukan begini dibilang Pak Reagan," ujar Ricky setengah meringis setengah ingin tertawa. "Pak Reagan yang asli mah boro-boro mau berdiri di sini sambil megang kertas karton warna pink begini. Bisa-bisa saya dipecat tujuh turunan kalau nyuruh dia bawa bunga mawar plastik."
"Terus... Mas Reagan-nya di mana?" tanya Mahika makin bingung.
Ricky menghela napas dramatis, mendekatkan diri ke arah Mahika seraya berbisik rahasia. "Bos saya itu kulkas tujuh pintu, Mbak. Dingin banget! Anti banget yang namanya jemput-jemput cewek, apalagi yang belum kenal. Pas Bu Aura telepon nyuruh jemput Mbak Mahika, Pak Reagan cuma ngelirik dingin terus bilang ke saya. Ricky, kamu handle. Antar dia ke rumah dinas privat. Jangan sampai ada yang kurang. Terus dia balik sibuk lagi ngurusin berkas investasi."
Mahika tertegun, lalu terkekeh pelan. Ternyata bayangan Bu Aura soal keponakannya yang super idaman agak meleset dari kenyataan operasional di lapangan. Pria bernama Reagan itu rupanya tipe bos dingin yang sangat kaku dan tidak mau repot.
"Terus... ini tulisan karton pink sama bunga mawar dari siapa kalau bukan dari Mas Reagan?" tanya Mahika menunjuk atribut ramdom di tangan Ricky.
Ricky menyeringai bangga, menepuk dadanya sendiri. "Inisiatif saya sendiri, Mbak! Biar estetik dan Mbak Mahika gampang ngenalin saya dari jauh! Bunga mawar ini simbol selamat datang dari manajemen Aura Fashion Bandung."
Mahika tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya. Rasa tegang dan sisa-sisa sesak akibat drama di Jakarta seolah mencair begitu saja gara-gara tingkah absurd asisten bernama Ricky ini.
"Terima kasih banyak ya, Mas Ricky. Kreatif banget kartonnya," puji Mahika tulus seraya menerima buket mawar plastik itu.
"Sama-sama, Mbak! Ya udah, yuk! Mobil sudah siap di depan. Saya bantu bawain kopernya ya," jawab Ricky sigap meraih dua koper besar milik Mahika. "Pak Reagan wanti-wanti banget biar Mbak Mahika langsung diantar ke rumah privat yang disediakan Bu Aura. Katanya biar Mbak bisa istirahat total hari ini."
"Baik, Mas. Terima kasih ya."
Mereka berdua melangkah keluar menuju area parkir VIP. Ricky memasukkan koper-koper Mahika ke dalam bagasi sedan hitam mewah yang terawat sangat bersih.
Selama perjalanan membelah jalanan Kota Bandung yang sejuk, Ricky tidak berhenti bercerita dengan gaya kocaknya. Dari cerita Ricky, Mahika jadi makin tahu gambaran sosok Reagan Baskara. Pria itu ternyata memegang beberapa anak perusahaan investasi ternama di Bandung dan memang dikenal sebagai pengusaha muda bertangan dingin yang sangat disiplin, irit bicara dan tidak pernah punya riwayat dekat dengan wanita mana pun.
"Pak Reagan itu kalau ngomong kayak hemat kuota, Mbak. Sehari paling cuma keluar sepuluh kata kalau di kantor," celoteh Ricky sambil menyetir. "Tapi tenang, Mbak Mahika. Walaupun mulutnya dingin kayak es batu, Pak Reagan itu orangnya sangat bertanggung jawab. Bu Aura udah amanatin Mbak ke beliau, jadi Pak Reagan pasti bakal jagain aset dan bisnis baru Mbak di sini dari gangguan luar."
Mahika tersenyum tipis menatap pemandangan pepohonan rindang di sepanjang jalan. "Kulkas tujuh pintu, ya? Baguslah. Aku juga lagi tidak butuh pria manis di bibir yang sukanya mengobrak-abrik janji seperti Reno", batin Mahika dingin.
Setengah jam berlalu, mobil sedan hitam itu akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan privat bernuansa asri dan tenang di daerah Dago Atas.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah gaya minimalis modern dua lantai dengan halaman rumput hijau yang luas dan pagar kayu yang elegan. Suasana di sekitar rumah terasa begitu damai, jauh dari kebisingan kota.
"Nah, kita sudah sampai, Mbak!" seru Ricky seraya mematikan mesin mobil. "Ini rumah dinas privat milik keluarga Baskara yang ditunjuk Bu Aura buat Mbak Mahika. Kuncinya sudah pakai smart lock, aksesnya cuma Mbak Mahika yang pegang."
Mahika melangkah turun dari mobil, menatap rumah cantik di depannya dengan rasa haru yang membuncah. Rumah ini jauh lebih luas, indah, dan tenang dibanding kamar kosnya di Jakarta dulu apalagi dibanding rumah orang tuanya yang dipenuhi aura beracun.
Ricky menurunkan koper-koper Mahika dan menyerahkan sebuah kartu akses hitam elegan serta amplop berisi dokumen rumah.
"Ini kartu aksesnya ya, Mbak. Di dalam rumah sudah lengkap semua fasilitasnya, dari bahan makanan di kulkas sampai studio merancang kecil di lantai dua," terang Ricky ramah. "Satu lagi... Pak Reagan pesan, kalau Mbak Mahika butuh bantuan apa pun terkait perizinan studio atau urusan hukum brand baru Mbak, Mbak bisa hubungi saya atau langsung ke kantor Pak Reagan besok lusa."
Mahika menerima kartu akses itu dengan senyuman hangat. "Terima kasih banyak ya, Mas Ricky. Salam buat Pak Reagan, terima kasih atas fasilitas dan bantuannya."
"Siap, Mbak! Nanti saya sampaikan ke Sang Kulkas Tujuh Pintu," seloroh Ricky terkekeh. "Saya pamit dulu ya, Mbak. Selamat beristirahat."
Setelah mobil Ricky berlalu meninggalkan halaman, Mahika menyentuhkan kartu akses ke gagang pintu utama.
Bip.
Pintu terbuka dengan bunyi renyah. Mahika menyeret dua kopernya masuk ke dalam rumah yang harum dan hangat itu. Ia menutup pintu rapat-rapt, menguncinya dari dalam, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
Ia memejamkan mata, menghirup udara ketenangan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Di tempat baru ini, di bawah perlindungan Bu Aura dan dukungan tim yang solid, Kalea Mahika resmi memulai lembaran barunya. Biarlah di Jakarta sana Reno dan keluarga toxic-nya sibuk bersorak merayakan skenario busuk mereka. Karena dari rumah tenang di Bandung inilah, Mahika akan merancang karya-karya hebat sekaligus memperhalus jalan menuju hari pembalasan yang mematikan.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂