Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Jaket Kebesaran dan Pelukan Sang Kapten
Area parkir SMA Dirgantara sudah nyaris kosong saat Amira memapah Alfian menuju motor sport hitam metaliknya.
Napas cowok itu terasa sangat panas saat menerpa perpotongan leher Amira.
"Kunci motor kamu mana?" tagih Amira sambil menengadahkan tangan kanannya.
Alfian merogoh saku jeans-nya dengan gerakan lambat, lalu menjatuhkan kunci berlogo sayap itu ke telapak tangan Amira.
Amira langsung memutar kunci kontak.
Mesin ber-CC besar itu mengaum nyaring, menggetarkan aspal di bawah kaki mereka.
"Nih, pakai jaket gue," gumam Alfian dengan mata setengah terpejam.
Cowok itu menarik ritsleting hoodie hitamnya, melepaskannya, lalu menyodorkannya pada Amira.
"Eh? Terus kamu pakai apa? Kamu kan lagi demam, Alfian!" tolak Amira, menatap kaus oblong putih tipis yang kini membalut tubuh bagian atas cowok itu.
"Angin depan lebih kencang. Lo yang nyetir, lo yang harus pakai," paksa Alfian keras kepala.
Tanpa menunggu persetujuan, Alfian langsung memakaikan hoodie hitam kebesaran itu ke tubuh Amira.
Aroma parfum mint bercampur wangi maskulin khas Alfian langsung menenggelamkan indra penciuman Amira.
Tangan panjang hoodie itu menutupi hingga ke ujung jari-jari Amira, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang memakai baju ayahnya.
"Bawel," gerutu Amira dengan wajah memerah, buru-buru menggulung lengan hoodie itu agar ia bisa memegang stang motor.
Amira memakai helm bogo miliknya, sementara Alfian memakai helm full face-nya dengan gerakan lemas.
Gadis itu naik ke atas motor, kakinya yang tidak terlalu panjang terpaksa sedikit berjinjit untuk menahan beban motor yang super berat itu.
"Ayo naik. Pelan-pelan," instruksi Amira.
Alfian mengangkat kakinya dengan sisa tenaga, duduk di jok belakang yang lebih tinggi.
Begitu tubuh besarnya mendarat, motor itu sedikit oleng.
"Aw! Berat tahu!" pekik Amira berusaha menyeimbangkan stang.
"Pegangan yang bener dong, Kapten! Kalau jatuh aku nggak tanggung jawab ya!"
Alfian tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata.
Sebagai gantinya, cowok itu memajukan posisi duduknya, menempelkan dada bidangnya tepat di punggung Amira.
Lalu, kedua lengan kokoh Alfian melingkar sempurna di pinggang ramping gadis itu, menguncinya dengan sangat erat.
Deg!
Napas Amira seakan berhenti berembus detik itu juga.
Kepala Alfian bersandar lemas di ceruk bahu Amira, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut sebahu Amira yang tidak terikat.
"Jalan," bisik Alfian parau, suaranya merambat melalui getaran di punggung Amira.
"I-iya, sabar!" cicit Amira dengan jantung yang sudah berdetak secepat putaran roda gigi.
Dengan sangat hati-hati, Amira menarik tuas kopling dan menginjak persneling.
Motor sport besar itu melaju perlahan meninggalkan gerbang sekolah, membelah jalanan sore kota yang baru saja diguyur gerimis.
Di sepanjang jalan, Amira benar-benar harus fokus tingkat dewa.
Bukan karena takut menabrak, tapi karena ia harus setengah mati menahan godaan untuk tidak meleleh akibat posisi mereka.
Setiap kali motor berhenti di lampu merah, pelukan Alfian di pinggangnya akan mengerat secara otomatis.
Hembusan napas hangat cowok itu menggelitik leher Amira dari balik helaian rambutnya.
Ini beneran Alfian si kapten arogan itu kan? Kenapa sekarang malah kayak anak kucing kelaparan gini sih? batin Amira, menahan senyum yang terus-menerus memaksa terbit.
Dua puluh menit kemudian, motor itu berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan elite yang suasananya sangat tenang.
Sesuai instruksi yang sempat Alfian gumamkan tadi, Amira berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.
Amira membunyikan klakson dua kali.
Seorang satpam paruh baya berlari keluar dari pos jaga, wajahnya membelalak kaget melihat siapa yang duduk di jok depan motor majikannya.
"Loh? Den Alfian kenapa, Non?" seru satpam itu panik sambil buru-buru membuka gerbang.
"Sakit, Pak. Demamnya tinggi banget. Pak Tarjo ada?" tanya Amira sambil memarkirkan motor di pelataran rumah yang luasnya nyaris sebesar lapangan basket sekolah.
"Pak Tarjo lagi jemput Ibu, Non. Mari saya bantu angkat Den Alfian," tawar Pak Satpam.
Namun, saat Pak Satpam hendak memegang lengan Alfian, cowok itu justru menepisnya pelan.
Alfian mengeratkan pelukannya di pinggang Amira, enggan melepaskannya.
"Sama lo aja," gumam Alfian keras kepala di telinga Amira.
Amira memutar bola matanya malas, meski hatinya bersorak kegirangan.
"Iya, iya, dasar manja," omel Amira pelan.
Amira melepas helmnya, lalu membantu melepaskan helm full face Alfian.
Wajah cowok itu luar biasa pucat, keringat dingin membasahi anak rambutnya.
Dengan susah payah, Amira memapah tubuh jangkung Alfian menaiki anak tangga teras dan masuk ke dalam rumah mewahnya yang terasa sangat sepi.
"Kamar kamu di mana?" tanya Amira ngos-ngosan, bahunya terasa kebas menahan beban tubuh Alfian.
"Lantai dua. Kanan," jawab Alfian dengan mata terpejam.
"Astaga, kenapa harus di atas sih?!" keluh Amira, namun kakinya tetap melangkah menaiki tangga marmer melingkar itu dengan penuh perjuangan.
Begitu pintu kamar terbuka, Amira langsung disambut oleh nuansa maskulin yang sangat kuat.
Kamar itu didominasi warna abu-abu gelap, hitam, dan kayu oak.
Sangat rapi, bersih, dan wangi mint—persis seperti pemiliknya.
Bruk.
Amira merebahkan tubuh Alfian ke atas kasur king size yang empuk.
Gadis itu berdiri mematung di samping kasur, mengatur napasnya yang terengah-engah seperti baru lari maraton.
"Udah sampai," ucap Amira sambil menarik selimut tebal menutupi tubuh Alfian sebatas dada.
Alfian memejamkan matanya, alisnya berkerut menahan rasa pusing yang kembali mendera kepalanya.
Melihat wajah kesakitan itu, Amira merasa tidak tega untuk langsung pulang.
Gadis itu berjalan menuju kamar mandi dalam, mengambil sebuah handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat.
Amira kembali duduk di tepi kasur, lalu dengan telaten mengusapkan handuk hangat itu ke dahi dan pelipis Alfian.
Sentuhan lembut itu membuat kerutan di dahi Alfian perlahan mengendur.
"Kamu ini emang nekat," omel Amira dengan suara pelan dan lembut.
"Sakit begini maksa ke sekolah. Mana marah-marah pula di aula."
Alfian membuka matanya sedikit.
Manik mata hitam legam itu menatap lurus ke wajah Amira dari jarak dekat.
"Gue kan udah bilang... gue nggak suka lihat lo sama dia," bisik Alfian parau.
Pipinya Amira kembali memanas.
"Iya, bawel. Udah, jangan ngomong terus. Suara kamu udah kayak kaset rusak," potong Amira salah tingkah, menekan handuk di dahi Alfian sedikit lebih keras.
Alfian terkekeh lemah.
Mata cowok itu menelusuri wajah Amira.
Rambut sebahunya yang agak berantakan, hoodie hitam kebesaran yang menenggelamkan tubuh mungilnya, dan sepasang mata bulat yang memancarkan kekhawatiran tulus.
Jauh di sudut hatinya, ada dinding es raksasa yang baru saja hancur lebur menjadi air mata kebahagiaan.
Amira berdiri dari tepi kasur.
"Aku pulang dulu ya. Nanti minta tolong Bi Ijah atau satpam depan buat beliin obat,"ada pamit Amira, bersiap melangkah pergi.
Namun, belum sempat kakinya berayun...
Grep.
Sebuah tangan yang panas dan sedikit gemetar menahan pergelangan tangan Amira dengan sangat kuat.
Amira menoleh ke belakang dengan kening berkerut.
Alfian menatapnya dengan tatapan memelas yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini.
Tatapan arogan dan dingin itu lenyap, digantikan oleh sorot ketakutan yang tak beralasan.
"Jangan pergi," bisik Alfian.
Deg.
Kata-kata itu menghantam ingatan Amira bagai godam.
Itu adalah kalimat yang persis sama dengan yang ia ucapkan saat Sky pergi meninggalkannya bertahun-tahun yang lalu.
"Jangan pergi," ulang Alfian, kali ini dengan suara yang lebih rapuh.
Cowok itu menarik tangan Amira, memaksanya kembali duduk di tepi kasur.
"Temenin gue... sebentar aja," pinta Alfian nyaris seperti memohon.
Amira menatap wajah pucat itu dengan napas tertahan.
Dinding pertahanannya benar-benar hancur melihat sisi terlemah dari seorang Alfian Pratama.
Gadis itu akhirnya menghela napas pasrah.
"Satu jam," putus Amira pelan.
"Aku temenin sampai Mama kamu pulang. Tapi tanganku lepasin, nanti ikut panas."
Bukannya melepaskan, jari-jari panjang Alfian justru semakin erat menggenggam tangan kecil Amira, lalu membawanya ke depan dada bidangnya.
"Nggak mau," tolak Alfian keras kepala, menutup matanya perlahan.
"Gue mau tidur. Jangan berisik."
Dalam hitungan menit, deru napas Alfian menjadi teratur, menandakan cowok itu benar-benar jatuh tertidur karena efek demam dan kelelahan.
Amira duduk diam di tepi kasur, membiarkan tangannya digenggam erat oleh sang kapten.
Gadis itu menatap sekeliling kamar Alfian untuk mengusir rasa canggung yang mendadak menyerang perutnya.
Pandangan Amira terhenti pada sebuah meja belajar di sudut ruangan.
Di sana, di antara tumpukan buku pelajaran dan piala basket, ada sebuah pigura foto kecil yang tertelungkup.
Satu-satunya pigura yang sengaja direbahkan, seolah pemiliknya tidak ingin melihat isinya namun tak tega untuk membuangnya.
Rasa penasaran Amira sedikit terpancing, tapi tangan kanannya ditahan kuat oleh Alfian yang sedang tertidur lelap.
Mungkin cuma foto mantan pacarnya? batin Amira acuh tak acuh.
Amira kembali menatap wajah damai Alfian, tersenyum kecil sambil merapikan sisa anak rambut yang menutupi mata cowok itu.
Masa bodoh dengan foto di sana.
Karena untuk saat ini, Amira tidak ingin memikirkan hal lain selain menjaga cowok keras kepala yang secara perlahan telah berhasil mencuri hatinya.