Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Suasana aula pesta mendadak terbelah menjadi dua saat sosok tua yang sangat dihormati melangkah masuk.
Kakek Baskoro berjalan perlahan menuruni tangga utama, didampingi oleh dua asisten pribadinya.
Wajahnya masih sedikit pucat, namun aura kepemimpinannya sebagai penguasa Prameswari Group tetap menguar kuat.
Semua tamu undangan langsung membungkuk hormat menyambut kedatangan sang legenda bisnis kota metropolitan tersebut.
Namun Kevin Adhitama justru melangkah maju menembus kerumunan dengan senyum sombong di wajahnya.
"Selamat malam Tuan Besar Baskoro, senang melihat Anda masih bisa bernapas malam ini," sapa Kevin dengan nada yang jelas-jelas mengejek.
"Saya membawakan Anggur Dewa yang sangat langka ini khusus untuk merayakan kesembuhan Anda."
Kevin memberi isyarat, dan pengawalnya langsung menuangkan cairan merah gelap itu ke dalam dua gelas kristal mewah.
Satu gelas dipegang oleh Kevin, dan gelas lainnya disodorkan tepat ke hadapan Kakek Baskoro.
"Mari kita bersulang untuk perdamaian abadi antara keluarga Adhitama dan keluarga Prameswari," ucap Kevin dengan suara lantang.
Seluruh tamu undangan menahan napas, menatap tegang ke arah Kakek Baskoro.
Ini adalah jebakan sosial yang sangat licik, jika Kakek menolak, keluarga Prameswari akan dianggap pengecut dan tidak menghargai itikad baik.
Kakek Baskoro menatap Kevin dengan tatapan setajam elang, dia tahu betul watak busuk keluarga saingannya ini.
"Kau terlalu berlebihan memujiku anak muda, tapi aku akan menghargai hadiah mahalmu ini," jawab Kakek Baskoro tenang.
Pria tua itu perlahan mengangkat tangannya, bersiap menerima gelas kristal berisi anggur dari tuan muda tersebut.
Kiara yang berdiri tidak jauh dari sana merasa jantungnya berdegup kencang, firasat buruk menyelimuti hatinya.
Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena interupsi akan sangat memalukan nama baik kakeknya di depan ratusan tamu elit.
Tepat saat jari-jari Kakek Baskoro nyaris menyentuh gagang gelas kristal itu, sebuah tangan kekar tiba-tiba menyambarnya lebih dulu.
Wus!
Gerakan tangan itu sangat cepat hingga menimbulkan embusan angin kecil yang mengejutkan semua orang.
Kevin terbelalak kaget saat melihat gelas anggurnya kini sudah berpindah ke tangan Genta.
"Maaf Tuan Muda Kevin, tapi kakek mertuaku dilarang keras meminum alkohol oleh dokter pribadinya," ucap Genta dengan senyum miring yang khas.
"Jadi biar aku saja yang mewakilinya meminum anggur mahal berkedok racun ini."
Perkataan Genta barusan seperti bom nuklir yang dijatuhkan di tengah-tengah aula pesta.
Ratusan tamu undangan langsung berbisik ribut, terkejut mendengar tuduhan racun yang dilontarkan secara terang-terangan.
Wajah Kevin mendadak sedikit pucat, namun dia dengan cepat menguasai dirinya dan memasang ekspresi murka.
"Apa maksudmu gembel udik?! Berani-beraninya kau menuduh keluarga Adhitama meracuni Tuan Besar!" teriak Kevin penuh amarah.
"Ini adalah pencemaran nama baik, aku bisa menjebloskanmu ke penjara seumur hidup atas fitnah ini!"
Kakek Baskoro menatap Genta dengan sedikit bingung, namun dia memilih diam dan mempercayai cucu menantunya itu.
Kiara langsung melangkah maju berdiri di samping Genta, memberikan dukungan penuh meski hatinya ikut bergetar panik.
"Suamiku tidak pernah bicara omong kosong Kevin, jika dia bilang ada racun, maka botolmu itu pasti berisi racun!" tegas Kiara membela Genta.
Genta tertawa pelan mendengar pembelaan berani dari istrinya itu, hatinya merasa sedikit hangat.
"Kalau kau memang merasa anggur ini bersih Tuan Muda Kevin, kenapa bukan kau saja yang menghabiskan segelas penuh ini sekarang juga?" tantang Genta dingin.
Genta menyodorkan kembali gelas kristal berisi cairan merah itu tepat ke bawah dagu Kevin.
Tubuh Kevin langsung menegang kaku, keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipisnya.
Dia tahu persis bahwa Bubuk Penghancur Jantung di dalam anggur itu tidak memiliki penawar sama sekali.
"A-aku sudah meminum kelasku sendiri tadi, kenapa aku harus meminum gelas jatah Tuan Besar?!" bantah Kevin terbata-bata mencari alasan.
"Lagi pula, aku tidak sudi meminum dari gelas yang sudah disentuh oleh tangan kotor gembel sepertimu!"
Para tamu undangan yang awalnya ragu kini mulai memandang Kevin dengan penuh kecurigaan.
Penolakan Kevin yang terlihat sangat panik justru semakin membenarkan tuduhan Genta di mata publik.
Genta menghela napas malas, dia kehilangan kesabaran menghadapi drama murahan dari tuan muda arogan ini.
"Karena kau menolak dengan sopan, maka aku harus memaksa meminumkannya padamu agar kau tumbuh menjadi anak yang sehat."
Detik berikutnya, tangan kiri Genta melesat maju seperti kilat dan mencengkeram kuat rahang bawah Kevin.
Krek!
Genta menekan dua titik saraf di rahang Kevin, membuat mulut tuan muda itu terbuka lebar secara paksa tanpa bisa ditutup.
"Pengawal! Bunuh gembel ini sekarang juga!" jerit Kevin tertahan dengan mulut menganga.