Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daftar sekolah

Sejak hari itu, hidup Haruna berubah sepenuhnya. Warna yang dulu memudar dari hari-harinya kini kembali hadir. Dibawa oleh sesosok anak perempuan berkuncir dua yang tak pernah lelah datang berkunjung. Tak ada satu hari pun yang terlewat tanpa kehadiran Kirana... entah bermain boneka di dalam gubuk, membantu Nek Lasmi membungkus peyek, atau sekadar duduk berdua di teras sambil bercerita tentang hal-hal kecil yang membuat mereka tertawa lepas.

Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa Haruna kini sudah menginjak usia tujuh tahun. Usia di mana anak-anak lain sudah lama duduk manis di bangku taman kanak-kanak. Namun karena keterbatasan biaya, Nek Lasmi tak pernah mampu menyekolahkan cucunya ke TK.

Meski begitu, kecerdasan Haruna sama sekali tak kalah. Bahkan sering kali melampaui anak-anak seusianya yang sudah mengenyam pendidikan lebih dulu, hasil dari ketekunan Nek Lasmi mengajarinya membaca dan berhitung setiap malam menggunakan ranting kayu di atas tanah, atau kapur tulis yang dibelikan Bu Inah.

Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyapa gubuk sederhana mereka ketika Haruna berlari kecil menghampiri Kirana yang baru datang, wajahnya berbinar penuh semangat.

"Kak Kirana! Kak Kirana!" serunya riang, hampir terjungkal karena terlalu bersemangat berjalan cepat dengan kakinya yang tak sempurna.

"Ada apa, sih? Kok heboh banget?" Kirana tertawa kecil, menahan tubuh Haruna yang hampir oleng.

"Nenek mau bawa Haruna daftar sekolah! Hari ini!" jawab Haruna, matanya berbinar penuh harap. "Katanya ada SD deket sini yang gratis!"

Mata Kirana ikut membulat senang. "Beneran? Wah, kalau Haruna sekolah di situ juga, kita bisa sama-sama, dong! Aku kan sekolah di situ!"

"Iya! Haruna juga maunya sekolah bareng Kak Kirana!" sahut Haruna, tertawa gembira sambil menggenggam tangan sahabatnya erat-erat.

Tak lama, Nek Lasmi keluar dari dalam gubuk, sudah rapi mengenakan kebaya lusuh terbaiknya yang biasa ia pakai untuk acara-acara penting. "Ayo, Nak, kita berangkat sekarang biar nggak kesiangan," ajaknya sambil menggandeng tangan Haruna.

Jarak menuju sekolah dasar itu tidaklah dekat. Harus ditempuh dengan berjalan kaki hampir empat puluh menit, melewati jalan setapak berbatu dan sawah yang membentang luas. Namun bagi Haruna, jauhnya perjalanan itu sama sekali tak mengurangi semangatnya. Ia terus bersenandung riang sepanjang jalan, sesekali bertanya kepada neneknya tentang bagaimana rasanya bersekolah nanti.

Sesampainya di sekolah, mereka disambut oleh bangunan sederhana bercat putih yang mulai mengelupas di beberapa sisi, namun tetap terlihat ramai oleh anak-anak yang berlarian di halaman. Nek Lasmi menuntun Haruna menuju ruang tata usaha, tempat pendaftaran murid baru dibuka.

"Selamat pagi, Bu. Saya mau daftarkan cucu saya," ucap Nek Lasmi sopan kepada seorang guru wanita berkacamata yang duduk di balik meja.

Guru itu, Bu Yuli, menatap Haruna sekilas, lalu kembali menatap Nek Lasmi. "Anak ini sebelumnya sekolah TK di mana, Bu?"

"Belum pernah sekolah TK, Bu. Tapi Haruna sudah bisa baca tulis kok, saya ajari sendiri di rumah," jawab Nek Lasmi dengan nada penuh keyakinan.

Bu Yuli mengerutkan kening, menaruh pena di meja dengan gerakan yang terkesan meremehkan. "Wah, kalau begitu agak susah, Bu. Anak-anak yang belum pernah TK biasanya jauh tertinggal dibanding yang lain. Kasihan nanti dia kesulitan mengikuti pelajaran, apalagi kondisi kakinya juga..."

Kalimat itu menggantung di udara. Namun maknanya cukup jelas terdengar oleh siapa pun yang berada di ruangan itu, termasuk Haruna yang duduk di kursi kecil sambil mendengarkan.

Merasa tak terima diremehkan seperti itu, Haruna yang biasanya penurut, kali ini justru bangkit dari duduknya, melangkah maju dengan berani. "Bu Guru, boleh Haruna buktikan kalau Haruna bisa?"

Bu Yuli tampak terkejut mendengar anak kecil di hadapannya berbicara dengan begitu percaya diri. "Buktikan bagaimana maksudnya, Dek?"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Haruna menunjuk ke arah papan pengumuman di dinding yang berisi beberapa kalimat panjang. "Haruna bisa baca itu, Bu." Dengan lancar, Haruna mulai membaca setiap kata yang tertera di papan itu, suaranya jelas dan tanpa terbata sedikit pun.

Bu Yuli dan seorang guru lain yang kebetulan lewat saling melempar pandang, tak menyangka dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

"Haruna juga bisa berhitung, Bu," lanjut Haruna, lalu tanpa diminta ia mulai menyebutkan perkalian sederhana, bahkan menghitung pengurangan dan penjumlahan angka-angka besar dengan cepat, hasil dari latihan tanpa lelah bersama Nek Lasmi setiap malam menggunakan biji-bijian sebagai alat bantu hitung.

"Ini juga," Haruna mengambil pena dan kertas yang ada di meja, lalu menuliskan namanya sendiri dengan huruf sambung yang rapi, disusul beberapa kalimat pendek lainnya.

Ruangan itu mendadak sunyi, hanya suara pena Haruna yang bergesekan dengan kertas. Bu Yuli menatap tulisan itu dengan mulut sedikit menganga, tak percaya dengan kemampuan yang ditunjukkan anak yang baru saja ia remehkan.

Setelah selesai, Haruna meletakkan pena itu, menatap Bu Yuli dengan senyum penuh kepuasan. "Haruna memang nggak pernah sekolah TK, Bu. Tapi Haruna punya keinginan buat jadi pintar. Jadi Haruna belajar sendiri sama Nenek setiap malam."

Bu Yuli terdiam sesaat, wajahnya memerah menahan malu. "Maaf, ya, Dek... Ibu Guru salah menilai kamu," ucapnya akhirnya, suaranya melembut. Ia menoleh kepada Nek Lasmi. "Baik, Bu, saya akan proses pendaftarannya sekarang. Haruna bisa langsung masuk kelas satu."

Wajah Haruna langsung berbinar cerah, hampir melompat kegirangan andai kakinya memungkinkan. "Beneran, Bu? Haruna diterima?"

"Iya, diterima," jawab Bu Yuli, tersenyum tulus kali ini.

Nek Lasmi mendekap Haruna erat-erat, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. "Alhamdulillah, Nak. Akhirnya Haruna bisa sekolah."

Kebahagiaan Haruna semakin lengkap begitu mengetahui bahwa sekolah itu adalah sekolah yang sama dengan Kirana. Sepanjang perjalanan pulang, ia tak berhenti bercerita riang kepada neneknya, membayangkan hari-hari indah yang akan ia lalui bersama sahabat terbaiknya itu.

Sesampainya di gubuk, Kirana sudah menunggu di depan pintu, duduk di atas batu besar sambil memeluk sebuah kantong kresek putih.

"Gimana, gimana? Diterima, nggak?" tanya Kirana tak sabar begitu melihat mereka datang dari kejauhan.

"Diterima, Kak! Haruna diterima sekolah!" seru Haruna riang, berlari-lari kecil menghampiri sahabatnya.

Kirana bersorak gembira, lalu menyerahkan kantong kresek yang sedari tadi ia genggam. "Nih, buat Haruna. Seragam bekas punya Kakak, tapi masih bagus, kok, kayak baru!"

Haruna membuka kantong itu dengan mata berbinar. Menemukan seragam putih-merah yang meski sudah pernah dipakai, terlihat masih sangat rapi dan bersih. "Wah, bagus banget, Kak! Makasih, ya!"

"Belum abis," Kirana tersenyum lebar, mengeluarkan sebuah tas ransel bermotif putri-putrian dengan warna merah muda cerah. "Ini juga buat Haruna. Tas baru, belum pernah dipakai. Kakak sengaja beli, soalnya tahu Haruna suka princess."

Mata Haruna langsung berkaca-kaca, kali ini bukan karena sedih, melainkan haru yang meluap tak tertahankan. Ia mendekap tas itu erat-erat ke dadanya, seolah benda itu adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki.

"Makasih, Kak Kirana," bisik Haruna, suaranya bergetar penuh rasa syukur. "Haruna janji, Haruna bakal sekolah yang rajin, biar bisa terus main sama Kak Kirana setiap hari."

Kirana tersenyum lebar, merangkul bahu sahabatnya. "Iya! Kita sekolah bareng-bareng terus, ya, sampai kapan pun!"

Di bawah naungan langit sore yang mulai jingga, dua anak perempuan itu berpelukan erat, tertawa bahagia, tak menyadari bahwa persahabatan tulus yang mereka rajut sejak kecil itu kelak akan menjadi salah satu kekuatan terbesar yang akan menopang Haruna dalam menghadapi berbagai badai kehidupan yang masih menantinya di masa depan.

1
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
Ilfa Yarni
Ayo hatina tunjukkan klo km itu pintar biar mrk yg jahat pdmu melongo krn syok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!