**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Bukan Suamiku... Belum
Bagas baru sempat membuka mulut ketika bola di tangan Bram meluncur.
Buk!
Bola mengenai dahinya, tidak cukup keras untuk menjatuhkan, tetapi cukup membuat ponsel di tangannya hampir terlepas. Guru-guru dewasa di sekitar lapangan serempak berseru. GOR sedang bebas dari kegiatan siswa karena jam rapat, membuat bunyi benturan itu terdengar lebih jelas.
“Bram, gila lo!” Bagas mengusap dahi.
Bram berjalan mendekat. “Jauh-jauh dari dia.”
Senyum Bagas menghilang. Ia menoleh pada Laras, lalu kembali kepada Bram. “Gue cuma minta nomor.”
“Dia sudah nolak.”
“Lo dengar dari sana?”
“Satu gedung dengar karena lo nggak tahu malu.”
Beberapa rekan mereka menahan tawa. Wajah Bagas memerah.
“Ya sudah. Maaf, Mbak Laras.” Bagas mengangkat kedua tangan. “Gue nggak tahu dia punya...”
Ia berhenti dan menatap Bram. “Punya apa, sih?”
Bram mengambil bola yang menggelinding, lalu melemparkannya ke dada Bagas. “Jaga aku.”
“Apa?”
“Sepuluh bola.” Bram mundur ke garis tengah. “Kalau satu saja nggak bisa lo tahan, gue lempar sekali lagi.”
“Lo ngajak duel cuma gara-gara gue minta nomor cewek?”
“Takut?”
Bagas langsung melempar handuk ke tribun. “Siapa takut?”
Guru-guru lain membentuk lingkaran di tepi lapangan. Laras berdiri dari kursinya. Ia ingin menghentikan Bram, tetapi salah seorang guru berbisik bahwa Bagas memang perlu diberi pelajaran karena terlalu sering menggoda tamu perempuan.
Peluit ditiup.
Bram bergerak pada bola pertama. Tubuh besarnya menipu. Dua langkah cepat membawanya melewati Bagas sebelum laki-laki itu sempat menutup jalur. Bola masuk bersih.
Satu.
Bola kedua, Bram berhenti mendadak dan menembak dari luar garis. Masuk.
Dua.
Pada bola ketiga, Bagas berhasil menyentuh bola, tetapi Bram memutarnya di belakang punggung, mengambilnya kembali, lalu melompat. Ring bergetar ketika bola dihunjamkan dari atas.
Sorakan pecah.
Laras tidak bisa berkedip. Ia baru tahu Bram pernah bermain basket dengan serius. Gerakannya terlalu rapi untuk sekadar guru olahraga yang bermain saat senggang. Namun setelah mendarat, kaki kanannya sempat kaku sepersekian detik sebelum ia kembali berlari.
Empat. Lima. Enam.
Pada bola keempat, Bagas mencoba bermain fisik dan menahan bahu Bram. Bram berputar, membuat Bagas kehilangan keseimbangan, lalu memasukkan bola dari papan.
Bola kelima masuk dari sudut sempit. Bola keenam berupa tembakan jarak jauh yang membuat salah seorang guru meniup peluit panjang meski permainan belum selesai.
“Sudah, Bram. Kasihan Bagas,” teriak seseorang sambil tertawa.
“Belum sepuluh,” jawab Bram.
Bagas menyeka keringat dengan ujung baju. “Lo kerasukan apa, sih?”
Bram melirik Laras di tribun. “Lagi pengin menang.”
Tatapan semua orang ikut beralih. Laras merapatkan topi yang belum ia punya, lalu sadar tidak ada tempat bersembunyi. Salah seorang rekan Bram mengangkat ibu jari kepadanya. Ia hanya bisa tersenyum kaku.
Bola ketujuh hampir berhasil direbut Bagas. Bram mengejar sampai dekat garis, menyelamatkannya dengan satu tangan, lalu mengirim bola melalui sela kaki Bagas sebelum mengambil kembali. Tawa di pinggir lapangan semakin keras.
Pada bola kedelapan, Bagas memilih berdiri di bawah ring. Bram tidak mendekat. Ia menembak dari luar garis dan bola jatuh tanpa menyentuh tepi.
Bola kesembilan menjadi yang paling lama. Bagas bertahan sungguh-sungguh, menutup setiap celah. Bram bergerak ke kanan, berhenti, lalu mundur cepat. Ruang sekecil satu langkah sudah cukup. Tembakannya kembali masuk.
Keringat membasahi kaus Bram. Bagas mulai terengah dan kehilangan senyum. Setiap kali ia mencoba menutup jalan, Bram memakai bahu, perubahan arah, atau tembakan jarak jauh.
Pada bola kesepuluh, Bagas berdiri dengan kedua tangan di lutut.
“Cukup,” katanya terengah. “Gue nyerah.”
Bram memantulkan bola sekali. “Tadi gue bilang kalau nggak bisa tahan, gue lempar lagi.”
Ia mengambil ancang-ancang, melewati Bagas yang bahkan tidak sempat mengangkat tangan, lalu memasukkan bola kesebelas dengan satu dunk keras.
Ring berguncang. Bola jatuh dan memantul ke luar lapangan.
Bram mendarat, berjalan lurus kepada Laras, lalu berdiri di depannya dengan dada naik turun.
“Kamu nggak apa-apa?”
Laras mengangguk. “Kamu keterlaluan.”
“Dia ganggu kamu.”
“Dia cuma minta nomor.”
“Itu sudah ganggu.”
Bagas mendekat sambil mengusap tengkuk. “Serius, gue minta maaf. Gue kira Mbak Laras lagi lihat gue main.”
“Aku bahkan nggak lihat kamu,” kata Laras jujur.
Tawa meledak dari tepi lapangan. Bagas menutup wajah, kalah untuk kedua kalinya.
Salah satu guru berseru, “Sudahlah, Gas. Jangan ganggu istri orang.”
Laras buru-buru membantah. “Dia bukan suamiku.”
Bram merangkul pinggangnya di depan semua orang. “Dia belum jadi istriku.”
Ruangan mendadak hening.
Bram menoleh kepada Bagas, lalu menambahkan, “Belum aja.”
Bagas membuka mulut tanpa suara. Guru-guru lain saling pandang, lalu sorakan dan siulan memenuhi GOR. Laras menutupi wajah dengan kedua tangan. Ia seharusnya menepis lengan Bram, tetapi pelukan itu terasa seperti sesuatu yang diam-diam ia tunggu sepanjang hidup.
Selama lima tahun bersama Wahyu, tidak pernah ada orang yang memandang Laras dengan iri karena dianggap begitu diinginkan. Kini, di depan satu lingkaran orang dewasa, Bram mengucapkan masa depan seolah keputusan itu sudah selesai dibuat. Salah, memalukan, dan membuat ujung jarinya bergetar oleh kebahagiaan yang tak pantas.
“Pak Bram serius?” seseorang berseru.
“Sangat,” jawab Bram tanpa melepaskan pinggang Laras.
Laras mencubit punggung tangannya. “Berhenti bicara.”
“Kalau aku berhenti, mereka pikir aku bercanda.”
Bram pergi berganti pakaian. Ketika kembali dengan kaus bersih, ia berjalan langsung kepada Laras, menurunkan tangannya dari wajah, lalu mencium keningnya di depan rekan-rekan dewasa yang masih menggoda.
“Ayo.”
Jari-jari mereka bertaut saat meninggalkan sekolah.
Di luar gerbang, Laras baru berani menarik tangannya. “Kamu bikin semua orang salah paham.”
“Bagian mana yang salah?”
“Aku bukan calon istrimu.”
Bram membuka pintu mobil. “Kamu dengar aku bilang calon?”
“Belum aja artinya apa?”
“Artinya belum.”
“Bram!”
Laki-laki itu tertawa dan memasukkannya ke mobil.
Mereka singgah di kawasan pertokoan yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Bram membelikan Laras topi untuk menutupi wajahnya yang masih merah, lalu membawanya ke toko kacamata.
Sebelum masuk toko, Laras menarik Bram ke bangku dekat air mancur. “Duduk.”
“Kenapa?”
“Kaki kamu sakit.”
Bram menatap kaki kanannya, lalu kembali menatap Laras. “Nggak.”
“Tadi setelah lompat kamu sempat pincang.”
“Kamu perhatiin aku?”
“Semua orang perhatiin kamu. Kamu bikin keributan satu gedung.”
Bram duduk juga. Laras berjongkok dan menyentuh bagian belakang pergelangan kakinya melalui celana olahraga. Otot di sana terasa kaku.
“Pernah cedera?”
“Dulu.”
“Parah?”
Bram menarik kakinya pelan. “Sudah sembuh.”
“Bohong.”
“Kalau belum sembuh, tadi Bagas seharusnya bisa menahan satu bola.”
Laras mendongak kesal. Bram justru menyentuh ujung hidungnya.
“Jangan khawatir. Aku tahu batas.”
“Orang yang melempar bola ke dahi temannya nggak tahu batas.”
“Dia bukan teman waktu mendekati kamu.”
Jawaban itu kembali membuat Laras tidak bisa membantah. Ia berdiri dan membersihkan lutut rok, sementara Bram memandangnya dengan puas seperti baru memenangkan pertandingan kedua.
“Aku sudah pakai kacamatamu,” kata Laras.
“Itu punya aku.”
“Terus?”
“Aku mau kamu punya sendiri.”
Pramuniaga menunjukkan beberapa model. Bram memilih bingkai hitam yang sederhana. Laras menyukainya sampai melihat harga Rp3.000.000.
“Taruh lagi.”
“Bungkus,” kata Bram pada pramuniaga.
“Aku bisa beli kacamata di toko biasa.”
“Bisa. Tapi yang ini cocok.”
“Aku nggak mau selalu dibelikan.”
Bram menerima kantong belanja. “Kalau begitu beliin aku sesuatu.”
Laras langsung mengangguk. Di toko roti sebelah, ia memilih kue kecil yang tampak paling cantik. Harganya Rp15.000.
“Cuma ini?” tanyanya malu setelah membayar.
Bram menggigit kue tersebut, lalu mengulurkan sisanya ke bibir Laras. “Ini yang aku mau.”
Laras menggigit bagian lain. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Kacamata tiga juta dibalas kue lima belas ribu,” gumam Laras.
“Aku untung.”
“Dari mana?”
“Kamu yang nyuapin.”
Mereka membawa kue kedua ke kafe kecil di ujung lorong. Laras memesan teh paling murah, masih terbiasa mencari angka terendah meski saldo rekeningnya kini berisi seratus juta. Bram menambahkan satu minuman untuk dirinya, lalu diam-diam memesan makanan yang cukup untuk dua orang.
“Kamu belum kenyang?” Laras bertanya.
“Habis sebelas bola.”
“Siapa suruh pamer?”
“Kamu suka.”
“Nggak.”
“Tadi senyum.”
Laras menunduk pada teh. “Aku cuma senang Bagas berhenti mengganggu.”
Bram menyandarkan tubuh. “Kalau ada laki-laki lain ganggu kamu, bilang.”
“Terus kamu mau lempar semua orang pakai bola?”
“Kalau perlu.”
“Posesif.”
“Baru tahu?”
Laras seharusnya takut. Anehya, kata itu justru terdengar seperti janji bahwa seseorang akan selalu berdiri di antara dirinya dan dunia yang menekan.
Laras tertawa. Di tengah keramaian orang asing, dengan tangan Bram menggenggam tangannya, ia merasa seperti gadis yang baru pertama kali jatuh cinta. Tidak ada rumah sakit, tagihan, atau panggilan Wahyu. Hanya topi baru, remah kue, dan laki-laki yang baru saja mengalahkan seseorang karena tidak suka ia diganggu.
Perasaan itu bertahan sampai mereka tiba di apartemen.
Tiara sedang bersiap mandi. Laras buru-buru membawa kantong kacamata dan topinya ke kamar tamu. Ia menyelipkan nota di bawah pakaian, lalu mulai berganti gaun.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
“Ras, lo punya hair dryer nggak?” Tiara masuk sambil membawa handuk di bahu.
Laras yang baru menarik blus ke atas langsung membeku. Bagian pinggangnya masih terbuka.
Tatapan Tiara jatuh pada jejak merah berbentuk jari di sisi pinggang Laras.
“Itu apa?”