Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Aku Tak Pernah Melupakan Janjimu Saat Berusia Sembilan Tahun

Livia mengira Nathan akan mengurungnya di rumah, tetapi pria itu tidak melakukannya.

Nathan membawa Livia kembali ke kamar dan menyuruhnya duduk di tepi ranjang. Ia mengambil alkohol serta kain kasa, lalu merawat luka di telapak gadis itu dengan sangat lembut dan teliti.

Cairan dingin menyentuh luka. Rasa perih membuat tubuh Livia gemetar.

Air mata yang menggantung di sudut matanya mengalir ke pipi dan jatuh tepat di punggung tangan Nathan.

Tik.

Nathan mengangkat mata.

Bibir Livia mengerucut. Matanya dipenuhi air dan wajahnya tampak begitu sedih. Nathan menunduk mendekati telapak tangannya, lalu meniup luka itu perlahan.

"Masih sakit?"

Livia menggeleng.

"Kau tahu sifatku buruk." Nathan melilitkan kain kasa mengelilingi telapak tangannya. "Aku hanya ingin kau patuh. Via, selama kau mendengarkan perkataanku, apa pun yang kau inginkan akan kuberikan."

Sambil berbicara, Nathan mengambil sebuah kotak kecil nan indah dari saku kemejanya.

Ketika dibuka, terlihat gelang perak berhias berlian. Sebuah kristal merah muda berbentuk tetesan air tergantung di ujungnya.

Nathan mengambil gelang itu, melingkarkannya pada pergelangan Livia yang ramping, lalu memasang pengait.

"Aku melihatnya di etalase sebelah ketika memilih hadiah untuk Pak Hadi. Rasanya gelang ini akan cocok untukmu. Ternyata benar..."

Nathan memandang cukup lama.

"Sangat cantik."

Livia menunduk tanpa menjawab.

Nathan hampir tak pernah memberinya perhiasan mahal. Mungkin karena pria itu selalu menganggap Livia sebagai anak kecil.

Selain sekamar penuh boneka berbulu, hadiah yang paling sering dibelikan Nathan adalah buku dongeng.

Di satu sisi, ia membawa Livia menyaksikan betapa gelap dan jahatnya lingkungan mereka. Di sisi lain, ia berusaha mempertahankan kepolosan serta kebaikan hati gadis itu.

Nathan terus mengusap pergelangan tangannya, tetapi tidak mendapatkan tanggapan.

Livia yang biasanya sangat sopan kali ini bahkan tidak mengucapkan terima kasih.

Wajah Nathan menunjukkan ketidaksenangan.

Ia melepaskan pergelangan Livia, lalu bangkit. Kedua tangannya bertumpu di sisi ranjang, mengurung tubuh gadis itu ketika membungkuk.

"Kau marah?"

"Tidak."

Livia memalingkan wajah.

Nathan maju sedikit lagi. Napas hangat menyapu pipinya, sementara mata pria itu begitu dalam seakan dapat menarik orang masuk.

"Kalau begitu, kenapa tidak mau melihatku?"

Suaranya rendah, tetapi menyimpan pertanda amarah.

Bulu mata Livia bergetar. Perlahan ia mendongak dan bertemu dengan tatapan Nathan.

Napas pria itu menjadi berat.

Tanpa sadar, ia bergerak mendekat sampai ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Napas Livia yang hangat dan manis seakan membentuk jaring yang membungkusnya.

Bibir Nathan bergerak sedikit. Ia tampak ragu sekaligus menahan diri.

Namun pengendalian itu akhirnya runtuh. Ia memiringkan wajah dan hendak mencium Livia.

"Om Nathan!"

Livia memanggil dengan suara gemetar dan buru-buru mengangkat tangan di antara mereka.

Bibir Nathan hanya mengenai kain kasa di punggung tangannya.

Livia ketakutan dan langsung mundur di atas ranjang. Rasa terkejut serta penolakannya terlihat jelas.

Reaksi itu seperti menusuk Nathan. Mata pria tersebut menggelap.

"Kenapa bereaksi seperti itu?"

"Om sudah memiliki Kak Jolene." Pikiran Livia kacau, membuat kata-katanya keluar tanpa urutan. "Om tidak boleh melakukan ini kepadaku. Kita tidak boleh..."

"Kenapa tidak?"

Nathan langsung memotongnya. Ia semakin mendekat dengan kedua tangan masih bertumpu pada ranjang, hingga separuh tubuhnya menutupi Livia.

"Aku yang membesarkanmu. Dalam pikiranku, seluruh dirimu adalah milikku. Via, aku selalu mengingat janji yang kau ucapkan ketika berusia sembilan tahun."

Kalimat itu tidak terdengar seperti pengakuan yang setara. Ada rasa memiliki yang menekan di baliknya.

Namun saat menyadari Nathan akhirnya hendak membuka isi hati, jantung Livia tetap berdetak keras.

Ia menggigit bibir dan berusaha menemukan sedikit kejernihan di tengah tekanan pria tersebut.

"Om masih mengingatnya?"

"Ya."

Nathan mengangguk.

Jarak mereka kembali menyusut, tetapi ia tidak melanjutkan penjelasan.

Livia menunduk memandang gelang di pergelangan tangannya. Setelah menarik napas panjang, ia mengumpulkan keberanian dan bertanya langsung.

"Kalau Om masih mengingatnya, kenapa memilih bertunangan dengan Kak Jolene?"

Nathan terpaku.

Hasrat yang baru muncul di hatinya langsung mendingin. Ia tahu pertanyaan tersebut hampir menghabiskan seluruh keberanian Livia.

Setelah Livia berani menanyakannya, jika Nathan kembali memilih diam, hubungan mereka tak akan memiliki jalan untuk mundur.

Waktu berlalu detik demi detik.

Setiap detik Nathan berpikir, cahaya di mata Livia meredup sedikit demi sedikit. Tali yang menegang di dalam hatinya hampir putus ketika Nathan akhirnya berbicara lebih dulu.

"Demi kekuasaan."

Livia menatapnya dengan tidak percaya dan lama tidak bereaksi.

Dibanding kegembiraan, perasaan yang lebih besar justru keterkejutan.

Nathan mulai menjelaskan kata demi kata.

"Aku tidak memiliki perasaan kepada Jolene. Aku hanya ingin memanfaatkannya untuk menghadapi dua kekuatan besar di Kota Kayan, lalu mengambil keuntungan ketika mereka melemah. Kalau kau tidak menyukainya, aku bisa berhenti sekarang juga. Aku tidak perlu berebut wilayah atau kekuasaan. Aku hanya menginginkanmu."

Tangannya mengusap pipi Livia dengan lembut, tetapi ketegasan di balik sentuhannya tidak memberi banyak ruang untuk pilihan.

"Namun kau harus berjanji tidak akan membiarkan orang lain memasuki duniamu. Kau hanya boleh menjadi milikku. Tidak ada orang lain yang boleh menyentuhmu. Via, bagaimana kalau kita memenuhi janji itu?"

"Aku..."

Livia menurunkan pandangan.

Wajah Keenan tiba-tiba melintas dalam benaknya—wajah tampan yang selalu mendekat ke lehernya, lalu mengangkat mata untuk menatapnya.

Ia tidak mengerti mengapa justru memikirkan Keenan pada saat seperti ini.

Apakah karena pria itu sudah menyentuh dan menciumnya, sehingga Livia merasa bersalah?

Namun Nathan juga telah bersama Jolene. Jika harus ada yang merasa bersalah, Nathan seharusnya lebih dahulu mengalaminya.

Livia segera menarik pikirannya kembali.

"Aku mengerti..."

Jawabannya terdengar ragu. Air mata memberi warna merah tipis di sudut matanya.

Nathan memandang terlalu lama dan kembali tak mampu menahan diri. Ia mendekat untuk mencium mata Livia.

Gadis itu menghindar secara refleks.

Melihat wajah Nathan berubah suram, Livia buru-buru menjelaskan, "Tapi sekarang... sekarang aku belum bisa!"

"Tidak apa-apa. Aku menghormatimu."

Nathan tersenyum penuh arti. Ia berdiri tegak dan membetulkan kacamatanya, lalu memandang gadis yang duduk patuh di ranjang.

"Aku pasti mencari cara untuk membatalkan pernikahan dengan Jolene. Ketika saat itu tiba... jangan menolakku lagi."

Kamar kembali sunyi.

Livia menatap mata Nathan yang terlihat begitu penuh perasaan. Kenangan masa lalu datang seperti gelombang.

Ia teringat ketika Nathan muncul bagaikan penyelamat saat dirinya berusia enam tahun. Ia teringat semua perhatian dan perlakuan istimewa yang diberikan pria itu selama dua belas tahun.

Di bawah tekanan tatapan Nathan, Livia bergulat cukup lama sebelum akhirnya mengangguk dengan perasaan rumit.

"...Baik."

Nathan berjalan menuju pintu.

"Besok kau ikut menghadiri ulang tahun Pak Hadi bersamaku. Setelah itu, kembali seperti dulu. Tinggallah dengan tenang di Vila Pir sebagai nyonya rumah. Kau tidak perlu lagi memakai riasan tebal untuk menyembunyikan wajah, dan tidak perlu bekerja menjual minuman."

Pintu tertutup.

Namun pikiran Livia masih terperangkap dalam ucapan lembut Nathan.

Mimpi ini dimulai ketika ia berusia sembilan tahun dan terus bertahan sampai delapan belas. Sekarang, mimpi itu akhirnya menjadi nyata.

Anehnya, Livia tidak merasa sebahagia yang dibayangkan.

Mungkin harapan murni yang dulu disimpannya sudah berubah bentuk. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menerima semuanya.

Sejak pertama bertemu, hubungan Livia dan Nathan memang tak pernah setara.

Ia berutang nyawa dan dua belas tahun hidup kepada pria itu. Dalam hubungan mereka, Nathan selalu menjadi orang yang menghendaki dan menentukan. Livia nyaris tidak pernah memiliki pilihan.

Namun sebagian dirinya tetap meyakinkan diri bahwa Nathan masih pria yang sama—om yang selalu mendahulukannya, memanjakan, dan menyayanginya. Nathan bahkan bersedia meninggalkan perempuan lain dan melepaskan ambisi demi dirinya.

Mungkin Nathan tidak berubah. Mungkin Livia hanya kurang percaya kepadanya.

Ia mengusap bekas air mata, mengambil ponsel dari saku, lalu mengirim pesan kepada Sasha.

"Kak Sasha, besok aku punya rencana lain untuk pesta ulang tahun Pak Hadi. Kau tidak perlu menungguku."

Tit! Tit! Tit!

Begitu pesan terkirim, ponselnya langsung berdering.

Livia mengira Sasha menelepon. Tanpa memperhatikan nomor, ia langsung menerima panggilan.

"Nona Livia."

Suara Keenan yang rendah dan indah terdengar dari seberang, membawa daya tarik yang sulit diabaikan.

Livia membeku.

Beberapa detik kemudian, ia baru sadar dan melihat layar. Nomor itu tidak dikenal.

Ia tidak salah mendengar.

Livia tak berani menutup telepon, tetapi juga tidak berbicara. Orang di seberang pun tidak memutuskan sambungan.

Mereka bertahan dalam keheningan selama hampir dua menit.

Pada akhirnya, Livia yang lebih dulu menyerah. Ia mengangkat ponsel ke telinga dan bertanya pelan.

"Tuan Keenan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!