Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Temani Aku Mencobanya

Jadi mereka benar-benar sedang memperdagangkan parfum?

Livia mengangkat botol itu ke depan mata dan memeriksanya dengan teliti.

Ukurannya kecil, hanya sepanjang dua jarinya. Botol berbentuk tetesan air tersebut dibuat dari kristal bening berwarna merah muda pucat dan dihiasi ukiran rumit.

"Parfum ini bernama Parfum Naraka. Harga satu botol tiga puluh juta dolar Amerika, dan belum tentu bisa dibeli meski memiliki uang."

"Tiga... tiga puluh juta?"

Mata Livia membulat. Bahkan ucapannya menjadi terbata.

Itu hampir empat ratus delapan puluh miliar rupiah.

Apakah ini masih bisa disebut parfum? Berlian dan emas pun belum tentu lebih mahal daripada setiap tetes kecil di dalamnya.

Harga tersebut benar-benar tidak masuk akal.

Alis Livia berkedut. Ia langsung mengubah cara memegang dan menadah botol itu dengan kedua tangan. Bahkan bernapas pun tidak berani terlalu keras.

Jika botolnya pecah karena keteledoran, Keenan mungkin akan memaksanya mengganti rugi seumur hidup.

"Nona Livia."

Keenan merangkul pinggangnya dan mendekat. Dagu pria itu diletakkan di bahu Livia ketika ia berbisik lembut.

"Dalam bahasa kuno, naraka berarti neraka yang tak memberi jalan keluar. Aku penasaran seperti apa neraka semacam itu. Maukah kau menemaniku mencobanya?"

"Mencoba... bagaimana?"

"Semprotkan pada tubuhmu, lalu biarkan aku menciumnya."

Livia mengerutkan kening. Ia tidak terlalu bersedia.

Harga parfum ini terlalu aneh dan namanya pun terdengar buruk.

Menurut penjelasan penjual tadi, parfum harus disemprotkan pada tubuh seseorang, lalu dicium dari jarak sangat dekat agar efeknya muncul.

Livia tidak tahu efek apa yang dimaksud, tetapi pasti bukan sesuatu yang baik.

Ia segera menggeleng.

"Tuan Keenan sebaiknya mencoba pada orang lain. Atau semprotkan pada tubuhmu sendiri. Aku tidak bisa. Aku alergi parfum."

Keenan tertawa kecil dan membongkar kebohongannya tanpa ampun.

"Alergi parfum? Pada pesta Pak Hadi, kau memakai aroma akar wangi. Segar dan dingin, tetapi tetap kalah dari wangi alami tubuhmu."

"Bagaimana kau tahu?"

Livia benar-benar bingung.

Ia sangat jarang memakai parfum. Pada hari pesta pun hanya menyemprotkan sedikit aroma akar wangi yang mirip dengan aroma tubuhnya.

Keenan bahkan mengingat perubahan sekecil itu?

"Karena aku memperhatikanmu. Setiap perubahan kecil pada dirimu akan kusadari."

Keenan sengaja membujuk dan kata-kata manis keluar dengan mudah.

"Parfum ini hanya menunjukkan efek ketika digunakan pada perempuan. Kalau Nona Livia tidak ingin aku menyentuh orang lain, kau harus sedikit berkorban dan menemaniku menguji. Dengan begitu... kau tidak akan kembali cemburu."

"Kapan aku pernah cemburu?"

Livia langsung menyangkal. Namun ketika menoleh, Keenan sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh.

Celaka.

Pria ini terlalu tampan.

Ketampanannya bahkan sulit diciptakan dalam khayalan. Aura agresif dan berbahaya di tubuhnya menyerupai raja serigala yang berdiri di atas seluruh kawanan.

Terutama mata biru pucat tersebut. Begitu bertemu pandang, hampir tak seorang pun mampu menahannya.

Yang paling aneh adalah serigala semacam itu bersikap lembut hanya kepadanya.

Dalam keadaan linglung, Livia membayangkan Keenan sedang mengibaskan ekor untuk menyenangkannya.

Pemandangan itu terlalu aneh.

Ia tak mampu menahan tawa.

Namun baru satu detik, tatapan Keenan yang bingung dan berbahaya membuat senyumnya perlahan menghilang.

Livia akhirnya mengangguk patuh.

"Baik."

Ia menyemprotkan parfum pada pergelangan tangan, lalu mendekatkan hidung dan menghirup dalam-dalam.

Aroma mawar lembut membawa rasa manis yang panjang. Ada kesan menyatu dan ingin mendekat, tetapi selain itu tidak ada perasaan lain.

Tidak berbeda jauh dari parfum biasa.

Kalau bukan karena botolnya dirancang luar biasa indah, Livia bahkan ingin mengatakan aroma tersebut belum tentu bisa disebut mewah.

"Tuan Keenan, jangan-jangan kau ditipu? Wanginya memang khas, tapi sama sekali tidak sepadan dengan harga sebesar itu."

"Walaupun begitu, tetap ada orang yang bersedia membayar harga fantastis untuk membelinya dari rumah lelang bawah tanah paling rahasia di Kota Kayan."

"Kalau begitu mereka pasti terlalu kaya, atau tertipu sepertimu."

Livia langsung memberikan kesimpulan.

"Tidak."

Keenan menggeleng.

"Jordan belum menemukan formulanya, tetapi berhasil melacak sumber. Parfum ini disediakan seorang perempuan misterius, hanya satu botol setiap bulan. Selain pada hari transaksi, tidak ada yang bisa menemukannya. Identitas penjual dan pembeli selalu kosong."

Livia menarik sudut bibir.

"Kalau begitu memang sangat langka. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

"Aku punya cara sendiri."

Keenan mencubit pipi Livia dan memaksanya menoleh. Tekanannya cukup kuat hingga bibir gadis itu mengerucut.

"Aku hanya memintamu membantu menguji. Kenapa begitu banyak bertanya? Semprotkan di leher."

"Di tangan juga sama."

Livia mengangkat pergelangan di depan wajahnya.

"Cepat cium."

"Tidak sama. Aku lebih suka di leher."

Dasar cabul.

Livia memutar mata, lalu mengarahkan kepala botol ke sisi kanan leher dan menyemprot dengan enggan.

"Sudah. Cepat cium!"

Bibirnya masih mengerucut akibat cubitan Keenan. Terlihat lembut dan basah, sementara napas yang keluar terasa hangat.

Keenan menunduk dan mengecup bibirnya sebelum Livia sempat menghindar. Ia segera melepaskan cubitan sebelum gadis itu bisa mendorong.

Kemudian wajahnya bergerak ke sisi leher Livia dan matanya terpejam.

Seketika, aroma manis parfum bercampur dengan wangi alami tubuh Livia dan meledak di dalam pikirannya.

Seluruh tubuh Keenan membeku.

Ia menatap gadis di pelukan dengan mata kehilangan fokus.

Livia terlihat begitu indah.

Setiap gerakan dan ekspresi seolah membawa daya tarik yang tak tertahankan. Hanya dengan memandangnya, Keenan merasakan kenikmatan aneh yang mengalir melalui seluruh tubuh.

Dunia di matanya berubah penuh warna. Kemampuan berpikir menghilang untuk sesaat.

Keenan hanya tahu perempuan di hadapannya memiliki daya tarik yang mematikan.

Ia memeluk Livia dan mencium sisi lehernya. Tubuh pria itu bahkan mulai gemetar.

Sisa akal sehat terus memperingatkan bahwa sensasi tersebut tidak benar. Keenan berusaha menahan diri.

Namun efek itu bukan rasa sayang biasa dan bukan pula sekadar pemicu hasrat murahan.

Rasanya seperti saraf otak diserang secara paksa. Setelah kemampuan menilai dirampas, yang tersisa hanyalah dorongan menghancurkan diri sendiri demi mendekati sumber aroma.

Satu keinginan berteriak liar di benaknya.

Ia harus mendekati Livia. Ia harus memilikinya.

Keenan bahkan merasa selama bisa mendapatkan senyum kecil dari gadis tersebut, ia bersedia menyerahkan segalanya—kekuasaan, uang, bahkan nyawa.

Apa pun yang Livia minta, ia akan memberikannya.

"Tuan Keenan? Tuan Keenan!"

Suara cemas Livia terdengar seperti berasal dari kejauhan, tetapi justru semakin memperkuat pengaruh parfum.

Ketika gadis itu bertumpu pada bahunya dan mencoba bangkit, Keenan mendadak menariknya semakin erat.

"Jangan. Jangan tinggalkan aku."

"Apa?"

Livia tidak mengerti. Pelukan itu begitu kuat sampai membuatnya sulit bernapas. Ia refleks mendorong.

Gerakan tersebut membuat Keenan tersentak dan mengeratkan lengan lebih keras.

"Jangan pergi. Apa pun yang kau inginkan akan kuberikan. Semua akan kuberikan. Jangan tinggalkan aku..."

"Uh..."

Livia mengerang.

Kekuatan Keenan terlalu besar. Tulang-tulangnya terasa hampir patah. Naluri untuk bertahan hidup membuatnya meronta sekuat tenaga.

Namun semakin ia melawan, semakin erat pelukan pria itu. Keenan terus menghirup aroma pada tubuhnya dengan gerakan kacau, jelas telah kehilangan kendali.

Livia akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga, ia menepuk punggung Keenan dan berbicara terputus-putus.

"Aku tidak pergi. Tuan Keenan, aku tidak akan pergi... tapi bisakah kau melepaskan sedikit? Aku hampir mati karena sesak."

Kekuatan di lengannya akhirnya berkurang.

Keenan tersenyum seperti anak kecil yang baru menerima hadiah. Ia mengecup pipi Livia, lalu menggesekkan ujung hidung kepadanya tanpa malu.

"Benarkah?"

"Ya. Benar."

Livia mengangguk cepat.

Ia sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi. Satu hal yang jelas: Keenan telah kehilangan akal karena parfum tersebut.

Kemudian terdengar bunyi kain robek.

Dengan tenaga besar yang tak terkendali, Keenan menarik bagian depan pakaian Livia. Kancing putih terlepas satu demi satu dan terpental di lantai.

Udara dingin menyentuh kulit.

Livia menunduk, baru menyadari apa yang terjadi. Matanya langsung membesar. Ia menutup tubuh dengan kedua tangan dan menjerit sekuat tenaga.

"Aaah!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!