"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 #Masih saling mencinta
Mobil sedan mewah Gibran akhirnya berhenti tepat di depan rumah sewa Bening yang sederhana. Begitu pintu depan rumah terdorong terbuka, sosok wanita paruh baya bermuka hangat menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar.
Bi Asri, asisten rumah tangga senior dari Kediaman Utama Aditama, langsung merentangkan tangannya. Bening yang memang sangat dekat dan sudah menganggap Bi Asri seperti ibunya sendiri sejak awal menikah dulu, seketika melangkah cepat dan memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.
"Bi Asri! Astaga... apa kabar, Bi?" bisik Bening penuh haru.
"Alhamdulillah, sehat Non Bening..." sahut Bi Asri berkaca-kaca, mengelus lembut punggung Bening. "Bibi kangen sekali sama Non..."
Bening melepaskan pelukannya, menatap bingung pada sang asisten. "Tapi... kenapa Bibi bisa ada di sini?"
"Aku yang memintanya kemari," sahut Gibran santai dari belakang, jemarinya masih menggandeng erat tangan kecil Kaivandra. "Aku mau kamu bisa istirahat total sampai benar-benar pulih."
Bening memutar tubuhnya, hendak melayangkan protes atas keputusan sepihak itu. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, Gibran lebih dulu memotong dengan alasan yang teramat kuat.
"Kamu tidak lupa, kan?" potong Gibran dengan alis terangkat tipis. "Besok di sekolah Kai ada acara field trip pergi ke kebun binatang. Dan kamu sendiri yang kemarin bersikeras ingin tetap berangkat mendampinginya."
"Iya, Mama!" sambung Kaivandra antusias, melompat-lompat kecil seraya menggoyangkan tangan Gibran. "Kai sudah tidak sabar ingin melihat jerapah! Terus... Kai juga mau pamer sama teman-teman sekolah kalau Kai punya keluarga yang utuh! Ada Mama, ada Papa... dan besok kita bakal pakai baju yang seragam! Horeee, Kai senang sekali!"
Melihat binar bahagia yang memancar begitu cerah dari mata bulat putranya, Bening seketika membisu. Lidahnya mengelu. Ia tidak mungkin tega merusak kebahagiaan Kaivandra hanya demi gengsi menolak bantuan Gibran.
"Ya sudah... ayo masuk," cicit Bening akhirnya mengalah.
Mereka semua melangkah masuk ke dalam rumah sewa yang mendadak terasa hangat. Bi Asri rupanya sudah menyiapkan hidangan makan siang yang sangat lengkap dan menggugah selera di meja makan sederhana. Aromanya yang harum seketika memenuhi ruangan.
Erika tanpa sungkan langsung mengambil posisi duduk di samping Kai. Tak ingin ada kecanggungan, Bening juga mempersilahkan Toni, orang kepercayaan Gibran yang berdiri kaku di dekat pintu, untuk bergabung makan bersama mereka di meja.
Di tengah suasana makan siang yang nikmat itu, Gibran meletakkan sendoknya sejenak. Pria bertubuh tegap itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap Erika dengan raut wajah yang serius namun hangat.
"Erika..." panggil Gibran dengan suara baritonnya yang tenang. "Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak. Terima kasih karena semalam kamu sudah menjaga Kaivandra dengan baik... dan terima kasih untuk hari-hari sebelumnya, saat kamu selalu ada mendampingi Bening dan Kai di masa-masa sulit mereka."
Erika yang sedang mengunyah makanan sempat tertegun, lalu tersenyum lebar seraya mengibaskan tangannya santai.
"Sama-sama, Pak Gibran," sahut Erika ceria. "Saya itu sudah sayang banget sama Kai seperti anak saya sendiri. Dan Bening ini sahabat terbaik saya sejak kecil, jadi sudah kewajiban saya buat menjaga mereka."
Erika menghela napas pendek, lalu mengedipkan matanya pada Gibran dengan wajah gregetan. "Asal Pak Gibran tahu ya... sebenarnya sejak awal saya itu gregetan banget pengin ngadu ke Bapak kalau Bening itu tidak salah sama sekali! Tapi Bening selalu melarang dan mencegah saya... karena pelakunya kan..."
Deg.
Kalimat Erika mendadak terhenti di udara. Mata Erika membelalak lebar saat menyadari lidahnya hampir saja tergelincir menyebutkan bahwa dalang utamanya adalah Wira Aditama, ayah kandung Gibran sendiri.
Bening di sampingnya seketika menahan napas, dadanya berdebar panik.
Dengan kelincahan otaknya, Erika buru-buru menyambar sambungan kalimatnya dengan alasan yang masuk akal. "...pelakunya kan belum jelas siapa waktu itu! Bening tidak punya bukti yang cukup kuat, jadi dia takut Pak Gibran makin emosi dan semakin membencinya kalau cuma bicara tanpa bukti."
Fyuh. Bening mengembuskan napas lega yang teramat sangat di dalam hati. Alasan Erika benar-benar menyelamatkan situasi.
Gibran mengangguk pelan, raut wajahnya kembali diliputi penyesalan yang mendalam. "Aku memang sangat bodoh dulu... Aku terlalu buta oleh cemburu. Tapi tenang saja, kali ini aku pasti akan menemukan siapa orang brengsek di balik semua ini!"
Setelah mengatakan itu, Gibran mengalihkan pandangannya ke arah Toni yang duduk di ujung meja. Pria itu memberikan sebuah isyarat kode mata yang amat tipis pada asisten pribadinya.
Toni yang sangat paham maksud bosnya, segera merogoh ponsel di dalam saku jasnya. Jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel selama beberapa detik, melakukan sebuah transaksi kilat.
TING!
Notifikasi nada dering masuk berbunyi nyaring dari ponsel Erika yang tergeletak di atas meja makan. Erika meraih ponselnya santai, menduga itu hanya pesan spam. Namun, begitu matanya membaca baris notifikasi perbankan yang muncul di layar, bola mata Erika hampir saja melompat keluar.
Mulut sahabat Bening itu menganga lebar tanpa suara, menghentikan seluruh aktivitas mengunyahnya secara mendadak.
Kaivandra yang duduk di sebelahnya menatap heran. Bocah kecil itu memiringkan kepalanya yang lucu. "Tante Erika kenapa? Kok menganga begitu... Apa ada hantu di dalam ponsel Tante?"
"Bukan... bukan hantu, Sayang," sahut Erika dengan suara bergetar dan napas yang tertahan. "Ini mah... adanya durian runtuh segede gajah!"
"Hah?! Tante, memang ada ya durian sebesar Gajah?" Tanya Kaivandra polos, namun Erika tetap fokus pada angka di layar ponselnya itu.
Lalu, Erika mendongak patah-patah, menatap Gibran dengan raut wajah syok yang sangat kocak. "Astaga... Pak Gibran! Anda serius?! Seratus juta rupiah ini... untuk apa?!"
Bening yang mendengar nominal fantastis itu seketika terlonjak kaget di kursinya. Matanya membulat menatap mantan suaminya. "Mas Gibran! Kamu kasih Erika uang sebanyak itu buat apa?!"
Gibran hanya memamerkan senyuman tipis yang teramat santai, lalu menyesap air putihnya tanpa beban. "Itu cuma sekadar ucapan terima kasih kecil dari saya karena kamu sudah menjadi sahabat yang baik untuk Bening dan Kai."
Sementara suasana meja makan mendadak heboh oleh aksi sang CEO, Kaivandra yang polos turun dari kursi mendekati Toni yang duduk bersebelahan dengan Gibran. Kai menarik-narik ujung lengan jas Toni.
"Om Toni..." bisik Kai dengan kepolosannya yang murni. "...uang seratus juta itu... nolnya ada berapa sih, Om?"
Toni terkekeh pelan. Pria berjas kaku itu mengusap lembut dan gemas rambut lebat putra dari bosnya tersebut.
"Nolnya ada delapan, jagoan," sahut Toni ramah, memperlihatkan delapan jarinya.
Mata bulat Kaivandra seketika berbinar lebar. "Wah... banyak sekali! Berarti Papa punya uang yang nolnya banyak banget dong, Om?!"
Gibran yang duduk di ujung meja hanya menyunggingkan senyum tipis, menatap putra kecilnya dengan pendar mata yang teramat hangat.
Belum sempat Gibran bersuara, Kai sudah kembali celoteh dengan kepolosannya yang memikat. "Kalau Papa uangnya sudah banyak... berarti nanti Mama tidak perlu sampai lembur malam-malam lagi buat bikin kue, kan? Papa kan bisa membayar semuanya!"
"Tentu saja, Sayang," sahut Gibran tanpa ragu. "Mulai sekarang Mama tidak boleh capek-capek lagi. Biar Papa yang menanggung semuanya."
Bening yang duduk di hadapan Gibran seketika tertegun. Iris matanya berbenturan langsung dengan tatapan dalam sang mantan suami. Di dasar hatinya yang paling dalam, ada rasa rindu membuncah yang selama ini berusaha keras ia tekan rapat-rapat. Setiap kali melihat senyuman tulus Gibran, senyuman yang dulu selalu menghiasi hari-harinya, ada getaran hangat yang membuat jantung Bening berdesir hebat.
Namun, menyadari tatapan Gibran yang kian menuntut dan intens, Bening buru-buru memalingkan wajahnya ke samping, berpura-pura sibuk merapikan piring sajian.
...
Usai menyelesaikan makan siang yang hangat itu, Kaivandra yang sudah tidak sabar langsung menarik-narik tangan Erika dan Toni. "Tante Erika, Om Toni! Ayo bantu Kai menyalakan TV di ruang tengah! Kai mau nonton kartun kesukaan Kai!"
"Siap, Kapten!" seru Erika bersemangat, mengekor di belakang Kai bersama Toni demi memberikan privasi bagi pasangan yang sudah lama terpisah itu di meja makan.
Kini, ruangan meja makan itu mendadak hening. Hanya tersisa Bening dan Gibran.
Melihat situasi yang sepi, Gibran bangkit dari kursinya. Pria bertubuh tinggi itu melangkah pelan, lalu mengambil posisi duduk di kursi yang berada tepat di sebelah Bening.
Bening mendadak menegang kaku. Jarak yang teramat dekat ini membuat aroma parfum maskulin khas Gibran kembali menyerbu indra penciumannya, memicu kegugupan yang teramat sangat.
"Kenapa makannya cuma sedikit sekali?" tanya Gibran lembut, memecah kecanggungan.
"Tidak apa-apa, Mas... Aku masih kenyang," cicit Bening pelan, jemarinya meremas kain serbet di atas pangkuan.
Menyadari sikap canggung dan benteng pertahanan Bening yang kembali berdiri, Gibran mencoba mencairkan suasana dengan topik yang paling disukai wanita itu.
"Bening... aku kan belum tahu banyak soal tumbuh kembang putra kita," ujar Gibran dengan nada suara yang direndahkan, sarat akan rasa ingin tahu yang tulus. "Bisa kamu beritahu aku... apa saja hal-hal yang disukai Kai?"
Mendengar topik tentang Kaivandra, ketegangan di raut wajah Bening perlahan luntur. Senyuman tipis yang alami mulai terbit di bibirnya.
"Tentu..." sahut Bening, binar matanya berubah ceria meski ia masih enggan menatap Gibran langsung. "Makanan kesukaan Kai itu sup ayam. Dia suka sekali semua olahan daging ayam, tapi yang paling favorit tetap sup ayam buatanku."
Bening terkekeh pelan saat ingatan masa lalu berputar di kepalanya. "Dulu... waktu baru belajar makan Makanan Pendamping ASI, Kai itu suka makan apa saja. Tapi ada satu yang harus sangat dihindari, yaitu udang. Kai alergi udang. Sama persis seperti gen milikmu, Mas..."
Gibran mengamati setiap detik perubahan ekspresi di wajah Bening dengan senyuman hangat yang tak memudar.
"Tapi aku sempat pusing sekali waktu usianya satu tahun," lanjut Bening bercerita riang, mengenang masa-masa perjuangannya. "Berat badan Kai sempat anjlok karena dia mendadak susah sekali makan. Aku sudah coba berbagai macam resep sampai frustrasi... dan ternyata, begitu aku buatkan sup ayam bening, dia makan banyak sekali sampai habis."
Bening bercerita dengan begitu antusias, pandangannya menerawang pada momen-momen indah bersama sang putra. Namun, ia terus menghindari kontak mata langsung dengan pria di sebelahnya.
Gibran yang tak tahan lagi melihat Bening memalingkan wajah, mengulurkan tangannya yang hangat. Jemari kuat Gibran merengkuh lembut kedua pundak Bening, memutar pelan tubuh wanita itu agar berhadapan sepenuhnya dengannya.
"Bening... tatap aku," bisik Gibran lembut nan dalam. "Aku yang sedang kamu ajak bicara, Bening..."
Deg.
Bening menahan napasnya. Tatapan mata mereka akhirnya berbenturan rapat dalam jarak yang begitu dekat. Sorot mata Gibran yang memerah dipenuhi kerinduan dan kepedihan membuat dada Bening berdesir hebat.
"Bening... maafkan aku," cicit Gibran parau, jemarinya mengelus lembut pundak Bening. "Maaf karena aku tidak pernah ada dalam momen-momen seindah itu... Maaf karena kamu harus berjuang sendirian melewati masa-masa sulit itu. Terima kasih... terima kasih banyak sudah bertahan sejauh ini demi putra kita."
Kalimat tulus yang meluncur dari bibir Gibran telak meruntuhkan seluruh pertahanan jiwa Bening. Rasa sakit, kerinduan, dan kehangatan bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang membakar dadanya.
Atmosfer di antara mereka berubah drastis, tersedot dalam pusaran kerinduan yang teramat pekat. Gibran memajukan wajahnya perlahan, mengikis senti demi senti jarak di antara bibir mereka. Iris matanya terkunci pada bibir lembut Bening.
Bening membeku. Kali ini, ia tidak mendorong dada Gibran. Ia tidak menolak. Sebaliknya, Bening perlahan memejamkan kedua matanya rapat-rapat, pasrah menerima kehangatan yang amat ia rindukan selama tujuh tahun ini.
Jantung mereka berdetak cepat secara bersamaan. Hembusan napas hangat Gibran sudah menerpa kulit wajah Bening. Namun, tepat di saat bibir mereka hampir saja menyatu sempurna...
"Mama! Papa! Apa kalian sudah saling mencintai lagi?!"
Suara cempreng nan nyaring milik Kaivandra seketika membelah keheningan meja makan.
Deg!
Bening terperanjat hebat, matanya seketika terbuka lebar. Dengan kepanikan yang luar biasa, wanita itu mendorong dada Gibran hingga dekapan di pundaknya terlepas. Wajah Bening memerah padam hingga ke ujung telinga, tersipu malu yang teramat sangat atas tertangkap basahnya momen intim mereka oleh sang putra.
"A-aku... aku cuci piring dulu!" gagap Bening tak karuan, langsung berdiri tergesa-gesa dan melarikan diri membawa piring kotor ke arah wastafel dapur dengan jantung yang berdegup gila-gilaan.
Gibran menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang frustrasi namun tak sanggup menahan terkekeh tipis. Pria itu menyandarkan punggungnya sejenak, lalu bangkit berdiri memutar tubuh menghadap Kaivandra yang berdiri polos di ujung lorong seraya memegang remote TV.
Gibran melangkah mendekati putra kecilnya, berjongkok anggun hingga tingginya sejajar dengan Kai.
Dengan senyuman yang teramat mantap dan pendar mata penuh kepastian, Gibran mengusap kepala Kai.
"Mama dan Papa... akan selalu saling mencintai, Sayang," bisik Gibran penuh janji.
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki