Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Acara
“Ini kenapa pada diam-diam gini dah?” Suara Kale memecah suasana di dalam kabin mobil yang selama beberapa saat hanya dipenuhi deru mesin dan musik yang mengalun pelan.
“Emangnya harus teriak-teriak?” Tanya sang ibu yang masih belum mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“Ya ini… suasananya nggak enak bener.” Mata Kale melirik Ardan dari kaca spion, lalu bergantian ke arah Naresa yang sama-sama diam.
Kayaknya emang ada masalah, pikir Kale. Melihat sepasang suami istri itu hanya saling diam, pikirannya langsung tertuju pada kejadian semalam saat Ardan berada di ruang olahraga.
“Oy, Dan!” panggil Kale.
“Heh!” Sentak sang ibu menepuk tangan Kale. “Abang manggilnya, kebiasaan deh kamu ini.”
“Iya maaf, maaf,” Kale melirik sekilas pada sang ibu.
“Apaan sih, Kal? Riweuh banget.” Sahut Ardan dari belakang.
“Iya, nih anak maunya kayak di konser aja,” kata sang ibu diakhiri dengan kekehan kecil.
Percakapan singkat di dalam kabin mobil itu mengiringi perjalanan mereka menuju rumah Kiara.
“Mau turun nggak lo pada?” Tanya Kale begitu ibunya sudah turun lebih dulu. Ia melihat sepasang pasusu itu masih diam seakan masih belum mau beranjak
“Duluan aja,”kata Ardan.
“Oh. Oke.” Kale pun langsung menutup kembali pintu mobil dan berjalan masuk ke rumah, bergabung dengan orang-orang yang sudah berada di sana.
“Masih ingat Kiara, nggak?” tanya Ardan menoleh pada Naresa.
“Masih,” Naresa mengangguk pelan. “Yang lucu itu kan?”
“Hm.” Senyum Ardan melebar. “Kayak kamu.”
“Ish, gombal mulu, deh,” Naresa mendelik, meski sudut bibirnya ikut terangkat.
“Kamu emang lucu, kok.”
“Iya deh, terima kasih banyak atas pujiannya.”
Ardan terkekeh pelan. Setelah itu, ia kembali menjelaskan tentang perayaan ulang tahun Kiara malam ini. “Sekarang tuh paling cuma keluarga besar aja, deh. Semacam intimate family dinner gitu. Kalau yang siang tadi khusus buat perayaan Kia sama teman-temannya.”
“Oh, gitu,”
“Iya.” Ardan mengusap punggung tangan Naresa dengan ibu jarinya. “Nanti paling makan bareng, ngobrol, terus mungkin ada acara tiup lilin sama potong kue.”
Naresa kembali mengangguk.
“Kalau soal posisi duduk sih nggak terlalu gimana-gimana,” lanjut Ardan. “Jadi nggak ada tempat khusus atau aturan harus duduk di mana. Nanti kita tinggal duduk aja.”
Naresa lagi-lagi mengangguk, menyerap penjelasan itu tanpa banyak komentar. Namun, Ardan tahu, justru hal-hal kecil seperti itulah yang biasanya akan dipikirkan istrinya ketika mereka berkumpul bersama keluarganya.
Meski sudah 3 bulan menjadi bagian dari keluarganya, Naresa tentu belum hafal seluruh kebiasaan, cara berinteraksi, atau aturan-aturan kecil yang bahkan mungkin tidak pernah benar-benar dibicarakan dalam keluarganya. Bagi Ardan, semua itu terasa biasa. Ia tumbuh di tengah keluarga tersebut dan sudah bertahun-tahun memahami bagaimana mereka bercanda, bagaimana mereka berkumpul, bahkan hal-hal sederhana seperti siapa yang biasanya duduk di mana. Naresa belum terbiasa dengan semua itu.
Karena itu, Ardan tidak pernah keberatan menjelaskan hal-hal yang menurutnya sepele. Ia tahu keluarganya baik dan tidak akan sengaja membuat Naresa merasa asing. Namun, ia juga tahu bahwa berada di tengah keluarga baik tidak serta-merta membuat seseorang langsung merasa nyaman.
Ia hanya ingin Naresa tahu apa yang akan ia hadapi sebelum mereka masuk. Dengan begitu, istrinya tidak perlu menebak-nebak sendiri.
“Udah siap?” tanyanya kemudian.
Naresa mengangguk. “Udah.”
Ardan tersenyum, lalu melepaskan pegangan tangannya sebelum membuka pintu mobil. Mereka turun bersama-sama dan menyusul Kale serta ibunya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.