Indonesia
NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANG SINGKAT

Gema kepanikan masih menyelimuti Balairung Agung Singhasari. Keris beracun Tohjaya yang kini berada di genggamanku menjadi bukti bisu dari aksi makar yang baru saja terjadi di depan mata para pejabat dan bangsawan keraton.

Raden Mahisa melangkah tegas ke depan, wajahnya dibakar amarah. "Ini adalah makar yang nyata! Tohjaya mencoba membunuh Raja Singhasari di hadapan kita semua! Dia harus bertanggung jawab dan membayar tindakan biadabnya ini!"

Sorak persetujuan dari para menteri dan perwira mulai bergema. Namun, di tengah riuhnya suasana, Ken Umang ibu kandung Tohjaya melangkah maju ke tengah balairung. Wajahnya tenang meski matanya memancarkan keputusasaan yang dingin.

"Makar?" desis Ken Umang dengan suara nyaring membelah ruangan. "Kalian menyebut putraku pembuat makar?! Lalu bagaimana dengan orang yang duduk di atas tahta itu?!"

Ken Umang menunjuk tepat ke wajah Anusapati. Suasana balairung mendadak hening mencekam.

"Raja kalian ini naik tahta dengan melumuri tangannya oleh darah!" teriak Ken Umang, membongkar rahasia kelam masa lalu di depan seluruh hadirin. "Dialah yang merencanakan pembunuhan terhadap Baginda Ken Arok, raja terdahulu sekaligus ayahnya sendiri! Putraku Tohjaya hanya menuntut keadilan atas kematian ayahnya!"

Pengakuan mengejutkan itu bagaikan petir di siang bolong. Bisik-bisik ketakutan dan keraguan langsung merebak di antara para bangsawan. Beberapa pejabat terpaku, dan fokus balairung seketika terpecah menjadi dua kubu yang saling bersitegang.

Melihat fokus massa mulai terdistraksi oleh permainan narasi Ken Umang, aku melangkah santai ke tengah gelanggang. Aku menegakkan tubuh, menatap lurus ke mata Ken Umang sambil memutar-mutar keris beracun Tohjaya di jemariku.

"Bunda Ratu..." buka suara tenangku, cukup bergema untuk membungkam kasak-kusuk di dalam ruangan. "Bisakah Anda membuktikan dengan bukti yang sah bahwa Yang Mulia Anusapati yang membunuh raja terdahulu? Atau... itu semua hanyalah opini yang Anda karang demi membenarkan tindakan makar putra Anda yang baru saja gagal di depan mata kita semua?"

Pertanyaan menohok itu membuat Ken Umang tercekat. Seluruh mata di balairung kini kembali tertuju padanya, menunggu bukti nyata dari tuduhan berat tersebut.

Ken Umang hanya terdiam, bibirnya mengatup rapat dengan raut wajah panik karena tidak memiliki satu pun bukti fisik untuk membuktikan tuduhannya.

Melihat celah itu, aku mulai menyiramkan api ke posisi Ken Umang. "Kalau tidak ada bukti dan Anda terus menyebarkan fitnah di tengah balairung, kalau begini Anda mungkin terlibat juga dengan kejadian makar ini, Bunda. Karena itu, Anda harus ditahan di penjara sementara sampai masalah ini benar-benar selesai."

Mendengar kata 'penjara', Ken Umang mendadak histeris. Ia memberontak hebat ketika para prajurit pengawal melangkah mendekatinya.

"Jangan berani-berani menyentuhku!" teriak Ken Umang murka dengan mata membelalak. "Aku adalah permaisuri dari Baginda Ken Arok! Kalian semua tidak berhak memasukkanku ke dalam penjara!"

Di sisi lain, Ken Dedes yang masih terguncang dan panik karena menyaksikan putra sulungnya—Anusapati—hampir saja tewas tertusuk keris beracun, melangkah maju. Hatinya yang lembut tidak tega melihat Ken Umang diseret ke sel tahanan bawah tanah.

"Sena, tunggu..." potong Ken Dedes dengan suara bergetar mencoba menahan. "Bagaimanapun dia adalah bagian dari keluarga keraton. Agar suasana tidak makin keruh, cukup kurung Umang di dalam kamarnya saja dengan penjagaan ketat."

Aku menoleh menatap Ken Dedes, lalu menggeleng tegas tanpa ragu.

"Tidak bisa, Bunda Ratu," balasku dengan nada dingin namun penuh wibawa. "Kita harus melakukan penyelidikan secara menyeluruh terlebih dahulu. Ken Umang telah berkontribusi besar untuk menjatuhkan wibawa Raja Anusapati dengan menuduhnya secara terbuka sebagai pembunuh. Lebih dari itu, dia membenarkan tindakan makar anaknya sendiri di depan para pejabat kerajaan. Penjara adalah hal yang sangat murah untuk kejahatan sebesar ini."

Para bangsawan dan pejabat di balairung mengangguk-angguk setuju dengan pernyataanku. Hukum kerajaan tidak boleh tumpul hanya karena status kebangsawanan.

Tanpa membuang waktu lagi, aku memberi isyarat tegas kepada para prajurit pengawal. Mereka langsung memegang kedua lengan Ken Umang dan menyeretnya keluar dari balairung menuju penjara bawah tanah istana, mengabaikan teriakan dan sumpah serapahnya yang bergema di sepanjang lorong.

Pertarungan antara aku dan Tohjaya sama sekali tidak berjalan seimbang. Berbeda dengan Ken Arok di masa lalu—yang memiliki kecepatan gerak luar biasa tinggi dan teknik bela diri tak terduga hingga membuatku kewalahan—gerakan Tohjaya justru terbaca jelas oleh kalkulasi matanya. Setiap ayunan pedang beracunnya lambat, sarat akan emosi dan amarah yang meledak-ledak, bukan teknik murni seorang petarung sejati.

Setelah beberapa kali pertukaran serangan yang memamerkan perbedaan jurang kemampuan di antara kami, sebuah terjangan telak dari Pedang Bharadasura berhasil melucuti senjatanya dan menghantam telak bahunya.

*BARR!*

Tohjaya terpental jatuh berlutut ke tanah, napasnya memburu tajam dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

Tanpa membuang waktu, aku mengalirkan tenaga dalam ke arah pedang pusaka yang kupegang. Seketika itu juga, Bharadasura bergetar hebat, mengeluarkan pendaran cahaya biru keperakan yang menyilaukan. Wujud bilah pedang itu melebur dan bertransformasi dengan cepat, membesar menjadi sosok naga gaib berwibawa tinggi yang langsung melesat dan melilit tubuh Tohjaya berlapis-lapis erat.

Tohjaya meronta-ronta dengan sisa tenaga kesaktiannya, namun belitan naga penjelmaan Bharadasura itu terlalu kuat—energi magisnya justru mengunci titik-titik tenaga dalam Tohjaya hingga ia tak berkutik sedikit pun.

Membiarkan Tohjaya yang terikat kaku dan tak berdaya oleh sang naga pusaka, aku membalikkan badan, melangkah dingin ke arah dua pengawal setianya yang masih mencoba melawan sisa-sisa pasukan Singhasari.

"Lembu Ampal! Pranaraja! Urusan kita belum selesai!" seruku tajam membelah deru medan perang.

Keduanya menoleh dengan wajah penuh luka dan peluh. Menyadari tuan mereka telah tumbang dan terikat oleh wujud naga pusaka, mereka nekat menyerangku secara bersamaan dengan sisa-sisa tenaga dalam mereka. Namun, di hadapanku, perlawanan itu hanyalah napas terakhir yang sia-sia.

ZAS! SRASH!

Dalam beberapa kali pertukaran serangan singkat, hantaman itu menembus pertahanan mereka. Lembu Ampal dan Pranaraja ambruk bersimbah darah, tewas seketika di atas tanah.

Tanpa membuang waktu, aku menyeret kedua mayat pengawal setia itu dan melemparkannya tepat di hadapan Tohjaya yang sedang terbelit erat oleh sang naga.

Aku berdiri tegak di atas tumpukan mayat itu, menatap tajam ke arah Tohjaya yang matanya kini membelalak ngeri, menyaksikan orang-orang kepercayaannya telah tiada.

"Sekarang..." ujarku dengan suara dingin berbisik di telinganya, "...orang-orang kepercayaanmu sudah tidak ada lagi. Kau sendirian, Tohjaya."

Melihat pemimpin mereka telah takluk, Lembu Ampal dan Pranaraja tewas bersimbah darah, serta wujud naga mengerikan dari pedang Bharadasura mengunci pergerakan Tohjaya, mental sisa-sisa pasukan Kediri dan para pendekar bayaran langsung runtuh seketika. Senjata di tangan mereka gemetar, dan satu per satu mulai menjatuhkan pedang serta tombak ke tanah, menyatakan menyerah tanpa syarat. Mereka tidak memiliki niat sedikit pun untuk melanjutkan peperangan yang sia-sia ini.

Aku melangkah maju, berdiri tegak di atas gundukan tanah medan laga, lalu melemparkan pandangan ke arah lautan prajurit musuh yang bersimpuh. Suaraku kuperkuat dengan tenaga dalam hingga bergema ke seluruh penjuru lembah:

"Aku tahu kalian hanyalah orang-orang bayaran atau prajurit yang dipaksa tunduk oleh ambisi busuknya! Nyawa kalian tidak ada gunanya jika dibuang di sini. Silakan kembali ke Kediri, urus keluarga kalian, dan jangan pernah terlibat dalam makar busuk lagi!"

Mendengar pengampunan itu, para prajurit Kediri dan rakyat yang sempat terseret langsung bernapas lega. Mereka membungkuk hormat, lalu bergegas berbalik arah, meninggalkan lembah pertempuran secara tertib untuk kembali ke tanah kelahiran mereka.

Pertempuran pun berakhir dengan kemenangan mutlak di pihak Singhasari.

Dengan sekali sentakan perintah mental, naga penjelmaan pedang **Bharadasura** kembali memadat dan berubah wujud menjadi bilah pedang pusaka yang kembali terselip sempurna di pinggangku. Bersamaan dengan itu, belitan magis terlepas, namun Tohjaya yang sudah kehilangan seluruh tenaga dalam dan kesaktiannya kini terkulai lemas di atas tanah, tak mampu berbuat apa-apa lagi.

Aku memberi isyarat kepada para panglima Singhasari.

"Bawa dia," perintahku dingin.

Beberapa prajurit pilihan maju ke depan, mengikat tangan Tohjaya dengan rantai besi kokoh, lalu menyeretnya berdiri. Di bawah pengawalan ketat para perwira dan sorak kemenangan prajurit Singhasari, aku memimpin barisan kembali pulang menuju keraton, membawa sang pengkhianat untuk diadili di hadapan Raja Anusapati.

1
subspace_illusion
Anu.... hehehe....

Terima kasih banyak atas dukungannya!

Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
Dddra
sukak sma ceritanya. alurnya bagus dan mudah dipahami bgt. tpi kesal deh sma tunggul yg se enaknya itu….
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!