Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Sang Raja dan Ratu II
Ruangan menjadi hening ketika prosesi pernikahan dimulai. Tidak ada lagi suara percakapan dan tawa. Bahkan mereka yang sejak tadi sibuk memperhatikan tamu lain kini mengarahkan seluruh perhatian kepada dua orang yang berdiri di hadapan altar.
Leon dan Amara duduk di tempat yang telah disediakan untuk kedua mempelai. Tangan mereka masih saling menggenggam. Di hadapan mereka, pastor berdiri dengan tenang.
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar jatuh lembut ke dalam ruangan, membuat suasana terasa semakin sakral.
Amara menarik napas perlahan. Leon menoleh kepadanya.
"Kau baik-baik saja?"
Amara mengangguk.
"Ya."
Leon tersenyum tipis.
"Aku juga."
Amara hampir tertawa.
"Kau kelihatan gugup."
"Aku tidak gugup."
"Sejak tadi kau melihat jam."
"Itu berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Leon tidak menjawab. Amara akhirnya tersenyum kecil. Pastor kemudian mulai berbicara. Suaranya tenang, namun terdengar jelas ke seluruh ruangan.
Hari itu bukan hanya tentang pesta besar, bukan tentang nama besar Leon Volkov dan Amara Pradipta, bukan pula tentang dua kerajaan bisnis yang seolah-olah sedang menyatukan kekuatan.
Hari itu adalah tentang dua manusia yang memilih untuk mengikat hidup mereka dalam sebuah janji. Arsen menatap ibunya dari tempat duduknya. Di sampingnya, Elena menggenggam tangannya.
Raka duduk tidak jauh dari mereka bersama Hana. Sementara Nayla berada di samping Kael.
Susan dan Gilberth juga memperhatikan dengan wajah yang jauh lebih serius dibanding biasanya. Sementara Martha, matanya mulai berkaca-kaca sehingga Daniel sibuk menenangkannya.
"Kau bahagia melihat adikmu hari ini."
"Justru aku bahagia, makanya aku tidak bisa menahan air mataku. Dia sudah hidup dalam kesendirian bertahun-tahun."
Martha sangat kenal adiknya. Walau ia keras kepala dan tegas, namun jauh di lubuk hatinya, ia sering merasa kesepian.
Semua tamu undangan menikmati moment sakral ini. Tidak ada yang ingin melewatkan satu detik pun.
Pastor kemudian memandang Leon.
"Leon Volkov, apakah engkau bersedia menerima Amara Pradipta sebagai istrimu dan berjanji untuk setia kepadanya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat maupun sakit, serta mengasihi dan menghormatinya sepanjang hidupmu?"
Ruangan benar-benar sunyi. Leon menatap Amara. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada keraguan di mata pria itu. Leon kemudian menjawab dengan suara mantap.
"Saya bersedia."
Sederhana. Namun dua kata itu membuat mata Amara mulai berkaca-kaca.
Pastor kemudian memandang Amara.
"Amara Pradipta, apakah engkau bersedia menerima Leon Volkov sebagai suamimu dan berjanji untuk setia kepadanya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat maupun sakit, serta mengasihi dan menghormatinya sepanjang hidupmu?"
Amara menarik napas. Kemudian menatap pria di sampingnya. Pria yang selama bertahun-tahun telah berjalan bersamanya. Pria yang tidak pernah memaksanya menjadi seseorang yang berbeda. Pria yang tetap tinggal ketika kehidupan mereka tidak selalu mudah.
Amara tersenyum.
"Saya bersedia."
Nayla langsung menundukkan wajah. Air matanya jatuh begitu saja. Kael meraih tangannya dan menggenggamnya.
"Ibu bahagia," bisik Nayla.
Kael tersenyum.
"Iya."
Kemudian tibalah saat mereka mengucapkan janji perkawinan. Leon berdiri menghadap Amara. Ia mengambil tangan perempuan itu. Untuk beberapa detik, ia hanya memandangnya. Lalu suaranya terdengar.
"Saya, Leon Volkov, menerima engkau, Amara Pradipta, menjadi istriku."
Amara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat maupun sakit."
Leon menarik napas.
"Saya akan mengasihi dan menghormatimu sepanjang hidupku."
Kalimat terakhir itu terdengar begitu sederhana. Namun bagi semua orang yang mengenal Leon, kalimat tersebut terasa jauh lebih dalam.
Seorang pria yang selama hidupnya terbiasa memberikan perintah, mengendalikan keadaan, dan membuat orang lain tunduk, kini berdiri di hadapan seorang perempuan dan berjanji untuk mencintai serta menghormatinya sepanjang hidup.
Leon selesai. Kini giliran Amara.
Ia menggenggam tangan Leon.
"Saya, Amara Pradipta, menerima engkau, Leon Volkov, menjadi suamiku."
Suaranya sedikit bergetar. Namun ia tetap melanjutkan.
"Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat maupun sakit."
Air mata menggenang di sudut matanya.
"Saya akan mengasihi dan menghormatimu sepanjang hidupku."
Leon tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, pria tersebut terlihat benar-benar lega.
Pastor kemudian memberkati cincin yang akan menjadi tanda ikatan mereka. Leon mengambil cincin itu. Tangannya tetap tenang ketika ia menggenggam tangan Amara. Ia perlahan memasangkan cincin tersebut pada jari manis perempuan itu.
Cincin itu berhenti tepat di tempatnya. Leon menatap tangan Amara sesaat. Kemudian Amara mengambil cincin milik Leon. Ia memasangkannya perlahan. Ketika cincin itu terpasang, keduanya kembali saling menatap.
Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Semuanya terasa jelas ketika cincin disematkan satu sama lain. Mereka tahu bahwa setelah hari ini, hubungan mereka telah memiliki sebuah nama. Suami dan istri.
Pastor kemudian memberikan berkat kepada mereka. Suasana menjadi semakin hening. Beberapa kepala tertunduk dan tangan terlipat. Dan beberapa mata mulai berkaca-kaca.
Setelah seluruh prosesi selesai, Leon dan Amara berdiri berdampingan. Mereka kini resmi menjadi pasangan suami istri. Tepuk tangan perlahan terdengar. Kemudian semakin keras.
Nayla menangis sambil tertawa.
"Ibu..."
Raka langsung memeluk Arsen.
"Selamat untuk Mama."
Arsen tersenyum.
"Selamat untuk kita semua."
Gilberth tidak tahan lagi. Ia langsung bersiul keras.
"AKHIRNYA!"
Semua orang tertawa.
Susan bahkan menepuk bahu Gilberth.
"Jangan berisik."
"Aku bahagia!"
"Kami juga."
Leon menoleh ke arah mereka. Gilberth langsung pura-pura duduk tenang. Leon menyipitkan mata.
"Kenapa?"
"Enggak ada."
"Bagus."
Amara tertawa kecil. Ia kemudian menatap Leon.
"Jangan galak di hari pernikahan."
"Aku tidak galak."
Amara mengangkat alis. Leon akhirnya tersenyum.
"Baiklah."
Mereka berjalan meninggalkan altar bersama. Di belakang mereka, keluarga dan para tamu memberikan tepuk tangan.
Arsen menatap ibunya dengan senyum yang sulit disembunyikan. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia melihat Amara bukan sebagai perempuan yang selalu berdiri di depan keluarganya untuk melindungi semua orang.
Ia melihat ibunya sebagai seorang perempuan yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bahagia. Dan Arsen bersyukur.
Di bagian belakang ruangan, Reza hanya diam.
Ia menatap Amara yang berjalan berdampingan dengan Leon. Tidak ada rasa marah. Tidak ada keinginan untuk menghentikan mereka. Hanya sebuah kesadaran yang perlahan menjadi semakin nyata.
Amara sudah benar-benar melangkah jauh. Dan kali ini, Reza tidak lagi menjadi bagian dari langkah tersebut.
Clara meliriknya. Reza tersenyum tipis.
Beberapa jam kemudian, suasana berubah. Resepsi dimulai. Musik terdengar memenuhi tempat itu. Para tamu mulai berbicara dan menikmati hidangan yang telah disediakan. Suasana yang sebelumnya begitu sakral kini menjadi lebih hangat. Leon bahkan tidak sempat duduk lama. Gilberth datang menghampirinya.
"Om."
Leon menoleh.
"Apa?"
"Dansa"
Leon langsung menggeleng.
"Tidak."
"Harus."
"Aku tidak berdansa."
Gilberth menoleh kepada Amara.
"Tante."
Amara tertawa.
"Jangan libatkan aku."
"Tante harus bantu."
Leon menatap keduanya dengan wajah tidak percaya.
"Kalian serius?"
Gilberth mengangguk.
"Sangat."
Beberapa detik kemudian, Leon akhirnya menyerah. Ia berdiri di tengah lantai dansa.
Amara yang melihatnya, langsung tertawa.
Leon menatapnya.
"Kau senang?"
Amara mengangguk.
"Sangat."
"Bagus."
Gilberth langsung berseru.
"Om Leon, senyum!"
"Aku sedang senyum."
"Itu bukan senyum. Itu wajah mau menginterogasi orang."
Tawa langsung pecah. Bahkan Arsen sampai menundukkan kepalanya karena tertawa.
Raka menggeleng.
"Gilberth memang tidak takut mati."
Kael tersenyum.
"Sepertinya begitu."
Leon akhirnya benar-benar tersenyum. Amara hanya memandangnya.
Pria yang selama ini dikenal sebagai salah satu sosok paling ditakuti di dunia bawah tanah itu kini berdiri di tengah keluarganya, membiarkan dirinya dipermalukan demi membuat orang-orang yang dicintainya tertawa. Dan Amara menyukai pemandangan itu.
Malam semakin larut. Satu per satu tamu mulai meninggalkan tempat itu. Namun lampu-lampu pesta masih menyala. Laut di kejauhan terlihat gelap dan tenang. Amara berdiri di balkon. Angin malam menyentuh rambutnya.
Tidak lama kemudian Leon datang. Ia berdiri di sampingnya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya memandang laut.
"Ada penyesalan?" tanya Leon akhirnya.
Amara tersenyum.
"Tidak."
"Menikah tua begini?"
Amara menoleh.
Kemudian menatap pria itu cukup lama.
"Aku justru bersyukur kita tidak bertemu di usia muda."
Leon mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena dulu kita sama-sama terlalu liar untuk saling mencintai."
Leon tertawa kecil.
"Benar."
Amara kembali memandang laut.
"Kita mungkin tidak akan sampai sejauh ini kalau bertemu terlalu cepat."
Leon mengangguk.
"Mungkin."
Ia kemudian meraih tangan Amara.
"Kau bahagia?"
Amara menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
Kemudian tersenyum.
"Ya."
Cuma satu kata. Namun bagi Leon, itu sudah cukup. Tidak ada lagi yang perlu ditanyakan. Mereka sudah mengucapkan janji di hadapan Tuhan, keluarga, dan orang-orang yang mereka cintai.
Sekarang mereka hanya berdiri bersama. Dua manusia yang telah melewati usia muda. Dua manusia yang pernah terluka. Dua manusia yang pernah kehilangan. Dan akhirnya menemukan satu sama lain.
Di belakang mereka, suara tawa keluarga masih terdengar samar. Di kejauhan, laut tetap bergerak seperti biasa.
Dunia mungkin akan menyebut mereka Raja dan Ratu. Dunia mungkin melihat pernikahan itu sebagai penyatuan dua kekuatan besar.
Namun malam itu, mereka hanya Leon dan Amara. Seorang pria yang akhirnya menemukan rumah di dalam diri seorang perempuan.
Dan seorang perempuan yang akhirnya menemukan seseorang yang tidak datang untuk mengambil alih hidupnya. Seseorang yang hanya ingin tinggal.
Leon menggenggam tangannya lebih erat. Amara membalas genggaman itu. Kemudian keduanya tersenyum. Karena setelah perjalanan yang begitu panjang, Sang Raja dan Ratu akhrinya benar-benar pulang bersama.