Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Pak Bintang..." ucap Rembulan panik saat suami Mentari berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa. Bayangan terjadi sesuatu dengan sahabatnya sudah di depan mata. "Ada apa dengan Mentari, Pak?" Lanjutnya sudah tidak sabar.
"Masih sama seperti tadi pagi. Saya menemui Dokter untuk minta maaf atas permintaan istri saya," Bintang mengatakan dengan jujur bahwa ia tidak akan mengabulkan kemauan Mentari. "Saya sangat mencintainya, walau kondisinya seperti itu."
Rembulan menatap mata Bintang tersenyum haru, tatapan yang selaras dengan ucapannya. Jujur dan bisa dipercaya. Ternyata suami sahabatnya berhati mulia, tetap menyayangi Mentari apa adanya. Selama satu tahun, Bulan seringkali terlibat percakapan dengan Bintang, tapi hanya seputar kesehatan istrinya. Tidak pernah mengucap hal lain maka belum begitu tahu karakter Bintang.
"Saya mengerti sekali, Pak Bintang," Bulan menjawab sopan.
"Terima kasih, saya hanya tidak mau, Dokter beranggapan bahwa Mentari ngelunjak."
"Sama sekali tidak Pak. Justru karena begitu besar cinta Mentari pada keluarga, Dia berani berkata demikian. Saya doakan Mentari segera sembuh dan kalian hidup bahagia selamanya," doa Rembulan tulus.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Bulan masuk lift karena sudah terbuka. Meninggalkan Bintang yang masih diam di tempat hingga pintu lift tertutup.
Dengan sedan putih, Bulan menjalankan kendaraan, tidak menjenguk sahabatnya terlebih dahulu. Bukan tidak ada rasa empati, tapi ia ingin segera bertemu mami. Hanya dengan ibu kandungnya itu, Bulan bisa berbagi cerita pengalaman pahit hari ini.
"Mama belum pulang, Bi?" Tanya Bulan ketika sudah berada di dalam rumah yang sepi.
"Belum Non..." jawab art.
Bulan hanya mengangguk, lalu masuk ke kamar. Membersihkan badan sebelum anggota tubuhnya menyentuh tempat tidur. Gadis itu memang selalu menjaga kebersihan, karena hidup sehat sudah mami terapkan sejak kecil, sesuai profesi Bulan sebagai dokter.
Bulan adalah anak kedua dari dua saudara, kakak laki-lakinya sudah menikah dan tinggal terpisah dengan orang tuanya.
Tubuh ramping yang berbalut handuk itu pun keluar dari kamar mandi, perpaduan aroma sampoo dan sabun mahal menguar ke seluruh kamar.
Baju piama nyaman sudah melekat di badan, rambut yang seharian ia kuncir kini dibiarkan terurai, mencari rasa nyaman saat beristirahat.
"Mimpi apa... aku," gumamnya ketika sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ingatannya tentang permintaan Mentari yang berwajah pucat tadi seolah tidak mau pergi dari ingatan.
Tok tok tok.
Saat sedang melamun, pintu kamarnya diketuk.
"Masuk..." ucapnya tanpa berniat untuk bangun.
Pintu pun dibuka dari luar, tidak lama kemudian muncul wanita lima puluh lima tahun. Dia adalah mami yang melahirkan Rembulan, seketika ia bangkit lalu salim tangan.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Renata kaget melihat tatapan putrinya tampak menyembunyikan kesedihan, lalu duduk di sebelah Bulan ingin segera tahu apa yang terjadi.
"Biasa Mami..." Bulan menceritakan jika pasien hari ini banyak dan rata-rata penyakitnya parah, belum mau jujur tentang permintaan Mentari.
"Karena itu..." balas mami tidak percaya, karena selama ini putrinya dokter yang mempunyai mental kuat.
"Iya Mami, kok sampai malam sih..." Bulan mengalihkan dan juga khawatir, begitu menatap wajah sang mama tampak lelah.
"Hari ini ada wisuda dua sesi, kaki Mama pegal semua," ucap rektor di salah satu kampus ternama itu.
"Ya Allah... kapan sih, Mami pensiun?" Rembulan tidak tega membayangkan mami berdiri seharian memindahkan tali toga dan juga sambutan.
"Hus, mudah-mudahan Mami jangan dulu dipensiun, acara wisuda kan jarang-jarang."
"Mami kan sudah sepuh, biar Bulan saja yang bekerja, cukup kok untuk kebutuhan kita berdua," Bulan kasihan kepada mami, setelah papi meninggal 10 tahun yang lalu bekerja banting tulang untuk biaya dirinya kuliah kedokteran. Sudah saatnya ia memberikan kesempatan mami untuk beristirahat.
"Mami sibuk bukan karena kekurangan uang, Bulan..." jawabnya, ia masih gigih bekerja sebenarnya karena ingin berkontribusi ilmu yang ia punya kepada anak-anak bangsa.
"Iya... tapi Mami jangan mengeluh gitu..." Bulan sedih setiap kali mendengar keluhan mami. Dia beranjak ambil suplemen untuk kekebalan tubuh mami. "Mami minum sebelum tidur ya..." lanjutnya menunjukkan aturan minum.
"Terima kasih, Bu Dokter..." ucap mami. Ibu dan anak itupun akhirnya tertawa. Kehadiran sang mami membuat pikiran Bulan menjadi lebih tenang. Jika mami sudah istirahat nanti ia akan menceritakan semuanya.
"Sekarang kita makan dulu," titah mami.
.
Selesai makan, Rembulan duduk di samping mami, di sofa empuk.
"Mami ingat sahabatku yang namanya Mentari?" Tanya Bulan mulai membuka percakapan.
"Mentari yang dulu sering menginap di sini?" potong mami cepat. "Kenapa Dia?"
Rembulan menceritakan penyakit kanker yang diderita sahabatnya dengan perasaan sedih.
"Astagfirullah... yang benar kamu?" Mami syok mendengar penuturan Bulan, sungguh tidak menyangka, Mentari yang dulu periang dan kuat kena penyakit seperti itu.
"Bukan hanya itu saja, Mih. Mentari juga ingin aku menjadi ibu Talita," lanjutnya dengan napas terputus.
"Jadi Ibu Talita? Maksudnya bagaimana?" Renata belum bisa mencerna kata-kata Bulan.
Deerttt... deerttt... deerttt...
Rembulan belum sampai menjelaskan secara detail, panggilan telepon terdengar. Ia menatap si penelpon tertera profil suami istri dan anak perempuan empat tahun tampak bahagia.
"Pak Bintang telepon, Bu..." Bulan menoleh ibunya, rasa takut terjadi sesuatu dengan Mentari membuatnya ragu untuk mengangkat.
"Angkat saja," titah Renata, membayangkan jika Mentari sedang kritis tentu membutuhkan pertolongan Bulan.
Bulan menggeser tombol hijau, lalu meletakkan benda gepeng itu di telinga. Sudah biasa baginya mendapat telepon dari pasien tidak ada batasan waktu seketika berangkat ke rumah sakit, tapi kali ini yang membuatnya ragu, Mentari akan melanjutkan ucapannya pagi tadi.
"Hallo! Bisa datang ke rumah sakit malam ini, Dok? Mentari kesakitan dan terus menanyakan Dokter," ucap Bintang, suaranya terdengar panik.
"Baik," jawab Bulan, tapi belum sempat menanyakan kondisi Mentari, Bintang memutus sambungan telepon secara sepihak, suatu jawaban bahwa Mentari tidak baik-baik saja.
"Aku ke rumah sakit dulu Mih," pamit Bulan sambil berlari ke kamar. Sat set ganti pakaian, mengikat rambutnya tanpa disisir, memasang baju dokter pun sambil berjalan keluar.
"Mami ikut," ucap Renata yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Iya, Mih," jawabnya singkat. Bulan menerobos pintu depan, menekan remot kendaraan langsung masuk diikuti Renata di sebelahnya.
Bulan tancap gas kembali ke rumah sakit yang seharian ini membuat pikirannya kacau balau.
Dalam perjalanan, tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Bulan, begitu juga dengan Renata. Dua wanita itu sama-sama membayangkan terjadi sesuatu yang buruk tentang Mentari.
"Mami menunggu di sini dulu tidak apa-apa kan?" Rembulan cemas membiarkan mami Renata duduk di ruang tunggu, tapi ia juga ingin mencari informasi terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa, Nak..." Renata minta anaknya bekerja dengan profesional.
Bulan mengangguk, lalu meninggalkan ibunya setelah berpesan akan memberi kabar jika sudah mengetahui keadaan Mentari. Tiba di depan ruangan di mana sahabatnya di rawat, ia seketika masuk. Namun, di dalam sana sudah kosong.
Derap sepatu Rembulan terdengar nyaring memecah kesunyian lorong-lorong, berlari menuju ruang dokter mencari informasi. Dia segera bertanya kepada rekannya yang kebetulan berada di sana, tentang keberadaan Mentari.
"Pasien kamu yang bernama Mentari baru saja masuk ruang ICU..." papar dokter Muchlis.
"Astagfirullah..." Bulan seketika lemas. "Lalu bagaimana kondisinya, Dok?" sambung Rembulan dengan wajah cemas.
"Kondisinya memburuk, tekanan darahnya anjlok dan fungsi paru-parunya terganggu," lanjut dokter yang sudah lebih senior dari Bulan itu baru saja menangani Mentari, ia menceritakan kepada Rembulan, saat masih sadar memanggil-manggil nama Rembulan..
"ICU..." gumam Rembulan sembari berdiri, lalu menggunakan sisa tenaganya menuju ruang tunggu mengait tangan mami, masuk ke ruang ICU. Di ambang pintu, langkahnya berhenti, menggenggam erat tangan mami Renata saat tatapan matanya tertuju ke arah Bintang yang sedang menangis tergugu di pinggir tubuh istrinya.
Namun, seperti apa kondisinya, sebagai dokter, Bulan akhirnya mendekat. Hatinya teriris saat menatap tubuh sahabatnya dipenuhi alat medis.
Melihat kehadiran Rembulan, Bintang segera mengusap air matanya sebelum akhirnya bangkit dari sisi ranjang.
"Setelah Anda keluar ruangan pagi tadi, Mentari menulis surat," Bintang menyerahkan sepucuk surat tanpa amplop.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌