Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Ting.

Suara notifikasi dari ponsel pintar Raka berbunyi nyaring membangunkan pemuda itu dari tidur nyenyaknya.

Raka mengusap matanya yang masih mengantuk dan melihat layar ponselnya yang menyala terang.

Ada pesan masuk dari bank yang menyatakan dana sebesar belasan miliar rupiah baru saja masuk ke rekeningnya.

"Uang lelang dari Sasa sudah cair rupanya, bos satu itu memang tidak pernah ingkar janji kalau soal uang," gumam Raka sambil tersenyum lebar.

Ia bangkit dari kasur empuknya dan bergegas mandi untuk memulai hari yang sibuk ini.

Hari ini ia berencana untuk mengecek hasil pembangunan tembok beton di desa kuno yang notifikasinya sudah muncul semalam.

Satu jam kemudian, Raka sudah memacu Range Rover putihnya membelah jalanan pagi Jakarta menuju gudang industrinya.

Brummm.

Suara mesin mobilnya menggema di dalam gudang saat Raka memarkirkannya di sudut ruangan.

Raka turun dari mobil dan langsung menggenggam gagang pintu naga dari dalam sakunya.

"Buka gerbang dunia," batin Raka memberi perintah.

Sring.

Celah cahaya keemasan vertikal terbuka membelah udara gudang yang berdebu tersebut.

Raka melangkah masuk menembus cahaya itu dan langsung disambut oleh udara sejuk khas pegunungan dunia kuno.

Wush.

Raka mendarat tepat di tengah alun-alun desa, tapi pemandangan di depannya kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Sebuah tembok batu berwarna abu-abu setinggi tiga meter berdiri kokoh mengelilingi seluruh pemukiman desa tersebut.

Tembok itu terlihat sangat mulus dan keras, benar-benar kontras dengan gubuk-gubuk jerami yang ada di dalamnya.

"Tuan Dewa Petir sudah kembali!" teriak seorang warga desa yang sedang berjaga.

Teriakan itu langsung membuat seluruh warga desa berhamburan keluar dari rumah mereka untuk menyambut Raka.

Kepala Desa Boris berlari paling depan dan langsung menjatuhkan dirinya berlutut di tanah.

"Selamat datang Tuan Dewa, sihir lumpur abu-abu Anda benar-benar menjadi batu karang yang tak tertembus!" puji Boris dengan mata berbinar.

Karta yang pundaknya masih diperban juga berjalan mendekat dipapah oleh Lin.

"Tuan Dewa Raka, hamba tidak menyangka bisa melihat keajaiban sebesar ini seumur hidup hamba," ucap Karta menundukkan kepalanya.

Raka tersenyum puas lalu berjalan mendekati tembok beton itu untuk mengecek kekuatannya.

Prok prok.

Raka menepuk permukaan beton itu dengan telapak tangannya dan merasakan tekstur batu yang sangat padat.

Cetakan papannya memang sedikit berantakan karena dibuat oleh orang-orang amatir, tapi tulangan besi di dalamnya membuat tembok ini mustahil roboh.

"Kerja bagus Boris, para bandit gunung itu benar-benar bekerja keras rupanya," puji Raka menatap tumpukan sisa papan cetakan.

"Tentu saja Tuan Dewa, kami mencambuk mereka setiap kali mereka mencoba beristirahat," jawab Boris bangga.

Raka melihat puluhan bandit itu sedang tertidur kelelahan di sudut alun-alun dengan kaki terikat rantai kayu.

"Beri mereka makan yang layak hari ini, tenaga mereka masih dibutuhkan untuk membuat gerbang kayu yang besar nanti."

"Baik Tuan Dewa Raka, perintah Anda adalah hukum mutlak di desa ini," sahut Boris patuh.

Lin melangkah maju dan memberikan sebuah mangkuk tanah liat berisi air minum segar untuk Raka.

"Silakan diminum Tuan Dewa, ini air dari mata air pegunungan yang paling jernih," tawar Lin dengan wajah merona.

"Terima kasih Lin, kau dan ayahmu sudah bekerja keras menjaga tempat ini selama aku pergi."

Raka menerima mangkuk itu dan meneguk airnya sampai habis karena ia memang merasa sedikit haus setelah perjalanan antar dimensi.

Warga desa mulai menyalakan api unggun kecil di tengah alun-alun untuk merayakan kembalinya dewa mereka.

Beberapa wanita desa membawa nampan berisi daging rusa panggang yang sudah dibumbui dengan micin pemberian Raka.

Bau harum daging panggang gurih itu langsung membuat perut Raka keroncongan minta diisi.

"Mari makan bersama Tuan Dewa, kristal gurih Anda membuat daging ini terasa seperti makanan dari langit," ajak Karta mempersilakan Raka duduk.

Raka duduk di atas sebuah batang kayu besar dan mulai memakan daging rusa panggang itu dengan lahap.

Nyam nyam nyam.

Rasanya memang sangat lezat, dagingnya empuk dan rasa gurih micinnya meresap sempurna sampai ke dalam serat daging.

Sambil mengunyah, Raka memperhatikan wajah Karta yang terlihat sedikit tegang dan menyimpan beban pikiran.

"Ada apa Karta? Wajahmu kelihatan cemas begitu padahal desa ini sudah aman dari bandit," tegur Raka menyeka mulutnya.

Karta melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada warga lain yang mendengar percakapan mereka selain Lin.

"Hamba mendapat kabar buruk dari seorang pedagang keliling yang kebetulan lewat di pinggir hutan pagi tadi Tuan Dewa."

Raka menghentikan kunyahannya dan langsung menatap mata Karta dengan serius.

"Kabar buruk apa maksudmu? Ada kelompok bandit lain yang mau balas dendam kemari?"

"Bukan bandit Tuan Dewa, tapi ini jauh lebih berbahaya dari sekadar perampok gunung," jawab Karta dengan suara gemetar.

"Pedagang itu bilang kalau kabar tentang tembok sihir batu dan kilatan petir di desa kita sudah terdengar sampai ke Kota Kerajaan."

Raka mengerutkan dahinya mulai mencium adanya masalah birokrasi dan perebutan kekuasaan di dunia primitif ini.

"Lalu apa masalahnya kalau mereka tahu? Kita kan tidak mengganggu wilayah mereka sama sekali."

Karta menghela nafas panjang dan menatap tembok beton abu-abu itu dengan pandangan khawatir.

"Panglima perang Kota Kerajaan sangat tertarik dengan sihir pelindung yang Tuan Dewa berikan pada kami."

"Mereka curiga kalau desa kita sedang membangun pasukan pemberontak bersenjata pusaka untuk melawan raja."

Raka tertawa pelan mendengar alasan klise dari para penguasa rakus yang takut kekuasaannya tersaingi.

"Jadi mereka berencana mengirim pasukan kemari untuk menghancurkan tembok ini?" tebak Raka meminum sisa air di mangkuknya.

"Bukan hanya menghancurkan tembok Tuan Dewa, mereka ingin merebut sihir pembuat batu itu dan menyita semua ginseng kita," jelas Karta panik.

"Pedagang itu melihat ratusan prajurit berarmor besi sedang disiapkan di gerbang kota untuk berbaris menuju desa ini."

Lin yang duduk di sebelah ayahnya ikut menangis ketakutan memeluk lengan Karta.

"Tuan Dewa Raka, prajurit kerajaan itu sangat kejam, mereka tidak akan segan membantai seluruh desa kalau kita menolak," isak Lin.

Raka diam sejenak memproses informasi baru ini di dalam kepalanya yang cerdas.

Prajurit berarmor besi pasti jauh lebih tangguh dan terorganisir daripada sekumpulan bandit gunung yang hanya bermodal nekat.

Stun gun miliknya memang mematikan, tapi benda itu adalah senjata jarak dekat yang mengharuskannya menyentuh target.

1
Rizky Fadillah
kan benar td baru aja aku cek di melolo judulnya pengemis dua dunia kalo ga salah
Rizky Fadillah: namanya juga sama raka tp beda nya di melolo raka wijaya
total 1 replies
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!