Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Memberi Tahu Semua Orang
Aku meninggalkan rumah sakit ketika hari nyaris terang, kepala penuh rencana, lalu langsung pulang ke rumah. Begitu melewati pintu utama, aku menuju ruang tempat Mama biasanya duduk saat pagi mulai datang. Tidak lama kemudian, adik-adikku juga muncul, seperti kebiasaan mereka setiap kali aku keluar pada dini hari. Tidak ada waktu untuk berputar-putar. Semua harus siap bahkan sebelum mereka mendapat izin pulang.
"Mama, aku butuh bantuan untuk sesuatu yang mendesak," kataku tanpa membuang waktu. "Aku ingin Mama menyiapkan kamar bayi untuk anak perempuan, lengkap dengan semua yang dibutuhkan bayi empat bulan. Pakaian, selimut, mainan, perlengkapan mandi dan kebersihan, ranjang bayi, meja ganti popok... semuanya yang terbaik. Anggap saja semua itu sudah harus siap sejak kemarin."
Mama menatapku bingung, tetapi ia sudah berdiri, siap bergerak. Sebelum ia sempat bertanya, aku berbalik kepada Malik dan Rian yang memperhatikanku dengan rasa ingin tahu.
"Kalian berdua juga punya tugas. Siapkan kamar perempuan untuk gadis berusia tujuh belas atau delapan belas tahun. Kamarnya harus luas, terang, dengan perabot baru dan semua yang berkualitas terbaik. Belikan pakaian ukuran 36 dan 38, juga semua perlengkapan mandi, perawatan, dan kecantikan yang bisa dibutuhkan seorang perempuan. Bawa juga perlengkapan perawatan dan kecantikan yang sama ke kamarku. Untuk pakaian Alya, nanti aku sendiri yang memilih."
"Arkan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rian sambil mengernyit. "Siapa gadis itu? Dari mana datangnya bayi empat bulan? Kami sama sekali tidak mengerti."
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengatakannya sekaligus, tanpa menyembunyikan apa pun lagi.
"Aku akan menikah. Namanya Alya, penyanyiku. Dia ditinggalkan saat masih hamil dan membesarkan putrinya seorang diri, tanpa bantuan siapa pun. Bayinya, Kirana, dirawat karena pneumonia. Begitu mendapat izin pulang, mereka bertiga, Alya, adiknya, dan si kecil, akan tinggal di sini bersama kita."
Kata-kataku jatuh seperti kejutan bagi semua orang. Mata Mama langsung membesar. Kebingungan awalnya lenyap, tergantikan perhatian dan kekhawatiran.
"Bayi yang sedang sakit? Kalau begitu kita harus cepat. Kalau mereka butuh kenyamanan dan perawatan, tidak boleh ada yang kurang."
"Aku percaya pada Mama," jawabku. "Tolong siapkan semuanya dengan sepenuh hati. Mereka penting bagiku."
Tanpa menunggu pertanyaan lain, aku berbalik dan menaiki tangga menuju kamarku. Aku butuh mandi untuk sedikit menenangkan tubuh dan merapikan pikiranku.
Saat sudah berada di bawah pancuran, air hangat mengalir di tubuhku, ponselku bergetar di atas wastafel. Aku mengulurkan tangan dan melihat pesan dari pengawal yang kutinggalkan di rumah sakit. Aku membukanya dan membaca:
Tuan Arkan, semuanya tenang di sini. Nyonya Alya dan Nona Laras sudah menerima sarapan, dan bayinya baik-baik saja.
Pesan lain masuk, kali ini dari pengawal Mama:
Melapor, Bu Gita dan Nona Safira baru saja meninggalkan kediaman dan langsung menuju toko perlengkapan bayi serta pakaian, sesuai perintah.
Aku tersenyum sendiri, merasakan satu beban terangkat dari dada. Setidaknya bagian persiapan sudah berjalan. Sekarang yang tersisa hanya menunggu kesehatan Kirana terus membaik, dan berharap ketika mereka tiba di rumahku, mereka menemukan tempat yang akhirnya bisa membuat mereka merasa aman.
Sekitar pukul sembilan, aku tidak sanggup lagi berbaring. Aku menuruni tangga dengan langkah cepat, sudah tidak sabar melihat mereka lagi dan mengetahui keadaan mereka. Saat tiba di ruang makan, aku menemukan Mama, Safira, Malik, dan Rian sudah berkumpul, menunggu.
"Semuanya sudah siap," kata Mama begitu melihatku datang. "Kamar bayi sudah dipasang lengkap. Ranjang bayi, pakaian berbagai ukuran, mainan, perlengkapan kebersihan, selimut, dan apa pun yang mungkin dibutuhkan. Kami juga menyiapkan kamar untuk Alya dan adiknya, dengan pakaian ukuran yang kamu minta, perlengkapan kecantikan, dan semua yang terbaik. Tidak ada yang tertinggal."
"Bagus. Tapi Alya akan tinggal bersamaku," jawabku lega, lalu duduk di meja untuk minum kopi cepat dan kuat.
Sambil makan, aku sudah bersiap untuk pergi ketika Mama bicara.
"Mama ikut ke rumah sakit. Mama ingin mengenal mereka, melihat keadaan si kecil, dan membantu apa pun yang mereka perlukan."
Sebelum aku sempat menjawab, Safira ikut bersuara. Ada kilau penasaran sekaligus kesiapan di matanya.
"Aku juga ikut. Aku ingin membantu menyambut mereka dengan baik dan melihat apakah masih ada yang kurang sebelum mereka tiba di sini."
Aku mengangguk tanpa ragu. Aku sangat mengenal hati Mama. Ia sudah lama menunggu hadirnya kehidupan baru di rumah ini, dan kekhawatirannya datang dari kasih sayang, bukan kecurigaan. Dengan mereka di sisiku, semuanya hanya akan terasa lebih hangat.
"Baiklah," aku menyetujui. "Kita pergi bersama. Mereka pasti sudah menunggu kabar soal izin pulang, dan semakin cepat kita tiba, semakin tenang perjalanan mereka ke sini."
Aku menghabiskan kopi hanya dalam beberapa menit. Tak lama kemudian kami berangkat bersama, semua siap menemui Alya, Laras, dan Kirana kecil.