Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI ANTARA DUA BENANG YANG LAPUK

Ada saat-saat di mana keheningan dalam duniaku terasa bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah ruang kedap udara yang perlahan-lahan meremukkan dadaku dari dalam.

Hari-hari setelah pertemuan singkat di tangga darurat gedung fakultas itu terasa berjalan seperti mimpi buruk yang enggan usai. Kepalaku dipenuhi oleh kecamuk pikiran yang saling bertabrakan tanpa henti. Setiap kali aku memejamkan mata di dalam kamar yang sunyi, bayangan sorot mata Kaito yang dingin namun menyimpan kepedihan luar biasa terus terbayang, menghantui setiap detik napasku.

Kaito makin bertindak tegas dan tanpa kompromi dalam menarik garis batas. Ia tidak lagi sekadar menghindar atau memutar arah langkahnya secara halus, melainkan benar-benar berusaha menghapus keberadaannya dari seluruh lingkar kehidupanku.

Jika kami tak sengaja berpapasan di lorong gedung perkuliahan, persimpangan jalan menuju stasiun, atau bahkan di area kompleks perumahan kami sendiri, Kaito akan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia melangkah lebar-lebar melewati diriku tanpa sedikit pun memperlambat ritme kakinya—seolah-olah aku hanyalah sosok asing yang tak pernah ada dalam benak dan riwayat hidupnya.

Perubahan Kaito yang begitu radikal dan dingin membuat hatiku teriris hingga tak bertekstur.

Apakah aku sejahat itu padanya? Apakah keberadaanku kini hanya menjadi beban yang menyiksa hidupnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus meracuni benakku setiap malam. Aku merasa seperti sosok penjahat yang amat egois—sosok yang telah merenggut kehangatan dari hidup Kaito, membalas seluruh kebaikan dan perlindungannya sejak kami kecil dengan memaksanya menyiksa serta membuang perasaannya sendiri ke dalam jurang yang amat dingin. Rasa bersalah itu kian hari kian menumpuk di dalam dadaku, bertransformasi menjadi batu tebal yang amat berat, mengimpit paru-paruku hingga rasanya sulit untuk sekadar bernapas lega.

Namun, tepat di saat hatiku sedang porak-poranda oleh rasa bersalah dan kerinduan yang tertahan pada Kaito, di sisi lain, Haruto pun makin menunjukkan perubahan yang tidak bisa lagi kubela atau kuabaikan.

Haruto yang kukenal tidak pernah seperti ini. Dulu, ia selalu berusaha menatap mataku secara langsung setiap kali kami berinteraksi. Ia selalu telaten, sabar, dan menggerakkan bibirnya secara perlahan agar aku bisa membaca gerak bibirnya (lip-reading) tanpa kesulitan. Namun belakangan ini, Haruto kerap berbicara dengan wajah yang menatap ke arah lain. Gerakan bibirnya menjadi terburu-buru, kaku, dan seadanya.

Waktu yang ia sediakan untuk dihabiskan bersamaku pun makin berkurang drastis. Selalu ada alasan rapat organisasi yang mendadak, tugas kelompok yang menumpuk, atau urusan kemahasiswaan hingga larut malam yang membuatnya membatalkan janji atau mengantarku pulang secara tergesa-gesa.

Bahkan, saat kami duduk bersama di sebuah kedai kopi kecil di dekat stasiun pada suatu sore yang mendung, jarak emosional di antara kami terasa seperti membentang seluas samudra.

Haruto duduk tepat di hadapanku, dipisahkan oleh sebuah meja kayu kecil. Namun, jiwanya seolah-olah sedang berada di tempat lain yang tak tersentuh olehku. Jari-jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara konstan—sebuah gestur gelisah dan tidak tenang yang belakangan ini selalu muncul darinya.

Ponselnya yang tergeletak di samping cangkir kopi terus-terusan bergetar tipis. Setiap kali ada notifikasi pesan masuk, mata Haruto akan melirik cepat dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan dan ketegangan yang teramat sangat, sebelum akhirnya ia buru-buru menyembunyikan atau membalikkan layar ponsel itu kembali.

Aku menatap jemari Haruto yang memegang cangkir kopinya. Tidak ada lagi kehangatan spontan yang dulu selalu disalurkannya lewat genggaman tangan. Senyuman yang ia berikan padaku kini terasa seperti topeng kaku yang dipasang hanya karena rasa tanggung jawab dan formalitas semata, bukan lagi lahir dari ketulusan yang murni.

Dengan jemari yang gemetar tipis akibat gelombang cemas yang tak menentu, aku mengambil ponselku dan mengetik sebuah pesan pendek:

[Haruto, kamu terlihat sangat lelah dan gelisah akhir-akhir ini. Jika ada masalah besar yang mengganggu pikiranmu di kampus, kamu bisa menceritakannya padaku. Aku akan mendengarkan.]

Aku menggeser perlahan ponsel itu ke hadapannya.

Haruto membaca tulisan di layar. Untuk beberapa detik, raut wajahnya tampak sangat goyah. Ada kilatan kepanikan, ketakutan, dan bayang-bayang rasa bersalah yang melintas cepat di matanya saat ia menatapku. Namun, reaksi itu hanya bertahan sekejap. Dengan cepat, Haruto kembali memalingkan pandangannya ke luar jendela toko, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca.

Haruto menggerakkan bibirnya secara kaku dan terburu-buru: "Tidak ada apa-apa, Hana. Aku hanya sedikit lelah dan sibuk dengan persiapan acara besar fakultas minggu depan. Kamu tidak perlu terlalu banyak berpikir atau mencemaskanku."

Ia lalu buru-buru meminum kopinya yang sudah dingin hingga tandas, memotong pembicaraan sebelum aku sempat mengetik balasan lagi.

Aku mematung menatap gerakan bibir Haruto yang datar. Kamu tidak perlu terlalu banyak berpikir. Kata-kata itu terdengar begitu mudah dan ringan diucapkannya, tetapi kenyataan yang tersaji di depanku menyuarakan hal yang sama sekali berbeda.

Aroma parfum bunga manis yang terasa asing itu kini kian sering tercium dari kerah pakaian atau mantel Haruto setiap kali ia datang menemuiku. Sikapnya yang makin tertutup, tatapan matanya yang selalu menghindari kontak mata langsung denganku, serta kebohongan-kebohongan kecil tentang waktunya yang kian menumpuk—semuanya perlahan-lahan membentuk sebuah retakan besar yang makin nyata dan tak bisa ditutup-tutupi lagi.

Perasaanku benar-benar hancur dan kacau tak bertepi.

Di satu sisi, aku merasa begitu terpukul dan sangat bersalah melihat Kaito yang sengaja menyiksa dirinya sendiri. Kaito memilih hidup dalam kesepian yang amat dingin dan membuang kebahagiaannya sendiri hanya demi menjaga jarak dariku, hanya agar ia tidak menjadi pengganggu. Aku merasa menjadi sosok wanita paling jahat yang telah menghancurkan senyum Kaito.

Di sisi lain, aku berdiri di samping Haruto—pria yang seharusnya menjadi tempatku bersandar dan berbagi rasa aman—tetapi justru makin terasa asing dari hari ke hari. Haruto menyimpan sebuah rahasia besar di belakangku yang perlahan-lahan merusak seluruh fondasi kepercayaan di antara kami.

Aku merasa benar-benar tersesat di tengah-tengah dua benang yang makin lapuk dan bersiap untuk putus kapan saja.

Sore itu, saat gerimis mulai deras membasahi kaca kedai kopi dan pendar lampu-lampu jalanan kota Tokyo mulai menyala satu per satu dalam temaram, aku menatap bayangan diriku sendiri di balik kaca jendela yang suram. Di dalam duniaku yang sunyi tanpa suara, baru kali ini aku merasa begitu terisolasi, sendirian, dan tidak tahu harus melangkah ke mana lagi untuk menyelamatkan hati yang kian hancur ini.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!