"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
taruhan nyawa
Pagi hari... matahari kota mulai merangkak naik di balik polusi asap kendaraan. Udara kota tak sesegar udara pedesaan, menyisakan hawa gerah yang kering bahkan sejak jam pertama kerja dimulai. Di bengkel kembali terparkir kembali unit hino 500 yang lain. Kondisi truk jungkit raksasa yang baru datang ini terlihat miring ke salah satu sisi, menandakan ada kerusakan struktural yang sangat parah di bagian bawahnya.
Jono yang baru saja meletakkan tasnya langsung melongo menatap pemandangan itu. "Haadduuhh," kata jono dengan raut wajah frustrasi. "Yg kemaren belum selesai, masuk lagi yg ini.."
Salman yang sedang mengancingkan lengan wearpack-nya hanya menepuk pundak seniornya itu dengan tenang. "Yah mau gimana lagi jon," kata salman, mencoba menyuntikkan semangat profesionalisme kerja.
Tak lama kemudian, langkah kaki bersepatu pantofel terdengar mendekat. Anita pun datang menemui mereka dan menjelaskan bahwa tadi malam truk itu masuk.. dengan mobil derek darurat. Raut wajah wanita berkacamata itu tampak serius, menatap lembar manifes perbaikan di tangannya.
Dia juga bilang masalah utamanya adalah sasis patah..
Sasis atau kerangka utama besi baja penopang truk itu retak dan terputus akibat kelebihan muatan di jalanan proyek yang rusak.
Sontak saja agus dan jono agak terkejut.. Memperbaiki sasis patah pada truk berat sekelas Hino 500 bukanlah perkara sepele. Jika salah perhitungan, truk bisa patah dua di jalan raya dan berakibat fatal.
Anita menoleh, menatap langsung ke arah mekanik barunya yang kemarin menunjukkan performa luar biasa.
"Man apa kamu bisa," tanya anita..
Salman tak menjawab.. Dia tidak mau sesumbar sebelum melihat medan pertempuran yang sesungguhnya.
Namun dia pergi melihat apa saja kerusakannya..
Salman langsung merangkak turun ke kolong truk, membawa lampu kerja.
Setelah cukup lama dia teliti alur keretakan baja sasis, posisi melesaknya bak, hingga jalur hidroliknya, akhirnya dia kembali lagi..
keluar dari kolong truk sambil menyeka dahi.
"Bisa," kata salman..
suaranya terdengar mantap tanpa keraguan.
"Tapi perlu waktu agak lama.."
Anita mengembuskan napas lega mendengar jawaban itu. "G pp," kata anita.. "Kalian bagi tugas aja.." Setelah memberikan kepastian logistik, Anita pun kembali ke ruangan nya untuk mengurus dokumen unit baru tersebut.
Begitu Anita menjauh, Agus langsung mendekati Salman dengan mata membelalak heran. "Eh man emang kamu beneran bisa..?" tanya agus, masih agak sangsi karena sasis patah biasanya membutuhkan keahlian spesialis fabrikasi alat berat.Salman hanya tersenyum.. alih-alih pamer teori, dia langsung memberikan instruksi kerja yang sangat sistematis dan taktis, membagi tugas layaknya seorang kepala montir yang berpengalaman.
"Gus, tolong buat kupingan 4 biji tapi pakai besi 5MM. Kamu jon, ambil 2 chainblok dan bawa langsung ke atas vessel..
Aku mau ambil tempat gantungan chain blok," kata salman..
Mendengar instruksi yang begitu jelas dan penuh perhitungan, Agus dan Jono tidak banyak tanya lagi. Mereka pun langsung bertindak taktis, bergerak cepat mengambil perkakas masing-masing.
Beberapa menit kemudian, Salman dan Jono sudah berada di struktur atas hanggar bengkel.
"Jon, kaitkan disana," kata salman sambil menunjuk balok baja utama atap workshop. Jono langsung mengaitkan chain block itu... dengan cekatan, membiarkan rantai besi raksasanya menjulur lurus ke arah bak truk di bawah.
Dari bawah, Agus mendongak sambil menenteng peralatan. "Gus bawa kupingannya kesini skalian mesin las .." seru Salman dari atas bak. Agus pun membawanya mereka bekerja sama.. menaikkan pelat-pelat besi tebal hasil potongannya tadi.
Salman kemudian mengelas kupingan itu pada setiap sudut vessel.. Percikan api las berhamburan terang saat Salman melekatkan pelat besi 5mm itu ke bodi bak truk sebagai titik tumpu penarikan. Setelah dia rasa kuat dan las-las pengunci itu mendingin, dia menoleh pada Jono.
"Jon, kaitin smuanya," kata salman..
Jono pun langsung mengaitkan smua rantai chainblock pada kupingan itu.. memastikan pengait baja sudah mengunci sempurna di keempat sudut. "Ok," kata jono.. memberikan tanda siap.
"Kita tarik barengan sampai agak berat," kata salman..
Rantai chain block mulai berderit nyaring saat mereka berdua menariknya secara manual. Perlahan tapi pasti, beban berat vessel truk mulai terangkat, membebaskan tekanan pada sasis yang patah di bawahnya. Setelah melakukan itu, mereka pun turun.. kembali ke lantai bengkel untuk mempersiapkan langkah berikutnya yang jauh lebih krusial.
"Apalagi man..?" tanya Jono sambil menyeka keringat, menanti komando selanjutnya.
"Ya kita harus buat safety nya dulu. Karna vessel ini harus kita lepas.. Makanya aku bilang pengerjaan nya lumayan lama..." kata salman.. Raut wajah pemuda itu berubah sangat serius, sorot matanya menatap tajam kedua rekannya untuk menegaskan pentingnya keselamatan kerja.
"Dan kalian tau... sudah banyak korban jiwa akibat tak pakai safety dump ketika vessel di dump.." lanjut Salman dengan nada suara yang dalam.Agus langsung menutup mulut mendengar cerita itu.. nyalinya sedikit menciut membayangkan risiko mengerikan di dunia mekanik alat berat.
Salman menunjuk ke arah piston hidrolik raksasa di tengah truk. "System hidrolik nya gak bisa nahan terus menerus buat waktu yg lama. Makanya ketika di dump, vessel bakal turun sedikit demi sedikit.
Itu kalo seal nya bagus..
Klo seal nya bocor..
Yah kalian tau sendiri gimana yg dibawah,"
kata salman.. mengakhiri penjelasannya dengan kalimat yang menggantung.
Jono dan Agus terdiam seketika, membayangkan pelat besi seberat belasan ton menimpa tubuh manusia di bawahnya jika sistem hidrolik tiba-tiba gagal berfungsi akibat seal penahan oli yang pecah. Di sinilah mereka sadar, Salman Prakarsa bukan sekadar montir yang tahu cara memegang kunci pas dan stang las, melainkan seorang profesional sejati yang menghargai nyawa di atas segalanya. Proses perbaikan sasis yang berbahaya ini baru saja dimulai dengan standar keselamatan yang mutlak.