Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

sebatang kara

Siang itu, matahari desa terasa membakar kulit, memancarkan terik yang menyengat ke seluruh sudut perkampungan. Namun, Karsa berlari tanpa memedulikan peluh yang mulai membasahi kaos lusuhnya. Langkah kakinya yang tergesa membuat debu-debu jalanan kering berterbangan di belakangnya. Dadanya naik-turun, napasnya memburu, tetapi ada binar kebahagiaan yang begitu benderang di kedua matanya. Tangan kanannya mencengkeram erat selembar kertas resmi dengan logo sekolah yang selama ini ia perjuangkan mati-matian.

Karsa ingin segera sampai rumah. Dia ingin menjadi orang pertama yang meneriakkan kabar gembira ini kepada satu-satunya alasan mengapa dia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Dengan sisa tenaga yang ada, Karsa mendorong pintu bambu rumahnya hingga berderit keras. Dia pun masuk ke dalam rumah. Atmosfer di dalam terasa begitu hening, menyisakan suara deru napas Karsa yang masih terengah-engah.

"Bu... Bu... Ibu..." panggil Karsa dengan suara lantang, dipenuhi nada ketidaksabaran yang membuncah.

Namun, sosok wanita yang selama ini menemaninya hidup itu tak menyahut. Biasanya, begitu mendengar langkah kaki Karsa, suara batuk kecil atau sahutan lembut dari arah dapur akan langsung menyambutnya. Kali ini, tidak ada apa-apa selain keheningan yang mendadak terasa begitu janggal dan dingin.

Karsa mengerutkan kening. Rasa penasarannya mulai berubah menjadi debaran aneh di dada. Karsa pun mencari ke setiap sudut rumah sederhananya. Dia memeriksa area dapur yang kosong, lalu berbalik ke ruang tengah yang hanya beralaskan tikar pandan.

Nihil.....

Hingga akhirnya, langkah kakinya menuntunnya ke ambang pintu kamar tidur yang remang-remang.

Akhirnya dia menemukan ibunya yang sedang berbaring di kasur. Wanita paruh baya itu tampak tertidur begitu tenang di atas kasur kapuk tipis dengan selimut yang menutup hingga ke batas dada.

Karsa mengembuskan napas lega. Dia mengira sang ibu hanya sedang beristirahat karena keletihan setelah seharian mengurus rumah. Senyum Karsa kembali mengembang lebar. Karsa pun datang menghampirinya, melangkah perlahan agar tidak mengejutkan wanita itu. Dia berlutut di tepi tempat tidur, mendekatkan tubuhnya, dan membawa selembar kertas kelulusan yang sejak tadi dijaganya agar tidak lecek.

"Buu... aku lulus, Bu..." bisik Karsa, suaranya bergetar oleh rasa bangga yang tak terbendung. "Karsa lulus, Bu..."

Dia ingin ibunya membuka mata dan melihat lembar kertas itu. Karsa meraih tangan kanan ibunya yang berada di atas selimut, bermaksud untuk menggenggamnya dan menciumnya sebagai tanda bekti atas keberhasilan yang baru saja dia raih.

Namun.... setelah memegang tangan ibunya, seluruh dunia Karsa seolah berhenti berputar.

Tak lagi ada kehangatan. Jemari yang biasanya kasar karena kerja keras namun selalu terasa hangat dan menenangkan itu kini terasa begitu kaku. Dinginnya menjalar cepat dari telapak tangan sang ibu, menembus kulit Karsa, lalu menghantam jantungnya hingga mencelos ke dasar tak berdasar.

Karsa pun panik. Senyum di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh raut wajah yang pias dan tegang. Jantungnya berdegup begitu liar hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Pemuda itu menolak mempercayai apa yang sedang dirasakan oleh indra perabanya. Dengan tangan yang gemetar hebat, kemudian dia menaruh telunjuknya di bawah hidung ibunya.

Dia menahan napasnya sendiri, mematung selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.

Tak ada udara yang mengalir. Sama sekali tidak ada embusan napas, sekecil apa pun. Kulit di bawah hidung itu terasa dingin dan tak bergeming.

"Buuu... bangun, Buuu..." suara Karsa mulai bergetar, naik satu oktaf. Dia mengguncang pelan bahu ibunya, berharap wanita itu hanya sedang mengerjainya. "Aku lulus, Buuu..."

Kedua mata Karsa mulai memanas. Pandangannya mengabur seiring dengan cairan bening yang membendung di pelupuk matanya. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di dalam kamar itu mendadak lenyap.

"Karsa juara 1, Buuu..." raungnya, kini guncangan di bahu ibunya semakin kencang. Kertas lulusan yang diraihnya dengan cucuran keringat kini terlepas dari genggaman, jatuh tak berarti di atas lantai. "Buuu..." kata Karsa yang mulai meneteskan air matanya. Air mata itu runtuh berkejaran, membasahi pipinya.

Kesunyian siang yang terik itu pecah oleh jeritan pilu seorang anak. Raungan Karsa bergema keluar melalui celah-celah dinding bambu rumahnya yang renggang, memutus kesunyian desa. Suara tangis yang begitu menyayat hati itu terdengar hingga ke jalanan dan halaman rumah tetangga.

Tetangga yang mendengar kegaduhan pun mulai berdatangan. Mereka yang awalnya sedang beraktivitas di dalam rumah atau di ladang langsung menghentikan kegiatan mereka. Langkah-langkah kaki yang tergesa terdengar mendekati halaman rumah Karsa yang malang.

Beberapa orang berkumpul di depan pintu yang terbuka, saling berbisik dengan wajah penuh kecemasan. Seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu tetangga terdekat melangkah maju, berdiri di ambang pintu kamar yang remang-remang tersebut.

"Karsa... ada apa?" tanya salah satu tetangga itu dengan nada suara yang penuh kehati-hatian sekaligus ketakutan melihat Karsa yang sedang meraung di lantai.

"Ibuuu..." kata Karsa yang masih sedikit syok dengan keadaan ini. Suaranya serak, tercekat di tenggorokan. Dia tidak mampu merangkai kalimat panjang. Telunjuknya yang gemetar menunjuk ke arah wajah ibunya yang terpejam, sementara tubuhnya sendiri luruh memeluk kaki tempat tidur, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata penyesalan.

Mengapa ibunya harus pergi tepat di hari di mana dia bisa membuat wanita itu bangga?

Mendengar jawaban Karsa dan melihat bagaimana tubuh di atas kasur itu sama sekali tidak bergerak, firasat buruk langsung menyergap ingatan para tetangga. Mereka saling berpandangan dengan wajah tegang. Akhirnya para tetangga pun memberanikan diri masuk. Mereka melangkah mendekat, memberikan ruang bagi salah satu orang tua di desa untuk memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan sang ibu. Begitu tetangga tersebut menggelengkan kepala dengan wajah sedih, pecahlah tangis para tetangga wanita di dalam ruangan itu.

Sore harinya, matahari mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang kelam di ufuk barat. Pemakaman sederhana itu pun sudah selesai. Prosesi yang berjalan khidmat dan penuh rasa duka tersebut akhirnya mengantarkan jasad sang ibu ke tempat peristirahatannya terakhir, tepat di samping makam sang ayah yang sudah lama mendahului.

Satu per satu warga desa mulai berpamitan setelah memberikan ucapan belasungkawa yang terdengar samar di telinga Karsa. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing, menjalani kehidupan mereka kembali, meninggalkan area pemakaman yang perlahan-lahan kembali sepi dan sunyi.

Karsa...

dia pun menyeret langkahnya yang mulai gulai. Tubuhnya terasa begitu berat, seolah seluruh energi kehidupan di dalam dirinya telah ikut terkubur bersama tanah yang menimbun ibunya. Langkah kaki yang tadi siang berlari penuh tawa, kini melangkah terseok-seok membelah jalanan desa yang mulai gelap.

Yah, dia kembali ke rumahnya. Rumah yang kini benar-benar kosong. tidak ada lagi bau masakan sederhana dari dapur, dan tidak ada lagi sosok yang menunggunya pulang.

Rumah itu kini tak lebih dari sebuah bangunan kayu yang mati.

Karsa melangkah dalam kegelapan yang mulai turun. Dia ke dapur dan menyeduh kopi. Gerakannya lambat, matanya menatap kosong pada air panas yang bercampur dengan bubuk kopi hitam di dalam cangkir seng. Setelah selesai, dengan kedua tangan yang masih terasa dingin, dia membawa cangkir itu dan membawanya ke ruang tamu.

Di sana dia duduk di atas kursi kayu tua yang anyamannya sudah mulai rusak. Di atas meja kayu yang melompong, Karsa meletakkan kopinya. Tangannya kemudian meraba kantong celana, mengeluarkan sebungkus rokok murah dan korek api. Dengan jari yang sedikit gemetar, dia menyalakan ujung batangan tembakau itu dan membakar rokoknya.

Karsa mengembuskan asap rokoknya ke udara ruang tamu yang pengap. Matanya menatap lekat pada setiap kepulan asap yang bergerak lambat lalu menghilang.

Inilah kebiasaan mendiang ayahnya... yang diingat oleh Karsa. Dulu, setiap kali sang ayah menghadapi masa-masa sulit atau paceklik yang berat, beliau selalu duduk di kursi ini, memandangi sudut rumah sambil menyesap kopi hitam dan merokok dalam diam. Saat masih kecil, Karsa tidak pernah mengerti mengapa ayahnya melakukan itu.

Namun malam ini, dalam kesendirian yang mencekam setelah kehilangan kedua orang tuanya, Karsa akhirnya paham. Asap rokok dan pahitnya kopi adalah cara untuk mengalihkan rasa sakit yang terlalu besar di dalam dada.

Suasana hening itu bertahan cukup lama, hanya ditemani suara jangkrik dari luar rumah. Karsa tenggelam dalam pikirannya sendiri, membiarkan rokoknya terbakar hingga mendekati jemarinya.

Tak lama, terdengar langkah kaki yang berjalan tergesa di atas tanah halaman rumah. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu yang sengaja tidak dikunci oleh Karsa. Sesosok pemuda dengan wajah cemas muncul di ambang pintu.

Datanglah Budi. Sahabat karibnya itu masih mengenakan pakaian sarung yang digunakannya saat membantu di pemakaman tadi sore. Matanya menyapu seisi ruangan yang remang-remang hingga menemukan Karsa yang duduk terdiam di pojok kursi.

"Karsa... kamu ada di rumah?" tanya Budi, memecah keheningan dengan suara yang sengaja dipelankan, takut mengganggu duka sahabatnya.

"Iya, Bud," kata Karsa tanpa mengubah posisinya. Suaranya terdengar begitu datar dan kosong, seolah jiwanya sedang terbang entah ke mana.

Budi pun mulai membuka pintu dan masuk. Langkah kakinya terdengar pelan di atas lantai tanah. Dia berjalan mendekati meja kayu tempat Karsa menaruh kopinya. Di tangan kanan Budi, ada sebuah bungkusan daun pisang yang masih hangat, memancarkan aroma nasi dan lauk sederhana.

"Nih, makan dulu. Aku tahu kamu pasti belum makan," kata Budi sambil meletakkan bungkusan makanan itu dengan hati-hati di hadapan Karsa. Budi tahu betul, sejak siang tadi Karsa belum memasukkan sebiji nasi pun ke dalam mulutnya karena sibuk mengurus pemakaman dan menangis.

Tanpa melihat apa yang dibawa Budi, Karsa mengucapkan terima kasih. Matanya masih terpaku pada kepulan asap rokok di tangannya, namun ada sedikit rasa hangat di hatinya karena tahu dia tidak benar-benar ditinggalkan sendirian oleh sahabatnya.

"Duduk dulu, Bud," kata Karsa, suaranya parau, mempersilakan satu-satunya orang yang dia miliki saat ini untuk menemaninya melewati malam pertama yang paling sunyi dalam hidupnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!