Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 12
Senja mematung menatap deretan kalimat tegas di layar ponselnya. Sebelum sempat ia mengetikkan balasan, nama "Angkasa" mendadak memenuhi layar ponselnya diiringi getaran yang memecah keheningan di dalam taksi.
Senja menarik napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadanya, lalu menggeser tombol hijau ke kanan.
"Halo, Pak Angkasa..."
"Kamu membaca pesan saya tapi sengaja tidak membalasnya, Bu Senja?" potong suara bariton Angkasa dari seberang telepon. Nada bicaranya dingin, penuh penekanan, dan sarat akan kekesalan yang tak berusaha ditutupi.
"Maafkan saya, Pak. Saya baru saja..."
"Saya tidak suka diabaikan, terlebih saat saya sedang menawarkan bantuan profesional," tegas Angkasa, memotong penjelasan Senja tanpa ampun. Suara gesekan kertas dan dentang pulpen terdengar di latar belakang, mengisyaratkan pria itu masih berada di ruang kerjanya.
"Dimana kamu tengah malam begini? Apa kamu juga sama seperti Arum yang suka kelayapan malam-malam?"
"Saya sedang di taxi menuju apartemen sepupunya Anggi, saya kelaur dari rumah Mas Adam..."
"Oh..."
Hening sesaat dan Senja juga tak berani memutus panggilan Angkasa. Dia masaih butuh pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
"Maaf Pak Angkasa, apa ada yang mau di bicarakan lagi? Saya harus segera turun dari taxi,"
"Tidak ada,"
TUUUUTTT
Panggilan terputus.
"Astaga... Kenapa ada orang seperti itu di dunia ini, kalau bukan pemilik perusahaan tempat aku kerja udah aku omelin juga tu orang," kesal Senja.
Kemudian mengirimkan semua bukti foto dan Video yang di kirim Arum alias Lyra kepada Angkasa. Senja keluar dari dalam taxi dan masuk ke dalam apartemen milik sepupu Anggi. Tempat tinggal sementaranya saat ini.
Senja melangkah masuk ke dalam unit apartemen studio milik sepupu Anggi. Ruangannya cukup bersih dan nyaman untuk tempat bernapas sejenak. Setelah merebahkan koper besarnya di sudut kamar, Senja langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk yang terbentang di tengah ruangan.
DRRRRTTTT
DRRRRTTTT
DRRRRTTTT
Ponsel di dalam tasnya mendadak bergetar hebat. Tidak hanya sekali, melainkan bertubi-tubi tanpa henti.
Senja merogoh ponselnya dan mendapati belasan panggilan tak terjawab serta puluhan pesan teks yang masuk beruntun dari satu nama: Mas Adam.
“Senja, tolong angkat! Kamu di mana sekarang? Kita harus bicara!”
“Senja, aku mohon pulang! Jangan bikin aku panik begini!”
“Aku tahu aku salah, tapi tidak begini caranya, Senja. Tolong beri aku kesempatan!”
“Senja, kamu menginap di mana?! Balas pesan aku!”
Senja menatap layar yang terus berkedip itu dengan pandangan dingin. Selama dua tahun pernikahan mereka, Adam tidak pernah sekali pun meneleponnya bertubi-tubi seperti ini. Saat Senja lembur hingga larut malam pun, Adam tak pernah repot-repot bertanya di mana istrinya berada. Kini, begitu fondasi kenyamanannya terancam runtuh dan panggung kebohongan Arum terbongkar, pria itu mendadak bersikap seolah-olah sangat peduli.
"Terlalu lambat, Mas," bisik Senja pelan pada kegelapan kamar.
Tanpa ragu, Senja menyetel ponselnya ke mode Jangan Ganggu (Do Not Disturb) lalu meletakkannya terbalik di atas meja samping tempat tidur. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa lelah emosional menguasai tubuhnya hingga akhirnya tertidur lelap, tidur terenyenyak yang pernah ia rasakan setelah sekian bulan hidup dalam himpitan curiga.
Keesokan harinya, suasana di kantor berjalan seolah tak terjadi apa-apa, meski atmosfer dingin dari ruang CEO tetap terasa memancar ke seluruh lantai. Senja bekerja dengan sangat fokus, mengabaikan getaran ponselnya yang masih sesekali menyala dari nomor Adam yang sengaja ia hiraukan.
Begitu jarum jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, penanda jam makan siang. Senja segera merapikan meja kerjanya. Dari dalam tas, ia mengambil amplop cokelat tebal yang berisi berkas gugatan cerai beserta seluruh bukti pendukung yang sudah ia cetak rapi.
"Senja, mau makan siang bareng ke bawah?" tanya Anggi seraya berdiri dari kubikelnya.
"Kamu duluan aja, Ngi," jawab Senja seraya tersenyum menenangkan.
"Aku ada urusan sebentar ke luar kantor. Nggak akan lama."
Anggi melirik amplop cokelat di tangan Senja, lalu mengangguk paham. "Hati-hati ya, Ja. Kalau ada apa-apa langsung kabari aku."
"Pasti. Terima kasih ya, Anggi."
Senja melangkah mantap menuju lift, berniat menggunakan waktu istirahat satu jam ini untuk mendatangi Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Ia ingin memastikan bahwa langkah hukumnya berjalan secepat mungkin, memutus seluruh ikatan yang tersisa antara dirinya dan Adam.
Namun, baru saja Senja menginjakkan kaki di lobby utama gedung perkantoran yang megah itu, sosok pria ber-jas yang tak asing sudah berdiri menunggunya di dekat pintu kaca utama.
Adam.
Pria itu berdiri dengan wajah kusut, lingkaran hitam menghiasi matanya, dan kemejanya tak serapi biasanya. Begitu melihat Senja keluar dari area lift, mata Adam seketika berbinar panik dan ia langsung melangkah cepat menghampiri istrinya.
"Senja!" panggil Adam seraya menahan lengan Senja.
"Akhirnya kamu kelihatan juga! Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi semalaman?!"
Adam mengencangkan cengkeramannya di lengan Senja, matanya menatap tajam ke arah amplop cokelat tebal yang didekap erat oleh wanita itu.
"Lepaskan tanganku, Mas! Ini area kantor!" bisik Senja penuh penekanan, mencoba menghentakkan tangannya, namun kekuatan Adam jauh di atasnya.
"Nggak akan aku lepaskan sebelum kamu dengarkan penjelasan aku!" bentak Adam, mengabaikan tatapan heran dari beberapa karyawan yang lalu-lalang di lobby. Matanya tertuju penuh pada amplop cokelat itu.
"Apa itu? Surat gugatan cerai yang semalam? Jangan konyol, Senja! Aku nggak akan biarkan kamu memasukkan berkas itu ke Pengadilan Agama!"
Dengan gerakan cepat dan kasar, Adam menarik paksa amplop tersebut dari dekapan Senja. Kertas-kertas di dalamnya mencuat keluar, menampilkan lembar gugatan perceraian lengkap dengan meterai dan tanda tangan Senja.
"Kembalikan, Mas Adam!" bentak Senja, mukanya memerah menahan amarah.
"Kamu tidak berhak merebut milikku!"
"Aku suamimu, Senja! Aku punya hak atas kamu dan pernikahan ini!" tegas Adam seraya hendak merobek berkas tersebut di depan muka Senja.
"Arum itu cuma masa lalu yang tiba-tiba datang! Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu demi dia!"
"Bohong!" potong Senja dengan suara bergetar tajam.
"Kamu tidur dengannya, kamu menciumnya di mobil saat jam makan siang, dan kamu membiarkan dia mengirimkan semua kegilaan itu padaku untuk menghancurkanku! Kamu cuma takut kehilangan kenyamananmu, Mas!"
"Senja, tolong... dengarkan aku dulu..."
"Kembalikan dokumen itu kepada Bu Senja."
Suara bariton yang dingin, dalam, dan penuh intimidasi memotong perdebatan panas itu seketika.
Adam dan Senja tersentak. Di belakang Adam, sosok Angkasa berdiri tegap dengan kemeja hitam yang tergulung rapi hingga siku dan jas yang tersampir anggun di lengannya. Aura kekuasaan yang terpancar dari sang CEO mendadak membuat lobby utama yang bising menjadi hening mencekam. Di belakang Angkasa, Rian berdiri sigap melipat tangan.
Adam menoleh, mengernyit saat mengenali pria di hadapannya, CEO dari perusahaan raksasa yang sahamnya sedang memegang nasib PT Adijaya Perkasa. Dan Adam tak tahu jika Angkasa adalah calon suami Arum. Karena Arum memang tak pernah bercerita kepada Adam masalah itu. Saat berdua hanya, mereka hanya berostalgia dan melakukan kegilaan yang seharusnya tak mereka lakukan tanpa ikatan yang jelas. Awalnya Adam menolak, karena mereka tak menikah. Namun Arum terus memaksa dan apa mau di kata, laki-laki kalau di tawari ya langsung di serobot.
"Pak... Pak Angkasa?" panggil Adam terperanjat, spontan menurunkan tangannya yang memegang dokumen.