Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara ajal dan cinta
Sena melempar tubuhnya yang lelah namun puas ke atas kasur king size yang empuk. Setelah mandi dan membalurkan krim malam berharga fantastis milik Estella, ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Bayangan wajah pria tampan di basement mal tadi terus berputar-putar di ingatan otaknya tanpa permisi.
"Aduh... cowok tadi gantengnya benar-benar minta ampun!" racau Sena sambil memeluk guling erat-erat. "Garis rahangnya, suaranya yang deep voice gitu, terus badan kekasnya... beuh! Murni tipe gue banget!"
Sena lalu mendudukkan tubuhnya, mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Tapi masalahnya, gue kan udah mutusin buat deketin si psikopat Vex Noir itu biar leher gue selamat! Gimana dong? Apa gue relakan aja cinta pada pandangan pertama gue tadi? Aish!"
Ia menghela napas berat, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Aish, mana besok harus kuliah pagi lagi! Sialan, udah transmigrasi tetap aja nggak bisa lepas dari ancaman dosen." Sena menarik selimut hingga menutupi dada, mencoba memejamkan mata walau pikirannya masih kacau balau, hingga akhirnya ia tertidur lelap.
Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, berada sebuah ruangan tersembunyi yang terisolasi dari dunia luar. Ruangan itu didominasi oleh warna hitam pekat dan pencahayaan yang sangat minim. Di tengah ruangan, hanya terdapat satu meja kayu jati antik dan sebuah kursi kulit berwarna merah marun.
Di dinding depan meja tersebut, terbentang papan mading raksasa yang dipenuhi dengan foto-foto orang, berkas otopsi, denah lokasi, hingga goresan tinta merah yang saling terhubung. Tempat ini adalah markas rahasia sekaligus ruang perencanaan milik sang jagal tak tersentuh.
Pria yang diselamatkan Sena di basement tadi kini sedang duduk dengan tenang di kursi kulit tersebut. Kemeja putihnya yang berlumuran darah telah berganti dengan kemeja hitam yang sangat rapi. Kain syal milik Sena yang tadi terikat di pinggangnya kini tergeletak di atas meja.
Pria ini tak lain adalah Lucian Voss—sosok nyata di balik nama legendaris yang paling ditakuti di dunia bawah tanah: Vex Noir.
Luka di pinggangnya yang tampak seperti bekas tusukan sebenarnya adalah luka yang sengaja ia goreskan sendiri dengan belatinya beberapa saat sebelum Sena menemukannya. Tidak ada alasan khusus; rasa sakit yang dingin hanyalah salah satu cara Lucian merasakan keberadaannya di tengah kebosanan dunia. Namun, kehadiran gadis asing yang tiba-tiba menariknya ke balik pilar dan bersikap panik setengah mati sungguh di luar prediksinya.
Lucian memutar-mutar gelas berisi wine merah pekat di jemarinya. Sorot matanya yang dingin menatap kain syal lavender di atas meja.
"Perempuan itu... terlalu banyak ikut campur," gumam Lucian dengan suara deep voice-nya yang datar.
Ia meneguk wine-nya perlahan, menyukai sensasi pahit dan hangat yang merayapi tenggorokannya. Iris matanya yang sehitam malam berkilat penuh kekejaman yang tersembunyi. "Apa perlu ku bereskan juga?"
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu yang teratur memecah kesunyian ruangan mencekam itu. Pintu besi tebal berdecit terbuka, memperlihatkan sosok pria bertubuh tegap dengan jas serba hitam dan kacamata berbingkai tipis. Pria itu adalah Edwin, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Lucian selama bertahun-tahun. Edwin adalah satu dari sedikit orang yang mengetahui identitas ganda Lucian sebagai Vex Noir dan sudah sangat terbiasa dengan pemandangan berdarah di tempat itu.
Edwin melangkah masuk dengan tenang, menyilangkan tangan di depan tubuhnya, lalu membungkuk hormat.
"Tuan Lucian, ada laporan penting dari sektor utara. Proyek pengiriman barang kita mengalami kebocoran informasi. Ada pengkhianat di antara tim operasional," panggil Edwin dengan nada bicara yang profesional dan tanpa emosi.
Lucian tidak menunjukkan terkejut sedikit pun. Ia hanya meletakkan gelas wine-nya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi denting halus.
"Bereskan," perintah Lucian singkat, nadanya teramat dingin hingga sanggup membekukan udara di dalam ruangan. "Dan bawa dia ke ruang bawah."
Edwin menundukkan kepala lebih dalam. "Baik, Tuan Vex Noir. Segera dilaksanakan."