Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Pengantin Pengganti
"Bagus kalau begitu!"
Keisya langsung menyapu air matanya dengan kasar, lalu bergegas berlari ke arah pintu kamar rias dan membukanya lebar-lebar. Dengan suara bergetar namun tegas, ia memanggil kembali tim MUA yang sejam lalu sempat ia usir keluar.
Para penata rias dan busana yang tadinya diliputi kebingungan pun langsung menyerbu masuk, dan bekerja dalam kesenyapan yang mencekam atas desakan waktu yang kian menipis.
Proses pergantian gaun berlangsung sangat cepat dan menegangkan. Kebaya merah muda lembut yang dikenakan Aura ditanggalkan, berganti dengan gaun pengantin putih megah bersulam payet emas milik Keisya. Kainnya terasa begitu berat di tubuh Aura, seolah menanggung bobot keputusasaan yang siap menghancurkannya.
Jarum jam terus berdetak tanpa kompromi saat para MUA dengan jemari gemetar mengubah tatanan rambut dan riasan wajah Aura agar cocok dengan gaun pengantin tersebut.
Sementara itu, Aura hanya bisa duduk mematung di depan cermin yang besar. Tatapannya kosong, menatap pantulan dirinya yang perlahan berubah menjadi sesosok pengantin asing.
Hatinya berteriak histeris, menjeritkan nama Farhan dan meratapi takdir yang direnggut dalam hitungan menit. "Kenapa?". Namun di balik gaun pengantin yang membelenggu itu, Aura memutus suara hatinya dan memilih pasrah demi kehormatan keluarganya.
Selesai merapikan veil transparan di kepala Aura, Keisya menyelinap keluar lewat pintu belakang hotel dalam keheningan, dan menghilang bersama rahasia gelap yang ditinggalkannya.
Sementara itu, di ballroom utama yang disulap menjadi area akad nikah, nuansa kebahagiaan begitu terasa. Fadil berdiri tegap di dekat pelaminan, dengan mengenakan beskap putih yang elegan.
Wajahnya yang tampan memancarkan rona bahagia saat ia mengobrol tipis bersama sanak keluarga dan teman-temannya. Hari ini adalah hari impiannya, hari di mana ia akan mengikat janji suci bersama Keisya, wanita yang dicintainya.
Di sudut lain ruangan, Kirana mulai dilanda gelisah. Ia berulang kali menatap jam tangan dan pintu keluar-masuk koridor VIP. Aura yang ditugaskan memeriksa Keisya belum juga kembali, padahal penghulu dan saksi sudah duduk rapi di meja akad.
"Aura ke mana, sih? Memeriksa baju saja lama sekali," gumam Kirana pada dirinya sendiri.
Saat Kirana baru saja melangkah beberapa tindak untuk menyusul ke kamar rias, riuh bisik-bisik dari ratusan tamu undangan mendadak bergema di seluruh ruangan. Seluruh pandangan mengarah pada karpet merah di pintu masuk, karena calon pengantin wanita telah tiba.
Decak kagum dan pujian menyeruak di antara para tamu. Wanita di balik veil putih itu terlihat sangat anggun dan mempesona, melangkah pelan dengan gaun mewahnya. Namun, ketegangan hebat justru membeku di area depan pelaminan.
Fadil yang tadinya tersenyum lebar mendadak mengernyitkan dahi saat sosok pengantin itu semakin mendekat. Matanya menangkap detail wajah di balik kain halus tersebut yang ternyata itu bukan Keisya. Tapi itu Aura!
Kirana yang berdiri tak jauh dari sana pun ikut terpaku, dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Tanpa membuang waktu, Kirana langsung menghampiri Aura dan menarik pelan tangan putrinya ke sudut yang agak terpisah dari pandangan langsung para tamu.
"Aura, apa ini?! Kenapa kamu yang pakai gaun pengantin?!" bisik Kirana dengan napas memburu dan raut wajah yang penuh tanda tanya besar.
Aura menundukkan kepalanya, air matanya tak sanggup lagi ditahan hingga menetes membasahi veil-nya. "Kakak menghilang, Ma... Katanya Kakak gak bisa ngelanjutin pernikahan ini..." balas Aura dengan setengah berbisik dan sarat akan luka.
Kirana tercengang hebat. Wajahnya seketika pucat pasi, tubuhnya gemetar menahan guncangan berita yang teramat tiba-tiba itu.
Melihat ekspresi calon mertuanya yang berubah drastis dan tidak baik-baik saja, Fadil mahasiswa segera melangkah mendekat. Ia tetap menjaga gestur tubuhnya agar terlihat tenang dan santai di mata para tamu, tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.
"Aura, ada apa ini? Mana Kak Keisya?" tanya Fadil saat sudah berdiri di hadapan mereka. Fadil sejatinya memang sudah sangat akrab dengan Aura dan menganggapnya seperti adik kandung sendiri.
"Fadil, tolong tenang dulu... Kita bicarakan ini baik-baik," potong Kirana panik, dan berusaha menutupi kepanikan di wajahnya.
Fadil lantas menatap Kirana dan Aura secara bergantian. Raut wajah kedua wanita di hadapannya nampak dipenuhi ketegangan dan duka. Firasat buruk pun mulai menggerogoti pikirannya.
"Ra, di sini banyak tamu..." bisik Fadil lagi, seraya menatap mata Aura yang sembap. "Katakan pada Mas, apa yang sebenarnya terjadi?"
Glek!
Aura menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa menyempit, namun ia memaksakan berkata, "Kak Keisya pergi, Mas Fadil... Katanya dia tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
"Apa?! Apa maksud semua ini?!" suara Fadil tertahan, suaranya bahkan naik satu oktav meski masih dalam nada berbisik.
"Aura gak bisa menjelaskan semuanya sekarang... Tapi Kak Keisya pesan, Aura yang harus menggantikan Kak Keisya jadi pengantin," lanjut Aura lirih.
"Apa?!"
Fadil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urah marah membakar dadanya, namun posisi dan ratusan pasang mata di ruangan itu mengikat jemarinya untuk tidak meluapkan emosi.
"Apakah pengantin wanitanya sudah siap? Silakan duduk di meja akad," panggil Pak Penghulu melalui mikrofon yang bergema tipis di ruangan.
Suara itu menyentak Aura, Kirana, dan Fadil seketika. Mereka bertiga pun hanya mematung di tempat dalam beberapa saat.
Melihat mereka bertiga berdiri kaku dan tak kunjung mendekat, Wijaya yang tak lain ayahnya Aura, bersama orang tua Fadil melangkah mendekat dengan dahi yang berkerut heran.
"Ada apa ini? Kenapa belum duduk?" tanya Wijaya heran.
Di bawah tekanan situasi yang makin terdesak, Aura akhirnya menceritakan secara singkat bahwasanya Keisya telah pergi dan memintanya menjadi pengantin pengganti.
Meski alasan utamanya disembunyikan demi menjaga nama baik, kenyataan bahwa Keisya melarikan diri tetap membuat keluarga besar terpukul hebat.
Fadil pun menolak tegas ide gila tersebut. "Gak bisa, Om! Ini tidak masuk akal! Saya menikah dengan Keisya, bukan Aura!"
"Fadil, dengarkan Papa," potong ayah Fadil dengan suara berbisik namun penuh penekanan. "Di sini ada ratusan tamu, mitra bisnis, dan media! Jika pernikahan ini batal sekarang, nama baik keluarga kita hancur bertaburan! Bisnis kita bisa kena dampaknya!"
"Tapi Pa, ini Aura! Dia adik Keisya, dan dia punya kehidupannya sendiri!" protes Fadil dengan amarah yang tertahan di dadanya.
"Tidak ada pilihan lain, Fadil!" tambah ibunda Fadil sambil mengusap air mata penyesalannya. "Daripada kita semua menanggung malu seumur hidup, biarkan Aura menggantikan posisi Keisya hari ini. Tolong, jaga kehormatan keluarga kita."
Fadil mengepalkan tangan, lalu menatap Aura yang berdiri pasrah dengan derai air mata di balik cadar tipisnya. "Sial!," umpatnya dalam hati.
Tidak ada jalan keluar untuk bisa menghindar dari situasi ini. Hingga, dengan hati yang bergemuruh berat dan amarah yang tertahan, Fadil akhirnya mengangguk pelan.
Dengan langkah kaki yang serasa memikul beban tonan, Fadil dan Aura akhirnya berjalan menuju meja akad. Di hadapan penghulu dan ratusan saksi mata yang tak tahu-menahu, ijab kabul pun diucapkan, mengikat dua insan yang terperangkap dalam pengorbanan dan keputusasaan.
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣