Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Bernapas Sekali Lagi
Ekaterina
Aku melihat Viktor membaringkan Lis di ranjang dengan kehati-hatian yang meluluhkanku dari dalam.
Dia menyelimutinya perlahan, membetulkan selimut lebih dari sekali, seakan takut hal terkecil pun bisa melukainya.
Ketika akhirnya dia menjauh, dia berdiri beberapa detik memandangi Lis.
Lalu menatapku.
Tatapannya menembusku seutuhnya.
Ini bukan Viktor yang biasa.
Tidak dingin.
Tidak angkuh.
Dia... penuh perhatian.
Seolah benar-benar melihatku untuk pertama kalinya.
Dia menghampiriku.
Tanpa terburu-buru.
Tanpa kekasaran yang kuduga akan kudapatkan darinya.
Matanya menyusuri wajahku yang terluka dengan kehati-hatian yang berlebih, seakan setiap bekas luka adalah sesuatu yang tak bisa dia terima.
Dan itu membuatku tak nyaman.
Karena aku tak tahu bagaimana menghadapi kelembutan yang datang darinya.
Dia menggenggam tanganku.
Dan sentuhan itu mengingatkanku, untuk satu detik yang kejam, bahwa aku masih hidup.
Dia menuntunku menyusuri koridor dalam diam menuju kamar lain.
Dan aku mengikutinya.
Tanpa tenaga untuk melawan.
Tanpa tenaga untuk berpura-pura berani.
Dia menyuruhku duduk.
Aku duduk.
Seolah tubuhku bukan lagi milikku.
Dia menghilang beberapa detik.
Dan aku tinggal di sana.
Mendengar jantungku sendiri berdetak terlalu keras.
Masih merasakan leher yang nyeri.
Masih merasakan seluruh tubuhku waspada, seakan sesuatu bisa terjadi lagi kapan saja.
Lalu dia kembali.
Dengan kotak obat.
Dan sekadar kenyataan bahwa dia sedang merawatku meluluhkanku dengan cara yang menyakitkan.
Dia membuka kotak itu tanpa berkata apa-apa.
Mendekat.
Lalu mengangkat wajahku dengan kelembutan yang tak sesuai dengan pria yang kukenal.
Ketika antiseptik menyentuh bibirku, perihnya membuatku memejam kuat-kuat.
Aku menahan napas.
Berusaha tak menunjukkan kelemahan.
Tapi gagal.
Suara lirih lolos dariku.
Dan itu membuatku makin membenci apa yang terjadi padaku.
Karena aku tak ingin jadi orang yang hancur seperti ini di hadapannya.
Aku tak ingin membutuhkannya.
Tapi aku membutuhkannya.
Dia sepenuhnya fokus padaku.
Seolah tak ada hal lain yang ada.
Seolah seluruh dunia berhenti di kamar kecil itu.
Dan itu membuatku lebih takut daripada rasa sakit fisik apa pun.
Karena terlalu intim.
Terlalu berbahaya.
Ketika dia selesai membersihkan luka itu, akhirnya aku menemukan suaraku.
Lemah.
Bergetar.
"Jangan bunuh Alfredo."
Udara berubah.
Aku merasakannya.
Aku melihatnya.
Tubuhnya mengeras sesaat.
Dan aku melanjutkan sebelum rasa takut menghentikanku.
Kugenggam tangannya erat, nyaris putus asa.
"Kumohon..."
Suaraku pecah.
Air mata kembali tanpa meminta izin.
"Dia memang keparat... tapi dia tetap ayahku."
Kata "ayah" itu keluar seperti luka yang menganga.
Seharusnya aku tak memohon hal ini.
Tidak setelah apa yang dia lakukan.
Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang masih belum tahu cara berhenti peduli.
Viktor menarik napas dalam-dalam.
Berat.
Terkendali.
Seakan menahan sesuatu di dalam dirinya yang ingin meledak.
Lalu dia menarikku.
Dan seharusnya aku melawan.
Seharusnya aku menjauh.
Seharusnya aku ingat siapa dia.
Tapi aku tak bisa.
Karena aku terlalu lelah.
Dan aku ambruk ke dadanya.
Seutuhnya.
Hancur.
Kehangatan tubuhnya menyelimutiku, dan untuk beberapa detik, napasku mulai melambat.
Ini bukan kedamaian.
Bukan kepercayaan.
Ini hanya... keheningan di tengah rasa sakit.
Kelegaan yang terlalu kecil untuk terasa aman.
Dia menyandarkan dagunya di kepalaku.
Dan suaranya keluar pelan, nyaris berbisik:
"Kau yakin baik-baik saja?"
Dia ragu sesaat.
Lalu menambahkan, lebih tegang:
"Aku tak tahu apa aku perlu membawamu ke rumah sakit... bayinya—"
Kata itu memotongku.
Aku menjauh cepat.
Seakan kata itu menarikku kembali ke kenyataan.
Dadaku mengetat.
"Aku baik-baik saja."
Suaraku keluar lemah.
Tanpa kekuatan.
Tanpa kejujuran.
"Cuma terkejut."
Tapi bahkan aku sendiri tak memercayainya.
Dan ketika aku menatapnya lagi...
dia masih di sana.
Dekat.
Terlalu dekat.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku...
aku tak tahu apakah aku lebih takut pada hal yang melukaiku.
Atau pada kenyataan bahwa, dalam pelukannya...
aku hampir merasa aman.
Viktor menyadarinya seketika.
Tanpa perlu kata-kata.
Hanya dari caraku menjauh darinya... dari tubuhku yang masih terlalu tegang untuk tetap dekat.
Dia menarik napas dalam-dalam, mundur selangkah, dan menunduk sesaat, seakan memaksa dirinya untuk tak melewati batas yang bahkan belum bisa kunamai.
Suaranya keluar lebih pelan dari sebelumnya:
"Anggap saja rumah sendiri."
Dia menunjuk koridor dengan gerakan kepala.
"Ada baju di lemari, kalau kau mau mandi."
Jeda singkat.
"Aku akan ada di ruang tamu. Aku akan memesankan sesuatu untuk kalian makan malam."
"Untuk kalian."
Kata itu menembusku dengan cara yang aneh.
Karena sekarang bukan cuma aku.
Ada Lis juga.
Dan itu mengubah segalanya.
Aku mengangguk perlahan, tanpa sanggup menahan tatapannya terlalu lama.
Tubuhku masih terasa asing di tempatnya sendiri.
Masih kurasakan cengkeraman di leherku, meski cengkeraman itu sudah tak ada lagi.
Masih kurasakan tanah yang goyah di bawah kakiku.
Viktor tak memaksakan apa pun.
Hanya mundur selangkah lagi, seakan benar-benar memberiku ruang.
Lalu keluar dari kamar.
Ketika dia menutup pintu, keheningan kembali dengan kuat.
Tapi kini ini keheningan yang berbeda.
Bukan keheningan kekerasan.
Ini keheningan sesudahnya.
Aku terdiam beberapa detik tanpa tahu harus berbuat apa dengan kedua tanganku.
Kupandangi sekeliling.
Kamar ini terlalu besar untukku.
Terlalu asing.
Terlalu indah untuk orang sepertiku berada di dalamnya.
Lalu akhirnya aku bergerak.
Kuhampiri kamar mandi perlahan, seakan gerakan kasar sedikit pun masih bisa mendatangkan bahaya.
Kukunci pintu karena naluri.
Dan hanya di sana...
ketika benar-benar sendirian...
seluruh tubuhku mulai runtuh.
Tanganku gemetar saat kusandarkan ke wastafel.
Cermin itu memantulkan sosok yang nyaris tak kukenali.
Bibir yang terluka.
Leher yang berbekas.
Mata yang bengkak.
Dan untuk beberapa detik, aku tak sanggup menatap diriku sendiri.
Kualihkan pandangan.
Kutelan tangis yang terus mendesak kembali.
Karena kalau aku mulai sekarang...
aku takkan bisa berhenti lagi.
Di luar, kudengar langkah kaki dari kejauhan.
Viktor di ruang tamu.
Kehidupan terus berjalan di dalam apartemen itu seakan tak terjadi apa-apa.
Tapi di dalam diriku...
segalanya masih hancur.
Aku mandi lama.
Nyaris tanpa suara.
Air hangat mengalir di sekujur tubuhku, dan untuk beberapa detik, kupejamkan mata seakan ini bisa membasuh juga apa yang telah terjadi.
Tapi tak terbasuh.
Leherku masih sakit.
Kulit kepalaku perih di tempat Alfredo menjambak keras.
Kuusap perlahan bagian itu, menarik napas dalam-dalam, mengabaikan perasaan buruk yang terus melekat.
Ketika selesai, aku keluar dari kamar mandi berbalut handuk.
Apartemen itu masih terasa terlalu besar.
Terlalu sunyi.
Kuhampiri lemari pakaian perlahan dan menemukan baju-baju yang tertata rapi.
Baju perempuan.
Tapi juga baju laki-laki.
Seolah ada seseorang di sini yang menjalani kehidupan yang tak kukenal.
Kuambil setelan sweter hitam.
Kebesaran.
Tapi nyaman.
Kupakai saja.
Kupakai juga sepasang kaus kaki.
Kain hangat itu memberiku rasa terlindungi yang aneh, seakan untuk beberapa menit aku bisa berpura-pura semuanya normal.
Ketika aku keluar dari kamar...
kudengar suara kecil.
Familiar.
Tubuhku bereaksi sebelum benakku mengerti.
Lis.
Ketika aku sampai di ruang tamu, kulihat dia duduk di sofa.
Sudah lebih tenang.
Matanya lekat menatap televisi.
Dan menunjuk penuh semangat.
"Itu kartun Peppa, Om Viti!"
Dia menatap Viktor penuh harap.
Dan dia, dengan cara yang tak kuduga akan kulihat...
sedang duduk di sampingnya, benar-benar menyimak.
Tanpa terburu-buru.
Tanpa kesal.
Nyaris... wajar.
Dia menanyakan sesuatu pelan pada Lis.
Dan Lis mengiyakan dengan senyum.
Lalu Viktor mengangkat pandangan.
Dan melihatku.
Sesaat, dia tak berkata apa-apa.
Hanya mengamati.
Seakan memastikan aku masih utuh.
Aku menghampiri mereka perlahan.
Masih merasa tak pada tempatnya di sana.
Lis melihatku dan langsung tersenyum.
Senyum yang ringan.
Polos.
Seakan dunianya kembali normal hanya dengan melihatku di sana.
Dan itu menekan sesuatu di dalam diriku.
Karena duniaku belum kembali.
Dan mungkin takkan kembali dalam waktu dekat...