Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGUASA DEWA NAGA

PENGUASA DEWA NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

"Mo Ling'er! Kau berjanji memberiku tiga tahun!" raungnya seperti harimau yang terluka. "Sekarang baru dua tahun! Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa?!"

Mo Ling'er menyeringai, tersenyum penuh penghinaan.

"Menunggumu? Hmmph!

"Kau tidak pantas!"

Kalimat itu menghantam arena seperti petir.

"Aku dulu buta karena menganggapmu istimewa," kata Mo Ling'er sengaja lantang, biar semua orang mendengar.

"Kau memang Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng, tapi selama enam belas tahun apa yang kau raih?"

"Jiwa Bela Diriku Peringkat Enam! Aku jenius Keluarga Mo, sekaligus jenius nomor satu di antara rekan-rekan di Kota Wushuang! Sementara kau hanya Peringkat Dua, apa hakmu menyuruhku menunggu?

"Hari ini, kau juga hanya sanggup membangkitkan Jiwa Bela Diri diperingkat Dua. Perempuan saja bahkan lebih baik darimu!"

"Dasar sampah!"

Seketika hati Feng Wuchen terasa seperti ditusuk ribuan pisau.

Enam belas tahun kenangan indah mereka terlintas di benaknya. Tawa, senda gurau, janji, kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Satu Bulan Kemudian

"Patriark Yang."

Yu Wanxiong menghentikan langkahnya.

Yang Qingyun dan para tetua Keluarga Yang menoleh.

"Demi hubungan kita selama bertahun-tahun, aku hanya ingin memberi satu nasihat."

Nada Yu Wanxiong terdengar tenang, tetapi maknanya membuat Yang Qingyun mengerutkan kening.

"Belakangan ini, sebaiknya jangan terlalu mudah menyinggung orang."

Yu Wanxiong menatapnya beberapa saat.

"Hari ini kalian hanya kehilangan jalur perdagangan."

"Kalau lain kali..."

Ia tidak melanjutkan.

Yang Qingyun langsung memahami ancaman tersirat tersebut.

Wajahnya semakin gelap.

"Hmph!"

Ia mengibaskan lengan dan pergi tanpa menjawab.

Setelah rombongan Keluarga Yang menghilang, Zhang Han mendekati Yu Wanxiong.

"Ketua Paviliun..."

"Apakah Feng Wuchen benar-benar ingin menghancurkan Keluarga Yang?"

Yu Wanxiong terdiam.

"Aku tidak tahu."

"Tapi satu hal pasti."

Ia menatap ke arah pintu.

"Memutus jalur perdagangan mungkin baru langkah pertamanya."

Zhang Han merasakan tengkuknya dingin.

Beberapa waktu lalu, ia masih berani memanggil Feng Wuchen sampah.

Sekarang setiap kali nama pemuda itu disebut, ia justru takut memikirkan apa yang akan terjadi jika nyawanya benar-benar dibiarkan begitu saja.

"Jangan terlalu banyak mencari tahu."

Yu Wanxiong memperingatkan.

"Kalau kau masih ingin hidup, lakukan saja apa yang diperintahkan."

Zhang Han cepat-cepat mengangguk.

Kabar mengenai Keluarga Yang yang kehilangan berbagai mitra dagang terus menjadi pembicaraan utama Kota Wushuang.

Namun tidak seorang pun menemukan jawaban pasti.

Sebagian mencurigai Keluarga Feng.

Tetapi dugaan itu segera dianggap tidak masuk akal.

Hubungan Keluarga Feng dengan Paviliun Wanbao selama ini tidak pernah baik.

Bagaimana mungkin Yu Wanxiong tiba-tiba bergerak hanya demi membantu mereka?

Di Kediaman Keluarga Yang, pertanyaan yang sama juga belum menemukan jawaban.

"Aku tetap merasa ini berhubungan dengan Keluarga Feng."

Seorang tetua berbicara di tengah suasana aula yang suram.

Yang Qingyun menatapnya.

"Feng Zhengxiong tidak memiliki pengaruh sebesar itu."

"Bukan Feng Zhengxiong."

Tetua tersebut berhenti.

"Mungkin Feng Wuchen."

Beberapa orang langsung mengernyit.

"Jangan lupa."

"Sejak mengalami kejadian itu, bocah tersebut mengalami banyak perubahan."

"Kultivasinya melonjak."

"Dia bisa melihat racun dingin Tetua Su."

"Bahkan Yu Wanxiong belakangan ini terlihat berbeda sikap."

Yang Yun tiba-tiba mengangkat kepala.

"Tunggu."

Sebuah kemungkinan terlintas di pikirannya.

"Bagaimana kalau orang yang sebenarnya berada di belakang Feng Wuchen adalah Tetua Su?"

Suasana langsung hening.

Yang Qingyun menyipitkan mata.

Masuk akal.

Tetua Su memiliki kedudukan tinggi di Akademi Tianyan.

Jika Feng Wuchen meminta bantuannya setelah menyelamatkan nyawanya, Paviliun Wanbao tentu memiliki alasan untuk memberikan wajah.

Semakin dipikirkan, semakin masuk akal.

Yang Qingyun menggertakkan gigi.

"Masih ada setengah bulan."

Tatapannya berubah dingin.

"Begitu hari duel tiba..."

"Biarkan Tiansen menghabisinya di atas panggung."

Waktu berlalu.

Tanpa terasa, satu bulan yang dijanjikan hampir berakhir.

Kota Wushuang mulai membicarakan duel antara Feng Wuchen dan Yang Tiansen hampir setiap hari.

Yang Tiansen merupakan jenius nomor satu generasi muda Keluarga Yang.

Sebelum mengasingkan diri, ia sudah berada di puncak Tingkat Delapan Alam Tempa Tubuh.

Sementara Feng Wuchen—

sebulan lalu masih dianggap sampah.

Namun dalam beberapa hari, ia melompat dari Tingkat Empat ke Tingkat Enam, lalu mengalahkan Yang Xuan yang berada satu tingkat di atasnya.

Tak seorang pun berani lagi menilai duel ini seperti sebelumnya.

Tiga hari sebelum pertarungan, Feng Wuchen duduk santai di halaman bersama Ling Xiaoxiao.

"Kakak Feng."

Ling Xiaoxiao memiringkan kepala.

"Tiga hari lagi."

"Apakah kau yakin bisa mengalahkan Yang Tiansen?"

Feng Wuchen tersenyum.

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Seberapa jauh dia meningkat."

Ling Xiaoxiao terkekeh.

"Kakak Feng terdengar sangat percaya diri."

Feng Wuchen justru balik menatapnya.

"Ngomong-ngomong soal kultivasi..."

Ling Xiaoxiao langsung mengalihkan pandangan.

Feng Wuchen tertawa kecil.

"Belakangan aku hampir tidak pernah melihatmu berkultivasi, tapi auramu terus berubah."

"Kau sebenarnya sedang melatih teknik apa?"

Ling Xiaoxiao tersenyum manis.

"Rahasia."

Feng Wuchen tidak memaksa.

Sudah hampir sebulan gadis itu tinggal di Keluarga Feng.

Hubungan mereka semakin dekat.

Namun mengenai asal-usul Ling Xiaoxiao, Feng Wuchen masih hampir tidak mengetahui apa pun.

Saat itulah Xiao Qingqing datang.

"Chen'er."

"Ibu."

Xiao Qingqing melihat keduanya duduk berdampingan.

Senyum di wajahnya langsung berubah penuh arti.

Ia diam-diam mengacungkan jempol kepada putranya.

Feng Wuchen menghela napas.

"Ibu..."

Ling Xiaoxiao yang memahami isyarat itu malah langsung menunduk.

Pipinya memerah.

Xiao Qingqing semakin senang.

Namun ia segera mengingat tujuan kedatangannya.

"Pertarungan tinggal tiga hari."

Ia duduk di dekat Feng Wuchen.

"Ibu dengar Yang Tiansen mungkin sudah memasuki Alam Pemurnian Qi."

"Itu sangat mungkin."

Feng Wuchen mengangguk.

"Kalau begitu bagaimana?"

"Kau yakin?"

"Kalau dia sudah berada di Alam Pemurnian Qi, pertarungannya memang akan sedikit lebih sulit."

Sedikit?

Xiao Qingqing mengernyit.

"Chen'er, kau sekarang berada di tingkat berapa?"

Feng Wuchen menjawab santai,

"Tingkat Delapan Alam Tempa Tubuh."

Xiao Qingqing membeku.

"Apa?"

"Tingkat Delapan."

"Kapan?!"

"Belum lama."

Xiao Qingqing menatapnya seperti sedang melihat monster.

Sebulan lalu, Feng Wuchen baru Tingkat Empat.

Sekarang...

Tingkat Delapan?

"Empat tingkat dalam sebulan?"

Suaranya hampir berubah menjadi jeritan.

Feng Wuchen mengangguk seperti tidak ada yang aneh.

Mata Xiao Qingqing langsung memerah karena gembira.

"Chen'er..."

"Ibu sudah bilang!"

"Jiwa Bertarung Tingkat Dua itu tidak berarti apa-apa!"

"Kau jauh lebih hebat daripada Mo Ling'er!"

Feng Wuchen tersenyum kecut.

Ling Xiaoxiao justru berkata serius,

"Kakak Feng memang jenius."

Xiao Qingqing langsung mengangguk setuju.

"Benar!"

Ia tidak bertahan lebih lama.

Kabar seperti ini harus segera disampaikan kepada Feng Zhengxiong.

Melihat ibunya bergegas pergi, Feng Wuchen menggelengkan kepala.

"Sepertinya malam ini seluruh keluarga akan tahu."

Ling Xiaoxiao menutup mulut menahan tawa.

Tiga hari berlalu.

Hari duel akhirnya tiba.

Sejak pagi, pusat Kota Wushuang sudah dipadati lautan manusia.

Panggung pertarungan yang biasanya luas kini dikelilingi orang dari segala arah.

Keluarga Mo.

Keluarga Lin.

Keluarga Feng.

Keluarga Yang.

Hampir semua kekuatan utama Kota Wushuang hadir.

Di atas panggung, seorang pemuda berdiri dengan tangan di belakang punggung.

Yang Tiansen.

Aura Qi Sejati mengelilingi tubuhnya tanpa disembunyikan.

"Tingkat Satu Alam Pemurnian Qi!"

Seseorang berseru.

"Dia benar-benar berhasil!"

"Kalau begitu Feng Wuchen dalam bahaya."

"Alam Tempa Tubuh tidak bisa menggunakan Qi Sejati. Perbedaannya terlalu besar."

Sebagian lainnya justru tidak buru-buru mengambil kesimpulan.

"Jangan lupa Feng Wuchen."

"Satu bulan lalu siapa yang menyangka dia bisa mengalahkan Yang Xuan?"

"Benar. Kita bahkan belum tahu kultivasinya sekarang."

Yang Qingyun duduk di area Keluarga Yang dengan wajah dingin.

Sementara Feng Zhengxiong dan keluarga lainnya sudah hadir.

Namun satu orang belum terlihat.

Feng Wuchen.

Yang Tiansen membuka mata.

"Patriark Feng."

Ia tersenyum mengejek.

"Jangan bilang putramu takut datang."

Feng Zhengxiong tetap tenang.

"Dia akan datang."

Yang Qingyun mencibir.

"Aku hanya takut dia sadar dirinya tidak punya peluang menang."

Saat itulah sebuah suara terdengar dari arah kerumunan.

"Siapa yang bilang dia tidak punya peluang?"

Semua kepala menoleh.

Kerumunan perlahan membuka jalan.

Feng Wuchen berjalan datang dengan langkah santai.

Ling Xiaoxiao berada di sisinya.

Satu berpakaian sederhana namun penuh ketenangan.

Yang satunya lagi begitu cantik hingga langsung menarik perhatian hampir seluruh pemuda di sekitar.

"Feng Wuchen!"

"Dia datang!"

"Kenapa aku tidak bisa merasakan tingkat kultivasinya?"

Yang Qingyun langsung menyipitkan mata.

Tidak ada Qi Sejati.

Berarti Feng Wuchen belum memasuki Alam Pemurnian Qi.

Senyum dingin muncul di wajahnya.

Ia mendekati Yang Tiansen dan berbisik,

"Kalau ada kesempatan..."

"Bunuh dia."

Yang Tiansen tersenyum kejam.

"Ayah tenang saja."

"Selama dia naik ke panggung, dia tidak akan turun dengan tubuh utuh."

Feng Wuchen sudah sampai di dekat keluarganya.

"Chen'er."

Feng Zhengxiong memegang bahunya.

"Hati-hati."

"Yang Tiansen benar-benar sudah memasuki Alam Pemurnian Qi."

Feng Wuchen mengangguk.

"Aku tahu."

Tidak ada kegugupan sedikit pun di wajahnya.

Ia melangkah naik.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu berhenti tepat di hadapan Yang Tiansen.

Yang Tiansen memperhatikannya dari atas ke bawah.

"Feng Wuchen."

"Satu bulan lalu kau sangat percaya diri."

"Sayangnya..."

Qi Sejati mulai berkumpul di tubuhnya.

"...kau tetap lambat."

Feng Wuchen menatapnya datar.

Yang Tiansen menyeringai.

"Hari ini kau akan mati di atas panggung ini."

Sudut bibir Feng Wuchen justru terangkat.

"Membunuhmu?"

Ia menggeleng.

"Tidak."

Tatapan Feng Wuchen perlahan berubah dingin.

"Aku tidak akan memberimu kematian semudah itu."

Ia melirik kedua kaki Yang Tiansen.

"Kau menantangku karena ingin membalas Yang Bufan dan Yang Xuan, bukan?"

"Kalau begitu..."

Feng Wuchen mengepalkan tangan.

"Hari ini aku akan mematahkan kedua kakimu."

"Supaya seluruh Keluarga Yang mengingat satu hal."

Tatapannya bertemu langsung dengan Yang Tiansen.

"Jangan pernah mengusik orang yang kalian sendiri tidak bisa tanggung akibatnya."

......................

Bersambung...

1
Ed Troivan
Lanjutkan thorku 🤭
Ed Troivan
lanjutkan thorku😊🤭💪
Ed Troivan
lanjut
Ed Troivan
Shuuuyyyt👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!