Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang Menantu Jadi Tuntutan Ibu Mertua
Kini jalanan kota yang sebelumnya lengang kini mulai dipadati kendaraan. Suara klakson sesekali terdengar dari berbagai arah, berpadu dengan deru mesin kendaraan yang memenuhi jalan.
Raya tetap fokus mengemudi. Kedua tangannya menggenggam setir dengan tenang.
.
.
Tanpa terasa, dua puluh menit berlalu.
Mobil yang dikendarai Raya akhirnya memasuki pelataran kediaman Alistair. Ia memperlambat laju kendaraan sebelum menghentikannya di tempat yang biasa digunakan untuk memarkir mobil.
Raya mematikan mesin, mengambil tasnya, lalu turun dari kendaraan.
Ia menutup pintu mobil dan segera berjalan menuju rumah tanpa banyak berpikir. Langkahnya cukup cepat karena ia masih mengingat rapat yang akan berlangsung pagi ini.
Begitu sampai di depan pintu, Raya mengangkat tangan dan hendak mengetuk.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh permukaan pintu—
Krek.
Pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam.
Raya terdiam. Tatapannya langsung tertuju kepada sosok pria yang berdiri di balik pintu.
Untuk beberapa detik, ia hampir tidak mengenali atasannya sendiri.
Kansa yang biasanya selalu terlihat rapi dan penuh wibawa kini tampak begitu berantakan. Celemek hello Kitty masih terikat di pinggangnya, wajahnya tampak sedikit kotor, sementara beberapa plester melilit jari-jarinya.
Raya mengerjapkan mata beberapa kali.
‘Apa yang sebenarnya dia lakukan?’
“Anda tidak apa-apa, Pak?” tanyanya sambil memperhatikan tangan Kansa.
“Saya baik-baik saja,” jawab Kansa singkat. Ia kemudian bergeser untuk memberi jalan. “Silakan masuk.”
Raya baru hendak melangkah ketika Kansa kembali bersuara.
“Tapi, kenapa dengan mata kamu, Raya?”
Langkah Raya terhenti. Ia spontan mengalihkan pandangan ke arah lain.
‘Pasti sembabnya belum hilang.’
Raya berusaha bersikap biasa sebelum kembali menatap atasannya.
“Saya tidak apa-apa, Pak. Mata saya kelilipan sabun jadi begini deh.”
Kansa tampak mengangguk. tatapannya masih memandangnya, tetapi Raya segera mengalihkan pembicaraan.
“Pak, sekarang sudah jam setengah tujuh. Jam delapan nanti kita ada rapat dengan tim desain.”
Kansa tiba-tiba menepuk dahinya.
“Astaga, saya sampai lupa.” Ia segera membuka pintu lebih lebar. “Ayo, masuk.”
Raya mengangguk. “Baik, Pak.”
Ia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Begitu berada di dalam.
“Tolong buatkan makanannya, ya?” pintanya.
Raya kembali mengangguk. “Baik, Pak.”
Tanpa banyak bertanya, Raya langsung berjalan menuju dapur.
. . .
Sesampainya di sana, ia meletakkan tasnya di salah satu tempat yang aman, kemudian mulai mempersiapkan diri. Rambutnya yang sejak pagi dibiarkan terurai diikat ke belakang menggunakan sumpit yang ditemukannya di dapur.
Setelah itu, jas formal yang dikenakannya dilepas dan disampirkan di sandaran kursi. Ia menggulung lengan kemeja putihnya hingga melewati siku agar lebih leluasa bergerak.
Raya memandang sekeliling dapur sejenak.
Kemudian, ia mulai mencari bahan makanan yang bisa digunakan untuk menyiapkan sarapan bagi Syila.
Sementara itu, Kansa berdiri di ambang pintu dapur. Pandangannya tertuju pada Raya yang sedang sibuk menyiapkan bahan makanan.
Gerakan tangan perempuan itu terlihat terampil. Sesekali Raya membuka lemari, mengambil beberapa bahan, lalu kembali menyiapkannya di atas meja tanpa terlihat kebingungan.
Kansa memperhatikannya beberapa saat.
Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
‘Sepertinya dia memang pandai mengurus banyak hal.’
Ia mengalihkan pandangan, lalu berbalik meninggalkan dapur.
.
.
Beberapa saat kemudian, aroma masakan mulai memenuhi dapur. Raya akhirnya menyelesaikan semua hidangan yang disiapkannya. Ia memilih makanan yang menurutnya cocok untuk anak perempuan seusia Syila, lalu menatanya dengan rapi ke dalam beberapa wadah.
Baru saja Raya selesai menutup wadah terakhir, suara langkah sepatu pantofel terdengar dari arah ambang pintu.
Raya menoleh.
Kansa berdiri di sana dengan pakaian yang sudah lebih rapi dibandingkan sebelumnya.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Raya mengangguk sambil menunjuk hidangan yang telah tertata.
“Sudah, Pak. Saya juga memasak untuk bekal sarapan kita berdua. Maaf kalau saya lancang.”
Kansa menggeleng kecil.
“Tidak masalah. Ayo, kita berangkat sekarang.”
Raya kembali mengangguk. “Baik, Pak.”
Ia segera memasukkan wadah-wadah makanan tersebut ke dalam paper bag. Setelah memastikan semuanya tertata dengan baik, Raya mengambil tas dan jas formalnya.
Ia kemudian berjalan meninggalkan dapur bersama Kansa menuju pintu keluar.
. . .
Setibanya di luar, Raya berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu pengemudi, kemudian masuk dan duduk di balik kemudi.
Sementara Kansa masuk ke kursi penumpang di sebelahnya.
Raya memasang sabuk pengaman, lalu meletakkan kedua tangannya di atas setir. Namun, sebelum menyalakan mesin, ia terdiam beberapa saat.
Sejak tadi ada perasaan aneh yang mengusik dadanya.
‘Kenapa aku gelisah banget, ya?’
Raya mengerutkan kening. Ia mencoba menepis pikiran tersebut dan tidak ingin memikirkan sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti.
“Sudahlah,” gumamnya pelan.
Raya segera menyalakan mesin. Kemudian menjalankan mobil secara perlahan hingga meninggalkan halaman rumah tersebut.
. . .
Sepanjang perjalanan, Raya berusaha memusatkan perhatian pada jalan di hadapannya. Namun, rasa gelisah yang sejak tadi muncul masih terasa menyelimutinya.
‘Fokus, Raya.’
. . .
Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Raya akhirnya memasuki area gedung perusahaan.
Beberapa kendaraan karyawan sudah memenuhi area parkir, sementara satu per satu orang mulai memasuki gedung dengan langkah tergesa.
Raya memperlambat laju mobil sebelum akhirnya berhenti di salah satu sisi pelataran. Saat ia hendak mematikan mesin, ketika tanpa sengaja pandangannya tertuju pada wanita yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk gedung.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi berdiri sambil menatap ke arahnya.
Raya langsung mengenalinya.
‘Ibu mertua mau apa datang ke sini?’
Raya segera melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Ia keluar, meninggalkan Kansa yang masih berada di dalam mobil.
Ia melangkah mendekat ke arah ibu mertuanya, lalu berhenti beberapa meter dari wanita paruh baya itu.
“Bu…”
Bu Riana tampak berjalan mendekat dengan wajah penuh amarah. Bahkan sebelum Raya sempat bertanya, wanita itu sudah melontarkan omelan terhadapnya.
“Dasar menantu nggak tahu diri! Menantu durhaka!” hardik Bu Riana.
Raya terdiam, tatapannya tak lepas dari wanita paruh baya itu.
“Kenapa kamu nggak transfer uangnya? Ibu ada arisan jam sepuluh nanti!”
Raya menatap ibu mertuanya dengan wajah datar. Jika dulu mendengar bentakan seperti itu saja sudah membuatnya gugup, kini perasaannya jauh lebih tenang.
“Kan sudah aku katakan semalam, Bu. Mulai sekarang aku nggak akan kasih kecuali kebutuhan mendesak, jadi minta saja sama Mas Zevan atau sama Rara,” jawab Raya dingin. “Jangan minta ke aku terus, Bu.”
Mata Riana membulat. “Kamu ... kamu sudah berani melawan saya sekarang? Lagian uang mu itu juga milik Zevan.”
“Ibu nggak salah ngomong kayak gitu?” tanya Raya memastikan.
“Ya enggaklah, ngapain harus salah ngomong.”
Raya tidak bergeming.
“Saya laporin kamu ke atasanmu biar kamu dipecat!” ancam Bu Riana sambil menunjuk wajah Raya.
Raya justru mengangkat dagunya sedikit.
“Laporin aja,” balasnya tanpa gentar. “Aku juga bisa laporin balik karena pemaksaan dan ancaman.”
Ucapan itu membuat suasana di antara mereka seketika menegang.
“Ya ampun, Zevan, putraku… sungguh malang nasibmu, punya istri yang durhaka begini.”
Raya sadar jika banyak orang yang mulai mengarahkan pandangannya ke arahnya.
“Bu, mau sampai kapan begini?” tanya Raya. “Nggak ada gunanya, Bu. Justru akan membuat Ibu jadi malu.”
Wanita paruh baya itu berhenti merengek sebelum akhirnya menatapnya.
Raya dapat melihat perubahan pada ekspresi wajah ibu mertuanya. Rahang wanita itu mengeras, matanya menatapnya tajam, sementara tangannya perlahan terangkat.
Raya menyadari apa yang hendak dilakukan wanita itu.
Tangannya bahkan mulai terarah kepadanya.
Refleks, Raya memejamkan mata dan menahan napas. Ia sudah siap menerima tamparan itu.
Namun, beberapa detik berlalu. Tamparan yang ditunggunya tidak kunjung mendarat.
Perlahan, ia membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.
Hal pertama yang terlihat adalah tangan ibu mertuanya yang kini tertahan kuat oleh tangan seseorang.
Raya lalu menoleh ke arah samping. Jantungnya seketika berdegup lebih cepat.
‘Pak Kansa...?’