Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Idiot Sang Jenderal

Istri Idiot Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:937k
Nilai: 5
Nama Author: Lunoxs

Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IISJ Bab 34 - Biar Adil

Daddy Davion tidak ingin membuat istrinya semakin cemas. Setelah mendengar seluruh cerita Aluna, pria itu segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja. "Aku akan menghubungi Ethan sekarang," ucap Daddy Davion.

Aluna mengangguk pelan. "Katakan semuanya, Dad. Ethan harus berhati-hati."

Dad Davion kemudian mencari nama putranya di dalam daftar kontak. Tidak membutuhkan waktu lama sebelum panggilan tersebut tersambung.

"Halo, Dad," jawab Ethan yang baru saja menyelesaikan sarapannya bersama Ashlyn. Saat ini Ethan sudah berada di ruang kerjanya. Nada suara Ethan terdengar seperti biasa, tenang dan terkendali.

Dan Daddy Davion langsung masuk ke inti pembicaraan. "Ethan, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui tentang Nadine."

"Nadine?"

"Semalam Mommymu datang ke mansion karena Nadine mengatakan kepadanya bahwa kamu terlihat semakin kurus ketika bertemu dengannya."

Ethan terdiam, Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. semua itu jelas akal-akalan Nadine untuk membuat mom Aluna bertemu dengan Ashlyn.

"Tapi setelah bertemu denganmu, Mommy-mu justru melihat kamu baik-baik saja. Bahkan menurutnya kamu terlihat lebih sehat," lanjut Davion. "Karena itu, Mommymu mulai berpikir bahwa Nadine sengaja mengatakan hal tersebut agar dia datang ke mansion."

Ethan mengembuskan napas perlahan, ternyata kecurigaan orang tuanya sama dengan apa yang sejak awal sudah ada di dalam pikirannya.

Ethan masih mengingat dengan jelas bagaimana Nadine berdiri di hadapannya setelah melihat Ashlyn memanggilnya suami. Saat itu Ethan sudah memberikan peringatan yang sangat jelas.

Ia meminta Nadine untuk tidak menyebarkan satu pun informasi mengenai Ashlyn. Namun sekarang Nadine ternyata masih mencoba bergerak di belakangnya.

"Mommy juga mengatakan bahwa Nadine menyuruhnya datang ke mansion, juga melarangnya mengatakan padamu jika semua ini saran dari Nadine," ujar Davion.

"Terima kasih sudah mengatakannya, Dad. Sebenarnya Nadine memang sudah mengetahui tentang Ashlyn. Dia meminta mommy datang ke sini juga pasti tujuannya Ashlyn," balas Ethan panjang lebar, juga menghela nafas tanda malas sekali sebenarnya membahas ini.

Nadine benar-benar terasa seperti benalu bagi Ethan.

"Nadine sudah tahu?" balas dad Davion.

"Iya, Nadine datang ke mansion kemarin."

Mom Aluna yang sejak tadi ikut mendengarkan langsung menatap suaminya. Dad Davion pun memberi isyarat agar Aluna mendengarkan lebih dekat.

"Dia bertemu Ashlyn secara langsung?" tanya Davion.

"Benar."

"Lalu apa yang kamu katakan?"

"Aku bilang Ashlyn adalah istriku."

"Astaga," balas Daddy Davion, sementara mom Aluna menutup mulutnya yang ternganga.

"Aku sudah memperingatkannya dengan tegas agar tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun, tapi dia malah memancing mom Aluna untuk datang ke sini," timpal Ethan.

Ia tidak terlalu peduli jika Nadine ingin marah atau kecewa kepadanya. Namun yang membuatnya tidak tenang adalah satu hal, yaitu Ashlyn.

Ethan tidak ingin masalah antara dirinya dan Nadine menyeret gadis itu.

"Dad, Aku tidak ingin kita melakukan sesuatu yang justru membuat Nadine semakin nekat," ujar Ethan akhirnya.

"Apa maksudmu?" tanya Davion.

"Untuk sementara, Daddy dan Mommy harus berpura-pura tidak tahu apa pun."

Aluna yang mendengar itu langsung mengerutkan kening.

"Anggap saja Mommy tidak pernah datang ke mansion semalam," ucap Ethan lagi.

Davion terdiam, kemudian memahami maksud putranya. "Baiklah," balas Daddy Davion.

Mom Aluna pun mengangguk kecil tanda setuju, daripada memikirkan Nadine mereka memang harus lebih memperdulikan Ashlyn. Mom Aluna bahkan sudah berniat mengirim pesan pada Nadine, mengatakan bahwa ia urung mendatangi mansion Ethan.

"Ashlyn tidak akan mengerti apa yang sedang terjadi. Dia tidak tahu siapa Nadine, tidak tahu apa masalahnya, bahkan mungkin tidak akan menyadari jika seseorang sedang mencoba menyakitinya," jelas Ethan lagi.

Mom Aluna kembali menganggukkan kepalanya setuju. Membayangkan Ashlyn yang polos itu berada dalam bahaya membuat hatinya kembali pilu.

Davion mengangguk. "Baik. Untuk sementara kami akan mengikuti rencanamu."

"Terima kasih, Dad."

Panggilan akhirnya berakhir, namun belum sempat Ethan meletakkan ponselnya di meja sebuah panggilan kembali masuk.

Nama Sander muncul di layar dan Ethan langsung mengangkatnya. "Ada apa?"

"Jenderal, aku baru saja mendapatkan laporan."

"Apa?"

"Ada seseorang yang sejak kemarin mencari informasi mengenai Nona Ashlyn di wilayah perbatasan."

Tatapan Ethan seketika berubah tajam. "Siapa?"

"Kami sudah memastikannya, orang itu merupakan utusan nona Nadine."

Rahang Ethan mengeras.

Jadi benar.

Nadine tidak berhenti hanya dengan datang ke mansion dan bertemu Ashlyn. Setelah diperingatkan olehnya, wanita itu masih mengirim seseorang ke perbatasan untuk mencari informasi tentang Ashlyn.

"Sander."

"Ya, Jenderal."

"Jangan biarkan dia mendapatkan informasi lebih jauh."

"Dimengerti, Jenderal."

Panggilan itu berakhir. Ethan menurunkan ponselnya perlahan dengan tatapan yang berubah dingin.

Nadine jelas tidak berniat berhenti, namun Ethan juga tidak akan membiarkannya mendekati Ashlyn.

Ia menyimpan kembali ponselnya, kemudian meninggalkan ruang kerja. Ada satu hal yang ingin dilakukannya sebelum berangkat menjalankan pekerjaannya hari ini, yaitu memastikan Ashlyn baik-baik saja.

Langkah Ethan membawanya menuju ruang belajar Ashlyn.

Begitu pintu dibuka, Ashlyn yang sejak tadi duduk di depan meja langsung mengangkat wajah. "Suamiku!"

Gadis itu seketika berdiri dan berlari menghampirinya. Namun baru beberapa langkah, Ashlyn seperti teringat pesan gurunya. Ashlyn memperlambat langkah, lalu berjalan dengan lebih tenang sampai akhirnya berhenti tepat di depan Ethan.

Ethan hampir tersenyum melihat perubahan kecil itu. "Ashlyn."

Ashlyn langsung menggenggam tangan Ethan. Tatapannya kemudian turun memperhatikan pakaian sang suami yang terlihat begitu pas di badan Ethan, selalu saja Ashlyn selalu terpesona dengan ketampanan suaminya tersebut.

"Suamiku tampan sekali," ucap Ashlyn begitu saja.

Ethan tak tahu harus menjawab apa, hanya kedua matanya yang berkedip satu kali.

"Suamiku mau kerja ya?" tanya Ashlyn lagi.

Kali ini Ethan mengangguk, "Hm."

Ashlyn terdiam sejenak.

Dulu saat i Ethan hendak meninggalkannya, Ashlyn selalu merengek dan memintanya untuk tidak pergi. Namun sekarang Ashlyn mulai belajar bahwa ketika Ethan mengatakan dirinya pergi bekerja, itu berarti Ethan hanya akan pergi sementara.

Bukan meninggalkannya.

Bukan pergi selamanya.

Ashlyn akhirnya tersenyum. "Kalau begitu pergilah."

Ethan sedikit terkejut. "Tidak mau ikut?"

Ashlyn menggeleng. "Ashlyn akan menunggu di rumah."

Entah kenapa jawaban sederhana itu membuat hati Ethan terasa hangat. Ia mengangkat tangan dan mengusap kepala Ashlyn dengan lembut. "Anak pintar."

Ashlyn tersenyum semakin lebar, dia bahagia sekali. Saat-saat seperti ini terasa menjadi hal paling indah di dalam hidup Ashlyn.

Tanpa aba-aba Ashlyn kemudian berjinjit dan mencium pipi Ethan sekilas.

Cup! "Ini adalah ciuman selamat bekerja, kemarin aku melihat televisi istrinya mencium pipi suaminya saat sang suami pergi bekerja."

"Ehem!" Ethan akhirnya berdehem, menyembunyikan keterkejutan yang ia rasakan dengan jelas. "Kamu menonton televisi dengan siapa?"

"Salah satu pelayan," balas Ashlyn yang masih tersenyum bahagia. "Tadi pipi kanan, sekarang cium pipi kiri juga ya biar adil."

Cup! Cium Ashlyn.

1
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
takut ashlyn kabuuuur nanti kalo tau suntikkan nya bukan suntikan vitamin... jangan kabur yaaa ashlyn.... ethan sama mom aresha mending jujur aja gak sih iiih.. kasih penjelasan kw ashlyn pelan² juga gp² asal jangan di tutupin gt, walaupun demi kebaikan ashlyn... duuuh gemas jadi nya kan😅
Sastri Dalila
🤭😅
Shee_👚
nah kan, apa ashlyn gak kecewa kalau dia tau di suntik menunda kehamilan
harusnya kamu kasih pemahaman dulu jangan maen ambil keputusan tanpa ashlyn tau
Rita
heh kevooo😂
Maminya Thania
pingin ashlyn normal,terlalu lama bloonnya..
Yanti Tami
knp yah ashlyn tdk boleh hamil dlu?
ollyooliver
bisa jadi masalah nih nantinya, soalnya ashlyn kepengen sekali ada anak
Tika
bahagia...terharu..sedih...aaaaaaa
ollyooliver
ashlyn tau gak artinya mencintai?
Tuti Tyastuti
𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘴𝘩𝘭𝘺𝘯 𝘨𝘹 𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘦𝘬
Nurhartiningsih
kalau tahu ashlyn di suntik KB...nnti pasti sangat kecewa
Lina RA
hati2 ethan, jgn sampai jd bumerang bagi dirimu sendiri
Shankara Senja
duh...ini bacaan ya..cuma setarikan nafas...langsung selesai baca nya..
daniah88
iyaa ash ini demi kebaikanmu jugaa , tpi cuma sekali aja y mom n ethan
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
👍👍💪💪💪😍😍😍😍😍😍
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
👍👍👍💪💪💪💪💪😍😍😍😍😍😍
Syavira Vira
lanjut
Riska Baelah
kok aneh iy dng keputusan ethan ini udh tau ashlyn mau puny ank tp kok d gituin,, tp mau buat ank ethan mau,,
semoga aj ashlyn tau trus kabur karn d bohongi sama ethan , pisah gitu biar ethan nyesel,,,,,/Smug/
Pudkeciput
jendral km melanggar Ham dech..
memasang alat kontrasepsi tanpa sepengetahuan pemilik tubuh..
Shee_👚
ko ya aku takut ashlyn tau kalau itu bukan vitamin, dan ujungnya ashlyn kecewa serta kepercayaan pudar😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!