Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang tersampaikan

“Aku nggak pernah cerita detail soal Jenaya karena menurutku itu udah selesai.”

Ardan menarik kursi rias hingga menghadap Naresa yang duduk di sisi ranjang. Ia kemudian duduk di sana, membiarkan jarak di antara mereka tetap dekat meski Naresa masih memalingkan wajah.

“Tapi ternyata belum selesai sepenuhnya, kan?” Naresa akhirnya menatapnya.

Ardan mengembuskan napas perlahan. “Luka lama nggak selalu hilang total, Res. Tapi bukan berarti aku masih hidup di sana.”

Ia mengusap tengkuknya sebentar sebelum kembali meletakkan kedua tangannya di pangkuan. “Waktu di kantor itu, aku marah sama dia. Tapi bukan karena aku mau balikan.”

Naresa menautkan jemarinya di atas pangkuan. “Aku belum pernah lihat kamu segitunya.”

Suasana kamar terasa semakin tenang. Dari balik jendela besar, suara ombak terdengar samar.

“Aku jadi mikir…” Naresa menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “dulu kamu cinta banget, ya, sama dia?”

“Iya.” Ardan menjawab tanpa ragu. “Aku cinta banget sama dia waktu itu.”

Tatapan Naresa bertahan di wajahnya, seakan masih menunggu sesuatu.

“Tapi aku juga udah bukan orang yang sama lagi.” Ardan tersenyum tipis. “Dan cinta aku ke kamu juga bukan cinta yang sama.”

“Bukan?”

“Bukan lebih kecil, bukan lebih besar.” Senyumnya melebar sedikit. “Lebih dewasa.”

Naresa menurunkan pandangan sebentar, lalu kembali menatapnya.

“Aku sama Jenaya waktu itu masih muda. Penuh rencana, penuh ambisi, dan sama-sama keras kepala.” Ardan menghela napas. “Aku pikir cinta aja cukup buat nahan semuanya. Ternyata enggak.”

Tangannya bergerak menggenggam tangan Naresa. “Sama kamu, aku nggak lagi sibuk ngejar masa depan.” Ia menatap Naresa dengan senyum kecil. “Aku cuma pengen pulang.”

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat wajah Naresa kembali berubah. Ada sesuatu dalam cara Ardan mengucapkannya yang membuatnya terdengar bukan sekadar ungkapan romantis, melainkan keputusan yang sudah lama ia yakini.

“Aku takut,” kata Naresa akhirnya.

“Takut apa?”

Naresa mengalihkan pandangan ke luar jendela. Pantai di kejauhan tampak tenang di bawah cahaya bulan.

“Takut suatu hari nanti…” Suaranya mengecil. “Kamu sadar ada hidup lain yang mungkin bikin kamu lebih bahagia.”

Ardan memperhatikannya tanpa menyela.

“Aku nggak takut kamu masih cinta sama dia. Karena kalau memang masih cinta… kamu nggak akan pilih hidup sama aku. Tapi aku takut ada bagian diri kamu yang masih tertinggal di sana.”

Naresa berhenti sejenak. “Aku nggak punya masa lalu kayak Kak Ardan,” ujar Naresa. “Aku nggak pernah punya orang lain sebelum kamu. Aku nggak pernah punya seseorang yang pernah aku cintai sebesar itu lalu hilang.”

Jemarinya perlahan terlepas dari genggaman Ardan. “Jadi kadang aku nggak tahu harus bersaing dengan apa."

Kalimat itu membuat Ardan menarik napas panjang. Bukan karena ia kehabisan jawaban. Justru karena baru kali ini Naresa membiarkan ketakutan itu keluar tanpa berusaha menyembunyikannya.

“Saat aku lihat kamu marah waktu itu…”

Naresa tersenyum kecil, getir. “Aku baru sadar ada versi diri Kak Ardan yang nggak pernah aku kenal.” Tatapannya turun sebentar. “Versi yang pernah sangat kehilangan seseorang.”

“Resa…” Suara Ardan terdengar rendah.

Naresa kembali menatapnya.

“Aku marah bukan berarti aku mau kembali sama dia.” Ardan mengusap ibu jarinya di punggung tangan Naresa. “Aku marah karena dulu aku ditinggal tanpa diberi kesempatan buat memilih.”

Naresa tidak memotongnya.

“Aku cinta sama dia waktu itu. Dan dia pergi begitu aja.” Tawa kecil yang hambar keluar dari bibir Ardan. “Mungkin sebagian diriku masih sakit hati soal itu. Manusia memang kayak gitu.” Ia menatap Naresa lekat-lekat. “Tapi sakit hati dan ingin kembali itu beda.”

Dada Naresa terasa sesak.

Ardan melepaskan genggaman mereka dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menatap istrinya beberapa saat sebelum berkata, “kalau aku mau hidup yang lain, aku nggak akan nikah sama kamu dari awal.”

Naresa mengerjapkan mata pelan.

“Aku tahu kamu takut suatu hari nanti aku akan menyesali pilihan hidup yang kita ambil.” Tatapan Ardan menetap pada wajahnya. “Tapi aku nggak pernah bangun hidup ini setengah-setengah. Aku pilih kamu dengan sadar, Res.”

“Bahkan setelah kamu tahu kita nggak akan punya anak?”

“Iya.”

“Padahal dulu kamu pengen jadi ayah.”

Kali ini Ardan tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke jendela besar di samping mereka. “Menyesal itu risiko semua pilihan hidup.”

Ardan kembali menatapnya. “Tapi aku lebih takut hidup tanpa kamu dibandingkan kemungkinan itu.”

Kalimat itu membuat sesuatu di wajah Naresa melunak. Untuk beberapa saat, ia hanya memperlihatkan Ardan. Baru sekarang ia menyadari betapa lelah lelaki itu setelah percakapan panjang yang sejak tadi ia hadapi tanpa sekalipun menjadikan emosinya sebagai alasan untuk menghindar.

Tangannya terangkat perlahan dan menyentuh tangan Ardan. “Aku percaya sama kak Ardan,” katanya pelan.

Ardan membalas tatapannya.

“Tapi kadang aku belum tentu percaya sama rasa takutku sendiri.”

Ekspresi Ardan melunak.

Naresa tersenyum kecil. “Aku cuma perlu dengar semuanya langsung dari Kak Ardan.”

“Aku tahu.”

“Karena kalau aku diam aja, nanti kepalaku bikin cerita sendiri.”

Ardan kembali menggenggam tangannya. “Kamu nggak harus ngelawan semua pikiran itu sendirian.”

Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dada Naresa, bercampur dengan sisa sesak yang belum sepenuhnya hilang. “Makasih ya, Kak, udah mau cerita.”

Ardan mengangguk pelan. “Kamu istriku.” Genggamannya mengerat sedikit. “Kalau ada yang bikin kamu takut atau overthinking, ya aku jawab."

Naresa menatapnya beberapa saat. Kemudian, tanpa mengatakan apa-apa, ia melepaskan genggaman tangan mereka dan merentangkan kedua tangannya ke arah Ardan.

Senyum Ardan langsung merekah. Ia berdiri dan meraih Naresa ke dalam pelukannya. Tubuh perempuan itu terangkat dari tempat duduknya hingga pekikan kaget lolos begitu saja dari bibirnya.

“Kak!”

Tawa kecil Ardan terdengar di dekat telinganya.

Ia membawa Naresa ke atas kasur dan membaringkan tubuh istrinya perlahan. Tubuhnya ikut menunduk di atas Naresa, tetapi kedua sikunya menopang berat tubuhnya sendiri agar tidak menindih perempuan itu.

Tatapan mereka bertemu dari jarak yang begitu dekat.

Ardan mengusap sisi wajah Naresa dengan lembut. “Aku nggak suka lihat kamu terlalu larut dalam skenario yang kamu buat sendiri,” katanya pelan. “Aku juga nggak suka lihat kamu sedih kayak gini.”

Naresa hanya menatapnya.

“Sekarang kamu nggak sendiri.” Suara Ardan melembut. “Ada aku. Jadi jangan simpan semuanya sendirian lagi, ya.”

1
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
tak tahu
strong women njh ceritanya
tak tahu
ayok kak semangat terus💪 lanjutin ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!