Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.

​Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.

​DOR!

​Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BATAS KESABARAN SANG BOS

​Sebelum pengawal sempat menghadang, Soraya melangkah lebar menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Emosi dan rasa penasaran membakar dadanya—ia yakin betul sempat melihat siluet seorang wanita berdiri di balkon tadi. Siapa wanita yang berani tinggal di mansion kakak lakilakinya yang dingin itu?

​"Soraya! Berhenti!" teriak Haidar dari bawah, suaranya menggelegar dipenuhi amarah yang membuncah.

​Namun, Soraya mengabaikan panggilan kakaknya. Dengan langkah terburu-buru, ia menyusuri lorong dan berhenti tepat di depan pintu kamar utama. Tangannya meraih gagang pintu dan memutarnya, tetapi terkunci dari dalam.

​"Buka pintunya!" seru Soraya seraya menggedor kayu jati tebal itu dengan kasar. Tanpa memikirkan sopan santun, ia memberi isyarat pada salah satu pengawal yang ketakutan di belakangnya. "Buka paksa pintu ini sekarang!"

​"N-Nona Soraya, itu kamar Tuan Haidar—"

​"Aku bilang buka!" bentak Soraya hysteria.

​Pengawal yang berada dalam posisi serba salah akhirnya menendang kait kunci hingga pintu kayu tebal itu terdorong buka dengan dentuman keras. Pintu terbuka lebar, mengeposkan isi kamar utama yang luas.

​Di dalam kamar yang temaram, Elara duduk meringkuk di tepi ranjang besar. Wajahnya sembap, dengan sisa air mata yang masih basah di pipinya. Soraya membeku di ambang pintu, matanya membelalak menatap sosok Elara yang tampak rapuh namun begitu dilindungi di tempat ini.

​"Siapa kau?!" tanya Soraya dengan nada menuduh dan penuh penekanan. "Kenapa kau ada di kamar Kak Haidar?!"

​Elara tersentak kaget, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang seraya mengusap perutnya dengan refleks, menatap wanita asing yang tiba-tiba mendobrak masuk ke dalam ruang pribadinya.

​Belum sempat Elara memproses situasi atau mengucapkan sepatah kata pun, Soraya yang diselimuti amarah membuta langsung merangsek masuk. Dengan kalap, jemarinya menyambar dan menarik kuat rambut Elara, menghempaskan tubuh rentan itu hingga terjatuh keras ke atas lantai marmer yang dingin.

​"Kau jalang sialan yang membuat kakakku bahkan mengusirku!" bentak Soraya hysteria, matanya menyalang penuh kebencian.

​Elara meringis kesakitan, refleks kedua tangannya langsung melingkupi dan memeluk erat perutnya. Rasa nyeri menjalar di siku dan pinggulnya yang membentur marmer, namun ketakutan terbesarnya adalah keselamatan bayi dalam kandungannya. Ia merintih pelan, berusaha meringkuk untuk melindungi perutnya dari potensi serangan berikutnya.

​"Elara!"

​Suara bentakan yang teramat membunuh memecah keheningan lantai dua. Haidar yang baru saja tiba di ambang pintu mendadak membeku menyaksikan pemandangan di depannya. Matanya membelalak sempurna saat melihat calon istrinya tergeletak di lantai, memegangi perutnya dengan wajah meringis menahan sakit.

​Aura kegelapan yang belum pernah terpancar sebelumnya seketika memenuhi seluruh ruangan.

​Tanpa kata, Haidar melangkah cepat dan menyambar lengan Soraya dengan cengkeraman seperti catok besi, melemparkan adiknya sendiri hingga tersungkur jauh ke arah lorong luar kamar.

​"Kau..." suara Haidar bergetar dipenuhi murka yang tak tertahankan, matanya merah memancar ancaman kematian. "Kau baru saja menyentuh calon istriku dan anak dalam kandungannya!"

​Haidar tak memedulikan Soraya yang menjerit kesakitan dan ketakutan di luar. Ia langsung berlutut di samping Elara, menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh gadis itu dan mengangkatnya dengan sangat hati-hati ke atas tempat tidur.

​"Elara... tatap aku," bisik Haidar, suaranya yang biasa dingin kini bergetar cemas saat melihat telapak tangan Elara terus meremas perutnya. "Ada yang sakit? Katakan padaku, di mana yang sakit?!"

1
Ira safitri
sangat bagus 🥰🥰
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!