Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Niat Baik yang Palsu

Pagi itu, setelah menyelesaikan latihan, Levia duduk di teras belakang sambil mengatur napas. Rambutnya diikat tinggi, keringat masih membasahi dahinya. Wajahnya terlihat memerah setelah hampir satu jam berolahraga.

Ia meraih botol air putih yang sudah disiapkan di sampingnya, lalu meneguknya.

"Non."

Levia menoleh, dan melihat Ninis datang membawa nampan. Di atasnya terdapat segelas jus mangga dan beberapa potong kue kecil.

Levia langsung mengernyit. "Ini apa?"

Ninis tersenyum. "Minuman sama camilan buat Nona. Kan habis olahraga. Biar tenaga Nona kembali."

Levia melirik jus dingin dengan tambahan susu kental manis itu. "Lihat gulanya."

Ninis tertawa kecil. "Sedikit aja, Non. Nona tadi olahraga lama banget. Kalau langsung gak makan apa-apa, nanti malah lemes loh."

"Aku sudah minum air putih." Levia mengangkat botol air air putih di tangannya yang isinya tinggal setengah.

Bibir Ninis melengkung, wajahnya tetap ramah. "Tapi air putih gak punya kalori, Non."

"Justru itu," ucap Levia. "Aku sedang diet, jadi gak boleh mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung banyak kalori."

Ninis kembali tertawa kecil seolah menganggap ucapan Levia sebagai lelucon. "Kalau cuma sekali gak bakal bikin berat badan Nona naik."

Levia menggeleng. "Enggak."

"Nona..."

Tak!

Levia meletakkan botol air minum di atas meja sedikit keras dari seharusnya membuat Ninis menghentikan kalimatnya.

"Jangan membujukku." Kali ini Levia bicara dengan nada suara yang terdengar lebih tegas.

Ninis terdiam, ia memegang nampan lebih erat dari seharusnya.

Levia menatapnya beberapa detik. "Mulai sekarang jangan pernah bujuk aku buat makan atau minum yang manis-manis lagi."

Senyum Ninis sedikit menegang. "Kenapa, Non? Aku cuma khawatir."

"Aku tahu." Levia mengambil lagi botol air putihnya. "Tapi aku juga tahu apa yang sedang aku lakukan." Ia menatap nampan tersebut. "Aku sedang berusaha menurunkan berat badan. Jadi tolong jangan membuat aku tergoda."

Ninis mengangguk pelan. "Iya, Non."

Ketika gadis itu berbalik, mata Levia mengikuti punggungnya. Potongan-potongan ingatan kembali muncul.

Ninis yang datang membawa donat, menyodorkan cokelat, yang berkata sedikit makanan manis tidak akan membuatnya gemuk. Ninis yang selalu meyakinkan Levia bahwa makanan tersebut aman. Dan setiap kali Levia menuruti perkataannya... berat badannya semakin bertambah.

Bukan hanya itu. Dalam ingatan yang lebih lama, Ninis juga sering menyelipkan berbagai saran.

"Kalau Kak Vandra dekat dengan perempuan lain, Nona harus nunjukin kalau Nona istrinya."

"Sering-sering tanya kabarnya buat nunjukin kalau Nona perhatian."

"Kalau dia mau pergi, jangan biarkan."

"Kalau dia mau cerai, bikin dia takut kehilangan Nona."

Bahkan ide untuk menjebak Vandra sampai akhirnya pria itu terpaksa menikahi Levia pun berasal dari Ninis.

"Ajaran sesat."

Dulu Levia menerima semua itu sebagai bentuk perhatian seorang sahabat. Namun bagi Vivian yang kini memiliki kesadaran berbeda... semuanya terlihat seperti rangkaian manipulasi yang disusun dengan sangat rapi.

Ninis tidak pernah menyuruh Levia melakukan sesuatu dengan cara kasar. Ia selalu menggunakan kalimat lembut. Seolah-olah semua yang disarankannya demi kebaikan Levia. Padahal hasil akhirnya selalu sama. Levia semakin bergantung padanya.

Semakin terobsesi pada Vandra. Semakin dibenci Vandra. Dan perlahan, semakin jauh dari keluarganya sendiri.

"Manipulatif." Vivian menghela napas. "Pantas saja pemilik tubuh ini gak pernah menyadarinya."

Ninis tidak pernah terlihat seperti musuh. Dia selalu terlihat seperti orang yang paling peduli.

Levia kemudian kembali meminum air putihnya. Namun kali ini tatapannya jauh lebih waspada.

 

Sore hari, Gultom yang baru pulang dari pabrik tekstilnya duduk di ruang keluarga.

Tak lama kemudian Ninis datang membawa teh. "Pak."

"Hm?"

Ninis meletakkan cangkir di meja. "Saya mau bilang sesuatu."

"Ada apa?" tanya Gultom.

Ninis duduk dengan sikap hati-hati. "Saya agak khawatir melihat Nona."

Gultom langsung mengernyit. "Kenapa?"

"Sejak beberapa hari ini Nona terlalu keras olahraga." Ninis menundukkan kepala. "Tadi saya juga sudah membawakan jus dan sedikit kue supaya tenaganya kembali, tapi Nona gak mau."

Gultom terdiam. "Dia bilang sedang diet."

"Iya, Pak." Ninis menghela napas. "Saya takut Nona terlalu memaksakan diri. Berat badan memang perlu diturunkan, tapi kalau terlalu cepat dan makan terlalu sedikit, nanti malah sakit."

Gultom terlihat berpikir. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal..Selama bertahun-tahun Ninis memang sering memerhatikan kesehatannya. Ia tidak pernah punya alasan untuk mencurigai gadis itu.

"Memangnya Levia olahraga berapa lama?"

"Hampir satu jam, Pak."

Gultom mengangguk pelan. "Mungkin memang terlalu lama."

Ninis sedikit lega. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang.

"Ayah." Levia muncul sambil membawa botol air. "Udah pulang?""

Gultom menoleh. "Iya."

Levia duduk di sebelah ayahnya. "Ayah tadi ngomongin aku?"

Gultom tersenyum tipis. "Ninis bilang kamu terlalu keras olahraga."

Levia langsung menoleh pada Ninis.

Ninis tersenyum. "Aku cuma khawatir, Non."

Levia mengangguk. "Aku ngerti." Ia kemudian menatap ayahnya. "Tapi aku gak asal olahraga, Yah."

Gultom memerhatikan putrinya.

"Aku sudah mulai atur jadwal." Levia mulai memaparkan. "Aku juga gak mengurangi makan secara ekstrem. Aku cuma mengganti makanan tinggi gula dan lemak dengan makanan yang lebih baik."

"Terus?"

"Aku juga tetap makan tiga kali sehari." Levia menunjuk botol air di tangannya. "Dan aku cukup minum."

Gultom mengangguk pelan. "Berarti kamu sudah mengaturnya?"

"Iya." Levia tersenyum. "Aku gak mau cuma kurus. Aku mau lebih sehat."

Gultom memandangi wajah putrinya. Baru beberapa minggu lalu Levia bahkan tidak memikirkan kesehatan dirinya sendiri. Sekarang wanita itu justru begitu serius memperbaiki hidupnya.

"Kalau begitu Ayah percaya."

Ninis yang duduk di seberang mereka terdiam.

Gultom kemudian menambahkan, "Tapi kalau kamu merasa pusing atau terlalu lelah, berhenti. Jangan memaksakan diri."

"Iya, Yah." Levia tersenyum. "Tenang aja."

Gultom mengusap kepala putrinya. "Yang penting sehat."

Ninis ikut tersenyum. "Iya, Pak."

Namun jemarinya diam-diam mengepal di atas pangkuan. Sekali lagi... Levia berhasil membuat Gultom percaya kepadanya. Dan lebih buruk lagi, perhatian Gultom kepada putrinya justru semakin besar.

Ninis menundukkan wajah agar tak ada yang melihat perubahan ekspresinya. "Kalau cara lembut seperti ini saja gak berhasil... aku harus mencari cara lain."

Tatapannya perlahan mengarah kepada Levia. "Karena kalau terus dibiarkan, bukan cuma berat badanmu yang berubah, Levia. Tempatku di rumah ini juga akan hilang."

 

...✨“Tidak semua perhatian lahir dari ketulusan. Ada yang diberikan perlahan hanya agar seseorang terbiasa bergantung, sampai akhirnya sulit membedakan mana kasih sayang dan mana kendali.”...

...“Manipulasi paling berbahaya bukan yang datang dengan ancaman, melainkan yang menyamar sebagai perhatian.”...

...“Ketika seseorang mulai mengenal dirinya sendiri, ia akan lebih mudah melihat siapa yang benar-benar mendukungnya dan siapa yang selama ini hanya ingin mengendalikannya.”✨...

.

To be continued

1
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!