Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. DEJAVU

Pagi di hari Kamis datang membawa hembusan angin dingin dari puncak Merapi. Di studio lukis lantai dua vila Kaliurang, Nadira sedang berdiri di depan kanvas besarnya. Jemari mungilnya memegang kuas cat minyak, memoleskan warna-warna lembut pada sketsa lanskap bukit yang sedang ia kerjakan untuk tugas kuliah semester awal.

​Senyum manis terkembang di wajah Nadira. Hari ini adalah hari Kamis. Itu artinya sore nanti, Abiyasa akan mendarat di Yogyakarta dan kembali ke vila ini setelah dua hari terpisah oleh tugas kantor di Jakarta.

​Ponsel Nadira yang tergeletak di meja kerja bergetar singkat. Sebuah pesan dari Abiyasa masuk.

​[Abiyasa]: Rapat direksi terakhir di Jakarta baru saja selesai. Saya dan Hendra sedang menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sampai ketemu sore nanti, Nyonya Mahendra. Saya merindukanmu.

​Nadira tertawa kecil membaca pesan singkat bernada posesif-manis itu. Jemarinya lincah membalas.

​[Nadira]: Hati-hati di jalan, Mas Abi! Jangan lupa makan siang di bandara. Aku nungguin Mas Abi di rumah! ❤️

​Namun, kehangatan pagi itu mendadak terusik sepuluh menit kemudian. Dering telepon seluler Nadira kembali berbunyi, kali ini menampilkan nama teman sekelasnya di UG*: Maya.

​"Halo, Maya?" sapa Nadira riang seraya menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya.

​"Nadira! Kamu di rumah kan?!" suara Maya di ujung telepon terdengar sangat panik dan terengah-engah, memutus keceriaan Nadira seketika.

​Nadira menghentikan goresan kuasnya, keningnya berkerut cemas. "Iya, aku di rumah. Kenapa, May? Suaramu kok panik gitu?"

​"Kamu... kamu udah buka portal berita atau akun media sosial kampus belum sore ini?!" desak Maya dengan nada tinggi.

​"Belum... aku dari tadi pagi di studio fokus ngelukis. Ada apa sih?"

​"Nad, kamu harus tenang ya mendengarnya. Seseorang baru aja mengunggah postingan artikel anonim yang mendadak viral di forum mahasiswa UG* dan media sosial lokal Jogja!"

Maya menahan napas sejenak sebelum melanjutkan. "Judulnya... 'Misteri Mahasiswi Baru Seni Rupa UG*: Tinggal di Vila Mewah dan Dikawal Mobil Mewah, Siapa Pria Paruh Baya di Baliknya?'."

​DEG!

​Tangan Nadira yang memegang kuas membeku kaku di udara. Warna di wajah mewahnya seketika memudar, berganti menjadi pucat pias.

​"A-apa... maksudnya, May?" cicit Nadira, tenggorokannya mendadak terasa menyempit dan kering.

​"Artikel itu nulis kalau kamu itu mahasiswi simpanan pengusaha kaya Jakarta!" seru Maya dengan rasa geram yang tak tertahankan.

"Mereka melampirkan foto-foto sembunyi-sembunyi pas Pak Abiyasa dan Mas Baskara jemput kamu di depan fakultas kemarin sore! Muka Pak Abiyasa sengaja di-blur, terus ditulis seolah-olah kamu dapat fasilitas vila Kaliurang dan masuk UG* lewat 'pintu belakang' gara-gara jadi simpanan pria dewasa!"

​Ponsel di genggaman Nadira serasa berbobot tonan. Rasa sesak dan kilasan trauma masa lalu saat skandal mading SMA dulu seketika menghantam dadanya tanpa ampun. Napas Nadira memburu pelan, matanya berkaca-kaca oleh rasa syok dan cemas yang mendalam.

​"S-siapa... siapa yang bikin artikel itu, May?" tanya Nadira dengan suara bergetar hebat.

​"Belum tahu, Nad! Akunnya anonim! Tapi komentar di forum kampus udah heboh banget. Anak-anak yang nggak tahu apa-apa pada kemakan gosip itu dan mulai menyudutkan namamu!" Maya mendesah frustrasi. "Kamu jangan ke kampus dulu besok ya, Nad! Tunggu suasananya tenang!"

​"I-iya, May... Makasih ya udah kasih tahu aku," bisik Nadira pasrah sebelum mematikan panggilan secara sepihak.

​Nadira terduduk lemas di kursi kayu studionya. Kuas melukisnya jatuh terlepas ke lantai, menodai karpet. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes deras membasahi pipi.

​Ia pikir, dengan berpindah ke Yogyakarta dan memulai lembaran baru di UG*, ia bisa hidup tenang sebagai mahasiswi biasa yang berjuang meraih impiannya. Namun kenyataannya, statusnya sebagai istri muda dari seorang CEO raksasa kembali dijadikan bahan fitnah yang keji oleh orang-orang yang cemburu pada kehidupannya.

​Sementara itu, di dalam kabin mobil sedan yang sedang melaju kencang menyusuri tol menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

​Abiyasa duduk bersandar di kursi belakang seraya memejamkan mata sejenak, melepas lelah setelah maraton rapat lima jam berturut-turut. Di sampingnya, Hendra yang sedang memeriksa tablet pribadinya mendadak menghentikan jarinya.

​Raut wajah sekretaris setia itu berubah drastis—pias, panik, dan dipenuhi kebingungan.

​"P-Pak... Pak Abiyasa," panggil Hendra dengan suara yang bergetar tak menentu.

​Abiyasa membuka matanya perlahan, menatap Hendra datar. "Ada apa, Hendra? Jadwal penerbangan ditunda?"

​"Bukan, Pak..." Hendra menelan ludah pias, ragu-ragu menyodorkan tabletnya ke hadapan sang CEO. "Seseorang baru saja menyebarkan berita fitnah tentang Nyonya Muda Nadira di forum internal mahasiswa UG* dan media sosial Jogja."

​Abiyasa menerima tablet itu. Iris mata cokelat gelapnya bergulir cepat membaca baris demi baris artikel anonim tersebut. Begitu matanya menangkap kata 'simpanan', 'pria paruh baya', dan foto-foto Nadira yang diambil secara sembunyi-sembunyi di kampus, atmosfer di dalam kabin mobil seketika berubah seratus delapan puluh derajat.

​Aura membunuh yang sangat pekat, dingin, dan mendinginkan darah memancar kuat dari tubuh Abiyasa. Rahangnya mengetat keras hingga garis urat di lehernya menegang, dan mata cokelat gelapnya berkilat oleh amarah yang meledak-ledak.

​CRACK!

​Saking kuatnya cengkeraman Abiyasa, pinggiran bingkai tablet di tangannya terdengar berderit kaku.

​"Pak Abiyasa..." bisik Hendra takut-takut, merasakan dominasi penuh ancaman dari bos besarnya.

​"Siapa," suara Abiyasa keluar dengan nada bariton yang sangat rendah, berat, dan mengerikan—sebuah nada suara yang sanggup membuat siapa pun bergetar ketakutan. "Siapa oknum yang berani menyentuh nama istri saya lagi?"

​"T-tim IT Mahendra Group sedang melacak alamat IP pengunggah anonim itu sekarang, Pak," jawab Hendra cepat dengan pelipis mandi keringat dingin. "Penyelidikan awal menunjukkan unggahan berasal dari jaringan area Yogyakarta."

​"Putarkan arah mobil," perintah Abiyasa dingin pada pengemudi di depan.

​Hendra terbelalak kaget. "Tapi Pak Abiyasa! Penerbangan privat kita ke Jogja berangkat tiga puluh menit lagi di Soekarno-Hatta!"

​"Saya bilang putarkan arah mobil ke kantor Mahendra Group sekarang, Hendra!" bentak Abiyasa tegas, suaranya menggelegar memenuhi mobil. "Panggil seluruh tim divisi hukum, tim cyber security, dan hubungi Rektorat Universitas sekarang juga! Saya ingin pemilik akun itu ditangkap dan berlutut di hadapan istri saya sebelum matahari terbenam hari ini!"

​"Baik, Pak Abiyasa!" seru Hendra panik, langsung menghubungi seluruh jajaran pimpinan dan tim hukum pusat.

​Abiyasa menggenggam ponsel pribadinya erat-erat. Pria itu memejamkan mata sejenak, mencoba menekan amarah liar yang membakar dadanya. Pikirannya saat ini sepenuhnya tertuju pada gadis kecilnya di Kaliurang—gadis yang pasti saat ini sedang menangis ketakutan di balik tembok vila sendirian.

​Abiyasa menekan nomor Nadira, mendekatkan ponsel ke telinganya.

​Di studio vila, ponsel Nadira bergetar hebat di atas meja. Nama "Mas Abi ❤️" tertera di layar.

​Dengan tangan gemetar dan air mata yang terus mengalir, Nadira mengangkat panggilan tersebut.

​"M-Mas... Abi..." cicit Nadira, isakan tangisnya pecah tak tertahankan begitu mendengar suara suaminya.

​"Nadira... Dengarkan saya, Sayang," suara Abiyasa di ujung telepon terdengar begitu lembut, hangat, dan penuh dengan kepedulian yang mendalam—sangat bertolak belakang dengan aura membunuh yang baru saja ia pancarkan pada anak buahnya. "Jangan menangis. Hapus air matamu, Nyonya Mahendra."

​"Mas Abi... hiks... orang-orang di kampus... mereka bikin berita jahat lagi tentang aku..." tangis Nadira sesenggukan, memeluk fisiknya sendiri yang merasa kerdil. "Aku takut, Mas... Aku takut dipandang jahat lagi..."

​"Ssshh... Tidak ada yang akan memandangmu jahat, Nadira. Percaya pada saya" bisik Abiyasa sangat dalam dan menenangkan di ujung telepon. "Saya sedang mengurus baj*ngan yang membuat berita itu. Jangan takut, jangan keluar dari vila, dan tunggu saya pulang."

​"Tapi Mas Abi kan masih di Jakarta..."

​"Saya akan berada di sampingmu dalam hitungan jam, Nadira. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh melukaimu dan lolos begitu saja," pangkas Abiyasa penuh penegasan mutlak.

"Saya mencintaimu, Nadira. Tetaplah kuat untuk saya."

​"I-iya, Mas Abi... Aku tunggu Mas Abi pulang," jawab Nadira pelan sebelum panggilan terputus.

​Malam itu, badai konflik baru telah menerjang keharmonisan kehidupan mereka di Kota Gudeg.

Namun, di balik tangisan Nadira dan amarah membara sang CEO, sebuah pembalasan yang mengerikan dari kekuasaan penuh Abiyasa Mahendra bersiap untuk meratakan siapa pun yang berani mengusik kedamaian istri kecil tercintanya.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!