Indonesia
NovelToon NovelToon
Rayuan Sang Mafia

Rayuan Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: alendra rivero

Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.

Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.

Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

JUDUL: PERILAKU ANEH.

Burian

Setelah menuntaskan urusan, aku pulang. Sonya sudah menungguku dengan pakaian rapi untuk makan malam.

Kusuruh Marcos menjemput si gadis Italia. Aku masih tak paham bagaimana Sonya bisa begitu menghargainya, padahal kedudukan Sonya jauh lebih tinggi.

Astaga, apa-apaan. Ia ratu di rumah ini, tapi tampaknya tak juga puas. Siapa yang bisa memahami perempuan? Setidaknya aku, di usiaku yang tiga puluh sembilan tahun, tiap hari makin tak mengerti mereka.

Akhirnya makan malam berlangsung juga. Aku menghadapi beberapa masalah dengan perilaku si gadis Italia, dan itu membuatku tak nyaman.

Kabar tentang anakku sudah kuumumkan, dan kini aku harus berurusan dengan Miya. Tapi tiap hari kutegaskan padanya agar tak bertingkah macam-macam pada Sonya, apalagi sekarang, saat Sonya mengandung anakku.

"Sayang, aku ingin pergi belanja," kata Sonya.

"Pergilah."

"Tidak, aku ingin kau yang mengantarku."

"Aku juga mau ikut," sela Miya. "Aku tak punya baju seksi untukmu, karena tiap kali kita bersama kau merobek-robeknya."

Aku memutar bola mata. Di hadapanku ada empat perempuan yang saling membunuh lewat tatapan. Setidaknya Magdalena lebih penurut ketimbang Tais, Miya, dan Sonya.

Akhirnya aku menyetujui, dan kami berangkat ke pusat perbelanjaan, meski aku benci tempat-tempat semacam itu.

Kutinggalkan Marcos untuk menjaga si gadis Italia, sebab kami tak akan kembali sampai besok. Semoga tak ada masalah dengannya. Kalau ia menyusahkan, aku terpaksa memberinya pelajaran.

Kami tiba di sana dan aku mencari kafe untuk tempat berdiam sementara perempuan-perempuan itu menghamburkan uang seenaknya.

Kupesan kopi kental. Pelayan membawa pesananku lalu berlalu sambil menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Dalam hati aku menolak; aku tak butuh perempuan lagi dalam hidupku, yang kupunya sekarang sudah cukup.

Tapi saat aku hendak menyeruput kopi, ponselku berdering. Panggilan dari Italia. Kuangkat cepat; kalau tak penting mereka tak akan menelepon.

Rekan bisnisku bilang ia butuh aku datang, ada masalah agar kirimanku bisa keluar. Kupastikan aku akan berangkat hari itu juga, lalu kututup teleponnya.

Kusuruh salah satu anak buahku menjemput perempuan-perempuanku, dan beberapa menit kemudian kami berangkat kembali ke mansion.

"Kalian cepat sekali kembali," kata Marcos. "Ada apa?"

"Ya, aku harus terbang ke Italia. Siapkan jet-nya. Paling lambat satu jam lagi aku harus berangkat."

"Aku ikut denganmu?"

"Tidak, kau tetap di sini. Jaga baik-baik si gadis Italia."

"Kami ikut denganmu?" tanya Tais.

"Tidak, kalian tak ikut."

"Kami mau ikut, bawa kami," desak Miya.

"Sudah kubilang tidak."

"Aku mau ikut," kata Sonya. "Beri aku perjalanan itu sebagai hadiah karena aku memberimu anak pertamamu."

"Kalau dia ikut, kita semua ikut!" sambar Tais.

"Baiklah. Tapi begitu ada masalah pribadi di antara kalian, kupulangkan kalian semua."

"Kalau kau tak pilih kasih, hal ini tak akan terjadi," sindir Tais.

"Kalau kau bicara satu kata lagi, kau tinggal di sini."

Fiorella

Aku sedang di ruang bawah tanah, memandang ke arah taman lewat jendela kecil, ketika kulihat Burian dan keempat perempuan itu pergi.

Kini aku bisa sedikit lebih tenang. Tampaknya mereka tak akan kembali dalam beberapa waktu, sebab mereka membawa banyak koper.

"Aku mengganggu?"

Suara Marcos terdengar di telingaku, dan aku menjawab pertanyaannya.

"Seolah aku bisa berbuat banyak di tempat mengerikan ini," sahutku.

"Aku bawakan roti lapis kesukaanmu."

Kuambil satu dan kulahap tanpa henti. Sudah lama sekali aku tak makan yang seperti ini. Tapi tatapan lelaki itu membuatku gugup.

"Ada apa? Kenapa kau menatapku begitu?"

"Kau cantik!"

Pipiku memerah, dan kata-katanya membuatku makin gugup hingga aku terdiam.

"Aku akan membantumu kabur."

"Jangan mempermainkanku. Kau orang yang paling dipercaya Burian, dan kau juga sahabatnya."

"Besok kau akan pergi dari sini. Aku janji."

Setelah mengucapkan itu, Marcos berdiri, meninggalkan sebuah kecupan di keningku, lalu berlalu.

Aku ternganga. Belakangan ini ia memang sangat baik padaku, tapi perilakunya barusan sungguh aneh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!