Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 4
Di meja makan yang telah dipesan, keseruan mereka berlanjut. Hidangan steak lembut, pasta, dan jus buah kesukaan anak-anak tertata rapi. Amora dengan sangat ceriwis menceritakan teman-temannya di sekolah, sementara Khaisar sibuk memperagakan gerakan sepak bola dengan sendoknya hingga dipelototi Aidil dengan nada bercanda.
"Bunda, mulut Amora ada cokelatnya!" tunjuk Khaisar sambil tertawa.
"Mana? Coba Bunda lihat," Zivana mengambil tisu dan dengan telaten mengusap sudut bibir Amora.
Namun sebelum Zivana kembali ke posisinya, Aidil meraih tisu lain, lalu perlahan mengusap lembut sudut bibir Zivana sendiri. Zivana membeku seketika.
"Kamu juga belepotan saus, Ziva," kata Aidil dengan nada amat lembut.
Matanya mengunci tatapan Zivana cukup lama, membuat udara dingin di sekeliling mereka seolah menguap digantikan desiran hangat yang membakar dada.
"Terima kasih, Mas..." balas Zivana pelan, hampir tak terdengar.
"Bunda cantik banget ya kalau lagi malu-malu gitu, Ayah!" goda Khaisar tiba-tiba, membuat Amora ikut bersorak sambil bertepuk tangan.
"Iya, Bunda memang selalu cantik," sahut Aidil tanpa ragu, matanya tak lepas dari Zivana yang makin salah tingkah.
Setelah makan malam, Aidil mengajak mereka berjalan-jalan di area taman rooftop yang memiliki photobooth otomatis. Kedua anak itu langsung merengek ingin berfoto bersama.
"Ayo, Ayah, Bunda! Masuk ke dalam!" seru Khaisar menarik tangan mereka berdua.
Di dalam bilik foto yang sempit dan berlampu terang, tawa mereka pecah. Pada foto pertama, Khaisar dan Amora membuat pose menyeramkan yang lucu. Pada foto kedua, Amora dan Khaisar mencium pipi Zivana dari kiri dan kanan.
Namun pada pose ketiga, saat hitungan mundur layar berkedip tiga, dua, satu Aidil tiba-tiba merengkuh bahu Zivana, menundukkan kepalanya, dan mendaratkan kecupan hangat di pipi Zivana tepat saat kilat kamera menyala.
CEKREK!
Zivana terpaku dengan mata membelalak di balik layar, sementara Aidil tersenyum puas menatap hasil foto yang keluar dari mesin. Di lembaran foto kertas itu, terukir abadi momen manis mereka: dua anak yang tertawa lepas, dan seorang suami yang menatap serta mencium istrinya dengan penuh kasih sayang.
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil begitu tenang. Khaisar dan Amora sudah tertidur lelap di kursi belakang, terlelap setelah kelelahan bermain.
Di kursi depan, Aidil mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara tangan kirinya terulur ke bawah, mencari jari-jemari Zivana lalu mengaitkannya erat-erat di atas pangkuan.
Zivana menatap tautan tangan mereka, lalu menoleh menatap profil samping wajah suaminya.
"Mas... terima kasih untuk malam ini. Anak-anak bahagia sekali."
Aidil melirik Zivana sejenak, lalu membawa punggung tangan Zivana ke bibirnya, mengecupnya lama dan dalam di bawah pendar remang lampu jalanan.
"Bukan cuma anak-anak yang bahagia, Ziva," ucap Aidil tulus, suaranya sarat akan emosi yang selama ini terpendam.
"Aku juga sangat bahagia malam ini. Terima kasih sudah bertahan bersamaku selama tiga tahun ini dan maafkan aku yang terlambat menyadarinya."
Air mata haru menumpuk di pelupuk mata Zivana. Ia meremas balik jemari Aidil dengan erat, bersandar lembut pada bahu tegap suaminya sepanjang jalan pulang, menyadari bahwa dinding es yang menghalangi cinta mereka kini benar-benar telah runtuh.
Semenjak malam minggu yang berkesan itu, atmosfer di rumah berlantai dua tersebut berubah drastis. Tak ada lagi kekakuan yang dingin atau jarak canggung yang menyiksa. Rumah itu kini dipenuhi riuh tawa dan perhatian-perhatian kecil yang melelehkan hati.
Sore itu, hujan rintik-rintik kembali turun membasahi halaman. Di ruang keluarga, Aidil duduk di sofa berkarpet tebal bersama Khaisar dan Amora. Pria itu baru saja pulang kantor lebih awal dan melepas jasnya, kini sibuk menyusun balok-balok Lego bersama kedua anaknya.
Dari arah dapur, Zivana melangkah membawa nampan berisi secangkir kopi hitam panas dan sepiring pisang goreng keju yang masih mengepul.
"Kopi panas datang untuk Ayah yang rajin," goda Zivana lembut sembari meletakkan nampan di meja kaca.
Aidil mendongak, matanya langsung berbinar menatap istrinya. "Terima kasih, Ziva. Baunya harum sekali."
Saat Zivana hendak berbalik kembali ke dapur, Aidil dengan cepat meraih pergelangan tangan Zivana, menahannya halus.
"Mau ke mana? Duduk di sini saja, Ziva. Temani aku."
"Tapi baju kotor di belakang belum selesai dilipat, Mas..."
"Nanti saja," potong Aidil tegas namun penuh kehangatan. Ia menarik pelan tangan Zivana hingga wanita itu terduduk tepat di sampingnya di atas sofa.
Tanpa ragu, di hadapan anak-anak yang sibuk bermain, Aidil mengulurkan tangannya dan merengkuh pinggang Zivana, menyandarkan tubuh istrinya rapat ke sisi tubuhnya. Zivana tersentak pelan, pipinya langsung merona merah. Walau Aidil belum pernah melangkah lebih jauh untuk menyentuhnya secara intim sebagai suami-istri di atas ranjang, perubahan gestur fisik yang begitu protektif dan penuh kasih sayang ini sudah cukup membuat dada Zivana membuncah bahagia.
"Bunda! Lihat, Mas Khaisar bikin rumahnya tidak punya pintu!" celetuk Amora menunjuk bangunan Lego kakaknya.
"Biar monsters tidak bisa masuk, Dek!" sahut Khaisar membela diri.
Aidil terkekeh renyah, dadanya bergetar tepat di samping bahu Zivana. "Kalau tidak ada pintunya, nanti Bunda dan Ayah masuknya lewat mana, Mas?"
"Lewat atap, kayak Sinterklas!" jawab Khaisar polos, membuat tawa Aidil dan Zivana pecah bersamaan.
Di tengah tawa itu, Aidil menunduk, menggesekkan hidungnya pelan ke pelipis Zivana sebelum mendaratkan kecupan hangat di sana. Aromanya yang menenangkan membuat Zivana meremang, ia menyandarkan kepalanya dengan pasrah di dada tegap Aidil, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur.
Malam harinya, setelah kedua anak mereka terlelap di kamar masing-masing, suasana kamar utama terasa begitu menyejukkan. Lampu tidur memancarkan cahaya kuning keemasan yang remang.
Zivana sedang berdiri di depan lemari, merapikan pakaian kerja Aidil untuk besok. Tiba-tiba, dua lengan kekar melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Zivana menahan napas saat punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Aidil. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Zivana, menghirup aroma wangi sampo dari rambut hitam istrinya.
"Mas... belum tidur?" bisik Zivana pelan, jemarinya mengelus lengan Aidil yang melingkari perutnya.
"Belum. Masih mau sama kamu," gumam Aidil manja, sebuah nada suara yang belum pernah Zivana dengar sebelumnya.
Aidil membalikkan tubuh Zivana perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya menatap dalam ke iris mata Zivana yang jernih. Pria itu merengkuh kedua pipi Zivana dengan telapak tangannya yang hangat, ibu jarinya mengusap bibir bawah Zivana dengan penuh kelembutan.
"Maafkan aku ya, Ziva... kalau aku belum bisa memberikan segalanya secara utuh sebagai seorang suami," ujar Aidil lurus, suaranya sarat akan kejujuran dan rasa bersalah.
"Tapi aku janji, setiap hari rasa ini tumbuh makin besar untukmu."
Zivana tersenyum amat tulus. Ia menangkupkan tangannya di atas tangan Aidil yang berada di pipinya.
"Mas tidak perlu minta maaf. Begini saja, mulai dicintai dan dipeluk seperti ini setiap hari, aku sudah sangat bahagia, Mas. Aku akan setia menunggu sampai hati Mas benar-benar siap seutuhnya untukku."
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣