Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Babak Pertama
Arena pertandingan individu dibangun di tengah lembah, jauh lebih besar dari Panggung Uji Sekte Awan Putih—sebuah koloseum batu raksasa dengan tribun bertingkat yang mampu menampung seluruh delegasi dan tamu undangan dari tiga sekte sekaligus.
Format kompetisi individu tahun ini mempertemukan tiga puluh peserta dari masing-masing sekte—total sembilan puluh peserta—dalam turnamen gugur bertahap selama tiga hari, dengan juara individu akan diumumkan pada hari ketiga sebagai puncak acara.
Lin Mu berdiri di ruang tunggu peserta bersama sembilan rekan setimnya, mengamati papan pertandingan yang baru saja diumumkan untuk babak pertama. Lawannya adalah seorang pemuda dari Sekte Lembah Naga bernama Gao Feng, dikenal dengan jurus elemen bumi yang mengandalkan pertahanan kokoh dan pukulan-pukulan berat.
"Gao Feng cukup terkenal di sektenya," Xuan Bo berkata pada Lin Mu sebelum ia melangkah ke arena. "Pertahanannya hampir tak tertembus untuk lawan setingkat realm-nya. Banyak yang kalah karena kehabisan tenaga sebelum berhasil menembus pertahanannya."
"Aku akan mencari cara lain selain menembusnya secara langsung," Lin Mu menjawab tenang.
Pertandingan dimulai di bawah sorak sorai ribuan penonton dari tiga sekte. Gao Feng segera mengaktifkan jurus pertahanannya—Perisai Gunung Kokoh, lapisan qi elemen bumi yang membungkus tubuhnya bagai baju zirah tak terlihat, cukup kuat untuk menahan pukulan langsung dari kultivator setingkat lebih tinggi.
Lin Mu tidak mencoba menyerang langsung. Ia mengamati dengan seksama, mengingat kembali prinsip yang telah lama ia kuasai—setiap pertahanan, betapapun kokoh kelihatannya, selalu memiliki titik penyaluran qi yang harus terus-menerus diperbarui agar tetap stabil.
Ia melingkari Gao Feng perlahan, membiarkan lawannya menyerang lebih dulu dengan pukulan-pukulan berat yang meleset karena Lin Mu selalu bergerak tepat waktu untuk menghindar, sambil mengamati pola aliran qi yang menopang perisai pertahanan itu.
Setelah beberapa pertukaran, Lin Mu menemukan titik yang ia cari—sebuah simpul kecil di punggung bawah Gao Feng, tempat qi elemen bumi terus-menerus disalurkan untuk memperbarui perisainya.
Dengan gerakan cepat dan presisi, ia menyodok titik itu dengan ujung pecahan Penakluk Fajar, mengganggu aliran qi hanya sepersekian detik—namun cukup untuk membuat perisai pertahanan Gao Feng berkedip tak stabil.
Momen kelemahan itu, meski hanya berlangsung sesaat, sudah cukup bagi Lin Mu untuk melancarkan satu tebasan cepat ke bahu lawannya, cukup kuat untuk membuat Gao Feng terhuyung mundur, kehilangan konsentrasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan perisainya lebih lama.
"Menyerah, atau kita lanjutkan tanpa perisai pertahananmu?" Lin Mu bertanya, berdiri tenang dengan pedang teracung.
Gao Feng menghela napas berat, menyadari kelemahan yang baru saja terungkap tak akan bisa ia perbaiki secepat itu di tengah pertandingan. "Aku menyerah," ucapnya, meski wajahnya penuh rasa tak percaya. "Bagaimana kau menemukan titik itu secepat ini? Bahkan rekan-rekan sesektenya sendiri butuh waktu lama untuk memahaminya."
"Pengamatan yang cukup sabar," Lin Mu menjawab, membungkuk hormat sebelum melangkah turun dari arena, disambut sorak sorai dari tribun Sekte Awan Putih.
Sepanjang hari itu, kesembilan rekan setim Lin Mu juga menunjukkan performa yang mengesankan—Han Zhengyu menang telak dengan Jurus Awan Bergulung yang telah disempurnakan, Su Wan berhasil mengalahkan lawan dari Sekte Puncak Kilat dengan kombinasi ilusi cahaya yang semakin matang, dan sebagian besar rekan lain berhasil melaju ke babak kedua, meski dua di antaranya harus tersingkir lebih awal menghadapi lawan-lawan kuat dari Sekte Lembah Naga.
Menjelang senja, saat Lin Mu beristirahat di tepi lembah menikmati ketenangan sejenak sebelum jadwal pertandingan berikutnya, ia merasakan sesuatu yang aneh—sekilas, hanya sepersekian detik, sebuah aura asing yang familiar menyelinap di antara kerumunan penonton yang membubarkan diri setelah pertandingan hari itu.
Ia menoleh cepat, namun aura itu sudah lenyap, tersembunyi kembali di antara ratusan wajah asing yang memenuhi lembah.
Mo Yin? pikirnya, waspada. Atau mungkin hanya kewaspadaan berlebihan setelah peringatan Xuan Bo.
Ia memutuskan untuk tidak mengabaikan perasaan itu, mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap waspada sepanjang sisa acara—sebab jika benar Aula Bayangan telah menyusup ke dalam kerumunan sebesar ini, target mereka mungkin bukan hanya dirinya seorang.
semngat thor/Determined/